Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670136 #5790 LINGKUNGAN PEMBENTUKAN DAN DIAGENESIS BATUGAMPING DAERAH KEMANG BARU DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SIJUNJUNG Patonah, Aton
Isnaniawardhani, Vijaya
Carbonate rock is one of reservoir rock types in petroleum. It is interesting to study because its special characteristic, that is, it can change so easily that will affect to quality and quantity of reservoir. This research has been done at Kemang Baru area and around, Sijunjung Distric. Purposes of this research are to know texture and composition characteristic and to know what kind of environment deposition and diagenesis process involved as long as the formation. To get the information about that, petrography and Palinology methods are used. The result of this research shows that only 37 samples of carbonate type from 69 samples which have been analized. These are wackestone and mudstone. They have been formed at low energy environment and in reduction process which is characterized by present of pyrite in the rocks. To support the data, result of Palinology analysis, the rock have contained Dicolpopollis sp., Margocolporites sp., Palmaepollenites sp. and Psilatricolpites sp, berasosiasi dengan Acrostichum sp., Detloidospora sp., Hyphae sp., Inaperturisporites sp., Laevigatosporites sp., Verrucatosporites sp. Based on these, the rocks were formed at deep Lake.
2014-04-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8361 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i1.8361
1670135 #5790 PERAN GEOLOGI TEKNIK DAN ANALISIS KEWILAYAHAN DALAM GEOLOGI MILITER DI INDONESIA Zakaria, Zufialdi
Since ancient Chinesse era to World-War 2, knowledge of geoscience hold important role in themilitary world. Landscape analysis (potency and constraint) for military is needed to evaluate enemymovement and its war equipments, to determining access of location rute, to mapping hydrogeologysurface and underground for structural defence & military personnel and also for attack. Though Spot-5,Ikonos and Quickbird sattelite images’ exist, but map of military geology is necessary to remainingsurface material physical characteristic toward teritorial enemy and also to develop defence citadel.Map and scale of military geology based on engineering geology condition for need of military. Variationscale depend on needed, from big scale (most detailed) to small scale (regional).In Indonesia, Indonesian Association of Geologist (IAG) both Geological Research and DevelopmentCenter (GRDC) not had Unit of Military Geology yet. In America, Unit of Military Geology was formedsince 1942. This unit duty is complie terrain intelligence, how troops can be move in land; finding ofwater, fuel, mineral and construction material, solving construction problem and base landing plane.
Landscape analysis, engineering geology, military geology 2005-10-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7456 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v3i2.7456
1670134 #5790 KARAKTERISTIK BATUBARA DAERAH KECAMATAN NUNUKAN, KALTARA GANI, REZA MOHAMMAD GANJAR
Saat ini batubara banyak dibutuhkan karena merupakan, bahan galian yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang mempunyai nilai ekonomi penting. Informasi mengenai sumberdaya dan cadangan batubara menjadi hal yang mendasar dan penting dalam merencanakan strategi kebijaksanaan energi nasional dikarenakan saat ini, pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batubara baik sebagai energi altematif untuk keperluan domestik seperti pada sektor industri dan pembangkit tenaga listrik maupun untuk keperluan ekspor. Maksud dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk melaksanakan pemetaan awal yaitu dengan mempelajari Kondisi Geologi Daerah Penyelidikan secara umum guna mendapatkan data-data awal serta gambaran secara jelas mengenai keberadaan dan potensi deposit batubaranya. Kota terdekat dari daerah penyelidikan adalah Kota Nunukan. Letak lokasi penyelidikan tepatnya ke arah barat dari Kota Nunukan dengan jarak sekitir 50 km. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil dengan luas areal sekitar 34.000 ha yang pada saat sekarang telah menjadi kabupaten hasil dari pemekaran kabupaten sebelumnya yaitu Kabupaten Bulungan. Berdasarkan data-data hasil Kegiatan Penyelidikan Lapangan, stratigrafi litologi penyusun Daerah Penyelidikan didominasi oleh ; Alluvium dan anggota Formasi Meliat (Tmm) serta Formasi Tabul (Tmt). Berdasarkan data Geologi Regional dan Hasil Interpretasi Data-data Lapangan diduga Daerah Penyelidikan berada pada salah satu sayap / sisi suatu “Zona Lipatan”, hal tersebut terutama dicirikan oleh gradasi harga “dip” (kemiringan lapisan) batuan dan batubara yang tidak konsisten pada beberapa Lokasi / Stasiun Pengamatan di lapangan. Hasil penyelidikan sumberdaya batubara di lapangan didapat 14 singkapan batubara dipermukaan (outcrop) dengan jumlah titik pengamatan yang disampling sebanyak 7 titik untuk kernudian dikirim ke laboratorium. Secara megaskopis, umumnya batubara di daerah penyelidikan berwarna hitam kusam, berlapis dengan retakan angular, agak kompak, dan agak keras. Dari kenampakan megaskopis tersebut, diperkirakan bahwa secara umum kualitas batubara yang ada di daerah penyelidikan adalah browncoalignite.Kata kunci: eksplorasi, batubara, nunukan
2020-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27358 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i1.27358
1670133 #5790 BASEMENT KOMPLEK BAYAH, KABUPATEN LEBAK, PROPINSI BANTEN Patonah, Aton
Helmi, Faisal
Prakoso, Jodi
Widiaputra, Taufiq
Researching metamorphic rocks in Bayah and in its surrounding area has slight data so it has not been clear yet how the stratigraphic position, the age and the metamorphic rocks characteristic is in the study area. By using geological mapping and petrographic method, it showed that the metamorphic rock is believed to be the basement of Bayah complex which accreted because of reverse fault in the northwest so that the rock appeared together with the relatively younger rocks in the south (Bayah Formation and Granodiorite Cihara). These rocks showed that there are foliation, boudinage and crenulation structure consisting of various types of metamorphic rocks which are different in degrees of metamorphism (low grade – high grade metamorphism) and in protoliths as well, so these interpret as a result of orogenic processes of intermediate pressure metamorphism.
2015-12-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8405 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i3.8405
1670132 #5790 KONDISI GEOLOGI TEKNIK PASIR LEPAS TERHADAP PERENCANAAN DAN PRE-DESAIN BENDUNGAN TIPE URUGAN (EARTH DAM) DI DESA KANDANG AMPEK, KABUPATEN PARIAMAN, SUMATERA BARAT -, Boy Yoseph
The Observatory area include in the fisiography of Rangkaian Pegunungan Barisan Barat, which is located at the elevation +604 m until +620 m above the sea level. Geologically is consist of two unit geomorphology, i.e geomorphology unit of breccia volcanic hilly extremely steep and geomorphology unit of breccia tuff hilly slope. These geomorphology condition in caused the hydraulic gradient quite high and so the speed of current surface water too. Litology of the observatory area is breccia volcanic. The geology structure of the observatory area which is holding a role is not found, but there are joints in several locations. Which were assumsed come from the tectonic activity which developed along the Sumatera Fault (Semangko Fault).Based on soil mecanic datas, the dam material has a relative session = 0 . Where as the (C) valve (cohessi) is very small, because of that the soil bearing capacity is very small, and its necessary to make a foundation. One of many years to increase Dr (relative session) from those material to mix soil (soil mixing) (to add the component cohesive /silt and clay). The Observatory area included to the earthquake area, so type of dam is earth dam. clay core on dam body is required to decrease the seepage. Dam body is consisted with the comparation of soil mix 9:1:0 and 8:1:1.
soil bearing capacity, soil mix, dam 2007-04-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8143 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i2.8143
1670131 #5790 APLIKASI METODE RESISTIVITAS UNTUK IDENTIFIKASI LITOLOGI BAWAH PERMUKAAN SEBAGAI STUDI AWAL DALAM KEGIATAN EKSPLORASI ZONA MINERALISASI STUDI KASUS: DS. KUTAWARINGIN, KEC. KUTAWARINGIN, KAB. BANDUNG, JAWA BARAT Nugraha, Cahya
A., M. Haikal Fauzian
Nur, Andi Agus
Daerah Kutawaringin memiliki potensi zona mineralisasi emas yang sudah diketahui sejak ratusan tahun yang lalu. Aplikasi geolistrik menjadi salah satu teknologi yang digunakan dalam kegiatan eksplorasi awal, dengan harapan proses eksplorasi dapat berlangsung efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini, untuk mendapatkan gambaran litologi batuan di bawah permukaan melalui interpretasi nilai resistivitas batuan. Metode penelitian yakni dengan metode geolistrik-resistivitas dengan konfigurasi schlumberger. Pengukuran resistivitas dilakukan pada dua lokasi yakni lintasan geolistrik 1 di sekitar S. Cipetir dan lintasan geolistrik 2 di sekitar S. Ciherang, dengan menggunakan alat resistivitimeter Naniura NRD-300HF. Pada hasil pengukuran dan pengolahan data di lintasan geolistrik 1 tidak ditemukan indikasi zona mineralisasi. Sedangkan pada pada lintasan geolistrik 2 ditemukan indikasi zona mineralisasi berupa angka resisitivitas tinggi sekitar 1514,64 Ωm, yang mengindikasikan lava hasil aktivitas magmatisme. Selain itu, keberadaan mineral asosiasi emas yakni Pirit menjadi salah satu indikasi terdapatnya zona mineralisasi emas di daerah tersebut. Di sekitar kedua lokasi pengukuran ditemukan sejumlah mineral Kaolin yang merupakan ubahan dari mineral Plagioklas.Kata Kunci: Kutawaringin, Zona Mineralisasi, Emas, Resistivitas.
2021-09-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33791 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i2.33791
1670130 #5790 Identifikasi Airtanah Daerah Ciemas, Kabupaten Sukabumi Berdasarkan Citra Satelit, Geologi Dan Hidrogeologi Muhammad, Fathurrizal
Barkah, Mochammad Nursiyam
Hadian, Mohamad Sapari Dwi
Air merupakan sumber kehidupan. Eksplorasi sumber daya air perlu terus dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Daerah penelitian secara administratif terletak pada daerah Ciemas, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Keterdapatan airtanah di daerah ini masih belum banyak diketahui dan perlu dicari melalui beberapa interpretasi yang dilakukan. Untuk mengindentifikasi potensi airtanah dilakukan berdasarkan beberapa analisis diantaranya, analisis Citra satelit, Geologi dan Hidrogeologi.Dalam analisis citra satelit, di bagian Utara dan Selatan daerah Ciemas terlihat adanya perbedaan tekstur yang menunjukkan adanya perbedaan litologi batuan. Daerah penelitian memiliki tiga satuan batuan yaitu satuan batupasir kuarsa (Tebpk), satuan batupasir kuarsa (Tmbp), dan Endapan Alluvial (Qa). Selain itu terlihat pola kelurusan dan beberapa indikasi sesar yang menunjukkan 7 sesar oblique yang mengontrol daerah penelitian. Hal tersebut berpengaruh pada kondisi hidrogeologi daerah penelitian, dengan terdapat tiga jenis akuifer yang berbeda, yaitu akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir dengan produktivitas sedang, akuifer bercelah/bersarang dengan produktivitas kecil, dan akuifer bercelah/bersarang dengan produktivitas langka. Berdasarkan hasil analisa tersebut mempengaruhi besar kecilnya potensi airtanah dan teridentifikasi berada di kawasan dataran tinggi pada akuifer produktif yang terpotong oleh patahan-patahan geologi.Kata kunci : Airtanah, Ciemas, Citra satelit
2017-01-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10966 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.10966
1670129 #5790 KELIMPAHAN POLEN DAN SPORA ENDAPAN CHANNEL DELTA MAHAKAM -, Winantris
In the delta area there aretwo type of channelsnamely distributary channel and tidal channel. Both controlthe supply of sedimentforming thedelta. Channel is an open areaof vegetation.Channel justovergrown by plant water, but channel gets pollen and spore from the vegetation growing arround it. The aim of research is to know abundance of pollen and spore are deposted in the channel,to be usedas a guidedeposition environment and study provenance. The avarage pollen and spores in the sediment distributary channelat 47.73 grain per sampleincluded poor category and average pollen and spores in the tidal channel at 66.85 grain per sampleincluded in themoderately rich category. The abundance of pollen in the deposit of tidal channel is higher than deposit of distributary channel, while the abundance of fern sporeswere not significantly differentbetween the two channel.
distributary channel, tidal channel, delta, pollen, spore, abundance 2012-08-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8280 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i2.8280
1670128 #5790 KARAKTERISTIK GEOKIMIA AIR PANAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANATOMIC ABSORPTION SPRECTROPHOTOMETER (AAS), GEOTHERMOMETER DAN GEOINDIKATOR, STUDI KASUS: ULU BELU, KABUPATEN TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG Nurjanah, Anisa
Armandani, Aditya Raihan
Aulia, Khanaya Syafarah
Az zahra', Salmaa Aulia
Lestari, Suci Febria
Rochmana, Yogie Zulkurnia
Karakteristik geokimia fluida panas bumi berperan sebagai indikator utama dalam memahami kondisi reservoir dan mengevaluasi potensi energi panas bumi di suatu wilayah. Salah satu wilayah yang memiliki potensi panas bumi  berada di daerah Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur kimia, suhu reservoir geothermal dan jenis mata air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah AAS (Anatomic Absorption Sprectrophotometer), geotermometer dan geoindikator. Metode AAS digunakan untuk menganalisis kandungan unsur-unsur kimia dalam sampel air panas, geotermometer membantu dalam memperkirakan suhu reservoir, geoindikator digunakan untuk menentukan tipe air panas berdasarkan komposisi kimianya. Studi ini mengungkapkan terdapat 3 unsur yang dominan Magnesium (Mg2+) sebanyak 10,80 ppm, 12,79 ppm, dan 6,64 ppm, kemudian Kalsium (Ca2+) sebanyak 6,66 ppm. 8,15 ppm dan 11,90 ppm, Iron (Fe3+) sebanyak 1,22 ppm, 5,18 ppm, dan 17,35 ppm. Hasil pengolahan menggunakan geotermometer diperoleh estimasi suhu reservoir Ulu Belu antara 54,59 – 60,26°C. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pengaruh air permukaan ditunjukkan oleh tingginya kandungan magnesium dalam manifestasi air panas. Hasil pengolahan data dengan menggunakan  geoindikator didapatkan bahwa mata air panas yang berada pada lokasi penelitian bertipe immature water dengan kandungan Mg yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa sampel air panas telah tercampur dengan air tanah.
2025-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60662 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i1.60662
1670127 #5790 PERAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAERAH ALIRAN SUNGAI BUOL TERHADAP BANJIR DI WILAYAH BUKAL, TILOAN, MOMUNU DAN BIAU, PROVINSI SULAWESI TENGAH Tawil, Sukardan
Sukiyah, Emi
Rosana, Mega Fatimah
Muslim, Dicky
ABSTRAKDaerah Aliran Sungai (DAS) Buol terletak di lengan utara Pulau Sulawesi. Bentuk DAS yang menyerupai angka 7 cenderung berbentuk paralel, menandakan ada dua sungai besar yang menyatu di wilayah hilir. Bagian hilir tampak lebar, seolah membentuk bejana besar yang dapat menyebabkan aliran S. Buol tergenang dalam jangka waktu lama. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar peran morfometri DAS terhadap fenomena banjir di wilayah tersebut. Beragam metode digunakan untuk ekstraksi data dari Citra Landsat, SRTM, peta topografi dan peta tematik yang dilakukan di studio. Deskripsi dan pengukuran obyek dilakukan di lapangan. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif menghasilkan visualisasi dalam bentuk grafik, peta dan tabel. Analisis dilakukan terhadap 17 sub-DAS Buol. Luas sub DAS berkisar dari 2,82 sampai 335,4 km2.. Secara umum DAS Buol menunjukkan bentuk lahan pedataran dan perbukitan. Pola pengaliran di DAS Buol yakni subtrellis, subdendritik, subrektangular dan anastomotik. Morfometri berperan terhadap zona bencana geologi di dataran banjir di Timur dan Timur laut DAS Buol mencakup sebagian wilayah Kecamatan Bukal, Kecamatan Momunu dan Kecamatan Biau. Pada SDB6 bentuk DAS adalah bulu burung serta SDB7 dan SDB8 memiliki bentuk DAS radial. Nilai kerapatan pengaliran (Dd) yaitu SDB6 (1,98), SDB7 (2,44), SDBS8 (1,30), SDB6 (1,98), SDB7 (2,44) dan SDBS8 (1,30). Bila nilai Dd berkisar antara 0,25 – 10, maka alur sungai melewati batuan dengan resistensi keras sehingga sedimen yang terangkut aliran sungai relatif lebih kecil. Berdasarkan hasil rekapitulasi, debit banjir dapat diperkirakan hingga 100 tahun.Kata Kunci : DAS Buol, Morfometri, Pola Pengaliran, BanjirABSTRACTThe Buol watershed is located in the northern arm of Sulawesi Island. A watershed shape that resembles the number 7 tends to be parallel, indicating there are two major rivers that converge in the downstream region. The downstream section is wide, forming a large vessel that can cause the flow of S. Buol to be inundated for a long time. This research was conducted to find out how far the role of watershed morphometric on flood phenomena in the region. Various methods are used for data extraction from Landsat Imagery, SRTM, topographic maps and thematic maps conducted in the studio. Description and measurement of the object is done in the field. Data analysis using quantitative-descriptive approach produces visualization in the form of graph, map and table. The analysis was conducted on 17 Buol sub-watersheds. The area of the sub-watershed ranges from 2.82 to 335.4 sq.km. In general, the Buol watershed shows the shape of the plains and hills. The drainage pattern are subtrellis, subdendritic, subrectangular and the anastomotic. The morphometric relationship to the geological disaster zone in the flood plains of East and Northeast Buol watershed in some areas covers Bukal Subdistrict, Momunu Subdistrict and Biau Subdistrict. SDB6 sub-watershed forms like bird feathers, while SDB7 and SDB8 are radial. The drainage density (Dd) are SDB6 (1.98), SDB7 (2.44), SDBS8 (1.30), SDB6 (1.98), SDB7 (2.44) and SDBS8 (1.30). If the Dd value ranges from 0.25 - 10, the river channel passes through rocks with hard resistance so that the sediment transported by the river flow is relatively smaller. Based on the recapitulation results, flood discharge can be estimated up to 100 years.Key word : Buol watershed, Morphometric, Drainage pattern, Flood
2019-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23172 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.23172
1670126 #5790 KONTROL STRUKTUR TERHADAP PENYEBARAN BATUAN VOLKANIK KUARTER DAN GUNUNGAPI AKTIF DI JAWA BARAT Sunardi, Edy
Distribution of Quaternary volcanic rocks and the position of the active volcanoes are relation with subduction activity. In the surface appearance of volcanic rocks and active volcanoes is controlled by fault structure. The purpose of this study was to determine the pattern of distribution of fault structure underlying the Quaternary volcanic rocks. The methods used by Landsat imagery analysis and delineate the age distribution of volcanic rocks. Since Late Tertiary to Quaternary fault structures have been formed either as a result of reactivation of old faults or as a new fault structures formed by tectonic younger. Based on the age of volcanic rocks and underlying fault pattern can be concluded that the tectonic activity and magmatism / volcanism never stops.
2014-12-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8372 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i3.8372
1670125 #5790 PALEOEKOLOGI SATUAN BATULEMPUNG FORMASI JATILUHUR DAERAH CILEUNGSI , KECAMATAN CILEUNGSI, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT -, Lia Jurnaliah
Claystone is composed of clay and carbonaceous sandstone. The relatively age of claystone is Lower Miocene (N8 Zone) – Middle Miocene (N9 Zone). Based on quantitative analysis of benthic foraminifer fossils from 10 samples on Cikarang river line, there are 31 species and 480 individuals, meanwhile, from 6 samples of Cilegok river line, are found 20 species and 348 individuals. Percentages of benthic foraminifer fossils on Cikarang River are 94,8% Rotaliina, 2,71% Textulariina, 2,71% Milioliina. Cilegok river has 98,28% Rotaliina, 0% Textulariina, 1,72% Miloliina.The interpretation of Paleoecology was done by using fossil assemblages, Diversity Index α Fisher and Triangular Plot Murray. Based on those methods, paleoecology of claystone of Jatiluhur Formation of Cileungsi area was Normal Marine Lagoons.
Claystone, Fossil, Paleoecology 2006-01-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8117 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i1.8117
1670124 #5790 Perubahan Kondisi Lingkungan dan Iklim Danau Bandung Purba Bagian Timur Berdasarkan Analisis Palinologi Daerah Cikuya, Jawa Barat YOGA, KUNCARANINGRAT EDI
ADI, GILANG PERWIRA
WINANTRIS, WINANTRIS
Abstrak Lingkungan merupakan hubungan organisme dan aspek fisik yang tidak hidup di sekitarnya. Iklim merupakan kondisi rata-rata cuaca suatu daerah pada jangka waktu yang relatif panjang. Lingkungan dan iklim dapat mempengaruhi vegetasi yang berkembang di suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan dan perkembangan kondisi lingkungan dan iklim yang berlangsung pada kala Holosen di daerah Danau Bandung Purba bagian Timur melalui analisis palinologi. 14 Sampel diambil menggunakan bor tanah di kedalaman 182 cm hingga 52 cm pada endapan yang diinterpretasikan sebagai endapan penyusun daerah Danau Bandung Purba bagian Timur. Sebanyak 14 sampel tersebut telah dianalisis secara palinologi. Perubahan dan perkembangan kondisi lingkungan dan iklim daerah Danau Bandung Purba bagian Timur ditentukan dengan membandingkan kuantitas taksa polen dan spora. Pada penelitian ini secara umum ditemukan hasil lingkungan berupa rawa terbuka beriklim kering dan dingin yang direpresentasikan oleh taksa Araceae, berbagai taksa flora tidak berkayu (Non-arboreal) dan persentase spora yang rendah. Katakunci: Lingkungan, iklim, palinologi, Danau Bandung Purba bagian Timur.
2021-01-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29174 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.29174
1670123 #5790 KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG LAPUKAN FORMASI BALIKPAPAN DI SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR Zakaria, Zufialdi -
Dipatunggoro, Geni -
Haryanto, Edi Tri -
Balikpapan Formation (Upper Middle Miosen) consist of quarzite sandstone, silty claystone, and shale with marl as intercalation, limestone and coal. clay at Samboja as apart of Balikpapan Formation, consist of silt, clay and sand.Clay identification based on soil mechanic is clay with high plasticity (CH), illitic, very low permeability (K = 6,61E-08 to 1,48E-07 cm/sec), medium to medium-high activity (A= 0.55 to 0.91)Keywords: clay, soil mechanic
2007-12-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8625 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8625
1670122 #5790 KETERDAPATAN BAHAN GALIAN GALENA DI DAERAH CIGEMBLONG, KABUPATEN LEBAK, PROPINSI BANTEN -, Mega Fatimah Rosana
-, Euis Tintin Yuningsih
-, Adi Hardiyono
The objective of the research is to identified and investigated the occurrence of lead, its distribution, size, formation, quantity and quality in the district of Cigemblong, regency of Lebak, province of Banten as a guide for advance investigation. Several samples collected and analyzed petrographically to identified rock, alteration and ore mineral variation as well as geochemistry analysis by XRF method.The stratigraphic units of the research area can be classified into three rock units, such as from oldest to youngest one are carbonaceous claystone, tuf, andesitic – dioritic intrusive, and volcanic breccia units. Three alteration types in the research are are prophylitic, argillic, and silicification alteration.Field investigation concluded that mineralization occurred as mineralization zone of quartz veins with N – S and NE – SW direction, partially as thin lensing in claystone unit. Otherwise the distribution are limited, and separated each other. So, it is difficult to trace the vein zone and lensing as same vein.The characteristic of the mineralization zone gangue minerals dominated composed of quartz, calcite and clay mineral, with ore minerals of pyrite
Cigemblong, prophylitic, argillic, silicification, mineralization zone, pyrite, galena 2007-12-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8153 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8153
1670121 #5790 Interpretasi Kondisi Geologi Bawah Permukaan Berdasarkan Data Geofisika Magnetotellurik Daerah Blora, Provinsi Jawa Tengah YUNIARDI, YUYUN
Mardiana, Undang
Nur, Andi Agus
Mohammad, Febriwan
Alfadli, Muhammad Kurniawan
Daerah penelitian berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, termasuk kedalam zona Rembang Cekungan Jawa Timur bagian Utara, dan tersusun lima Formasi yaitu; Formasi Tambakromo, Formasi Selorejo, Formasi Mundu, Formasi Ledok, Formasi Wonocolo, namun penentuan batas-batas Formasi pada daerah penelitian belum ada yang dapat menjelaskan dan gambaran struktur bawah permukaan masih kurang, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tambahan mengenai penentukan batas-batas formasi serta stuktur geologi bawah permukaan yang akan diperoleh dari hasil interpretasi korelasi data lapangan dengan menggunakan metoda geofisika  Magnetotellurik. Hasil  Pengukuran Magnetotellurik pada 40 titik, berdasarkan nilai resistiviti terdapat 5 zona keterpengaruhan struktur, yaitu: zona 1, pada titik pengukuran 35-36; zona 2, pada titik pengukuran 27-33; zona 3 pada titik pengukuran 16-17; zona 4 pada titik pengukuran 9-10; dan zona 5 pada titik pengukuran1-2 permodelan berdasarkan nilai-nilai resisitiviti berdasarkan kedalaman, terdapat 5 batasformasi, yaitu: 1)Formasi Wonocolo, Ledok, Mundu, Selorejo, Tambakromo dan Alluvium, 2) Formasi Wonocolo dan Ngrayong, 3) Formasi Tuban, 4) Formasi Kujung, dan 5) Formasi Ngimbang dan Batuan dasar. Struktur Geologi yang berkembang berupa lipatan, antiklin pada titik 26-36, dan titik 02, sinklin di tengah titik-titik pengukuran, Sesar Normal yang bersifat tumbuh pada titik antara MT26-MT27dan pada titik 30, yang masuk kedalam zona struktur 2, dan sesar normal pada titik MT 09 masuk kedalam zona 02. Sesar Naik pada titik MT 02 pada zona 05.
2022-01-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37879 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i3.37879
1670120 #5790 SIKUEN STRATIGRAFI DAN PALEOGEOGRAFI FORMASI TALANG AKAR PADA AREA “FERCANZA”, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Fercanza, Frisdio
Gani, Reza Muhammad Ganjar
Abdurrokhim, Abdurrokhim
Muljana, Budi
Budiana, Rahmat
ABSTRACT“FERCANZA'' area is the working area of Pertamina Hulu Energi located in North West Java Basin. This study focused on Talang Akar formation at Arjuna sub basin. This research applies the Sequence stratigraphy  concept with correlation method, which will give results in form of (1) Determination of sequences marker is more accurate, (2) Facies mapping, and (3)Sequence stratigraphy model with  higher resolution detail for determination of plays, in this case stratigraphic traps on Talang Akar Formation at "FERCANZA" area. Data used in this study include the integration of 7 well logs data, 3 side wall cores, 5 mudlog, 8 seismic line, and 1 biostratigraphy report. Sequence Boundary (SB), Maximum Flooding Surface (MFS), and other Sequence stratigraphy marker determined from well log data analysis to make a cross-correlation. Interpretation of depositional environment based on the analysis of lithofacies, elektrofacies, and seismicfacies. Based on the research results, the Formation Talang Akar on the ''FERCANZA'' area has five facies association is delta plain, delta front, pro delta, tidal channel, and shallow marine with common facies associations form of  sediment tide dominated delta and sediment shallow marine. Directions sediment supply is derived from the relative direction northwest -southeast shown by the discovery of progradation patterns to southeast of the seismic profiles were trending northwest to the southeast. Through sequences marker which have been determined, the model for deposition of Talang Akar formation is divided into 4 representation depositional models at each sequence stratigraphys marker. Representation of the model shows the conditions and morphological changes in the research areas from every phase of its.Keywords: North West Java Basin, Talang Akar Formation, Sequence stratigraphy, Depositional models ABSTRAKArea ‘’FERCANZA’’ merupakan wilayah kerja dari Pertamina Hulu Energi yang berada pada Cekungan Jawa Barat Utara. Penelitian  ini difokuskan pada Formasi Talang Akar pada sub cekungan Arjuna. Penelitian ini menerapkan konsep sequence stratigraphy dengan metode korelasi, yang akan  memberikan hasil berupa (1) Penentuan marker sikuen yang lebih akurat, (2) Pemetaan fasies, dan (3) Model sequence stratigraphydengan resolusi yang lebih detail untuk penentuan plays, dalam hal ini perangkap stratigrafi pada Formasi Talang Akar, Area “FERCANZA”. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi integrasi dari 7 data well log, 3 side wall core, 5 data mudlog, 8 line seismik, dan 1 data biostratigrafi . Batas sikuen (SB), maximum flooding surface (MFS), dan marker sequence stratigraphylainnya ditentukan dari analisis data well log untuk membuat penampang korelasi. Interpretasi lingkungan pengendapan didasari oleh analisis lithofacies, elektrofacies, dan seismik facies. Berdasarkan hasil penelitian, pada formasi Talang Akar di Area ‘’FERCANZA’’ diketahui Formasi Talang Akar memiliki lima asosiasi fasies yaitu delta plain, delta front, pro delta, tidal channel, dan shallow marine dengan asosiasi facies umum berupa endapan tide dominated delta dan endapan shallow marine. Arah suplai sedimen berasal dari arah relatif barat laut -tenggara yang ditunjukan oleh ditemukannya pola progradasi ke arah tenggara dari profil seismik yang berarah barat laut menuju tenggara. Melalui marker sikuen yang telah ditentukan, model pengendapan untuk formasi Talang Akar dibagi menjadi 4 gambaran model pengendapan disetiap marker sequence stratigraphystratigrafi. Gambaran model tersebut menunjukkan kondisi dan perubahan morfologi daerah penelitian dari setiap fasenya.Kata Kunci : Cekungan Jawa Barat Utara, Formasi Talang Akar, Sequence Stratigraphy, Model Pengendapan
2017-04-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11740 buka_link ↗ Highlight_link
1670119 #5790 GROUND PENETRATING RADAR (GPR) SURVEY ON THE LAVA FLOW IN THE SUBANG AREA, WEST JAVA PROVINCE, INDONESIA -, Hendarmawan
Most hydrogeologist often meet the difficulties for exploration on tle lava flow when groundwater flow within that channel not emerging or no sputed on the surface. While, in other view, depending on frequency, GPR can resolve objects down to the size of a few meters or even centimeters, and this geophysical reflection method with the highest resolving power (GPR) is also as well established tool for geophysical investigations of the shallow subsurface. Thus, it is not surprising if this approach is used at lava flow terrain, in the Subang area. The tim can directly recognized the secondary permeable zone to recommendate the icline drilling with high accurate. Therefore, in this case, the extra effort and cost involved exceed the maksimum benefits or effisien.
groundwater exploration, lava flow, fracture zones, drilling, groundwater discharge 2010-08-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8247 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i2.8247
1670118 #5790 LINGKUNGAN PENGENDAPAN PURBA BERDASARKAN SPHENOLITHUS DAN RETICULOFENESTRA KALA MIOSEN PADA FORMASI JAMPANG, CILETUH, JAWA BARAT Pratiwi, Santi Dwi
Chiyonobu, Shun
Oktavia, Dina
Kelimpahan spesies nannofosil berkapur sebagai indikator lingkungan pengendapan purba dan rekonstruksi biokronologi pada umur Miosen telah diobservasi dengan metode semi quantitatif pada Formasi Jampang Anggota Cikarang, Ciletuh, Jawa Barat. Tujuh puluh preparasi nannofossil dari litologi batupasir dengan interval 10 sampai 30 sentimeter diidentifikasi dan kemudian dianalisis paleonvironment dengan teknik estimasi kelimpahan relatif coccoliths (K- r strategic) pada pembesaran 1000 × di mikroskop binokular polarisasi. Kondisi lingkungan purba pada zona oligotropik dicirikan oleh parameter yaitu jumlah produktivitas yang berlimpah dari Reticulofenestra berukuran besar dan kelimpahan dari Speholithus spp. yang relatif. Indikator dengan kondisi sebaliknya disebut eutropik. Berdasarkan 27 spesies yang telah diidentifikasi dan dominasi distribusi warm-water taxa (Sphenolithus spp.), pada Miosen awal Formasi ini terendapkan pada kondisi oligotropik dan temperatur air laut hangat berdasarkan produktivitas Sphenolithus spp. (15-35 %) yang relatif dominan dan menerus selama Miosen awal. Indikator perubahan drastis dari lingkungan purba ditunjukkan dengan perubahan variasi ukuran serta kelimpahan dari Reticulofenestra spp. ukuran kecil (total kelimpahan 75%) dan indikasi kondisi eutrofikasi dengan ketidakhadiran Discoaster serta penurunan jumlah kelimpahan dari Sphenolithus spp. (kurang dari 10%) dengan perubahan dari kondisi oligotropik menjadi eutropik terjadi pada umur 17.721 Ma (NN4).
2023-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49736 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i3.49736
1670117 #5790 IDENTIFIKASI MINERAL LEMPUNG PADA ENDAPAN HIDROTERMAL PROSPEK TABOBO-MALIFUT, HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA Madi, Almun
Syafri, Ildrem
Rosana, Mega Fatimah
Daerah penelitian terletak di Desa Tabobo, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Daerah penelitian juga merupakan bagian dari areal ekplorasi (IUP) PT. Beringin Halmahera Mineral. Secara geografis, daerah penelitian terletak pada koordinat 127049’- 127047’19 BT dan 1011’-1011’ LU. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mineral-mineral lempung yang terdapat di lokasi Tabobo. Metode penelitian yang dilakukan adalah survey lapangan, analisis laboratorium berupa analisis petrografi dan X-Ray Diffraction. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dan analisis laboratorium, teridentifikasi mineral-mineral lempung seperti klorit, smektit montmorillonit, halloysit dan kaolinit. Hasil ini dapat dikatakan bahwa tipe alterasi mineral lempung Tabobo lebih menunjukkan pada tipe mineralisasi epitermal sulfida rendah.Kata kunci: Tabobo, Lempung, Mineral.
2018-05-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16771 buka_link ↗ Highlight_link
Menampilkan 3.041 - 3.060 dari total 1.550.696 data
« Awal ‹ Prev Next › Akhir »