| ID ↑ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672021 | #5790 | IMPLIKASI KADAR AIRTANAH TERHADAP DAYADUKUNG TANAH DI WILAYAH GAMBIR DAN SEKITARNYA |
Yuda, Himmes Fitra Zakaria, Zufialdi Sukiyah, Emi |
ABSTRACTThe research area is in Gambir and surround it, Central Jakarta and West Jakarta municipality. The study to learn the characteristics of the soil in the research area. The relationship of water content and soil bearing capacity is known from secondary data of soil investigation at four locations sampled. Based on observations of four soil samples, the highest water content is in sample HF-3 at 68.28%, and the lowest water content is in sample HF-4 by 48%. Depend on the soil bearing capacity value, sample HF-3 has the lowest value, which is 2.64 T / M2. The highest soil bearing capacity value is found in the sample HF-4, which is 25.49 T / M2. Regression correlation test results showed that in dry conditions / low water content, the value of soil bearing capacity will be high, meanwhile in wet conditions, water levels will rise, so the value of the soil bearing capacity will be smaller than in dry conditions. Keywords : Soil bearing capacity, water content ABSTRAKLokasi penelitian berada pada wilayah Gambir dan sekitarnya, kotamadya Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Studi ini untuk mempelajari karakteristik tanah pada daerah penelitian. Hubungan kadar air dan daya dukung tanah diketahui dari data penyelidikan tanah di 4 lokasi sampel. Berdasarkan pengamatan dari 4 sampel tanah, nilai kadar air tertinggi adalah pada sampel HF-3 sebesar 68,28%, nilai kadar air terendah adalah pada sampel HF-4 sebesar 48%. Jika dilihat dari nilai dayadukung tanah, sampel HF-3 memiliki nilai yang paling rendah, yaitu sebesar 2,64 T/M2. Nilai dayadukung tanah yang tertinggi ada pada sampel HF-4 sebesar 25,49 T/M2. Dari hasil uji regresi korelasi menunjukan bahwa pada kondisi kering/kadar air rendah, nilai dayadukung tanah akan besar, sementara pada kondisi basah, kadar air akan meningkat, sehingga nilai dayadukung tanah akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan kondisi kering. Kata Kunci : Dayadukung tanah, kadar air
|
2017-04-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11996 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672022 | #5790 | STUDI ZONA ALTERASI DAERAH HU’U DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL SPECTRAL DEVICES (ASD) | Andriana, Anastasia Iva |
Daerah Sumbawa memiliki kondisi geologi yang cukup kompleks dan studi penelitian yang masih terbatas, terutama pada proses alterasi hidrotermal dan mineralisasi endapan porfiri dengan pola sebaran ubahan yang luas serta ditemukannya overprinting dengan endapan epitermal sulfidasi tinggi. Daerah penelitian berada di konsensi pertambangan PT. Sumbawa Timur Mining yang secara geografis terletak di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Hal ini menjadi ketertarikan kami dalam melakukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik alterasi pada daerah Hu’u dan sekitarnya dengan menggunakan metode analytical spectral devices (ASD). Metode spektometri ASD digunakan dalam mengidentifikasi mineral alterasi pada daerah penelitian yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan radiasi dari elektromagnetik. Dalam kaitannya dengan identifikasi mineral sekunder secara mikroskopis, dilakukan analisis spektral pada 8 lubang bor pengamatan. Berdasarkan himpunan mineral ubahan, pH dan temperatur terdapat zona- zona alterasi di daerah penelitian yang terbagi ke dalam enam himpunan mineral alterasi berturut-turut seiring bertambahnya pH dan berkurangnya temperatur berdasarkan hasil korelasi 8 lubang bor, yaitu zona alterasi pirofilit±dikit±alunit ±kaolinit, zona alterasi alunit-kaolinit, zona alterasi serisit ±kaolinit± dikit±pirofilit, zona alterasi kaolinit ±montmorilonit, zona alterasi montmorilonit ±kaolinit, dan zona alterasi montmorilonit-epidot ±klorit±hornblenda. Setiap zona alterasi terdapat pada litologi yang berbeda-beda yang dapat disajikan dalam bentuk penampang alterasi.Kata Kunci: Alterasi hidrotermal, spektrometri ASD, endapan epitermal sufida tinggi, endapan porfiri, Sumbawa Mining
|
2022-09-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41240 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i2.41240 | |
| 1672023 | #5790 | GEOLOGI DAN ANALISIS TEKTONIK DAERAH KAMPAR SUMATRA TENGAH |
-, Faizal Muhamadsyah -, Iyan Haryanto |
Central Sumatera basin controlled by an amount of regional stike-slip fault (wrench fault) moving on transtensinal system. Overall srike-slip pattern forming as negative flower structure, yielding horst and garben. This tecotonic process happened in Early Miocene.Graben forming begin the sedimentation process which indicate the coarse clastica deposit existence that goes on fluvial environment. This deposit equivalent with Sihapas formation that have an age of Eosen. The Sedimentary basin had a subsidence continuously till Middle of Miocene, that indicated by developt marine sedimentary rock.In Plio-Pleistocene, the uplifting processes is happen again that cause forming of fold and fault structure. Tectonic compression cause the research area more shallow and then become a continent. This is indicated by developted conglomerate, sandy conglomerate, tuffaceous sandstone which forming in continent.
|
strike-slip fault, fold structure and tectonic | 2008-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8162 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v6i2.8162 |
| 1672024 | #5790 | GEOWISATA GEOPARK CILETUH: GEOTREK MENGELILINGI KEINDAHAN MEGA AMFITEATER CILETUH (THE MAGICAL OF CILETUH AMPHITHEATER) |
Andriany, Suci Sarah Fatimah, Mega Rosana Hardiyono, Adi |
Ciletuh National Geopark region which administratively located in the District of Ciemas and Ciracap, Sukabumi, West Java province has a unique geodiversity and showed the oldest rocks in West Java. Because the geological characteristic that is not found in other places makes Ciletuh as National Geopark in Indonesia. In carrying out the Geopark concept, supporting activities that related with sustainable economic on that area, called Geotourism. The objective of this paper is to determine the Geotourism potential activities to do in the Ciletuh National Geopark, particularly reviewing Ciletuh Amphitheatre. The method used in this study is divided into three processes: starting from literature research areas and collection of field data as one step in the inventory of geological sites (geosites), followed by analysis and classification of data in accordance with the goal of this research. Geotrek with the theme of "The Magical of Ciletuh Amphiteather" will guide us to surround and learn the beauty of the the Ciletuh Amphitheater ciletuh focusing on geosites which contained on amphitheater form, namely: 8 (eight) waterfalls and two (2) Ciletuh scenery spots. Keywords : Ciletuh Amphiteather, Geotrek, Geotourism, National Geopark Ciletuh Kawasan Geopark Nasional Ciletuh yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Ciemas dan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat memiliki keragaman geologi yang unik dan merupakan tempat tersingkapnya batuan tertua di Jawa Barat. Karena ciri khas geologinya yang tidak di temukan di tempat lain menjadikan Ciletuh sebagai Geopark (Taman Bumi) Nasional di Indonesia. Dalam menjalankan konsep Geopark tersebut, diperlukan suatu aktivitas penunjang penggerak aktivitas ekonomi yang berkelanjutan berupa geowisata. Tujuan dari pembuatan karya ilmiah ini ialah untuk mengetahui potensi aktivitas geowisata yang dapat dilakukan di Geopark Nasional Ciletuh, khususnya mengkaji Amfiteater Ciletuh. Metode yang dipakai di dalam penelitian ini terbagi menjadi 3 proses: dimulai dari studi literatur daerah penelitian dan pengambilan data lapangan sebagai salah satu langkah dalam inventarisasi situs-situs geologi, diikuti dengan analisis dan klasifikasi data sesuai dengan fokus penelitian. Geotrek dengan tema “The Magical of Ciletuh Amphiteather” akan memandu kita untuk mengelilingi dan memaknai keindahan mega amfiteater ciletuh yang berfokus pada situs-situs geologi hasil bentukan amfiteater tersebut, yaitu: 8 (delapan) air terjun dan 2 (dua) tempat memandang morfologi Ciletuh. Kata Kunci : Amfiteater Ciletuh, Geotrek, Geowisata, Geopark Nasional Ciletuh
|
2016-10-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9796 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i1.9796 | |
| 1672025 | #5790 | POTENSI GEOLOGI REGIONAL KEPULAUAN BANGKA BELITUNG UNTUK TAPAK LANDFILL LIMBAH TENORM |
Sucipta, Sucipta Pratama, Hendra Adhi Iskandar, Dadong |
Sebagai antisipasi kebutuhan masa mendatang dalam penyediaan fasilitas pengelolaan limbah TENORM di Kepulauan Bangka Belitung (Babel), maka salah satunya perlu dipersiapkan fasilitas disposal tipe landfill yang mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat dan lingkungan. Untuk itu sebagai langkah awal perlu dilakukan tinjauan geologi regional Kepulauan Bangka Belitung untuk calon tapak landfill limbah TENORM. Kajian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif dengan ruang lingkup studi pustaka, tinjauan terhadap kriteria keselamatan tapak landfill, pengumpulan dan analisis data geologi regional, serta analisis potensinya untuk tapak landfill. Berdasarkan data geologi regional diperoleh beberapa potensi calon tapak dengan batuan pengungkung (hostrock) berupa batuan sedimen (batuan lempungan), hostrock batuan kristalin (granit, granodiorit, adamelit dan lain-lain), dan hostrock batuan metamorf (filit, sekis dan lain-lain). Hostrocks tersebut tersebar di pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau-pulau kecil di sekitar pulau Bangka dan pulau Belitung.Kata kunci : geologi regional, tapak, landfill, limbah TENORM
|
2021-01-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31168 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.31168 | |
| 1672026 | #5790 | KLASIFIKASI GEOMORFOLOGI UNTUK PEMETAAN GEOLOGI YANG TELAH DIBAKUKAN | -, Ike Bermana |
Some expert mention that surface of recent earth is reflection of geological process that goes on at past. Some state in Europe are connecting study of geomophology with geography. It is known as physical geography, but some of state in Europe and America are includes geomophology as geological science branch. While in Indonesia, more uppermost as physical geography, because indirect corellation to activity of development, specially development of agriculture and urban.
|
Geomorphology | 2006-08-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8125 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i2.8125 |
| 1672027 | #5790 | STRATIGRAFI BATUAN DAERAH SELAJAMBE DAN SEKITARNYA, KECAMATAN SELAJAMBE, KABUPATEN KUNINGAN PROPINSI JAWA BARAT |
-, Abbas Hamdani, Ahmad Helman Muhamadsyah, Faizal |
Geographically, the research area is located at 108° 27' 7.3548" BT - 108° 32' 7.3572" BT and 07° 0' 9.6336" - 07° 5' 9.6324" LS. Administratively belongs to Selajambe District, Kuningan Regency, West Java. Based on the lithostatigraphy aspect, the research area is divided into four units which are (from the oldest) : Sandstone Unit (Tmbp), Monomic Breccia Unit (Tmbx), Volcanic Breccia Unit (Qbv) and Tuff Unit (Qt).Geological history of the region began at Middle Miocene, research area was deep sea environment, submarine fan depositional system due to turbidite mechanism, to formed sandstone unit (Tmbp). With increasing sediment supply without the accommodation space inadequate to sediment were prograding and made closer the source area, following by sedimentation of rough material to form the monomic breccia unit (Tmbx). At Miocene -Pliocene periods there was an increase of tectonic activity that caused the rocks to folded, jointed and faulted. During the Pleistocene, area of research has become the terrestrial environment and in that time volcanism was occured to formed the volcanic breccia unit (Qbv) and are conformably overlain by tuff unit (Qt) at the top.
|
2016-04-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8383 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i1.8383 | |
| 1672028 | #5790 | SISTEM POROSITAS RESERVOIR BATUAN KARBONAT PADA SEKUEN DROWNING CAP, FORMASI KUJUNG ATAS DI LAPANGAN VITA, CEKUNGAN JAWA TIMUR |
DEWI, VISKA TRIARAMINTA Mardiana, Undang Mohammad, Febriwan Ahdyar, LaOde |
ABSTRAKBatuan karbonat merupakan batuan yang banyak ditemukan sebagai batuan reservoir. Hal ini tentu dikarenakan batuan karbonat memiliki nilai porositas dan permeabilitas yang baik. Namun, tingginya kompleksitas dan heterogenitas dari batuan karbonat membuat suatu kualitas reservoir batuan karbonat sulit di prediksi. Distribusi sistem porositas batuan karbonat sangat dikontrol oleh litofasies dan juga proses diagenesis. Maka, interaksi dari kedua faktor tersebut akan menghasilkan variasi jenis porositas yang nantinya akan mempengaruhi nilai permeabilitas dari suatu reservoir.Objek penelitian ini adalah Reservoir Vita yang merupakan karbonat build up, berumur Oligosen hingga Miosen di Formasi Kujung Atas. Reservoir ini telah menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia dan saat ini telah menghasilkan sejumlah hidrokarbon yang banyak. Dengan menggunakan data batuan inti sepanjang 429 ft (keseluruhan) dan lebih dari 500 sayatan tipis pada 3 sumur, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi dari sistem pori pada sekuen Drowning Cap di Reservoir Vita. Analisa kualitatif dilakukan untuk mendeterminasi jenis porositas reservoir yang terdiri atas interparticle, separated vugs (moldic), touching vugs, microfracture, dan minimum dissolution. Kelima jenis porositas ini terbentuk pada litofasies yang berbeda-beda. Tentu hal ini menunjukkan bahwa, sistem porositas pada objek penelitian tidak hanya dikontrol oleh tekstur, melainkan oleh proses diagenesis yang terjadi. Pemahaman terkait sistem porositas di reservoir drowning cap ini tentu menghasilkan dampak yang baik untuk mengetahui distribusi kualitas reservoir yang komprehensif. Kata Kunci : Jenis porositas, diagenesis, Reservoir Batuan Karbonat  ABSTRACTCarbonate rocks known as one of a common major reservoir rock in the world due to its good porosity and permeability. However, its heterogeneity makes the variability of carbonate reservoir quality is difficult to predict. Carbonate pore system distribution is controlled by the lithofacies and also by the occurrence of diagenetic process. Therefore, this interaction results the variation of pore types that will eventually define the permeability of the reservoir.The object of this research is Reservoir Vita which is an Oligocene to Miocene carbonate build up reservoir, specifically in Drowning Cap Sequence. Vita Reservoir is located in East Java Basin, Upper Kujung Formation which has becoming the largest oil producer in Indonesia and currently it has been producing a significant amount of hydrocarbon. By using cores (429 ft in total) and more than 500 thin sections data from 3 wells, this research aims to observe the variety of total pore system in drowning cap sequence in Reservoir Vita. Qualitative analysis was done in determining the pore types of reservoir that consist of interparticle, separated vugs (moldic), touching vugs, microfracture, and minimum dissolution. These five pore types are encountered in wide variety of lithofasies or depositional facies. Thus, this observation has proved that the pore system distribution in research object, is not only mainly controlled by its texture, but also strongly controlled by diagenetic process and it results different value of porosity and permeability. Understanding of pore system in drowning cap reservoir will bring significant value comprehensive reservoir quality distribution.  Keywords: Pore types, Diagenetic prosses, Carbonate Reservoir
|
2019-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22992 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.22992 | |
| 1672029 | #5790 | Rekonstruksi Struktur Lipatan Endapan Vulkaniklastik Laut Dalam di Zona Antiklinorium Majalengka, Cekungan Bogor |
Darojat, Akmal Maulana Abdurrokhim, . Natasia, Nanda |
Endapan vulkaniklastik laut dalam di Cekungan Bogor umumnya menunjukkan karakteristik litologi yang seragam, sehingga menyulitkan identifikasi penanda stratigrafi yang dapat diandalkan dalam menentukan urutan dan korelasi stratigrafinya. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi struktur lipatan endapan vulkaniklastik laut dalam di zona antiklinorium Majalengka, dengan menggunakan data biostratigrafi sebagai panduan untuk mendudukkan posisi stratifikasi batuan dengan benar. Analisis biostratigrafi dilakukan pada tiga buah sampel yang diperoleh dari beberapa lokasi di zona antiklinorium. Data biostratigrafi tersebut kemudian diintegrasikan dengan rekonstruksi penampang geologi berdasarkan persebaran data jurus dan kemiringan perlapisan batuan, guna menentukan posisi stratigrafi setiap perlapisan batuan secara lebih akurat dan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Anggota Bawah Formasi Cinambo dan Anggota Atas Formasi Cinambo, yang berumur Miosen Awal, serta Anggota Bawah Formasi Halang, yang berumur Miosen Tengah, terendapkan secara selaras dan mengalami perlipatan secara bersamaan akibat aktivitas tektonik kompresional pada kala Miosen Akhir. Meskipun demikian, di daerah penelitian ditemukan hubungan tidak selaras lokal antara Formasi Cinambo dan Formasi Halang, yang diduga merupakan hasil dari aktivitas sesar normal pasca-kompresi sebagai respons terhadap peluruhan tegangan (stress release) setelah fase kompresional utama. Struktur lipatan yang terbentuk akibat tektonik kompresional tersebut bersifat asimetris dan membentuk kompleks antiklinorium dengan perbedaan elevasi yang mencolok antar elemen struktural.
|
2025-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63675 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.63675 | |
| 1672030 | #5790 | DAYADUKUNG TANAH UNTUK BERBAGAI TIPE FONDASI TAPAK PADA LEMPUNG PLASTISITAS TINGGI DI BEBERAPA LOKASI, KABUPATEN MAJALENGKA, JAWA BARAT |
-, Zufialdi Zakaria -, Agung Mulyo -, Luthfan H. Jihadi -, M. Bey Anural |
The research location at Majalengka and its surrounding, West Java. The study was conducted in an effort to know soil bearing capacity for various types of foundations which depend on the physical and material properties of the soil. Location of samples obtained from three locations: Kertajati, Cikijing and Cigintung. Samples obtained in the form of high plasticity clay (CH) with the activity rate (A) between 1.01 to 1.42 (with Skempton method) or 1.12 to 1.61 (the Seed method), samples are high activity clays, included of monmorilonitic mineral. Alloweble soil bearing capacity (qa) for a square foundation type, between 11.04 to 19.50 T/M2; for a circular (rounded) foundation types, from 11.00 until 19.07 T/M2; and for the type of continuous foundation, between 8 , 85 to 15.28 T/M2. To avoid of the failure of the foundation, the building load should not exceed the value of allowable soil bearing capacity. The estimated expansive soils, soil improvement is required to be done.
|
Soil bearing capacity, foundation, clay, expansive | 2013-08-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8288 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i2.8288 |
| 1672031 | #5790 | POLA PERSEBARAN DAN ESTIMASI CADANGAN ANDESIT PADA DESA CILULUK, KECAMATAN CICALENGKA, KABUPATEN BANDUNG |
Swastika, Arif Syafriyono, . Dipo, Caesario Pratama, Ahmad Yuda Kartanegara, Sony Malik Khorniawan, Wahyu Budhi Sayyidi, Muhammad Natasia, Nanda |
Abstrak - Andesit merupakan komoditas mineral non-logam yang berpotensi sebagai sumber bahan galian C. Desa Ciluluk, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung secara tatanan geologi termasuk ke dalam Satuan Batuan Gunungapi Mandalawangi-Mandalagiri yang terdiri dari tuf dan lava berkomposisi andesit. Oleh karena itu, daerah ini dipilih sebagai lokasi studi untuk mengetahui pola persebaran andesit dan estimasi cadangannya. Pola persebaran andesit di daerah penelitian diprediksi berdasarkan data hasil survey geolistrik 1D dan 2D. Kemudian, estimasi cadangan dihitung menggunakan model sebaran 3D yang terbagi menjadi 2 skenario penambangan dengan mempertimbangkan kondisi topografi dan sebaran andesit. Berdasarkan pengamatan lapangan, andesit di daerah penelitian tersebar tidak merata dan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu soft dan hard andesite. Kedua tubuh andesit ini memiliki pola sebaran barat-timur dengan kenampakan fisik serta nilai resistivitas yang berbeda dimana hard andesite memiliki nilai resistivitas yang lebih tinggi (>350 Ωm). Hasil perhitungan cadangan menunjukkan bahwa cadangan andesit berkisar antara 3.861.267 ton untuk skenario 1 hingga 9.617.227 ton untuk skenario 2. Lebih lanjut, nilai cadangan ini bisa dibandingkan dengan melakukan perhitungan cadangan terukur berdasarkan data pengeboran disertai pengukuran topografi secara lebih rinci. Kata kunci – Andesit, Geolistrik, Cicalengka
|
2018-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17919 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17919 | |
| 1672032 | #5790 | PALEOFLORA PADA BATUBARA CIHARA FORMASI BAYAH |
Faurine, Nurul Rizma Winantris, . Rosana, Mega Fatimah |
Formasi Bayah memiliki karakteristik litologi batuan salah satunya sisipan batubara. Batubara daerah penelitian terletak pada Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Batubara merupakan batuan sedimen organiklastik yang mudah terbakar terbentuk dari material sisa-sisa tumbuhan yang mengalami kompaksi pada endapan gambut. Polen dan spora memiliki struktur dinding yang resisten terhadap proses pembatubaraan. Sehingga fosil polen dan spora pada batubara terawetkan dengan cukup baik pada batubara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan umur relatif pada batubara daerah penelitian. Preparasi polen dan spora dilakukan berdasarkan metode standar asam. Pendekatan identifikasi polen dan spora dilakukan berdasarkan karakteristiknya meliputi bentuk dan ukuran butir, tipe apertur serta ornamentasi pada eksin. Berdasarkan analisis palinologi ditemukan kehadiran Proxapertites operculatus, Proxapertites psilatus, Palmaepollenites kutchensis, dan Florschuetzia trilobata sebagai taksa penunjuk pada kala Eosen Akhir. Interpretasi lingkungan pengendapan batubara Cihara terendapkan pada lingkungan fluvial-deltaic hingga brackish swamp dengan umur relatif Eosen Akhir.
|
2022-01-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37586 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i3.37586 | |
| 1672033 | #5790 | STUDI PETROGRAFI BATUAN BEKU GUNUNG SINGA BOGOR - JAWA BARAT |
-, Johanes Hutabarat -, Mulyono |
This research about study on petrography of igneous rocks (dacitic) of Gunung Singa, Nanggung, Bogor, West Java.Results of petrography and chemical analysis of these igneous rocks indicates that volcanics rock (lava) as dacite.Petrographic description of dacite show by porphyritic textures with plagioclase and pyroxene minerals as phenocryst. Mineralogical composition of these rocks consist of plagioclase, pyroxen, K-Felsdpar, amfibole, and opaque minerals, and secondary minerals like chlorite, clay minerals, epidote and opaque minerals.
|
petrography, dacite. | 2007-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8152 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8152 |
| 1672034 | #5790 | KELIMPAHAN, KEANEKARAGAMAN DAN SPESIES KHAS DARI KUMPULAN FORAMINIFERA BENTIK PADA SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN TAMBELAN |
Isnaniawardhani, Vijaya Muhammadsyah, Faizal |
Thirty-five surficial sediment samples in Tambelan Seas were studied to identify foraminifera assemblages in the sediments as marine resources. Samples were collected from the strait to the open sea (<100 m), coral reefal (<12 m), sandy beaches and mangrove. Benthic foraminifera assemblages classified in 58 genera of suborder Textulariina, Spirillinina, Miliolina, Lagenina, Buliminina, and Rotaliina. Sub-ordo Textulariina was represented by genera Ammobaculites, Dorothia, Karreriella, Bigerina, Sahulia, Textularia, and Clavulina. Genus Spirilliina is included in the sub-ordo Spirillinina. Genera Adelosina, Nummulopyrgo, Spiroloculina, Agglutinella, Ammomassilina, Lachlanella, Quinquelo-culina, Miliolinella, Pyrgo, Triloculina, Peneroplis, and Marginopora were classified into Suborder Miliolina. Suborder Lagenina was represented by genus Lagena, Guttulina, Oolina, Fissurina and Glandulina; whereas Suborder Buliminina by genus Bolivina, Siphogenerina, and Reussella. Genus Cancris, Valvuli-neria, Eponides, Orbitina, Neoconorbina, Rosalina, Siphoninoides, Discorbia, Lobatula, Planorbulinella, Cymbaloporella, Cymbaloporetta, Gypsina, Epistomaroides, Amphistegina, Nonionoides, Heterolepa, Gyroidina, Hanzawaia, Pararotalia, Rotalia, Ammonia, Asterorotalia, Pseudorotalia, Baculogypsinoides, Calcarina, Elphidium, Parrellina, Assilina, and Heterostegina included in Suborder Rotaliina. Some broken milliolidae can’t be determined. Surficial sediments on open sea generally content a high number of individu as well as high diversity; Sub-ordo Rotaliina dominated. Benthic foraminifera are abundant on reefal, decreased on sandy beach, while are rare in magrove swamp. Benthic foraminifera near reef showed higher diversity than sandy beach and mangove swamps. Amphistegina lessonii was recorded on open marine and coral reefal sediments around Tambelan archipelago. Assilina ammonoides is typical species in open marine; Calcarina calcar in coral reefal; and in contrast, these species were not founded on the sandy beach and mangrove swamps. Abundancy, diversity and appearance of typical species were influenced environment factors as depth/bathimetry, water supply, temperature, sunlight intensity, substrate/sediment type, turbidity, wave and current. The study result is very useful as a reference of benthic foraminifera taxonomy in Indonesia.
|
2015-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8413 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i3.8413 | |
| 1672035 | #5790 | KARAKTERISTIK PETROLOGI DAN GEOKIMIA BATUAN PIROKLASTIK DAERAH SERAWET PROVINSI SULAWESI UTARA |
SYAH, MOHAMAD AKBAR Rosana, Mega Fatimah Hardiyono, Adi |
Daerah Serawet, Sulawesi Utara memiliki sebaran batuan piroklastik yang cukup luas, sebagai aktifitas gunungapi berumur kuarter. Tulisan ini membahas mengenai karakteristik dari batuan piroklastik melalui pendekatan petrologi, petrografi, dan analisa geokimia menggunakan empat sampel batuan piroklastik pada daerah penelitian. Hasil analisis megaskopis dan petrografi menunjukan bahwa batuan piroklastik berupa Tuf kasar berjenis tuf gelas berdasarkan identifikasi komposisi mineralogi dari hasil analisis petrografi.  Analisis geokimia major elemen menunjukan bahwa batuan berjenis dasit dan andesit. Seri magmatik tergolong kedalam seri magma “Kalk alkali” dan afinitas magmanya termasuk “Kalk- alkali tinggi”. Penentuan asal magma menunjukan bahwa magma berinteraksi dengan kontinen sedangkan kandungan Al2O3 yang cukup tinggi serta nilai TiO2 dan MgO yang rendah pada batuan piroklastik mengindikasikan bahwa batuan pada daerah penelitian termasuk kedalam setting tektonik busur kepulauan (Green, 1980 dalam Wilson, 1989).
|
2020-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28942 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i2.28942 | |
| 1672036 | #5790 | MINERALOGI GRANITOID BUKIT PAGIAS CEKUNGAN OMBILIN, SUMATERA BARAT | -, Euis Tintin Yuningsih |
Igneous rocks forming will shows different chemical composition and mineralogy from one phase to another sharply or gradually. This research will study about characteristic of basement rock from Bukit Pagias granitoid complex for detail views. Bukit Pagias granitoid complex have different characteristic although its close each other. Its proved by petrographic analysis that shows different composition of mineralogy. From the color, its shows two kinds of granite i.e. gray granite/monzo-granite (Streckeisen, 1978) and red granite/granite (Streckeisen, 1978), in some part of the area, there are altered red granite and granite wash/weathering granite. The rocks in this area was fractured and filled with silica in part.
|
granitoid complex, monzo-granite, granite, granite wash, weathering granite | 2006-01-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8116 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i1.8116 |
| 1672037 | #5790 | TEMPORAL VARIATION IN PETROGRAPHIC FEATURES OF THE MIOCENE JATILUHUR FORMATION IN THE BOGOR TROUGH, WEST JAVA |
-, Abdurrokhim -, Hendarmawan |
This paper reports on petrographic features Jatiluhur Formation in the northern part of Bogor Trough. On basis of mineral composition from petrographic analysis of sandstone samples, the petrographic features of the Jatiluhur Formation can be classified into 4 petrographic facies as follow: (F1) Feldspathic arenite, (F2) Feldspathic greywacke, (F3) Limestone, and (F4) Mixed siliciclastic and carbonate. The sediments of the Jatiluhur Formation indicate that they were derived mainly from a continental source, including the Sundaland in the north, which is considered to have been the most possible source area for the Paleogene sediments. The increase in relative abundance of volcanic fragments was documented in the late Miocene samples and this suggests that the late Miocene deposits of the Jatiluhur Formation seem to have also received some sediment directly or indirectly from the contemporaneous volcanic provenances to the south.
|
2014-08-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8371 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i2.8371 | |
| 1672038 | #5790 | UMUR FORMASI CANTAYAN DI SUNGAI CIBEET CIANJUR |
Abdurrokhim, . Isnaniawardhani, Vijaya Muhamadsjah, Faizal |
ABSTRAKFormasi Cantayan yang tersingkap di Sungai Cibeet disusun oleh batupasir dalam berbagai ukuran butir dan ketebalan, breksi dan batulempung. Di bagian bawah disusun oleh perselingan batupasir kasar, dengan ketebalan bervariasi antara 30 sampai dengan 60 cm, dan dapat bisa menumpuk hingga ketebalan lebih dari 5 meter. Sisipan batulempung sesekali muncul diantara batupasir tersebut. Lapisan breksi dijumpai hanya di bagian bawah dari formasi ini. Semakin ke atas batulempung semakin dominan dan batupasir semakin tipis dan halus.Sebanyak 15 (lima belas) contoh batuan telah dipilih untuk analisa paleontologi. Delapan contoh diambil pada lintasan bagian timur dan tujuh contoh telah diambil pada lintasan bagian barat. Sedikitnya 3 (tiga) datum umur dapat ditentukan dari kemunculan beberapa fosil indek yang penting diantaranya adalah: Globoroalia menardii, Globorotalia acostaensis, Globorotalia menotumida dan Hestigerina pelagica. Ketiga datum tersebut adalah N14-N15, N16 dan N17. Dengan demikian Formasi Cantayan yang tersingkap di Sungai Cibeet, Cianjur adalah berumur dalam rentang waktu antara N15 – N 17 (Miosen Akhir).Kata Kunci: Formasi Citayan, Cibeet, Paleontologi, Fosil IndexABSTRACTThe Cantayan Formation which is revealed on the Cibeet River is composed of sandstones in various grain sizes and thicknesses, breccia and claystone. At the bottom are arranged by coarse sandstone intervals, with thicknesses varying from 30 to 60 cm, and can be piled up to a thickness of more than 5 meters. Claystone inserts occasionally appear between these sandstones. The breccia layer is found only at the bottom of this formation. Increasingly the claystone is increasingly dominant and the sandstone is getting thinner and smoother.A total of 15 (fifteen) rock samples have been selected for paleontological analysis. Eight samples were taken on the eastern trajectory and seven samples were taken on the western trajectory. At least 3 (three) datum ages can be determined from the appearance of several important fossil indexes including: Globoroalia menardii, Globorotalia acostaensis, Globorotalia menotumida and Hestigerina pelagica. The three datums are N14-N15, N16 and N17. Thus the Cantayan Formation which was revealed on the Cibeet River, Cianjur is aged in the time span between N15 - N 17 (Late Miocene).Keywords: Citayan Formation, Cibeet, Paleontology, Index Fossil
|
2019-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21490 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i1.21490 | |
| 1672039 | #5790 | ANALISIS PERSEBARAN SEISMISITAS DAN MEKANISME FOKAL DI WILAYAH TIMUR PULAU JAWA |
Winusda, Sinta Caenur Zahrani, Deanne Ardelia Hasanah, Mia Uswatun |
Pulau Jawa merupakan wilayah dengan aktivitas seismotektonik kompleks akibat interaksi antara subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda serta keberadaan sejumlah sesar aktif di daratan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran seismisitas dan mekanisme fokal gempa bumi di kawasan Jawa Timur sebagai kajian awal untuk memahami pola tektonik regional. Data yang digunakan meliputi katalog ISC-EHB (1964–2021), BMKG (2009–2021), serta data moment tensor dari GCMT (1976–2022). Setelah proses penyaringan dan penggabungan, sebanyak 13.782 kejadian gempa dianalisis berdasarkan distribusi spasial, kedalaman, serta penampang vertikal per interval 1° bujur. Hasilnya menunjukkan pola seismisitas yang mengikuti geometri subduksi Indo-Australia, membentuk zona Wadati–Benioff dengan kemiringan slab curam ke arah utara–timur laut hingga kedalaman ~600 km. Variasi seismisitas antar lintasan mengindikasikan adanya kemungkinan slab tear dan zona seismic gap pada segmen tengah. Mekanisme fokal memperlihatkan dominasi thrust fault di zona megathrust, sementara wilayah daratan didominasi sesar strike-slip dan oblique-slip yang berkaitan dengan Sesar Kendeng Timur, Probolinggo, dan Blitar. Temuan ini mengonfirmasi bahwa deformasi tektonik di Jawa Timur dipengaruhi oleh kombinasi proses subduksi dan aktivitas sesar lokal, yang penting untuk pemodelan bahaya seismik dan mitigasi bencana gempa bumi di wilayah ini.
|
2026-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/68682 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v24i1.68682 | |
| 1672040 | #5790 | PENERAPAN SANDI STRATIGRAFI INDONESIA DALAM PEMETAAN GEOLOGI GUNUNG API DI KULONPROGO |
Hartono, Hill Gendoet Sudradjat, Adjat |
Dalam sandiStratigrafi Indonesia (SSI) 1973 yang dimutakhirkan tahun 1996 dan tahun 2023, dicantumkan mengenai konsep stratigrafi gunung api. Konsep ini memformulasikan kaidah stratigrafi dalam pemetaan batuan gunung api yang mencakup satuan batuan sebagai satuan paling kecil, gumuk, khuluk, bregada dan manggala sebagai satuan stratigrafi dengan hierarki yang semakin besar. Konsep ini dicoba diaplikasikan dalam pemetaan geologi gunung api Prakuarter di Pegunungan Kulonprogo. Hasilnya menunjukkan bahwa konsep ini dapat mengurai lebih jauh produk letusan yang selama ini dipetakan sebagai satu unit batuan. Pada peta geologi ditampilkan adanya tiga tubuh batolit yaitu Ijo, Gajah dan Menoreh[1]. Lokasi ketiganya berderet dari baratdaya ke timurlaut. Berdasarkan peta tersebut, maka diinterpretasikan bahwa ketiga tubuh batolit merupakan pusat letusan, sehingga disimpulkan bahwa terdapat tiga tubuh gunung api. Dalam konsep stratigrafi. maka ketiga tubuh gunung api tersebut memiliki status khuluk. Akan tetapi penelitian lebih lanjut [2,3] mengungkapkan adanya beberapa konduit, sehingga disimpulkan bahwa pada satu tubuh batolit terdapat beberapa pusat letusan. Dengan demikian maka statusnya berubah menjadi bregada. Berdasarkan hal tersebut maka Pegunungan Kulonprogo merupakan suatu manggala yang terdiri atas Bregada Gajah, Bregada Ijo dan Bregasa Menoreh.Bregada tersebut masing-masing diurai lebih lanjut menjadi Khuluk Bujel, Khuluk Pencu, Khuluk Ijo, Khuluk Kukusan dan Khuluk Gupit. Dikombinasikan dengan analisis facies maka dapat dilakukan deliniasi yang memisahkan produk gunung api dalam beberapa satuan batuan berdasarkan sumber, deskripsi dan genesis.
|
2025-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59526 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i1.59526 |