Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1671861 #5605 Analisis Morfologi dan Struktur Karbon Aktif Kulit Salak Wedi dengan Aktivator Bertingkat Ardianti, Aprillia Dwi
M. Ivan Ariful Fathoni, Pelangi Eka Yuwita,
Karbon aktif merupakan bahan material yang berpotensi untuk dijadikan elektroda pada superkapasitor karena memiliki densitas energi yang lebih tinggi daripada baterai dan sel bahan bakar serta densitas daya yang lebih tinggi daripada kapasitor konvensional.  Telah ada penelitian sebelumnya membuat karbon aktif dari tempurung kelapa dengan aktivator ZnCl2 menghasilkan karbon aktif dengan hasil luas permukaan spesifik yang besar dalam pembuatan elektroda superkapasitor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan karbon aktif dari kulit salak wedi dengan variasi aktivator bertingkat ZnCl2 dan KOH. Karakteristik sifat fisis karbon aktif kulit salak wedi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk melihat morfologi serbuk karbon aktif kulit salak. Pengujian menggunakan Difraksi sinar-X (XRD) untuk melihat struktur karbon aktif kulit salak yang berpotensi untuk dijadikan elektroda pada superkapasitorKata kunci: Karbon aktif, Salak, Aktivasi ZnCl2 dan KOH
2022-02-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37720 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v6i1.37720
1671862 #5605 Karakteristik Calcium Carbonat (CaCO3) pada Cangkang Kerang Tiram (Crassosstrea Gigas) sebagai Material Baku Thermochemical Energy Storage (TCES) Kafrita, Nova
Nazarudin, Nazarudin
Material baku untuk proses Thermochemical energy storage (TCES) yang selama ini berasal dari bahan tambang yaitu CaCO3. CaCO3 bisa didapatkan dari cangkang organisme laut. Pada makalah ini bertujuan mengkaji pada temperatur berapa cangkang kerang tiram dapat menghasilkan CaCO3 yang dapat digunakan sebagai  bahan baku Thermochemical energy storage (TCES) dan jenis mineral CaCO3.  Sampel Cangkang kerang tiram (Crassosstrea gigas) disintering pada suhu      selama 5 jam menggunakan Furnace. Produk sintering kemudian dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan suhu sintering akan menguraikan senyawa CaCO3.  Cangkang kerang tiram yang dapat menghasilkan CaCO3 tampa adanya senyawa lain yaitu cangkang kerang tiram yang dikalsinasi pada temperatur   Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa cangkang kerang tiram yang dikalsinasi pada suhu  berpotensi sebagai material baku Thermochemical energy storage (TCES).
2020-08-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24914 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v4i2.24914
1671863 #5605 Pemodelan Gerak Orbit Planet secara Komputasi Menggunakan Matlab Prakoso, Arif Bagus
Adityas, Himawan
Setianto, Mutahhari Nurhaqi,
Hukum Kepler menyebutkan bahwa bentuk lintasan planet pada umumnyaberbentuk elips dengan eksentrisitas tertentu. Studi ini berfokus pada pembandingan dan penggunaan metode komputasi pada planet dan hasilnya. Metode yang lebih baik digunakan untuk variasi kecepatan dan pemodelan gerak planet. Dari dua metode yang digunakan; Euler dan Runge-Kutta orde 4; diperoleh metode Runge-Kutta lebih baik dalam hal kecepatan dan keakuratan. Step optimal diperoleh dengan besar 0.002. Orbit planet Terrestrial berhasil dimodelkan dan variasi kecepatan bumi yang memenuhi hukum Kepler berada dalam rentang 1.0Ď€ - 2.0Ď€ AU / tahun.
2019-01-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20622 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v3i1.20622
1671864 #7423 KINERJA TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL DI KABUPATEN ACEH BESAR Mujiburrahmad, Mujiburrahmad
Deli, Anwar
Manyamsari, Ira
Yaqin, Muhammad Husnul
AbstrakPeraturan Kementerian Desa Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pendamping Profesional, sebagai kegiatan untuk melakukan tindakan pemberdayaan masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi Desa. Dalam Pasal 3 Ruang lingkup pendampingan Desa, Pendampingan masyarakat Desa dilaksanakan secara berjenjang untuk memberdayakan dan memperkuat Desa. Dalam pendampingan desa salah satu pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat adalah Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa. Tujuan dari penelitian ini adalah  (a). Untuk mengetahui Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar, dan (b). Untuk mengetahui apa saja faktor berhubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal desa di Kabupaten Aceh Besar. Pengambilan data diperoleh dari wawancara (survey) terhadap 12 Pendamping Lokal Desa di Kecamatan Indrapuri. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan model Skala Likert dan uji statistik Korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar memiliki peran yang sangat efektif untuk peningkatan program Pemberdayaan dan Pembangunan Desa (P3MD), sebesar 83,33% masuk kedalam kategori tinggi, dan sebesar 16,67% masuk kedalam kategori sedang. Hubungan karakteristik Eksternal memiliki hubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal Desa antara lain yaitu Sarana Prasarana (X2.3), Jarak kerja  (X2.1), dan Lingkungan Kerja (X2.2). Sedangkan untuk karakteristik Internal tidak memiliki hubungan yaitu Pendidikan (X1.1), Masa Kerja (X3.2), dan Usia (X1.3).Kata kunci: Kinerja, Pendamping, Masyarakat, Desa.AbstractMinistry of Village Regulation Number 3 of 2015 concerning Professional Assistance, as an activity to carry out community empowerment actions through village assistance, organization, direction and facilitation. In Article 3 the scope of Village assistance, Village community assistance is carried out in stages to empower and strengthen the Village. In village assistance, one of the parties who deal directly with the community is the Village Facilitator and the Village Local Facilitator. The aims of this research are (a). To find out the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District, and (b). To find out what factors are related to the Performance of Village Local Facilitators in Aceh Besar District. Data collection was obtained from interviews (surveys) of 12 Village Local Facilitators in Indrapuri District. The analytical method in this study uses a Likert Scale model and Spearman Correlation statistical test. The results of this study indicate that the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District has a very effective role in improving the Village Empowerment and Development (P3MD) program, 83.33% in the high category, and 16.67% in the medium category. The relationship of External characteristics has a relationship with the Performance of Local Village Facilitators, among others, namely Infrastructure (X2.3), Work Distance (X2.1), and Work Environment (X2.2). Meanwhile, the internal characteristics have no relationship, namely education (X1.1), tenure (X3.2), and age (X1.3).Keywords: Performance, Facilitator, Community, Village
2022-02-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38070 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.38070
1671865 #7423 PENINGKATAN KINERJA PENYULUH KEHUTANAN PADA PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN GOWA (STUDI KASUS KELOMPOK TANI HUTAN DI KECAMATAN TINGGIMONCONG) Ayyub, Erwin
Ibrahim, Helda
Yunus, Awaluddin
Zain, Majdah M
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengurai peningkatan kinerja penyuluh kehutanan pada program pengembangan hutan kemasyarakatan (HKm) melalui kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi dengan kelompok tani perhutanan (KTH), pengetahuan teknis penyuluh pada pengelolaan hutan, kompetensi interpersonal, serta keterampilan penyuluh memecahkan masalah terkait pengelolaan HKm di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif yang melibatkan responden kelompok tani hutan (KTH) sebanyak 25 orang dipilih secara purposive sampling, dan 4 orang penyuluh kehutanan sebagai informan penelitian yang terlibat dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kecamatan Tinggimoncong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja penyuluh kehutanan atas  pengelolaan hutan (HKm) ditinjau dari aspek kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi, pengetahuan teknis, kompetensi interpersonal dan keterampilan penyuluh dalam memecahkan masalah, berada pada kategori  “sangat baik”, dengan skala rata-rata presentase (90,8%). Penelitian ini memberikan rekomendasi peningkatan kompetensi penyuluh melalui pelatihan berkala, peningkatan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi (e-extension) upaya mendukung penyuluhan yang lebih efektif dan efisien.Kata kunci: Peningkatan Kinerja, Penyuluh  Kehutanan, Pengembangan Hutan Kemasyarakatan.AbstractThis study aims to analyze the improvement in the performance of forestry extension workers in the community forestry development program (HKm) through the extension workers' competence in communicating with forestry farmer groups (KTH), their technical knowledge of forest management, their interpersonal skills, and their problem-solving skills related to HKm management in Tinggimoncong Subdistrict, Gowa Regency. The research method used was a quantitative survey involving 25 forest farmer group (KTH) respondents selected by purposive sampling and four forestry extension workers as research informants involved in community forest management in Tinggimoncong Subdistrict. The results showed that the performance of forestry extension workers in forest management (HKm), in terms of their competence in communication, technical knowledge, interpersonal competence, and problem-solving skills, was in the “very good” category, with an average percentage scale of 90.8%. This study recommends improving the competence of extension workers through regular training, improving their skills in utilizing information technology (e-extension) to support more effective and efficient extension servicesKeywords: Performance Improvement, Forestry Extension Workers, Forest Development, Community Development.
FAKULTAS PERTANIAN; S2 AGRIBISNIS 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66552 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.66552
1671866 #7423 ANALISIS SISTEM SOSIAL-EKOLOGI LADA PUTIH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Heryanto, Mahra Arari
Nugraha, Adi
ABSTRAKLada putih merupakan komoditas perkebunan yang seluruhnya dikembangkan oleh perkebunan rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penurunan harga lada putih yang cukup drastis di tingkat petani menjadi persoalan yang dihadapi oleh petani, hal ini menandakan persoalan sosial dalam bidang ekonomi yang berimplikasi kepada persoalan ekologi, yaitu penurunan produktivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sistem sosial dan sistem ekologi dalam usahatani lada putih membentuk umpan balik (feedback loop) yang sangat banyak, sehingga sistem sosial dan ekologi tidak bisa dipisahkan. Produksi lada putih, keputusan penanaman lada dan sistem kolektif adalah tiga unsur utama dengan kompleksitas tertinggi dalam sistem sosial-ekologi lada putih. Rekayasa sosial (kelembagaan) yang mengarah kepada penguatan sistem kolektif (kelompok) perlu banyak dilakukan bersamaan dengan insentif teknologi pasca panen yang memadai agar keberlanjutan komoditas lada putih dapat terjaga, baik secara sosial maupun ekologi.Kata kunci: Keberlanjutan, Sistem Sosial, Sistem Ekologi, Ekonomi, Lada Putih ABSTRACTWhite pepper is a plantation commodity which is developed by smallholder in the Bangka Belitung Province. Declining price of white pepper at farm level is a problem for the farmers, this indicates a social problem in economic that has implication ecologically, decrease of yield productivity. The research showed that social systems and ecological systems in white pepper farming establish many feedback loops, so that the social and ecological systems could not be separated. White pepper production, pepper planting decisions and the collective system are the three main elements which have highest complexity in the social-ecological system of white pepper. Social engineering (institution) through the strengthening of the collective (group) action system needs to be developed in line with post-harvest technology policy in order to create the sustainability in the white pepper commodity, both socially and ecologically.Keywords : Sustainability, Social System, Ecological System, Economy, White Pepper
2018-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20882 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20882
1671867 #7423 PENERAPAN PRINSIP PEMBIAYAAN DALAM PENILAIAN KREDIT KEPADA PETANI CABAI DI KECAMATAN PARAKANSALAK KABUPATEN SUKABUMI Putri, Anggi Aulia
Milla, Amalia Nur
Meilani, Ema Hilma
AbstrakAkses permodalan menjadi aspek penting guna mendukung keberlanjutan usaha tani, khususnya bagi petani hortikultura seperti petani cabai. Namun, tidak semua petani memiliki akses yang mudah dalam memperoleh kredit karena berbagai persyaratan dan mekanisme yang diterapkan oleh lembaga pembiayaan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana petani cabai di Kecamatan Parakansalak memandang dan mengalami penerapan prinsip pembiayaan dalam proses pengajuan dan penilaian kredit. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana prinsip pembiayaan diterapkan, melalui prinsip 5C (character, capacity, capital, collateral, dan condition) sebagai indikator utama akses permodaln. Hasil penelitiann menunjukkan bahwa prinsip pembiayaan ini masih secara aktif di praktikkan baik oleh lembaga keuangan formal maupun nonformal. Namun petani masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses kredit seperti kendala ekonomi, sosial, dan risiko alam yang mempengaruhi produksi. Sumber pembiayaan yang dimanfaatkan berasal dari berbagai saluran baik lembaga formal maupun nonformal.Kata kunci: Petani cabai, permodalan pertanian, akses kredit, prinsip pembiayaan.AbstractAccess to capital is an important aspect to support the sustainability of farming, especially for horticultural farmers such as chili farmers. However, not all farmers have easy access to credit due to various requirements and mechanisms applied by financing institutions. This research focuses on how chili farmers in Parakansalak Sub-district perceive and experience the application of financing principles in the process of applying for and assessing credit. The main objective of this research is to identify how financing principles are applied, particularly the 5C principles (character, capacity, capital, collateral, and condition) as a key indicator of access to capital. The results show that these financing principles are still actively practiced by both formal and non-formal financial institutions. However, farmers still face various challenges in accessing credit such as economic, social, and natural risks that affect production. The sources of financing utilized come from various channels both formal and non-formal institutions.Keywords: Chili farmers, agricultural capital, credit access, financing principles.
Agribisnis 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63095 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63095
1671868 #7423 KESESUAIAN LAHAN UNTUK SISTEM AGROFORESTRY DI KABUPATEN PURWOREJO BERDASARKAN POTENSI PERTANIAN SETEMPAT Widiyanto, Ary
Suhartono, Suhartono
ABSTRAK Sektor pertanian berkontribusi sekitar 31% pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo. Meskipun demikian, pada beberapa tahun terakhir terjadi alih guna lahan pertanian menjadi non-pertanian. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan ekstensifikasi lahan pertanian di lahan hutan atau disebut agroforestry. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian lahan untuk agroforestry dengan mempertimbangkan potensi pertanian dan produk unggulan setempat. Metode yang digunakan adalah dengan pengecekan lokasi (ground check) dan menggunakan Sistem Informasi Geografis menggunakan software Arc GIS. Hasil penelitian menunjukan, di kabupaten Purworejo, sekitar 7.731 ha atau 7,47% termasuk kategori sesuai dan sekitar 5.715 atau 5,56% termasuk kategori sedang untuk pengembangan agroforestry. Lokasi terluas untuk pengembangan agroforestry adalah di Kecamatan Kemiri dengan area seluas 2.578 ha. Produk pertanian unggulan setempat yang direkomendasikan adalah kambing etawa (PE) dalam pola agrosilvopasture, tanaman penghasil obat (temulawak, kajibeling, lempuyang) dibawah tegakan pinus dalam pola silvofarmaka, dan papaya, manggis, dan durian dikombinasikan kayu sengon (Paraserianthes falcataria) dalam pola agrosilvikultur. Kata kunci: Agroforestry, kesesuaian lahan, potensi pertanian, produk unggulan ABSTRACT Agricultural sector contributed about 31% to Purworejo Regency’s Gross Regional Domestic Product (GRDP). Nevertheless, there were many land uses changing from agriculture to non-agriculture in recent years. One solution to overcome this problem is agriculture extensification in forest land, or known by agroforestry system. This research aimed to study land suitability for agroforestry system by considering local agricultural potensial and superior. The methods used are ground check and by using Geographical Information System with Arc GIS software. The results show that, in Purworejo Regency, about 7.731 ha or 7,47% of area is categorized as suitable and about 5.715 or 5,56% is categorized as medium for agroforestry system. The largest area for agroforestry development is Kemiri sub district with total area 2.578 ha. Local agricultural products recommendation is etawa goat (PE) in agrosilvopasture pattern, medicinal plants (temulawak, kajibeling, lempuyang) under pine tree in silvofarmaka pattern, and papaya, mangosteen, and durian combine with sengon (Paraserianthes falcataria) in agrosilvikultur pattern. Keywords: Agroforestry, land suitability, agricultural potential, superior products
2019-12-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15146 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15146
1671869 #7423 KAJIAN PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA KRISTAL PUTIH INDONESIA Fikri, Rasheeda
Ernah, Ernah
AbstrakGula merupakan salah satu bahan pokok yang diperdagangkan di seluruh dunia yang berbahan dasar tanaman tebu. Namun, saat ini produksi gula yang dihasilkan cenderung menurun setiap tahunnya dan tidak dapat memenuhi permintaan Gula Kristal Putih (GKP) masyarakat Indonesia sehingga pemerintah melakukan impor gula kristal mentah atau raw sugar untuk menutup kekurangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan dan strategi pengembangan industri GKP Indonesia berdasarkan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, dan analisis SWOT. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada informan dan studi literatur yang akan dibahas secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri GKP Indonesia masih aman karena berada pada sel V, yaitu posisi hold and maintain. Faktor yang dapat dipertahankan pada industri GKP adalah sumber daya lahan yang tersedia di luar Pulau Jawa, kapasitas produksi yang besar, kebutuhan pasar gula tinggi, dan investasi pabrik gula terbuka. Sementara faktor yang harus dipelihara adalah produksi tebu, laju konversi lahan, penggunaan teknologi, serta adopsi teknologi modern. Berdasarkan posisi tersebut, industri GKP Indonesia dapat berkembang dengan menerapkan strategi W – T yaitu pembenahan sistem pendanaan dan memperbaiki sistem tata niaga gula.Kata Kunci: produktivitas, strategi, gula kristal putih, pabrik gula, produksi.AbstractSugar is one of the main commodities traded worldwide which is made from sugar cane. However, currently the production of sugar produced tends to decrease every year and cannot meet the demand for white crystal sugar for the Indonesian people, so the government closes the shortage of sugar by importing raw crystal sugar or raw sugar. This study aims to analyze the performance and development strategy of the Indonesian white crystal sugar industry (GKP) based on matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, and SWOT analysis. The data collection method was carried out through interviews with informants and literature studies which will be discussed in a qualitative descriptive manner. Based on the results of the research, it shows that the Indonesian white crystal sugar industry is still safe because it is in cell V, namely the hold and maintain position. Factors that can be maintained in the GKP industry are available land resources outside Java Island, large production capacity, high demand for sugar market, and investment in open sugar mills. While the factors that must be maintained are sugar cane production, land conversion rate, use of technology, and the adoption of modern technology. Based on this position, Indonesia's white crystal sugar industry can develop by implementing the W-T strategy, namely improving the funding system and improving the sugar trading system.Keywords: productivity, strategy, white crystal sugar, sugar factory, production.
Agribisnis 2024-02-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44984 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.44984
1671870 #7423 MINAT ANGGOTA KELOMPOKTANI TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADA KOMODITAS CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) DI KECAMATAN TAROGONG KALER KABUPATEN GARUT Zaini, Muhamad Fahrul
Maryani, Ait
Maryani, Ait
Musyadar, Achmad
Musyadar, Achmad
AbstrakPeraturan Menteri Pertanian Nomor 48 Tahun 2009 mengamanatkan pelaksanaan pedoman budidaya buah dan sayur yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tingkat petani sebagai upaya perwujudan pertanian berkelanjutan dan peningkatan produktivitas hasil. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mendeskripsikan karakteristik responden, (2) mengetahui tingkat dukungan faktor eksternal dan minat responden dan (3)mengetahui faktor eksternal yang berpengaruh terhadap minat anggota kelompoktani pada penerapan GAP cabai merah. Unit analisis adalah individu, anggota kelompoktani responden penelitian. Populasi dalam penelitian adalah  semua petani yang berada di Desa Rancabango, Sirnajaya dan Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Diambil sampel petani sebanyak 50 orang responden dengan menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel petani menggunakan teknik cluster random sampling method. Metode pengambilan data menggunakan metode wawancara terstruktur, pengisian kuesioner dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian ini mencangkup (1) analisis deskriptif, distribusi frekuensi; (2) analisis inferensial regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan; (1) mayoritas responden berusia produktif, tingkat pendidikan rendah, cukup berpengalaman dan memiliki luas lahan sempit (2) indikator faktor eksternal dan indikator minat petani memiliki indeks rata-rata pada kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi; (3) Analisis regresi linear berganda menunjukan indikator faktor eksternal berpengaruh nyata secara simultan dan parsial terhadap minat anggota kelompoktani dalam penerapan GAP cabai merah, dengan arah pengaruh positif.Kata Kunci: faktor eksternal, minat petani, GAPAbstractMinister of Agriculture Regulation No. 48/2009 mandates the implementation of Good Agricultural Practices (GAP) guidelines at the farm level as an effort to achieve sustainable agriculture and increase yield productivity. This research aims to; (1)describe the characteristics of respondents, (2 find out the level of support of external factors and the interests of respondents and (3) find out the external factors that affect the interest of group members in the application of the red chili GAP. The unit of analysis is the individual, group members of the respondents of the study. The population in this study were all farmers in the villages of Rancabango, Sirnajaya and Panjiwangi, District of Tarogong Kaler, Garut Regency. Samples of farmers were taken as many as 50 respondents using the Slovin formula. Farmer sampling using cluster random sampling method. The data collection method uses structured interview methods, questionnaires and literature study. Analysis of the data in this study includes (1) descriptive analysis, frequency distribution; (2) inferential analysis of multiple linear regression. The results showed (1) The majority of respondents were of productive age, low level of education, experienced enough and had narrow land (2) indicators of external factors and indicators of farmer interest had an average index in the medium, high and very high categories; (3) Multiple linear regression analysis shows the external factors indicators have a significant and simultaneous effect on the interest of farmer group members in the application of red chili GAP, with the direction of positive influenceKey Word : external factors, farmer interest, GAP
2021-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28890 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.28890
1671871 #7423 KESEIMBANGAN HARGA DAN KUANTITAS PASAR SUSU SEGAR DI INDONESIA Ichdayati, Lilis Imamah
Dwiningsih, Eny
Putri, Risma Kurnia
Produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan permintaan konsumsi susu sebesar 30 % saja, sisanya 70 % dipasok dari impor. Di sisi lain tingkat konsumsi susu perkapita Indonesia relatif rendah. Hal ini menjadi peluang bagi usaha ternak sapi perah dalam menyediakan susu sapi segar.  Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi susu segar, harga dan kuantitas susu segar sebagai keseimbangan permintaan dan penawaran dalam pasar susu segar. Sumber data sekunder periode 1993-2017. Instrumen analisis menggunakan metode persamaan simultan two stage least square (2LSL).Hasil analisis adalah model persamaan biaya produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel biaya pakan, listrik dan air, obat-obatan dan bahan bakar. Model persamaan produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah sapi laktasi dan jumlah pakan konsentrat. Dari sisi pasar susu segar, model persamaan penawaran susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah susu segar dan harga teh sebagai komplementer, diikuti varibel harga susu segar dan harga kopi sebagai substitusi. Sedangkan dari model persamaan permintaan yang berpengaruh adalah variabel pendapatan perkapita, jumlah produksi, harga teh dan harga kopi sebagai produk komplementer dan substitusi. Model persamaan harga susu segar dipengaruhi oleh variabel total biaya produksi dan jumlah permintaan susu segar.
2020-02-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25358 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.25358
1671872 #7423 STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI “LOLIT TUNGRO” DALAM MENDUKUNG PEREKONOMIAN PETANI Akhsan, Akhsan
Rahim, Abd
AbstrakKoperasi Lolit Tungro merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang pengembangan agribisnis pedesaan. Koperasi Lolit Tungro senantiasa berupaya untuk mensejahterakan anggota dan petani melalui berbagai strategi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Srategi yang digunakan oleh koperasi Lolit Tungro untuk meningkatkan produktivitas petani yang diharapkan berimbas pada perbaikan perekonomian petani. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif-interaktif yang menekankan pada pendalaman bahan kajian kepada objek penelitian. Data yang diperoleh dilakukan proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh strategi koperasi Lolit Tungro dalam mendukung pertanian yaitu: Peningkatan Kapasitas Anggota, Pengembagan usaha anggota, dan peningkatan kesejahteraan anggota.Kata Kunci: Koperasi, strategi, ekonomi.AbstractLolit Tungro Cooperative is a rural agribusiness co-op working to improve the lives of farmers and members. This study looks into the strategies they use to help farmers boost their productivity and, in turn, their economic situation. Using a qualitative-interactive approach, we delved deep into the cooperative's operations. Our findings show that Lolit Tungro focuses on three main strategies: enhancing members' skills, growing their businesses, and improving their overall well-being.Keywords: Cooperative, strategy, economy.
Sosial Ekonomi Pertanian, Agribisnis 2025-02-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59437 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.59437
1671873 #7423 KONDISI DAN POTENSI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BANTUL SEBAGAI SENTRA BUDIDAYA TAMBAK UDANG BERKELANJUTAN DI PANTAI SELATAN INDONESIA Cahyaningrum, Desti Christian
Gunawan, Wawan
Rosmiati, Mia
ABSTRAKPeluang peningkatan perekonomian melalui kegiatan budidaya udang masih sangat terbuka bagiIndonesia, namun harus memperhatikan aspek keberlanjutan usaha budidaya maupun lingkungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi dan potensi wilayah pesisir Kabupaten Bantulsebagai sentra budidaya tambak udang berkelanjutan di pantai selatan Indonesia. Metode yangdigunakan adalah studi kasus melalui observasi dan wawancara, serta analisis data secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tambak udang dilihat dari aspek lingkungan memilikikualitas air yang baik akibat tidak adanya pencemaran dari luar, karena kawasan tersebut bukanmerupakan wilayah industri. Namun, keberadaan tambak dikawatirankan dapat merusak lingkunganapabila tidak dikelola dengan baik. Kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa pengelolaantambak masih kurang baik karena tidak adanya sistem pengolahan limbah yang berdampak padamunculnya penyakit berak putih udang pada tahun 2016. Dilihat dari aspek ekonomi, keberlanjutanterjadi karena permintaan ekspor udang yang masih sangat tinggi dan belum bisa terpenuhi. Aspeksosial menunjukkan bahwa lokasi tambak udang di wilayah penelitian menimbulkan konflik sosialdengan adanya permasalahan status kepemilikan lahan, perijinan usaha, serta benturan dengankebijakan pemerintah setempat.Kata kunci: potensi, tambak udang, pesisir Bantul, konflik, berkelanjutanABSTRACTOpportunities to increase the economy sector by shrimp ponds farming activities are still very openfor Indonesia, but must consider the aspect of the sustainability of the cultivation and theenvironment. This study aims to examine the condition and potency of thr coastal areas of BantulRegency as a center for sustainable shrimp ponds farming in the southern coast of Indonesia. Themethod used is case study through observation and interview. then data were analysed descriptively.The results showed that the condition of shrimp ponds in terms of environment has good air qualitydue to the absence of pollution from the outside, because there is not an industrial area. However,the existence of the ponds are considered to damage the environtment if not properly managed. Inaddition, the condition of pond management is still not good because there is no sewage treatmentsystem, and cause the disease berak putih in 2016. From the economic aspect, the sustainability iscaused by the great number of demand that can not to be fulfill yet. Social aspects show that locationof shrimp ponds emerge conflict by the problems of land-planting status, business licensing, andcollision with the government.Keywords: potency, shrimp farm, Bantul’s coastal, conflict, sustainability
2019-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15072 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15072
1671874 #7423 KONTRIBUSI PENDAPATAN PEREMPUAN PEDAGANG SAYUR DI PASAR PAGI KOTA PANGKALPINANG TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA Pratami, Indah
Evahelda, Evahelda
Astuti, Rufti Puji
AbstrakPeran perempuan dalam membantu perekonomi keluarga semakin meningkat pada saat ini, baik di sektor formal maupun informal, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan yang diakibatkan peningkatan harga bahan pokok. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal adalah pedagang sayur yang dianggap relatif mudah karena tidak menuntut keahlian khusus, dapat dilakukan dengan modal kecil dan jumlah jam kerja yang tidak terlalu lama. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kontribusi perempuan pedagang sayur terhadap pendapatan keluarga serta mengetahui hubungan antara variabel curahan waktu dengan variabel pendapatan perempuan sebagai pedagang sayuran di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik sampling yaitu simple random sampling, sampel yang diambil sebanyak 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang yaitu sebesar Rp8.718.924,16 dan Rp3.386.139,28 per bulan. Kontribusi perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang terhadap pendapatan keluarga dikatakan berkontribusi tinggi, yaitu sebesar 79% dan 72%, serta terdapat hubungan tidak signifikan atau tidak berarti antara tingkat curahan waktu kerja dengan pendapatan perempuan pedagang sayur di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang.Kata kunci: kontribusi, perempuan, pedagang sayuran.AbstractThe phenomenon of women playing a role in helping the family's economy is currently increasing, one of which is developing, namely women who are vegetable traders at the Morning Market in Pangkalpinang City. This study aims to determine the income and contribution of women vegetable traders to family income. And to find out the relationship between the time allocation variable and the income variable of women as vegetable traders in the Morning Market of Pangkalpinang City. The method used in this research is a survey method with a sampling technique that is simple random sampling, the sample is taken as many as 30 respondents. Data analysis techniques used are income analysis, descriptive statistical analysis and Spearman rank correlation analysis. Based on the results of the study, it was found that the average income of female vegetable traders who rented stalls and did not rent stalls at the Morning Market in Pangkalpinang City was Rp. 8,718,924.16 and Rp. 3,386,139.28 per month. The contribution of women vegetable traders who rent stalls and do not rent stalls in Pasar Pagi Pangkalpinang City to family income is said to have a high contribution of 79% and 72%, respectively. The results also found that there was an insignificant or insignificant relationship between the level of working time and the income of women vegetable traders at the Morning Market, Pangkalpinang City.Keywords: contribution, woman, vegetable trader.
Agribisnis 2023-03-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40760 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40760
1671875 #7423 DINAMIKA AGROINDUSTRI GULA INDONESIA: TINJAUAN ANALISIS SISTEM Heryanto, Mahra Arari
Suryatmana, Eddy Renaldi
AbstrakAgroindustri gula memiliki peran yang penting dan strategis bagi ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda sampai dengan saat ini. Produksi gula mengalami stagnasi sejak tahun 1994, ditandai dengan produksi yang menurun sementara permintaan terus bergerak naik. Sementara itu, impor gula terus dilakukan dan cenderung meningkat seiring dengan permintaan yang terus bertambah. Artikel ini menganalisis kompleksitas persoalan yang mengakibatkan berbagai dinamika dalam agroindustri gula terutama stagnasi produksi gula nasional. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis sistem berdasarkan data sekunder dan literatur mengenai berbagai indikator yang terkait dengan agroindustri gula. Hasil pembahasan menunjukan bahwa dinamika agroindustri gula Indonesia yang cenderung mengalami kemunduran diakibatkan oleh inefisensi usahatani tebu, inefisiensi usaha pabrik gula/PG, dan distorsi oleh pasar gula internasional. Inefisiensi usahatani tebu berdampak langsung kepada inefisiensi PG dalam rantai agroindustri gula. Sementara itu, persoalan kompetisi penggunaan lahan antara tanaman padi dan tebu secara tidak langsung berimplikasi kepada inefisiensi PG. Inefisiensi agroindustri gula kemudian menjadi lebih kompleks dengan adanya distorsi harga gula di pasar internasional yang menjatuhkan harga gula dunia. Guna mengatasi dinamika persoalan di atasm pengembangan industri tebu sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta dengan mengoptimalkan lahan pertanian di luar Jawa.Kata Kunci: tebu, analisis sistem, impor gula, usahatani, hargaAbstractSugar agroindustry has an important and strategic role for Indonesia since from the Dutch colonial era until present. Sugar production has been stagnating since 1994, indicated by decreasing production while demand continues to rise. Meanwhile, sugar import continues and tended increasing in line with growing demand. This article analyses the problems complexity of that have resulted various dynamics in sugar agroindustry, especially the stagnation of national sugar production. The method used is a systems analysis approach which based on secondary data and literature review on various indicators related to sugar agroindustry. The result show that the dynamics of Indonesia's sugar agroindustry which tends to decline caused by inefficiency in sugarcane farming, inefficiency of sugar factories/PG, and distortion by the international sugar market. Inefficiency in sugarcane farming has a direct impact on the inefficiency of PG in the sugar agroindustry chain. Meanwhile, the issue of land use competition between rice and sugar cane, indirectly has implications for PG inefficiency. Sugar agroindustry inefficiency then became more complex with the distortion of sugar prices on the international market which dropped international sugar prices. In order to overcome the problems, the development of sugarcane industry should be carried out by private sector by optimizing agricultural land outside Java.Keywords: sugarcane, system analysis, imported sugar, farming, price
2020-12-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32100 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.32100
1671876 #7423 ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN BERBASIS MEDIA SOSIAL DI KALANGAN RESTORAN ELIT DAN MENENGAH DI KOTA BANDUNG Esperanza, Dhany
Fatimah, Sri
Kusno, Rani A. B.
ABSTRAKKeberlanjutan sektor pertanian saat ini menjadi isu besar terkait dengan semakin menurunnyaaktivitas sektor pertanian. Kegiatan kuliner sesungguhnya mampu menggerakkan hulu dan hiliragribisnis dalam bentuk produksi input kuliner yaitu bahan-bahan mentah hasil pertanian. Sektorkuliner juga menjadi kegiatan yang dilirik generasi muda sebagai pilihan usaha, namun masihbanyak entrepreneur yang memerlukan pencerahan untuk dapat berkembang. Antara lain dalam halakses ke konsumen melalui promosi dan secara khusus pemilihan media promosi. Pada saat inimedia sosial dipandang dapat mengefektifkan upaya promosi. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui karakteristik konsumen di restoran elit dan menengah Kota Bandung, juga mengetahuidampak media sosial bagi penyedia jasa kuliner. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan teknik studi kasus dan analisis deskriptif. Penelitian dilaksanakan di beberapa lokasi restoranyang mewakili klaster elit dan menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restoran klaster elitdinilai belum cukup intensif menggunakan saluran pemasaran berbasis media sosial, sedangkanrestoran menengah dinilai bahwa penggunaan media sosial tidak berpengaruh terhadap kondisirestoran saat ini. Konsumen dari kedua klaster restoran senang menginformasikan restoran melaluimedia sosial bila memiliki keunikan.Kata kunci: media sosial, kuliner, promosi, agribisnis, studi kasusABSTRACTSustainability of the agricultural sector is currently a major issue due to decline in its activities.Culinary is actually able to move upstream and downstream agribusiness, namely culinary rawmaterials from agricultural products. As well, younger generation sees culinary as the choice ofbusiness, despite entrepreneurs still need awareness to be able to thrive. Particularly access toconsumers through promotions and specific opt for media campaign. At the time being social mediais seen for its superiority to further facilitate and streamline promotional efforts. This study aims tounderstand the characteristics of consumers in elite and medium-class restaurants in Bandung city,also knowing the impact of social media for culinary service providers. The results showed that theelite restaurant cluster was considered not sufficiently using social media as marketing mean, whilethe medium-class restaurants was regarded indifferent to its current condition despite using socialmedia. Consumers of both clusters pleased to inform the restaurant via social media when it isunique.Keywords: social media, culinary, promotion, agribusiness, case study
2016-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22718 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22718
1671877 #7423 KARAKTERISTIK KONSUMEN DAN POLA PERILAKU BERBELANJA PANGAN PREMIUM: STUDI KASUS PADA PEMASARAN PRODUK BERLABEL SEHAT Utami, Hesty Nurul
Pratiwi, Putri Gita
Wiyono, Sulistyodewi Nur
Konsumsi produk pangan semakin meningkat di kalangan konsumen saat ini karena berbagai alasan terutama kesehatan dan keamanan pangan. Perusahaan produk pangan memperoleh peluang untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar ini dengan menciptakan bebagai inovasi produk pangan berlabel pangan sehat yang dijual dengan harga premium. Penelitian ini melakukan survei kepada konsumen produk pangan tempe premium yang sudah tersertifikasi menunjukkan hasil bahwa target pasar produk tempe sehat ini adalah kelompok dewasa yang sebagian besar secara rutin berbelanja produk ini sebanyak tiga kali dalam satu minggu sehingga dikategorikan sebagai pelanggan setia. Alasan terbanyak pembelian produk tempe premium berlabel sehat ini adalah karena produk dan harga produk tempe ini dinilai berkualitas yang dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi, dan harga yang dibayarkan sepadan dengan kualitas yang diterima konsumen. Keputusan pembelian konsumen juga dinilai strategis dan dekat secara lokasi pembelian dengan lokasi pelanggan. Promosi pemasaran yang banyak diterima konsumen adalah karena pemasar memberikan persuasi yang tepat kepada pelanggan membeli produk serta informasi mulut-ke-mulut yang dilakukan pelanggan lain. Penelitian ini memberikan kontribusi keilmuan terkait pemahaman pola perilaku berbelanja produk pangan berlabel premium dan kontribusi praktis terkait strategi bauran pemasaran produk pangan premium berdasarkan karakteristik target pasar.
perilaku konsumen, pemasaran pangan, agribisnis 2025-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63512 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63512
1671878 #7423 STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BUAH CIPLUKAN (Physalis peruviana) DI WAAIDA FARM, JAWA BARAT Akbar Nugraha, Muhammad Kemalvin
Ernah, Ernah
ABSTRAKWaaida Farm merupakan perusahaan pionir agribisnis ciplukan berjenis Physalis peruviana di Indonesia. Waaida Farm mulai fokus untuk membudidayakan ciplukan karena melihat besarnya peluang pasar ciplukan di Indonesia. Namun sejauh ini Waaida Farm baru mampu memenuhi permintaan dari Pulau Jawa disebabkan oleh produksi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi mengenai strategi pengembangan agribisnis ciplukan berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal yang dapat dilakukan di Waaida Farm. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif kualitatif dan teknik penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi literatur. Dalam menentukan strategi pengembangan yang tepat, diperlukan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT dan QSP. Hasil analisis SWOT menghasilkan lima rumusan strategi yang dapat diterapkan oleh Waaida Farm. Hasil analisis matriks QSP menghasilkan prioritas strategi yang tepat untuk diterapkan oleh Waaida Farm yaitu menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin yang berguna untuk mengatasi kekurangan produksi di periode tertentu dan meningkatkan angka penjualan. Kata kunci: Ciplukan, Strategi Pengembangan Agribisnis, SWOT, QSPM.ABSTRACTWaaida Farm is a pioneer company of agribusiness of Physalis peruviana “ciplukan” in Indonesia. Waaida Farm started its cultivation of “ciplukan” with the considerations of “ciplukan” that has a big market opportunity. However, Waaida Farm could just fulfill the demand from Java so far because of its low production. The object of this research is to give a solution regarding the agribusiness developing strategy of “ciplukan” based on internal and external factors analysis which can be done at Waaida Farm. This research uses descriptive-qualitative design and study case research technique. Data collecting method used in this research is through interview and literature study. In needs to find the right developing strategy, there needs to be a matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, SWOT and QSP. The SWOT analysis resulted five strategy formulations that can be implemented at Waaida Farm. The matrix QSP analysis resulted the right priority strategy for Waaida Farm, that is to invest the company’s profit for purchasing cooler boxes to overcome production shortages in certain periods and to increase the number of sales.Keywords: “Ciplukan”, Agribusiness Developing Strategy, SWOT, QSPM.
2018-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20664 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20664
1671879 #7423 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI TANAMAN HORTIKULTURA DI SULAWESI SELATAN Hamjaya, Ronal Gunawan
Rukmana, Didi
Lumoindong, Yopie
AbstrakSubsektor hortikultura telah berkontribusi secara nyata dalam mendukung perekonomian nasional maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Peningkatan produksi tanaman hortikultura khususnya kacang panjang, cabai rawit, dan tomat di Provinsi Sulawesi Selatan tidak dapat menjadi ukuran jika petaninya juga tidak sejahtera. Hal ini dapat dilihat dimana perkembangan nilai tukar petani tanaman hortikultura cenderung fluktuatif setiap tahunnya. Salah satu indikator yang dapat mengukur tingkat kesejahteraan petani adalah nilai tukar petani (NTP). Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh luas lahan, jumlah produksi, harga komoditas kacang panjang, cabai rawit, dan tomat terhadap nilai tukar petani tanaman hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam upaya mendapatkan data yang diperlukan untuk penelitian ini, maka dilakukan pengumpulan data dengan cara melakukan metode studi pustaka. Salah satu cara untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi NTP yakni menggunakan metode regresi linear berganda. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu variabel luas panen, jumlah produksi, harga jual komoditas kacang panjang, cabai rawit, dan tomat secara simultan mempengaruhi nilai tukar petani tanaman hortikultura (NTPH). Kemudian pengujian variabel harga jual komoditas cabai rawit dan tomat secara parsial mempengaruhi NTPH. Saran yang dapat diberikan yaitu kepada pemerintah diharapkan dapat merancang kebijakan yang efektif guna mendorong semangat berusaha tani bagi petani.Kata kunci: nilai tukar petani, hortikultura, kesejahteraan petaniAbstractThe horticulture sub-sector has contributed significantly in supporting the national economy as well as in the absorption of labor. Increased production of horticultural crops, especially long beans, cayenne pepper, and tomatoes in South Sulawesi Province cannot be a measure if the farmers are also not prosperous. It can be seen where the development of horticultural crop farmers' exchange rate tends to fluctuate every year. One indicator that can measure the level of farmer welfare is the farmer's exchange rate (NTP). The objectives to be achieved in this study are to analyze the effect of land area, production amount, commodity prices of long beans, cayenne pepper, and tomatoes on the exchange rate of farmers in the Horticultural Crops Subsector of South Sulawesi Province. In an effort to obtain the data needed for this research, data was collected by means of a literature study method. One way to test the factors that influence NTP is to use the multiple linear regression method. The conclusion of this research is that the variables of harvested area, amount of production, selling price of long beans, cayenne pepper, and tomatoes simultaneously affect the exchange rate of horticultural crops farmers (NTPH). Then the testing of the commodity selling price of cayenne pepper and tomato partially affects NTPH. Suggestions that can be given are that the government is expected to be able to design effective policies to encourage the spirit of farming for farmersKeywords: farmer’s exchange rate, horticulture, farmer welfare
2022-07-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39467 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i1.39467
1671880 #7423 RESPON PETANI DALAM PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SAYUR SEBAGAI PUPUK KOMPOS PADA KOMODITAS SAYURAN DI DESA CIKIDANG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Insani, Riyyan
Sulistyowati, Dwiwanti
Pradiana, Wida
AbstrakJawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil sayuran dan buah-buahan semusim. Salah satu daerah penghasil komoditas sayuran terbesar di Jawa Barat adalah Kabupaten Bandung Barat, khususnya di Desa Cikidang Kecamatan Lembang. Produksi sayuran yang tinggi akan menghasilkan limbah yang tinggi. Biasanya limbah tersebut dibiarkan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya respon petani untuk memanfaatkan limbah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan, menganalisis indikator yang berhubungan, dan menganalisis indikator apa yang harus ditingkatkan untuk memacu respon petani dalam pemanfaatan limbah organik sayur sebagai pupuk kompos. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Juli 2020 di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sampel penelitian ini berjumlah 30 orang menggunakan quota sampling. Variabel penelitian terdiri dari karakteristik individu, faktor eksternal dan respon petani. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, korelasi rank spearman, dan Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukan bahwa respon petani termasuk kedalam kategori sedang. Indikator yang berhubungan nyata adalah adalah tingkat pendidikan formal, lama berusahatani, dan kegiatan penyuluhan. Indikator yang harus ditingkatkan adalah keterampilan petani. Pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mengkaji variabel dan indikator baru agar lebih baik dari penelitian ini.AbstractWest Java is one of the producing areas of annual vegetables and fruits. One of the biggest vegetable commodity producing regions in West Java is West Bandung Regency, especially in Cikidang Village, Lembang District. High vegetable production will produce high waste. Usually the waste is left. This is caused by the low response of farmers to utilize the waste. This study aims to describe, analyze related indicators, and analyze what indicators should be improved to stimulate the response of farmers in the utilization of vegetable organic waste as compost. This research was conducted from March to July 2020 in Cikidang Village, Lembang District, West Bandung Regency. The research sample consisted of 30 people using quota sampling. The research variables consisted of individual characteristics, external factors and farmers' responses. Data analysis techniques used were descriptive analysis, Spearman rank correlation, and Kendall's W. The results showed that the response of farmers included in the medium category. Significantly related indicators are the level of formal education, length of work, and extension activities. Indicators that need to be improved are farmers' skills. In the next research, it is expected to be able to study new variables and indicators to be better than this research.
2020-08-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28656 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i1.28656
Menampilkan 1.549.381 - 1.549.400 dari total 1.550.696 data