| ID ↑ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672041 | #5790 | KAJIAN GEOTEKNIK TERHADAP FORMASI TANJUNG DI PIT SAYUNA, SATUI, KALIMANTAN SELATAN, DENGAN MENGGUNAKAN METODE SLOPE MASS RATING |
-, Geni Dipatunggoro -, Zufialdi Zakaria |
Lithology of Tanjung Formation from the oldest to the youngest layers consists of siltstone, mudstone, dan carbonaceous mudstone or sandstone layers with four coal seams. Strike of joint varied N28ÂşE to N48ÂşE, N188ÂşE to N245ÂşE and N284ÂşE to N354ÂşE, and dip of joint varied 52Âş to 88Âş (very steep). Weathering conditions of rocks at the surface are moderately weathered (WM) to slightly weathered (WS) stage, and some of this surficial soils are at highly weathered (WH) stage as top soisl. In the bor holes these kinds of weathering stages (WM and WS) are characterized by both law core recovery dan RQD. Sedimentary rock of layer the joint to formed rock blok is discontinuity plane (bedding plane dan joint). The classification system is according to Rock Mass Rating (RMR) after Bieniawski, 1973 to determine the Slope Mass Rating (SMR) resulting maximum angle of cut slope of the rock mass in a stable condition. Rock Mass Rating (RMR) of penetrated rocks of the Tanjung Formation in Bore Hole No. AW-1, AW-2, and AW-3 range from 35 to 70, 40 to 50, and 29 to 60 respectively. The class numbers of the rock mass are II and III in general, suggesting that yhe rock masses are stable (class II) to partially stable (class III), but in Bore Hole AW-1 and AW-2 at the depth ranging from 39.45 to 45.30 meters and 04.75 to 27.84 meters (3 rock masses) respectively class IV occur characterizing the instable rock masses.
|
Tanjung Formation, RQD, RMR, SMR | 2012-07-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8279 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i2.8279 |
| 1672042 | #5790 | ESTIMASI KONDISI GEOTEKNIK MELALUI METODE GEOLOGICAL STRENGTH INDEX (GSI) DI WEST EXTRACTION LEVEL TAMBANG DEEP ORE ZONE (DOZ) PT. FREEPORT INDONESIA |
Wicaksono, Danny Zakaria, Zufialdi Haryanto, Iyan Wiguna, Purwa |
Tambang bawah tanah Deep Ore Zone (DOZ) merupakan salah satu tambang seri ambrukanyang terletak di distrik Ertsberg. DOZ berada pada area dataran tinggi Jayawijaya padakedalaman 1.45 kilometer dari permukaan tanah. Tambang DOZ memiliki variasi dankompleksitan Geologi yang tinggi sehingga menjadikan kondisi Geoteknik yang heterogen.Pendekatan geoteknik yang efektif menjadi faktor penting dalam perencanaan terowonganbawah tanah. Pendekatan perhitungan empiris berupa Geology Strength Index (GSI) dipiliholeh peneliti karena lebih banyak menggunakan sifat-sifat batuan yang lebih mudah dilihatdalam contoh inti batuan pengeboran. Modifikasi kuantitatif GSI dilakukan agar parameterparameteryang digunakan dapat dengan tepat dilihat dari inti batuan pengeboran. Hasil studidata pada daerah West Extraction DOZ memperlihatkan hubungan nilai modifikasi kualitatifGSI terhadap batuan dan alterasi dari selatan ke utara, dimana di bagian selatan nilai GSIpada umumnya bagus-sangat bagus (60-100) tetapi beberapa area yang memiliki strukturgeologi stockwork dengan alterasi serisit mengakibatkan penurunan nilai GSI hingga buruksedang(20-60). Batuan skarn memiliki kondisi yang bervariasi mengakibatkan sebaran nilaiGSI dengan range yang tinggi, Nilai GSI yang buruk tersebar pada bagian kontak batuan danalterasi skarn yang didominasi oleh mineral-mineral lempung. Bagian utara daerah telitianyaitu pada batuan sedimen didapatkan nilai GSI yang buruk menyebar dengan arah barattimur,area ini sangat dipengaruhi oleh struktur patahan dan kontak batuan sedimen denganbatuan intrusi maupun ubahan skarn. Blok model sebaran GSI memberikan masukan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam merencanakan arah terowongan, biaya pembangunanterowongan dan penanggulangan bahaya dalam pembangunan terowongan.Kata kunci: Deep Ore Zone, Alterasi skarn, Geology Strength Index, Rock QualityDesignation.
|
2018-05-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16770 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672043 | #5790 | ANALISIS LINEAMENT DAN PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP KLASIFIKASI BENTANG ALAM DAERAH KARANGNUNGGAL, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT |
Wioso, Yosaphat Bismo Sutriyono, Edy |
Bentang alam di sepanjang zona deformasi pada area seluas 81 km2 di daerah Karangnunggal, Kabupaten Cianjur telah diidentifikasi dengan dua pendekatan, yaitu merekonstruksi penampang geologi dan menganalisis lineament dengan Digital Elevation Model (DEM). Penentuan batas zona struktur dilakukan dengan menginterpretasikan tiga penampang geologi yang dibuat berdasarkan peta geologi daerah studi, kemudian hasil interpretasi diperkuat dengan peta Lineament. Struktur geologi yang mengontrol bentang alam zona structural dalam studi ini memfokuskan pada blok sesar mendatar Cisokan, antiklin Rajamandala, sinklin Citarum, dan antiklin Citarum. Zona deformasi secara umum berorientasi NE-SW, sehingga identifikasi bentang alam dilakukan sepanjang arah umum sebaran struktur tersebut. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh klasifikasi bentuk lahan daerah telitian, yaitu Perbukitan Struktural, Perbukitan Tinggi Lipatan, Perbukitan Vulkanik, Aliran Piroklastik dan Channel Irregular Meander. Formasi Gunung Api dan Endapan Gunung Api Muda diklasifikasikan ke dalam bentuk lahan vulkanik yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanisme, sedangkan Formasi Rajamandala dan Formasi Citarum diklasifikasikan ke dalam bentuk lahan zona structural dikarenakan adanya control struktur pada kedua formasi ini. Analisis diagram kipas dari kelurusan bukit-bukit pada setiap zona struktural diperoleh dua pola yaitu NE-SW dan NW-SE. Mekanisme pembentukan perbukitan diinterpretasikan sebagai hasil erosi yang mengikuti pola zona lemah (fractures) yang mengarah NE-SW dan NW-SE.
|
2023-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48241 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i3.48241 | |
| 1672044 | #5790 | STRUKTUR GEOLOGI CEKUNGAN OMBILIN BERDASARKAN INTERPRETASI CITRA SATELIT | -, Yuyun Yuniardi |
Interpretation of remote sensing data on Ombilin Basin has resulted Geological Map Interpretation of the basin which is containing information about geological structure of the Ombilin Basin. Further more, this geological structure can be divided into two periode which are Paleogene geological structure and Neogen geolocical structure.
|
Ombilin Basin, geological structure, geological interpretation | 2016-04-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8246 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i2.8246 |
| 1672045 | #5790 | HUBUNGAN ANTARA GEOKIMIA MINYAK BUMI DAN BATUAN INDUK DI SUB-CEKUNGAN ARDJUNA TENGAH, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA |
Yazid, Yusron Haryanto, Agus Didit Hutabarat, Johanes |
ABSTRACTThe research area is located in offshore North West Java, Central Ardjuna Sub-Basin that belonging to PT. Pertamina Hulu Energi Abar. The study focused on the source rock in Talang Akar Formation and hydrocarbons contained in the area. The data used in this research is the source rock and oil geochemical data. Source rock data is evaluated from wells YZD-1, YY-1 and DZN-1. From the analysis of the source rock was found that the source rock generate the hydrocarbons in the well YZD-1 and YY-1. The source rock is dominated by organic material with kerogen type II-III and III-II are derived from terrestrial organic material that mixes with algae tend to produce a mixture of oil and gas. Source rock organic material in wells YZD-1 depth interval 8421.9-8450 ft. deposited in the deep lake area in the oxic conditions. While the organic material in the source rock in the well YY-1 depth interval 6898.92-6909ft. deposited in the shallow lake in the oxic conditions. There are four oil samples, namely samples DST1 CC-1, CC-1 DST3, FZE-1 DST1, and FZE-1 DST2. The analysis showed that there is a positive correlation between samples and showed that the sample is deposited on the deep lake environments and shallow lakes with a mixture of organic material higher plants and algae. Based on the geochemical characteristics, oil samples taken from a number of wells are positively correlated to the source rock samples. Based on burial history modeling, the oil generation in the Basal Talang Akar Formation in this area began in the Early Miocene to the present. And in the Deltaic Talang Akar formation began in the Middle Miocene to the present. Keywords: Biomarker, Geochemistry, NWJ Basin, Petroleum, Source RockABSTRAKDaerah penelitian terletak di lepas pantai Jawa Barat Utara, Sub-Cekungan Ardjuna Tengah yang  termasuk ke dalam wilayah opreasi PT. Pertamina Hulu Energi Abar. Penelitian ini difokuskan  kepada batuan induk pada Formasi Talang Akar dan hidrokarbon yang terdapat pada daerah tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data geokimia batuan induk dan minyak bumi. Data batuan induk yang dievaluasi berasal dari  sumur  YZD-1, YY-1 dan DZN-1. Dari  analisis  batuan induk didapatkan bahwa  batuan  induk yang dapat menggenerasikan  hidrokarbon  terdapat  pada sumur YZD-1 dan YY-1.  Batuan induk tersebut didominasi oleh material organik kerogen tipe II-III dan III-II yang berasal dari material organik daratan yang bercampur dengan alga dan cenderung menghasilkan campuran minyak dan gas bumi. Material organik batuan induk di sumur YZD-1 pada interval kedalaman 8421.9-8450 kaki diendapkan di daerah danau dalam dengan kondisi oksik. Sedangkan pada material organic pada batuan induk di sumur YY-1 pada interval kedalaman 6898.92-6909 kaki diendapkan di daerah danau dangkal. Terdapat empat buah sampel minyak yaitu sampel CC-1 DST1, CC-1 DST3, FZE-1 DST1, dan FZE-1 DST2. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara sampel-sampel tersebut dan menunjukkan bahwa sampel tersebut  diendapkan pada lingkungan danau dalam dan danau dangkal dengan material organik campuran tumbuhan tingkat tinggi dan alga. Berdasarkan karakteristik geokimia, sampel  minyak  yang  diambil  dari sejumlah sumur tersebut berkorelasi positif dengan sampel batuan induk. Berdasarkan permodelan sejarah pemendaman diketahui generasi minyak pada Formasi Basal Talang Akar  di area ini dimulai pada Miosen Awal hingga saat ini. Dan padaFormasi Deltaic Talang Akar di mulai pada Miosen Tengah hingga saat ini. Kata kunci: Batuan Induk, Biomarker, Geokimia, NWJ Basin, Petroleum
|
2017-04-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11739 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672046 | #5790 | KARAKTERISTIK AIR TANAH PADA AKIFER VULKANIK DI LERENG TENGGARA GUNUNG PULOSARI, PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN |
Listiawan, Yudhi Hadian, Mohamad Sapari Dwi Muda Iskandarsyah, Teuku Yan Waliana Muhammad, Azwar Satrya Barkah, Mochamad Nursiyam |
Gunung Pulosari merupakan Gunung Api strato yang terletak di daerah Pandeglang Provinsi Banten. Daerah penelitian disusun oleh batuan vulkanik yang memiliki potensi air tanah yang besar. Masih sedikitnya ekploitasi air tanah, membuat daerah di sekitar Gunung Pulosari ini menarik untuk diteliti kondisi hidrogeologinya.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik air tanah berdasarkan sifat fisik dan kimia air tanah serta kaitannya dengan kondisi geologi yang berkembang di daerah penelitian dengan melakukan pemetaan hidrogeologi. Dari hasil pemetaan hidrogeologi dan didapatkan sebanyak 13 lokasi pengamatan yang terdiri 10 mata air dan 3 sumur gali. Sifat fisik air menunjukan karakteristik yang homogen, nilai Daya Hantar Listrik (DHL) 60 sampai 190 ÎĽS/cm, Zat Padat Terlarut (ZPT) dari 20 sampai 90 mg/L, pH dari 4,7 sampai 8,2 dan suhu air dari 25 sampai 26,9 oC. Â Sebanyak 5 sampel dilakukan uji kimia air tanah untuk di analisis fasies kimia air dengan diagram triliniear Piper.Dari hasil penelitian didapatkan fasies kimia air tanah di daerah penelitian didominasi oleh Ca:HCO3 dan satu lokasi (P-3) Ca.Na:HCO3. Hal ini mengindikasikan bahwa air tanah masih dipengaruhi oleh kondisi permukaan dan sistem alirannya masih bersifat lokal.
|
2020-05-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27090 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i1.27090 | |
| 1672047 | #5790 | TEKTONOSTRATIGRAFI CEKUNGAN OMBILIN SUMATERA BARAT | Mulyana, Budi |
Ombilin Basin is represent basin intramontane which limited by volcano-plutonic of Bukit Barisanand zona of Sumatera Fault system which representing a active strike-slip fault zone in west andmetasedimen rock in. Form of fisiography Ombilin Basin show a hilly at part of edge of east-west untilto north with precipitous morphology and level-off continent. Ombilin Basin basement is divided twopart, that is structured basement by Mergui terrain and Woyla terrain. Eldest Basement of Ombilin Basinis Formation of Limestone crystallin of Silungkang (age Perm) which laid bare at Tanah Hitam whichrepresent the part of Mergui terrains continent.Tectonism of Ombilin Basin is started at Paleogen related to peripatetic Southeast Asia tectonismwhich moving of India Block to northern. Early Paleogen, Ombilin Basin is formed with early motion oftranstensional effect of strike-slip fault motion of duplex regional, that is graben part of northeastOmbilin Basin. Motion of strike-slip fault are Sitangkai fault and Silungkang fault where this faultsmotion result attraction style in the form of normal fault by terrace to left north-south. This fault patterncontrol forming of first basin cause to be formed its faults which instructing northwest-southeast, northsouth,and northeast-soutwest of west-east. Tectonostratigraphy Ombilin Basin is represent full grabenwith set of deposits syn-rift tectonostratigraphy and of post-rift deposits continue at mechanism oftransgressive in the early Neogen.
|
Basin, tectonostratigraphy | 2005-10-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7455 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v3i2.7455 |
| 1672048 | #5790 | GEOLOGI TEKNIK JATINANGOR: STUDI DAYADUKUNG TANAH BERDASARKAN PREDIKSI KADAR AIRTANAH UNTUK MENUNJANG ECO-CAMPUSS DI JATINANGOR |
Sophian, Irvan Zakaria, Zufialdi Prianda, Yogi Utomo, Rizky Narendra |
Research location at Rector Building area, Unpad Campus, Jatinangor. The study is a part of research of Jatinangor engineering geology. Strength prediction of soil bearing capacity for shallow foundation is performed by measuring the water content of the soil at four locations sampled. Based on the formula of Hirnawan & Zakaria (1991), a variable value of unit weight (Îł)Â Â = 1.73 T/M3; cohesion (c ) = 7.80 T/M2; and angle of friction= 13.69 degrees. The soil variables based on the value of water content by 43.85%. The result of soil bearing capacity (in dry conditions) around the ground surface of the rector building area is as follows: Type of foundations Square = 17,732 T/M2; Circular foundation type = 17,708 T/M2; Continuous foundation type = 13.714 T/M2. In wet conditions, the value of carrying capacity must be calculated again.
|
2014-04-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8360 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i1.8360 | |
| 1672049 | #5790 | MANGANESE PROSPECT IDENTIFICATION USING MAGNETIC AND INDUCED POLARIZATION METHODS |
Taufan, Yoqi Ali ilmi, irpan Denis, Mutebi Nur, Andi Agus Syafri, Ildrem |
Surveys have been carried out using Magnetic and Induced Polarization methods over area dominated by Bobonaro complex formation. This survey was conducted with the purpose to identify a mineral source using data of magnetic, conductivity and resistivity of rock. Data acquisition applied 5 m dipole space with 50 m maximal depth coverage.The interpretation was conducted by analyzing 2D and 3D sections of resistivity inversion, subsurface Induced Polarization, and geomagnetic anomaly. The interpretation result of chargeability anomaly indicates that mineral source occurred as a mineral of manganese with thin layer spreading in complex structural sediment. As is shown from IP anomaly supported by magnetic data obtained, the anomaly has a spread of 3 m to 10 m depth from the surface. The trend of anomaly has a continuity at other locations where is predicted as the manganese mineralization source.
|
2019-01-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/19706 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.19706 | |
| 1672050 | #5790 | ANALISIS ZONASI KAWASAN RAWAN BANJIR MENGGUNAKAN PEMODELAN HEC-RAS PADA SUB DAS OGAN, SUMATERA SELATAN |
Wulandari, Zhalsa Setiawan, Budhi |
Banjir terjadi karena pertumbuhan penduduk yang cepat, degradasi lahan, dan perubahan iklim, serta menyebabkan kerusakan yang merugikan bagi manusia dan harta benda. Hal ini dapat diminimalisir dengan memperhatikan langkah-langkah penanggulangan risiko banjir. Salah satu langkah tersebut adalah dengan mengetahui kawasan daerah rawan banjir. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memetakan daerah rawan banjir pada Sub DAS Ogan menggunakan GIS dan HEC-RAS. Analisis zonasi kawasan rawan banjir digunakan untuk menentukan zona yang lebih rentan terhadap banjir di sepanjang sungai ketika debit aliran sungai melampaui tahap luapan di sepanjang sungai. Daerah yang tergenang di Sungai Ogan dan Sungai Lengkayap telah direpresentasikan tergantung pada debit  puncak dengan  periode ulang yang berbeda menggunakan model HEC-RAS, GIS untuk penanganan data spasial, dan HEC-GeoRAS untuk menghubungkan antara HEC RAS dan GIS. Peningkatan intensitas curah hujan di Sub DAS Ogan telah menjadi faktor utama terjadinya banjir bandang di Sungai Ogan dan Sungai Lengkayap yang merupakan bagian dari Sub Das Ogan. Banjir secara berkala melanda Kabupaten Ogan Komering Ulu selama musim penghujan. Analisis curah hujan menggunakan pendekatan statistik berupa distribusi metode normal, metode log normal, metode log pearson tipe III, metode pearson III dan metode gumbel guna memperkirakan curah hujan tertinggi yang mungkin berdampak pada intensitas hujan dan debit sungai pada Sub Das Ogan. Data debit dari perhitungan distribusi statistik disimulasikan dalam software HEC-RAS guna memperkirakan daerah rawan banjir akibat debit limpasan sungai pada daerah penelitian sebagai acuan untuk tindakan mitigasi bencana banjir. Berdasarkan pemodelan HEC-RAS yang telah di simulasikan, memberikan gambaran pada daerah penelitian jika potensi debit memiliki resiko potensi banjir diantaranya Kecamatan Baturaja Barat sebanyak 7 desa berpotensi banjir, Kecamatan Baturaja Timur Sebanyak 4 desa berpotensi banjir, Kecamatan Lengkiti sebanyak 6 desa berpotensi banjir dan Kecamatan Sosoh Buay Rayap sebanyak 6 desa berpotensi banjir.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57923 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.57923 | |
| 1672051 | #5790 | LINGKUNGAN TEKTONIK OFIOLIT KOMPLEK MELANGE CILETUH JAWA BARAT BERDASARKAN PENDEKATAN PETROLOGI | -, Aton Patonah |
The ophiolite sequence of Ciletuh Melange Complex consist of serpentinite, serpentinized harzburgit, dunit, gabro and basalt. Part of the ophiolite partly has been metamorphismed, produce metamorphic rocks. The result of mineral chemical analisis which is supported by geochemical date, the rock shows that the similar character with Duaga Island – Witu Island, Papua Newguinea and Mariana Trench Island arc, that is Island Arc It is signed by the low of forsterite (80-82), there is the existence of magmatic impregnation process, the low Al content in pyroxen showed the increase of degree of partial melting which followed by the increase Si, Mg and Ca content, meanwhile Ti, Cr and Na content decrease followed by the increase degree of partial melting. The ophiolite rock which appear in complex mélange Ciletuh has closed relationship with tectonic setting process which happened in that area. Those approximately happened on Tersier age (Eosen- lower Oligosen), that is accretional is formed in complex mélange Ciletuh, subduction zone move to the west with the direction north-northwest – south-southeast by the appearance of litological, by the present of ultramafics rocks which tectonized and consist of serpentinite and pillow lavas and mixed with sedimen pond. As the same time, also is formed obduction so that result metamorphism process and became metamorphic rock.
|
Ciletuh mélange complex, ophiolite, island arc, accretion, obduction | 2011-12-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8270 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i3.8270 |
| 1672052 | #5790 | METODE KUANTITATIF FORAMINIFERA KECIL DALAM PENENTUAN LINGKUNGAN |
Jurnaliah, Lia Winantris, . Fauzielly, Lili |
ABSTRAKForaminifera adalah hewan uniseluler yang dapat berperan sebagai indikator lingkungan. Metode kuantitatif foraminifera merupakan salah satu cara dalam penentuan lingkungan, diantaranya adalah rasio foraminifera plangtonik dan bentonik (rasio P/B), Triangular plot Murray dan Indeks αFisher. Berdasarkan studi pustaka dan ulasan yang dilakukan terhadap ketiga metode tersebut dapat disimpulkan bahwa metode rasio P/B dapat digunakan dalam penentuan lingkungan laut dangkal dan laut dalam, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan karakteristik ekologi dari lingkungannya. Sementara itu, Metode Triangular Plot Murray dan Indeks α Fisher dapat digunakan hanya terbatas pada penentuan lingkungan laut dangkal, tetapi dapat digunakan untuk menentukan karakteristik ekologi lingkungannnya. Kata Kunci: Foraminifera, rasio P/B, Triangular Plot Murray, Indeks α Fisher, lingkungan. ABSTRACTForaminifera is a unicellular animal can act as indicators of the environment. Quantitative methods foraminifera is one way in the determination of the environment, such as ratio of planktonic and benthonic foraminifera ratio (P/B ratio), triangular plot murray and the index α.Fisher. Based on the literature reviews of the third methods, it can be concluded that the ratio of P/B methods can be used in the determination of shallow marine and deep marine environment, but cannot be used to determine the characteristics ecology of its environment. On the other hand, method of Triangular Plot Murray and the index α Fisher can be used is limited to the determination of the shallow marine environments, but can be used to determine the characteristics ecology of its environment. Keywords: Foraminifera, ratio P/B, triangular plot murray, index α fisher, environment
|
2017-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15099 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i3.15099 | |
| 1672053 | #5790 | PEMETAAN BATIMETRI DAN SIMULASI KENAIKAN MUKA AIR DI SITU CISANTI MENGGUNAKAN DUAL BEAM SONAR |
Ramadan, Ananda Zikri Ramadhan, Fadhel Sihombing, Feronika Roulitua Rahman, Jafar Shidqur Hutabalian, May Angelia Rohman, Muhammad Alkuansinta Rizki, Muhammad Ilham Carrisa, Refi Hendrayani, Riska Hanifah, Shofie Dzakia Fitriani, Dini Kirana, Kartika Hajar |
Situ Cisanti merupakan salah satu tempat pariwisata dan edukasi yang terletak di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Situ Cisanti memiliki tujuh mata air yang berperan besar bagi masyarakat sekitar sebagai sumber air. Penelitian ini memetakan topografi dasar perairan melalui peta batimetri serta melakukan simulasi perubahan muka air Situ Cisanti. Akuisisi dilakukan menggunakan instrumen Deeper Smart Sonar Pro+ dengan bantuan aplikasi Fish Deeper untuk visualisasi data. Hasil dari pemetaan batimetri Situ Cisanti menunjukkan kedalaman kolom air yang bervariasi antara 0,3 m sampai 2,85 m dengan rata-rata kedalaman sebesar 1,1 m. Sedangkan hasil simulasi muka air Situ Cisanti ditampilkan dalam beberapa keadaan, yaitu keadaan normal setinggi 2,85 m dari batas air dan sedimen, serta ketinggian muka air yang ditambahkan sebesar 0,5 m dan 1 m. Jika muka air di Situ Cisanti bertambah melebihi normal, maka bagian Timur dan Selatan dari Situ Cisanti akan terkena dampak terlebih dahulu dan akan menyebabkan adanya genangan di area tersebut.
|
2023-08-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47538 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i2.47538 | |
| 1672054 | #5790 | DIAGENESIS DAN BATUAN SUMBER BATUPASIR FORMASI LATI DI DAERAH BERAU, KALIMANTAN TIMUR, BERDASARKAN DATA PETROGRAFI | -, Sigit Maryanto |
Petrography analysis result of twenty two sandstones of the Lati Formation were taken from Berau area, East Kalimantan showing that these rocks classified as litharenite, feldspathic litharenite, sublitharenite, feldspathic wacke, and lithic wacke witch are partially calcareous. Diagenetic processes visible on the petrographic analysis including as replacement, dolomitization, cementation, and compaction. Plotting result on the triangular diagrams showing that the provenance of the sandstones are dominated by granitic rocks initiated from tectonic setting of rifted continental margin and they have transported toward south-east.
|
petrography, sandstone, diagenetic, provenance, | 2009-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8237 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i2.8237 |
| 1672055 | #5790 | LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI KALIBENG PADA KALA MIOSEN AKHIR DI KABUPATEN DEMAK DAN KABUPATEN SEMARANG, JAWA TENGAH BERDASARKAN RASIO FORAMINIFERA PLANGTONIK DAN BENTONIK (RASIO P/B) |
Jurnaliah, Lia Muhamadsyah, Faizal Barkah, Mochammad Nursiyam |
Research area is classified a Lower Kalibeng Formation. Its age is Lower Miocene. The total number of sediment samples is 29 samples that are carried out based on measured section with 10 metres interval. The whole samples are processed by  hydrogen peroxide method. Foraminifers’ quantitative analyses is conducted on each one gram of dry sample. Based on ratio P/B value that range between 49.64% - 99.41%, Late Miocene Kalibeng Formation is deposited on marine environment. The depositional process is beginning from neritic (outer neritic) – oceanic (upper bathyal-lower bathyal) – neritic (outer neritic) - oceanic (upper bathyal – lower bathyal). Keywords: Kalibeng Formation, plangtonic and benthic foraminifera, neritic, oceanic Daerah penelitian merupakan Formasi Kalibeng bagian bawah berumur Miosen Akhir.. Pengambilan 29 sampel sedimen dilakukan secara sistematis berdasarkan penampang terukur dengan interval 10 meter. Seluruh sampel sedimen diproses dengn menggunakan metoda hydrogen peroksida. Analisis kuantitatif foraminifera dilakukan pada setiap 1 gram sampel kering berukuran >120 mesh. Berdasarkan hasil perhitungan rasio foraminifera plangtonik dan bentonik (rasio P/B) yang berkisar antara 49,64% - 99,41%, Formasi Sungaibeng Kala Miosen Akhir terendapkan pada lingkungan marin dimulai dari neritik (neritik luar) – oseanik (batial bawah-batial atas) – neritik (neritik luar) dan terakhir adalah oseanik (batial bawah-batial atas). Kata Kunci: Formasi Kalibeng, foraminifera plangtonik dan bentonik, neritik, oseanik
|
2017-01-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10965 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.10965 | |
| 1672056 | #5790 | Analisis Daerah Potensi Panas bumi Songa-Wayaua, Bacan, Maluku Utara Berdasarkan Data Geologi dan Geokimia |
Nandiwardhana, Damar Haryanto Lukmana, Allen Sumintadireja, Prihadi Saepuloh, Asep |
Kajian geologi dan geokimia merupakan kajian awal yang dilakukan pada suatu lapangan panas bumi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran awal potensi panas bumi lapangan tersebut. Dari kajian geologi dan geokimia ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kondisi geologi (geomorfologi, vulkanostratigrafi, dan struktur) dan geoindikator (soil, pH, isotop, dan temperatur) lapangan. Pada penelitian ini dilakukan kajian geologi dan geokimia, untuk mengetahui potensi awal prospek panas bumi pada daerah Songa - Wayaua, Bacan, Maluku Utara. Pada daerah Songa - Wayaua, Bacan, Maluku Utara diindikasikan terdapat adanya potensi panas bumi, hal ini ditunjukan dengan adanya kemunculan manifestasi di permukaan berupa fumarol, mata air panas, kolam lumpur, tanah beruap, dan batuan ubahan (alterasi), yang terdapat di sekitar Desa Songa dan Desa Wayaua. Kemunculan manifestasi berada pada lingkungan vulkanik (sekitar G. Pele dan G. Lansa). Berdasarkan hasil analisis data geologi struktur sesar yang berkembang di daerah penelitian memiliki arah dominan berarahkan baratlaut - tenggara dan timurlaut - baratdaya. Morfologi daerah penelitian terdiri dari perbukitan, kerucut vulkanik dan dataran aluvial. Geologi daerah penelitian terdiri dari produk gunung api berumur kuarter - tersier dari G. Songa, G. Pele, G. Lansa, dan G. Bibinoi kemudian satuan batugamping, satuan batuan granit tawa, dan satuan batuan metamorf yang berumur tersier. Berdasarkan hasil analisis data geokimia bahwa tipe air manifestasi didominasi oleh air klorida, temperatur antara 30o C - 98oC, pH 3 - 8 dan perkiraan temperatur reservoir 240 o - 250 oC (entalpi tinggi).
|
2021-09-15 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34952 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i2.34952 | |
| 1672057 | #5790 | ANALISIS GEOKIMIA HIDROKARBON LAPANGAN “X” CEKUNGAN SUMATERA SELATAN | -, Budi Muljana |
South Sumatra Basin belong to back-arc basin that is one of profiliferous basin. This paper was explained result of analysis of geochemical datas for source rocks within “X” field area, south Sumetra Basin. The data was used from shale cutting of four wells, there are KTB-6, KTB-9, KTB-10 and KTB -11. Based on result of analysis was indicated a good TOC value for all of wells, the levels of maturity within KTB-2 and KTB-9 wells more high than two wells other and included on Tipe III, Based on Triangular diagram C-27,C-28,C-29, are setting of depositional environment included on Open marine (facies deltaic) to shelf margin, source of organic material was divided into three major groups of organic facies, there are C, CD and D organic facies, where there was supported by Carbon isotop analysis, source of material organic from non marine oils as well as diagram isoprenoid rasio indicated. Rock units in KTB-9 well could be attacted as reservoir and source rock.
|
South Sumatra Basin, facies | 2007-04-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8142 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i2.8142 |
| 1672058 | #5790 | DISTRIBUSI SUBMIKROFOSIL (POLEN DAN FORAMINIFERA) PADA DELTA FRONT DI DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR |
Jurnaliah, Lia -, Winantris |
The Research area located in the Mahakam Delta, East Kalimantan. The object of research are submicrofossils (pollen and foraminifera) in recent sample sediment derived from the delta front of Mahakam Delta. The amount of sediment that is researched as much as 29 samples. The results of the quantitative analysis showed pollen assemblage consists of 24 species of palmae, 21 species of mangrove and 117 species of non-mangrove. The collection of foraminifera consists of 82 species of small benthonic foraminifera. Based on cluster analysis, pollen assemblage consists of seven biofacies i.e. palmae-non mangrove, non-mangrove A, palmae-mangrove-non mangrove A, palmae-mangrove-non mangrove B, mangrove-non mangrove, palmae, and non-mangrove B . Similarly, foraminifera consists of seven biofacies i.e. biofacies I (Inner Shelf), biofacies II (Coastal lagoon-InnerShelf), biofacies III (Coastal bay – Inner Shelf), biofacies IV (Coastal lagoon/Coastal bay-Inner Shelf), biofacies V (Open estuary/Coastal lagoon-Inner Shelf), biofacies VI (Coastal bay/Coastal lagoon-Inner Shelf) and biofacies VII (mangrove swamp (marsh). The distribution of pollen and foraminifera in delta front suggest that the southern region was more influenced by sea compared with the northern region, and the central region is affected by tidal currents.
|
2015-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8404 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i3.8404 | |
| 1672059 | #5790 | Geomorfologi dan Ciri Fasies Vulkanik Pada Sungai Cihideung dan Ciparikalih, Sub Das Cibadak, Gunung Salak, Jawa Barat |
Natasia, Nanda Mardiana, Undang Alfadli, Muhammad Kurniawan |
ABSTRACTSalak Mount is a volcanic complex located in the south of Jakarta. This mountain area is included in the area of Sukabumi Regency and Bogor Regency, West Java. The peak part is a forest area whose management of the forest area was originally under the Perhutani Public Corporation Forest Management Unit (KPH) Bogor, but since 2003 it has been an expansion area of the Gunung Halimun National Park, and is managed as Gunung Halimun-Salak National Park. This research begins with the analysis of topographic maps to determine the geomorphological characteristics of the study area. These geomorphological characteristics include river flow patterns, land use and slope. At this stage it can be distinguished as many as nine recognizable geomorphological units. The next stage is field observation to find out the surface geological conditions of the study area. at this stage two stratigraphic cross sections were made which passed the Cihideung and Ciparikalih. From the results of geomorphological analysis, the research area can be divided into nine geomorphological units which are compiled based on their morphographic, morphometric and morphogenetic characteristics. Two stratigraphic cross sections through the Cihideung River and Ciparikalih River trajectories are made based on field observations with a measured section method. In both trajectories, there are six volcanic facies that make up the research area.. Keywords: Salak Mount, Cibadak Sub Das, Volcanic Facies, Geomorphology ABSTRACKGunung Salak merupakan kompleks gunung berapi yang terletak di selatan Jakarta. Kawasan rangkaian gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bagian puncaknya merupakan kawasan hutan yang pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, tetapi sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, dan dikelola sebagai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Penelitian ini diawali dengan analisis peta topografi untuk mengetahui ciri geomorfologi daerah penelitian. Ciri ciri geomorfologi tersebut diantarana pola pengaliran sungai, tata guna lahan, serta kemiringan lereng. Pada tahapan ini dapat dibedakan sebanyak sembilan satuan geomorfologi yang dapat dikenali. Tahapan selanjutnya adalah pengamatan lapangan untuk menetahui kondisi geologi permukaan daerah penelitian. pada tahapan ini dibuat dua buah penampang stratigrafi yang melewati sub Das Cihideung dan sub DAS Ciparikalih. Dari hasil analisis geomorfologi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi sembilan satuan geomorfologi yang disusun berdasarkan ciri morfografi, morfometri dan morfogenetiknya. Dua buah penampang stratigrafi melalui lintasan Sungai Cihideung dan Sungai Ciparikalih dibuat berdasarkan pengamatan lapangan dengan metoda penampang terukur. Pada kedua lintasan tersebut dapat diketahui enam fasies vulkanik yang menyusun daerah penelitian. Kata Kunci: Gunung Salak, Sub Das Cibadak, Fasies Vulkanik, Geomorfologi.
|
2018-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18439 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.18439 | |
| 1672060 | #5790 | PERBANDINGAN KARAKTERISTIK GEOLOGI PADA FENOMENA TUMBUKAN METEOR DI DAERAH CILETUH, JAWA BARAT DAN FENOMENA LAINNYA DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA (LITERATURE REVIEW) |
Sambodo, Tri Hananto Sukiyah, Emi Hutabarat, Johanes Endyana, Cipta |
Artikel ini memberikan pemahaman terhadap fenomena tumbukan meteor pada permukaan bumi, dari aspek geologi yang ditemukan, khususnya di daerah Geopark Ciletuh, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR), yang melibatkan analisis terhadap penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dilakukan pada berbagai fenomena lain yang serupa di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap fenomena benturan meteorit di bumi memiliki karakter geologi yang unik dan cenderung sama. Fenomena yang terjadi di daerah Ciletuh, Indonesia, salah satunya yaitu terdapat bukti unik berupa morfologi berbentuk cincin sebagai petunjuk terbentuknya kawah sederhana oleh karena dampak benturan, serta bukti lainnya ditemukannya struktur batuan yang menyerupai shatter-cone ditemukan di area kawah. Fenomena lainnya yang serupa dengan Ciletuh yaitu pada situs Yilan Crater di Cina, yaitu ditemukan bukti bentukan kawah yang menyerupai kawah sederhana dan bentukan punggungan perbukitan yang nampak unik. Penelitian lainnya juga mengungkapkan adanya anomali magnetik daerah Zagami Meteorite Impact Site di Nigeria, yang mengindikasikan kemungkinan adanya kawah tersembunyi yang menyerupai bentukan kawah sederhana hasil tumbukan yang melibatkan energi yang besar. Situs Lonar impact crater di India juga merupakan kawah dampak meteorit yang ditemukan pada permukaan basalt, beserta dengan danau kawah sentral yang menjadi daya tarik penelitian. Begitu pula pada situs lainnya seperti Barringer impact crater dan Bolaven volcanic field yang memiliki ciri dan persamaan akibat tumbukan meteor. Penelitian lebih lanjut tentunya diperlukan untuk memahami potensi adanya bukti keterjadian tumbukan meteor di Ciletuh tersebut, diantaranya melalui analisa photomicrograph maupun analisa lainnya yang mendukung. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keterjadian tumbukan meteor beserta bukti lapangan berupa bentukan lahan yang unik pada situs-situs benturan meteorit. Hasil tulisan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam memahami proses pembentukan kawah, perubahan geologi dan lingkungan akibat tumbukan meteor. Kata kunci: benturan meteorit, ciletuh, geopark, geologi
|
2024-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51283 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i2.51283 |