| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1670156 | #5790 | BIOSTRATIGRAFI KALA HOLOSEN TITIK CORE TR1926B, CEKUNGAN UTARA SELAT MAKASSAR, BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA PLANKTONIK |
Amadeus, Marvel Samgar Jurnaliah, Lia Fauzielly, Lili Hendrizan, Marfasran |
Penelitian ini berfokus pada analisis biostratigrafi Kala Holosen di Cekungan Utara Selat Makassar berdasarkan kumpulan foraminifera planktonik dari inti core TR1926B. Interval core yang diteliti (182 – 206 cm) tersusun atas lempung berwarna hijau keabuan hingga abu-abu kehitaman dengan komponen fragmen cangkang skeleta. Berdasarkan penanggalan radiokarbon, interval yang diteliti berada pada rentang umur 9.966 hingga 11.774 tahun lalu. Sebanyak 8.136 individu foraminifera planktonik yang berasal dari 50 spesies dan 15 genus berhasil diidentifikasi dari total 23 sampel. Analisis biostratigrafi menurut zona Bolli & Saunders dan Blow menunjukkan bahwa interval yang diteliti masuk dalam Kala Holosen (Zona N23 Akhir), ditandai dengan kemunculan Globorotalia ungulata yang konsisten dari 11.774 hingga 9.966 tahun lalu. Spesies pendukung lainnya seperti Globigerina bermudezi, Globorotalia fimbriata, Globigerinella calida, dan Beella praedigitata ditemukan secara episodik dan tidak konsisten. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mengenai biostratigrafi dan transisi iklim awal Holosen, serta menjadi landasan untuk studi paleoklimatologi lebih lanjut di wilayah ini.
|
2025-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61806 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.61806 | |
| 1670155 | #5790 | SUMBERDAYA BATUBARA KAWASAN BLOK PT. TEUNOM RESOURCES, KAB. ACEH BARAT, PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM | -, Geni Dipatunggoro |
Recognissances was carried out in blocks of coal PT. Teunom Resources, which all belong to Meulaboh area, West Aceh Regency, the Province of Nangrroe Aceh Darussalam.The area of Meulaboh geologically belong to Plio-Pliestocene age Tutut Formation in land and maish environment deposition. The litology consist of conglomerate, sandstone, claystone and lignite. The basin of this Formation deposition is well known as “ Meulaboh Embayment “.The compiled reference some previous exploration result on the thickness of coal seams in Meulaboh ranging some centimeters to 8 (eight) meters and morever the calorivic value ranging 3900 – 5100 cal/gr. The result of recognissance in the surveyed area appears that the observed coal seams occurs as intercalation and lenses of some centimeter to 80 centimeters of thickness where the strike of layer trending northwest – southeast and dipping ranging 4º - 5º. Among the above mentioned block, the number of seam outcrops occur much more in block PT. Teunom Resources. The reserve restricted to the 3 layers of 80 centimeters dippingt less 5º is roughly estimated 2.633.133 tons.The quality of coal as analyzed by the Directorate of Minerals Resources in Bandung appears as follow: Total Sulphur 0.19% - 0.35% adb; Ash 4.33% - 7.39% adb; Fix Carbon 33.00% - 39.27% adb; Volatile Matter 47.01% - 54.17% adb; Moisture 8.19% - 8.97% adb; Total Moisture 43.22% - 47.23% ar; and Free Moisture 38.15% - 42.03% ar.
|
Coal, quality of coal | 2007-01-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8134 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i1.8134 |
| 1670154 | #5790 | ANALISIS KELURUSAN DAN SURVEY GEOMAGNETIK DARAT UNTUK INVESTIGASI PENYEBARAN MINERAL STUDI KASUS: PROSPEK SINGGAHAN, TRENGGALEK, JAWA TIMUR |
Iswara, I Gusti Agung Bagus Adinatha Nur, Andi Agus |
Daerah penelitian terletak pada wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang terdapat pada Zona Pegunungan Selatan yang telah mengalami fase pengangkatan. Penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara analisis kelurusan dan survey geofisika geomagnetik dan aplikasinya terhadap indikasi sebaran mineralisasi.. Penelitian dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan aplikasi pengolahan citra untuk mengidentifikasi kelurusan secara otomatis, di lanjutkan dengan menggambarkan densitas kelurusan yang kemudian dihubungkan dengan kondisi anomali dari survey geomagnetik yang telah dilakukan koreksi diurnal dan IGRF pada daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, anomali geomagnet dan densitas kelurusan memiliki keseragaman walaupun terdapat sedikit perbedaan pada lokasi namun dapat digambarkan sebagai arah dari sebaran strukturnya dibawah permukaan. Anomali dan densitas tinggi tersebut di interpretasikan sebagai prospek terendapkannya mineralisasi.
|
2021-05-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31222 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i1.31222 | |
| 1670153 | #5790 | LITOFASIES ENDAPAN KUARTER DI WILAYAH DKI JAKARTA |
Listyono, Girlly Marchlina Arfiansyah, Kurnia Natasia, Nanda Alfadli, Muhammad Kurniawan Pranantya, Pulung Arya |
Bay of Jakarta is covered of Qartenary deposits with terrestrial deposits intercalation with marine deposits. Interaction between those depositional environment produce deposits which have lithofacies variation. Rapid development of Jakarta impact on impossibility in finding outcrop. This research gives changes for detailed Quarternary deposit lithofacies study through 22 wells with depth range about 120-450 metres and depth total 6.556,61 metres. Terrestrial deposit characterized by domination of relatively coarse clastics and content of remaining roots, woods, plants, high content of quartz, lithic fragment, calcareous and oxidated appearace. Marine deposit characterized by finer clastics, contain remain of shells, fosil, coral, limestone fragments, glauconites, calcareous. The lithofacies variation of Quartenary depost from the wells indicate lateral and vertical variation change, also on coastline shifting either by transgression or regression. Keywords : deposits, Jakarta, quartenary, sediment Jakarta merupakan daerah teluk yang tersusun oleh endapan kuarter dengan karakteristik litologi yang beragam. Sedimen penyusun endapan kuarter Jakarta dipengaruhi oleh proses sedimentasi lingkungan pengendapan darat dan laut. Interaksi antara dua lingkungan pengendapan tersebut menghasilkan endapan yang memiliki variasi litofasies. Dengan pesatnya pembangunan di Jakarta menjadikan kesempatan untuk melihat singkapan sangat kecil. Penelitian ini memberikan kesempatan untuk melihat litofasies endapan kuarter Jakarta dengan lebih jelas melalui 22 sumur bor dengan kedalaman berkisar 120 – 450 meter dan total tebal 6.556,61 meter. Endapan darat dicirikan oleh dominansi klastika yang relatif kasar dan kandungan sisa akar, kayu, tumbuhan, kaya butiran kuarsa, fragmen litik, kerikilan, serta sifat karbonatan dan kenampakan teroksidasi. Batas antara keduanya sepanjang periode Kuarter memperlihatkan variasi secara vertikal dan lateral dan perubahan garis pantai baik transgresi maupun regresi. Kata Kunci : endapan, Jakarta, kuarter, sedimen
|
2016-10-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9803 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i1.9803 | |
| 1670152 | #5790 | ASPEK FISIK DASAR DALAM PENENTUAN ARAHAN KESESUAIAN LAHAN PADA RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANGKA SELATAN | Suganda, Bombom Rachmat |
Land use in spatial planning, often forgetting that the land carrying capacity refers to the thematic maps. The number of land suitability analysis on spatial planning that is not appropriate, and often result in the basic physical problems. Basic physical problems will interfere the facilities and infrastructure which supporting economic activity, resulting in financing that sometimes is not economical.
|
land suitability analysis | 2009-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8229 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i1.8229 |
| 1670151 | #5790 | Pendugaan Lapisan Batuan Bawah Permukaan yang Masih Berpotensi Mengandung Air Tanah di Desa Petir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara |
Baeti, Lukita Nur Sehah, . |
Penelitian menggunakan metode geolistrik resistivitas untuk menduga lapisan batuan bawah permukaan yang masih berpotensi mengandung air tanah di Desa Petir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara telah selesai dilakukan. Metode ini menggunakan prinsip konfigurasi Schlumberger dengan akuisisi data sebanyak 5 titik sounding dengan panjang bentangan sebesar 200 meter. Hasil pemodelan dan interpretasi data menunjukkan struktur batuan bawah permukaan yang terdiri atas 5 lapisan, yaitu tanah penutup (top soil) dengan nilai resistivitas 10,38 – 112,31 Ωm, kerikil dan kerakal dengan nilai resistivitas 5,16 – 28,13 Ωm, batu metamorf dengan nilai resistivitas 47,14 – 122,86 Ωm, batuan beku andesit dengan nilai resistivitas 147,08 – 333,33 Ωm, dan breksi dengan nilai resistivitas 73,25 – 138,16 Ωm. Berdasarkan hasil analisis, lapisan batuan bawah permukaan yang diinterpretasi berpotensi mengandung air tanah adalah lapisan kerikil dan kerakal dengan nilai resistivitas berkisar 13,68 – 28,13 Ωm pada kedalaman 13,77 – 27,93 m untuk titik Sounding 4 hingga lebih dari 82,10 m untuk titik Sounding 2. Lapisan batuan ini diperkirakan merupakan lapisan akuifer air tanah setempat di daerah penelitian.
|
2023-01-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43190 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i3.43190 | |
| 1670150 | #5790 | KARAKTERISTIK MINERALOGI ENDAPAN PASIR BESI DI DAERAH GALELA UTARA KABUPATEN HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA |
Lamburu, Ahadi Ahmat Syafri, Ildrem Yuningsih, Euis Tintin |
ABSTRAKDaerah Galela Utara berada di pulau Halmahera Bagian Utara yang masuk ke dalam Kabupaten Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara. Daerah penelitian ini berada pada daerah pantai dataran rendah di wilayah Halmahera Utara yang termasuk dalam Mandala Halmahera Barat. Morfologi dataran rendah yang berada di bagian timur pantai Halmahera membentang dari utara sampai selatan, yang memiliki potensi endapan pasir besi utamanya berada pada endapan aluvium. Mandala geologi Halmahera Barat sangat identik dengan sebaran batuan gunungapi dalam hal ini aktifitas vulkanisme, beberapa gunungapi yang masih aktif hingga sekarang ini. Formasi Bacan merupakan batuan yang terdiri dari breksi dengan komponen terdiri dari andesit dan basal serta batugamping dan lava sangat berkaitan dengan batuan sumber utama pembawa endapan pasir besi. Penelitian dilakukan berdasarkan metode analisis data dengan pendekatan statistik deskripsi univarian yang dinyatakan menggunakan tabel frekuensi dan histogram. Analisis parameter terdiri dari besar butir/ayak dan mineralogi butir. Sebaran endapan pasir besi di daerah penelitian yang diidentifikasi pada jumlah titik bor yang tersebar di bagian utara, blok tengah dan selatan. Penyebaran mineral magnetit sangat bervariasi yang tersebar banyak di bagian utara secara presentase sebesar 28.41%, dan di blok tengah sebaran magnetik sebesar 18.63% sedangkan yang ke arah bagian selatan sebesar 13.03%. Batuan ultramafik yang memiliki kandungan mineral-mineral berat yang kaya akan unsur-unsur Fe (besi/iron) dan Mg (magnesium) untuk kemungkinan berasal dari Formasi Bacan (Tomb) yang terdiri dari breksi dan lava dengan komponen andesitik serta basal dan Batuan Gunungapi Holosen (Qhva) terdiri dari lava dan breksi yang bersusunan andesit sampai basal. Kata Kunci : Magnetit, Mineralogi, Pasir Besi
|
2017-08-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13395 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i2.13395 | |
| 1670149 | #5790 | GEOLOGI SEJARAH DAERAH SUKABUMI-PELABUHAN RATU | -, Syahroel Alam Alif |
This paper is about the geological history of the area Sukabumi-Pelabuhan Ratu, is an article from the author prepared in 1999, when the author is still active as a staff lecturer at the Faculty of Engineering Geology, Unpad. Historical geology of Sukabumi-Pelabuhan Ratu, interesting to learn, especially the most ancient rocks (Ciletuh Formation) to the youngest rocks. Tectonic framework is also interesting to learn, especially because of the influence of Indo-Australia plates are moving toward the north and subducting the Eurasian plate.
|
historical geology | 2011-04-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8262 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i1.8262 |
| 1670148 | #5790 | PERKEMBANGAN SANDI STRATIGRAFI INDONESIA: Sandi Stratigrafi Indonesia 1973-1996-2023 | Muljana, Budi |
AbstrakRevisi Sandi Stratigrafi Indonesia berkorelasi dengan perkembangan data serta konsep keilmuan khususnya stratigrafi. Seiring juga dengan pola pemikiran dalam memahami serta memberlakukan data-data stratigrafi. Selama perkembangan Sandi Stratigrafi Indonesia 1973 kemudian 1996 dan yang terakhir 2023, telah mengalami banyak sekali perubahan paragdigma konsep stratigrafi. Mulai dari pendekatan deskriftif atau yang sering disebut dengan stratigrafi tradisional ke pendekatan deterministic atau sampai ke prediktif atau sering juga disebut dengan stratigrafi modern. Tulisan ini ingin memberikan informasi bahwa perkembangan Sandi Stratigrafi Indonesia hamper 50 tahun ini. Tujuannya adalah untuk mengakomodir perkembangan data, metode dan konsep stratigrafi.Kata kunci : Sandi Stratigrafi Indonesia, Stratigrafi tradisonal, Stratigrafi modern AbstractStratigraphic Indonesian Codes revision correlate with the development of data and knowledge concept, especially in stratigraphy. It is related to the point of view within to understand and interpret for all stratigraphic data. During the development of Stratigraphic Indonesian Code starting from 1973, 1996 and the last 2023, has changed the outlook paradigm of stratigraphic concepts. Starting on descriptive approaching point view or it’s called a traditional stratigraphy to deterministic or predictive interpretations or called as a modern stratigraphy. This paper tries to give brief information about the developments of Stratigraphic Indonesian Codes almost during 50th years. The main point is to be able accommodate the data, methods, and stratigraphic concept development.Keywords: Stratigraphic Indonesian Codes, traditional stratigraphy, modern stratigraphy
|
2024-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55891 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i2.55891 | |
| 1670147 | #5790 | GAS IN PLACE PREDICTION OF COAL BED METHANE EXPLORATION WITH PROXIMATE DATA, PIT “HMG”, WEST BANKO, SOUTH SUMATRA |
GANI, REZA MOHAMMAD GANJAR Arbi, Hafsanjani Firmansyah, Yusi Nurdrajat, . Alfadli, Muhammad Kurniawan |
The energy demand are increase everyday, but the supply insufficiently if only depends on conventional energy. Coal bed methane exploration are one of the unconventional energy that can fulfill energy demand. The main aspect of coal bed methane exploration are the reserve of gas in place. In this research are use conventional data to approach a prediction and calculation of gas in place at PIT “HMG”, West Banko, Tanjung Enim, South Sumatra. Based on the analysis shows that the gas content are increase as the deeper of seam, and the total gas in place are 235.30 MMcf, with Seam C has the highest value 72.47 MMcf.
|
2018-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18556 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.18556 | |
| 1670146 | #5790 | APLIKASI SIG DALAM PENELITIAN GEOLOGI | -, Emi Sukiyah |
Explorative and descriptive are typical research of geology. Quantitative analysis is limited whereas cost research is expensive. Actually, there are some aspects of geology require quantitative analysis, mainly in vertical and lateral distribution. They need tool for do it.Several quantitative themes of geological research are slope analysis, erosion-sedimentation calculation, calculation of minerals proportion, calculation of chemical elements proportion, calculation of drainage density, calculation of fracture, etc. They need powerful tool for support data analysis with high accuracy.Many soft ware of data processor are available. They include graphical and non-graphical data. We can use that soft ware as tool for data analysis. Nevertheless, a part of them have limited in integrated data analysis. Commonly, Geographic Information System (GIS) soft ware can become choice. The available specification comprehension of soft ware can upgrade quality of data analysis.
|
Explorative-descriptive, quantitative analysis, graphical and non-graphical data, GIS. | 2013-11-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8294 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i3.8294 |
| 1670145 | #5790 | DELINIATION OF SHALLOW GAS ZONE POTENTIAL USING SUBSURFACE DATA APPROACH IN ‘X’ FIELD KUTAI BASIN |
Yuniardi, Yuyun Alfadli, Muhammad Kuniawan Mohammad, Febriwan Natasia, Nanda Nur, Andi Agus |
The presence of shallow gas (Shallow Gas) in exploration wells poses significant operational risks, including kicks or blowouts during exploration activities. To mitigate these risks, it is essential to delineate subsurface data and identify areas potentially containing shallow gas. Subsurface interpretation was conducted using various datasets, including electrolysis cutting analysis, well log data (GR, RT, NEU, RHOB) from 39 wells, and gas data obtained from chromatograph-based mud logs. Well correlation was performed to identify anomalies, gas presence, and facies characteristics.The primary stratigraphic marker surfaces indicative of shallow intervals in Field X are, from deeper to shallower, MF2, Fs-s1, s2-Fs, Fs-s3, Fs-s4, Fs-s5, and Fs-s6, with the shallow gas accumulation predominantly observed within the intervals associated with Fs-s2 and Fs-s3, at depths ranging from approximately 950 to 1300 meters below sea level (MSS). These intervals demonstrate isolated gas accumulations, primarily comprising methane (C1), with minor traces of C2, C3, C4, and C5 gases detected in the shallow zone above the marker MF2.Gas analysis indicates a surge in total gas content within the 950-1300 MSS interval, correlating with anomalies identified from the Master Log data. This surge is attributed to limestone and coal layers, as corroborated by gas bearing reservoir mapping.Based on the analyzed data, it can be concluded that shallow gas accumulations are localized within the 950-1300 MSS interval, specifically between the Fs-s2 and Fs-s3 markers. For subsequent drilling activities on Platform M, it is recommended to monitor and consider this depth zone to mitigate related risks effectively.
|
2025-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65622 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.65622 | |
| 1670144 | #5790 | Deteksi Sebaran Debu Vulkanik Menggunakan Citra Satelit Himawari-8 (Studi Kasus Gunung Sinabung 9 Juni 2019) |
Pratama, Deka Agung Masruri, M. Fakhrul Islam Saputro, Mahmudi Bagus Siwi, Nanda Dewi Pamungkas Fajarianti, Rahpeni Margiono, Relly |
Letusan Gunung Sinabung yang terletak di Dataran Tinggi Karo, Sumatra Utara pada tanggal 9 Juni 2019 menyebabkan adanya kolom abu vulkanik berwarna hitam pekat dengan ketinggian mencapai ±7.000 m di atas puncak gunung. Kolom abu vulkanik itu tersebar hingga menyelimuti sekitar lima kabupaten di sekitar lokasi gunung api tersebut. Proses evakuasi perlu dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban akibat peristiwa letusan ini. Proses evakuasi dapat dilakukan dengan mengetahui jejak persebaran dari kolom abu vulkanik. Ada beberapa cara untuk mengetahuinya, salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan data dari citra satelit Himawari-8 yang diolah dengan memanfaatkan metode RGB (red-green-blue) untuk mengetahui dimana arah persebaran abu vulkanik berdasarkan arah gerak angin. Hasil penelitian yang dilakukan, dapat dengan baik mendeteksi pola persebaran dari kolom abu vulkanik yang terjadi. Sehingga dapat diketahui wilayah yang berpotensi terdampak dari sebaran abu vulkanik. Selain itu deteksi abu vulkanik, dapat pula dimanfaatkan oleh sektor penerbangan, dan juga mempermudah pendataan kerugian sosial-ekonomi yang timbul akibat sebaran abu vulkanik.
|
2020-01-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25582 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i3.25582 | |
| 1670143 | #5790 | LITOSTRATIGRAFI CEKUNGAN OMBILIN DALAM KERANGKA TECTONO-SEDIMENTATION RIFT BASIN |
Mulyana, Budi Gani, Reza Mochamad Ganjar |
During Tertiary, the sedimentation model in Ombilin Basin, West Sumatra, was strongly influenced by tectonisme. It is indicated by characteristic and composition of the rock, and distribution pattern for each formation. In general, it can be decided into two main groups according to the age of rocks, which associated with the tectono-sedimentation rift basin. Brani, Sangkarewang, Sawahlunto and Sawahtambang Formations were deposited in terrestrial to transition zone during syn-rift phase. Meanwhile, Ombilin and Ranau Formations, which is dominated by volcanic deposits, were formed for the period of post-rift phase indicated by marine influence has existed.
|
2015-08-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8393 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i2.8393 | |
| 1670142 | #5790 | KARAKTERISTIK ENDAPAN GUNUNG GEDE KAITANNYA DENGAN KETERDAPATAN AIRTANAH UNTUK KEPERLUAN MASYARAKAT DAERAH GEKBRONG KABUPATEN CIANJUR |
-, Undang Mardiana -, Febriwan Mohamad |
Administratively, Gekbrong area included into Kabupaten Cianjur region; this area is frontier between Kabupaten Cianjur ( Gekbrong) with Kabupaten Sukabumi ( Cimangkok), resides in Cianjur – Sukabumi roadside. Morphologically as centered bevel of Gunung Gede (Volcano mount foot geomorphology set) with inclination bevel of between 5 - 45 % and height between 400 - 1400 meter asl. River drift pattern grows in this area is sub-parallel pattern which mains to Cibeleng river, with relative Northwest – Southeast stream direction. Geology of this area compiled by pyroclastic and laharic rock; consisted of breccia, tuff, lapilli and laharic breccia from Gunung Gede, while laying below it are compilation between Cantayan Formation Breccias component with Upper Miocene age (Mttb), Cantayan Formation Claystone component with Upper Miocene age (Mttc), Resulting Deposit Of Eldest Volcano ( Qot) Early Plistocene age and Mount Gede Lava ( Qyl) Mid Plistocene age, Breccias and lava of Mount Gede ( Qyg) Late Plistocene age (Cianjur Sheet Geological Map; Sudjatmiko, 1972).Geoelectric investigation done on the basis of physical rock properties to electric current, where each different rock will have different resistivity value. This consideration depends on some factors, such as rock age, electrolyte content, rock solidity, number of minerals contained, porosity, permeability and others. Mostly applied geophysical exploration method in subsurface hydrogeology investigation is geoelectric method (resistivity method). This sounding type also called as Vertical Electric Sounding ( VES), aimed to study various rock resistivity to vertical depth below measuring points (measuring point).Geoelectric investigation result show that there are three rock packages based on distribution and contrast of resisivity value which are interval between rugged and fine clastic and shows more laharik process after compared to its geology condition, such as :a.First package is the topmost package which is phyroclastic rock found at interval depth of 0 until - 30 meter with resistivity value of < 50 Ω m , 50 - 100 Ω m and 100 - 150 Ω m. b.Second package, being volcanic rock package found at interval depth of 0 until - 30 meter with resistivity value of < 50 Ω m, 50 - 100 Ω m and 100 - 150 Ω m. c. Third package start t at - 100 meter depth, compiled by rock with resistivity value between 40 - 50 Ω m (lapilian tuff) and 50 - 100Ω m (lapillian matrix supported breccias).
|
Geoelectric investigation | 2009-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8238 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i2.8238 |
| 1670141 | #5790 | INVESTIGASI LAPISAN BATUAN KAWASAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR BAGIAN UTARA BERDASARKAN ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY (ERT) |
Susanto, Kusnahadi Azzam, Muhammad Zharfan Syarafina, Zhafirah Nurul Kirana, Kartika Hajar Dharmawan, Irwan Ary Harja, Asep |
Pemeriksaan lapisan batuan serta kondisi bawah permukaan memegang peran yang sangat penting dalam upaya pemanfaatan lahan, baik untuk mendukung infrastruktur diatasnya maupun pemanfaatan sumber daya alam yang terkandung didalamnya. Pemanfaatan lahan berhubungan erat dengan pengembangan infrastruktur yang direncanakan. Agar dapat mengurangi risiko potensial dari bencana, penting untuk memperhatikan kualitas dan kemampuan dukungan lahan yang diperlukan. Artikel ini mengulas tentang hasil studi mengenai identifikasi lapisan batuan yang dilakukan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor di bagian utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Electrical Resistivity Tomography (ERT) karena merupakan metode yang memiliki resolusi yang baik dalam pengukuran geofisika dangkal. Data yang dihasilkan dari pengukuran ini adalah penampang kontras resistivitas tanah dan batuan yang berasosiasi pada berbagai aspek seperti kandungan air dalam pori, jenis batuan serta struktur bawah permukaan. Pengukuran ERT dilakukan dengan membuat 11 lintasan baik yang saling memotong maupun saling sejajar. Hasil pengukuran geolistrik resistivitas di daerah penelitian ini menunjukkan variasi kontras tahanan jenis batuan mulai dari 0,5 Ωmeter sampai lebih dari 500 Ωmeter, namun demikian dalam interpretasi yang kami lakukan, rentang nilai tersebut dibagi menjadi beberapa rentang kategori yang disesuaikan dengan maksud penelitian serta kondisi lapangan yang sedang diteliti. Hasil interpretasi terhadap data resistivitas memunculkan informasi dugaan tiga lapisan batuan di antara kedalaman 0 sampai dengan 70 dan struktur patahan minor di sekitar daerah penelitian.
|
2023-08-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48042 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i2.48042 | |
| 1670140 | #5790 | KARAKTERISTIK SISTEM HIDROGEOLOGI KARST BERDASARKAN ANALISIS HIDROKIMIA DI TELUK MAYALIBIT, RAJA AMPAT |
Endah, Raras Yoseph, Boy Sukiyah, Emi Setiawan, Taat |
ABSTRAKKarst Teluk Mayalibit memiliki sistem hidrogeologi yang unik karena sebagian pola aliran bukan berasal dari kawasan karst itu sendiri. Penelitian sistem hidrogeologi karst ini dilakukan dengan menggunakan analisis hidrokimia yang dikompilasi dengan observasi hidrogeologi di lapangan. Berdasarkan analisis data hidrokimia seperti temperatur, derajat keasaman (pH), tekanan parsial terhadap CO2 (PCO2), dan indeks kejenuhan terhadap kalsit (SIkalsit) menunjukan bahwa pada elevasi 40-80 mdpl termasuk dalam zona transisi dengan sifat sistem aliran terbuka atau rongga, sedangkan pada elevasi 20-40 mdpl analisis hidrokimia menunjukan bahwa elevasi ini termasuk zona aliran menerus dengan sifat sistem aliran tertutup atau difusi. Kata Kunci : Karst, Sistem Hidrogeologi, Hidrokimia, Sistem Aliran, Teluk Mayalibit.ABSTRACT Karst of Mayalibit Bay has a unique hydrogeological system because some flow patterns are not from karst area itself. Karst of hydrogeological system research is done by using hydro chemical analysis which is compiled by hydrogeological observation in the field. Based on analysis of hydro chemical data such as temperature, degree of acidity (pH), partial pressure on CO2 (PCO2), and saturation index of calcite (SIcalcite) showed that at elevation 40-80 mdpl included in transition zone with open flow system or cavity, 20-40 mdpl hydro chemical analysis indicates that this elevation includes a continuous flow zone with the nature of the closed flow system or diffusion. Keywords: Karst, Hydrogeology System, Hydro chemical, Flow System, Mayalibit Bay.
|
2017-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15100 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i3.15100 | |
| 1670139 | #5790 | KUALITAS BATUAN BEKU ANDESITIS BERDASARKAN PENDEKATAN KUAT TEKAN DAN PETROLOGI |
-, Irvan Sophian -, Aton Patonah -, Febriwan Mohamad |
The quality of infrastructure is related to the materials to be used, especially rock strength. Infrastructure usually uses the rock material as foundation, road materials, etc. Rock samples were taken from Lagadar-Cimahi and Licin-Cimalaka. Petrographic analyses and point load tests were carried out to determine physical and mechanical characteristics. Rock types of Lagadar are andesite and basaltic and Cimalaka are andesite, basalt, and diorite. Rocks of Lagadar are stronger than Licin based on point load test. Point load test of Lagadar rock samples for andesite ranges from 8.17 - 30.57 kg/cm2, basalt ranges from 47.68 -144.03 kg/cm2, and point load test of andesite, basalt, and diorite from Cimalaka ranges between 4.08 - 10.34 kg/cm2, 4.09 -13.83 kg/cm2, and 6.12 kg/cm2 respectively. Rock strength is influenced by mafic mineral content, void ratio, porosity, texture, rock structures, and the degree of weathering.
|
point load, void ratio, porosity | 2011-12-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8271 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i3.8271 |
| 1670138 | #5790 | VULKANOSTRATIGRAFI KOMPLEK VULKANIK GUNUNG WILIS BAGIAN BARAT, KABUPATEN PONOROGO, PROVINSI JAWA TIMUR |
Ismunandar, Wisnu Raharjati, Ni'matul Azizah Yudiantoro, Dwi Fitri |
Komplek Vulkanik Gunung Wilis Bagian Barat merupakan bagian dari Gunungapi Wilis serta bagian dari gunung api Kuarter aktif yang berada di busur gunung api Sunda. Aktivitas vulkanisme Gunungapi Wilis dapat dipelajari dari aspek vulkanostratigrafinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan urutan stratigrafi batuan dan sejarah vulkanisme dari fase pembentukan Komplek Vulkanik Gunung Wilis Bagian Barat. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pemetaan geologi permukaan, pengukuran stratigrafi, dan analisis petrografi. Berdasarkan deskripsi litologi lapangan, litologi dibedakan menjadi 16 satuan batuan berupa piroklastik jatuhan, piroklastik aliran, aglomerat, dan batuan beku vulkanik yang mewakili masing – masing fase pembentukan gunung api. Adapun dijumpai adanya struktur geologi berupa sesar mendatar kiri yang mengontrol munculnya manifestasi panasbumi berupa mata air panas yang berkembang pada bagian Tenggara daerah penelitian. Satuan vulkanostratigrafi daerah Komplek Vulkanik Gunung Wilis Bagian Barat secara berurutan dari tua ke muda diklasifikasikan kedalam Gumuk Jeding, Gumuk Kemlandingan, Gumuk Manyutan, dan Gumuk Ngebel yang dapat mewakili terkait proses evolusi vulkanisme daerah telitian yang ditandai dengan proses fase destruktif dan konstruktif. Adapun kehadiran pola umum perubahan kandungan mineral hasil analisis petrografi yakni berdasarkan karakteristik batuan piroklastik dan batuan beku vulkanik yang memiliki sifat pola basa hingga menuju asam seiring berkembangnya evolusi vulkanismenya.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54247 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.54247 | |
| 1670137 | #5790 | KARAKTERISTIK BATUBARA REGRESI DAN TRANSGRESI FORMASI MUARA ENIM CEKUNGAN SUMATRA SELATAN | Nurdrajat, Nurdrajat |
Formasi Muaraenim merupakan formasi pembawa-batubara yang tersebar meluas di Cekungan Sumatra Selatan. Penyebaran pola batubara pada daerah penelitian belum dapat dijelaskan dari sisi temporal dan spasialnya. Sehingga, status horison korelasi seam batubara masih bersifat parsial. Melalui konsep stratigrafi sikuen dengan metode sumur/log dan rekonstruksi paleogeografi, maka status kehadiran dan kompleksitas batubara pada daerah penelitian dapat dijelaskan secara komprehensif. Tujuh belas unit sikuen terbentuk dengan karakter tiap unit sikuen yang beragam. Unit sikuen tersebut terbagi kedalam sikuen regresi dan transgresi. Karakter batubara pada sikuen transgresi berbeda pada saat sikuen regresi. Karakter batubara dalam sikuen regresi memiliki pola ketebalan yang semakin menebal ke arah lapisan yang lebih muda (thickenning upward) dan sebaliknya, batubara dalam pola penipisan ketebalan (thinning upward) berada dalam unit sikuen transgresi. Konsep dan metode yang diterapkan ini mampu menjelaskan karakter fisik (spasial) serta waktu (temporal) dalam kerangka transgresi/regresi yang berkorespondensi terhadap fase genetik pembentukan batubara dalam tiap siklus pengendapan. Kata kunci: Seam Batubara, Formasi Muaraenim, stratigrafi sikuen, Temporal-Spasial.
|
2019-01-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18772 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.18772 |