| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1669956 | #7423 | RANTAI PANGAN BERKELANJUTAN: KASUS KOMODITAS CABAI DI KABUPATEN GARUT |
Rahmah, Aulia Rosmiati, Mia Dwiartama, Angga |
ABSTRAKPenelitian ini menggunakan perspektif rantai pasok untuk mengkaji keberlanjutan pada komoditasCabai Merah segar dengan membandingkan beberapa jenis rantai pasok berdasarkan pilar-pilarkeberlanjutan. Responden dalam penelitian ini sebanyak 27 orang informan kunci. Data diambilmelalui wawancara dan observasi di lokasi produksi dan pemasaran Cabai. Hasil penelitianmenunjukkan terdapat tiga jenis rantai pasok yang dibedakan berdasarkan jumlah pelaku yangterlibat dan jenis pasar yang dituju. Rantai tipe I dan II merupakan rantai pasok Cabai menuju pasarinduk. Perbedaannya terletak dari ada tidaknya pengumpul dalam rantai tersebut. Adapun rantai tipeIII merupakan rantai pasok cabai menuju pasar eceran lokal tanpa adanya peran pengumpul. Totalmarjin yang tinggi pada rantai tipe II menunjukan panjangnya rantai pasok cabai, sedangkan rantaitipe III menunjukkan rantai yang pendek dengan marjin keuntungan terendah. Perbandingan ketigajenis rantai menunjukkan bahwa rantai tipe III merupakan rantai yang memberikan manfaat lebihdalam aspek ekonomi, sosial, dan, lingkungan. Secara ekonomi, ROI petani meningkat dari 26,7%menjadi 43,7%. Secara sosial, konflik dapat dihindari melalui sistem pembayaran tunai. Ditinjau dariaspek lingkungan, rantai tipe III mampu mencegah emisi CO2sebesar 92,84%.Kata kunci: keberlanjutan, rantai pangan, cabai merah.ABSTRACTThis study uses a supply chain perspective to analyze the sustainability of fresh red chili bycomparing several types of supply chain based on the pillars of sustainability. Respondents were 27key informants. Data were collected through interviews and observations of production andmarketing sites.The results show that there are three types of supply chains differentiated by thenumber of actors involved and the type of market. Chain types I and II are chili supply chains to thewholesale market. The difference lies in the presence of the role of middlemen in the chain (Chaintype II). While chain type III is chili supply chain to the local retail market without the role ofmiddleman. The highest margin total on the chain type II indicates the length of chain, whereas thetype III chain shows the shortest chain with the lowest total margin. The comparison of the threetypes of chains indicate the type of chain III is a chain that provides more benefits in economic,social, and environmental aspects. Economically, ROI of farmers increased 26.7% to 43.7%.Socially, conflicts can be prevented by cash payment system. Viewed from environmental aspect,chain type III able to decrease CO2emission equal to 92,84%.Keywords: Sustainability, food chain, chili
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15070 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15070 | |
| 1669955 | #7423 | PERAN KEWIRAUSAHAAN PEREMPUAN DALAM UMKM AGRIBISNIS TERHADAP PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIK |
Maharani, Mutiara Ria Despita Almuchty, Muhammad Akbar Musyafak, Musyafak Burhanuddin, Burhanuddin |
AbstrakKewirausahaan perempuan dalam UMKM agribisnis berperan penting dalam pembangunan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review pada literatur dengan rentang tahun 2015-2025 untuk mengidentifikasi peran, faktor pendukung dan tantangan yang dihadapi kewirausahaan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewirausahan perempuan berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, inovator usaha, penciptaaan nilai tambah dan perluasan pasar. Faktor internal seperti motivasi, pendidikan dan pengalaman usaha menjadi kunci keberhasilan. Sementara faktor eksternal seperti dukungan keluarga, akses pelatihan, ketersediaan sumber daya dan regulasi pemerintah, kesetaraan gender turut memperkuat peran kewirausahaan perempuan. Kewirausahaan perempuan masih menghadapi tantangan seperti stereotip gender, keterbatasan akses permodalan, beban domestik ganda, kesenjangan literasi digital dan terbatasnya jejaring bisnis. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mengintegrasikan antara pelatihan, pembiayaan inklusif, digitalisasi usaha dan pemberdayaan perempuan yang responsif.Kata kunci: Kewirausahaan Perempuan, UMKM, Agribisnis, Ekonomi Lokal.AbstractWomen's entrepreneurship in agribusiness MSMEs plays an important role in local economic development through job creation and income generation. This study uses a Systematic Literature Review on literature spanning 2015-2025 to identify the roles, supporting factors and challenges faced by women's entrepreneurship. The results of the study show that women's entrepreneurship plays a role as a driver of the local economy, business innovator, creation of added value and market expansion. Internal factors such as motivation, education and business experience are the keys to success. While external factors such as family support, access to training, availability of resources and government regulations, gender equality also strengthen the role of women. Women's entrepreneurship still faces challenges such as gender stereotypes, limited access to capital, double domestic burdens, digital literacy poverty and limited business networks. Therefore, policies are needed that integrate training, inclusive financing, business digitalization and responsive women's empowerment.Keywords: Women Entrepreneurship, MSMEs, Agribusiness, Local Economy.
|
Agribisnis;Sosial Ekonomi Pertanian;Pembangunan Pertanian | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64983 buka_link ↗ Highlight_link |
| 1669954 | #7423 | Strategi Pengembangan Benih Bawang Putih di Kecamatan Agrapura Kabupaten Majalengka |
Pardian, Pandi Noor, Trisna Insan |
Abstrak Kabupaten Majalengka telah lama dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah, selain bawang merah ternyata produksi bawang putih juga dilakukan di Kabupaten Majalengka. Salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung produksi bawang putih di Kabupaten Majalengka adaalh dengan membuat program  mengembangkan sistem produksi perbenihan bawang putih untuk mendukung produksi benih bawang secara kontinu dan berkualitas, sehingga hasil produksi bawang putih lebih baik dan berkembang. Program pengebangan benih bawang putih kerjasama dengan importir dari benih yang didatangkan oleh impotir tenyata memiliki beberapa permasalahan utama diantaranya tidak berumbi. Hal tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian terkait strategi pengembangan benih bawang putih di Kabupaten Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode survey sedangkan untuk mengetahui strategi pengembangan benih bawang putih dengnan alat analisis AHP (Analitycal Hierarchy Process). Sedangkan data yang dipergunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari survey, sedangkan data sekunder diperoleh dari pencatatan/keterangan dari instansi terkait serta laporan hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alternative strategi pengembangan benih bawang putih adalah melakukan kerjasaa dengn petani atau kelompok tani dengan penggunaan dan kesiapan teknologi budidaya serta jaminan pasar hasil produksi benih.Kata Kunci : Bawang Putih, Benih, Analytical Hierarchy Proces , Majalengka.AbstractMajalengka Regency has been known as one of the centers of shallots. Besides shallots, in Majalengka Regency also it turns out garlic production. One of the activities carried out by the government to support garlic production in Majalengka Regency is creating a program to develop a production system for garlic seedlings to support continuous and quality production of onion seeds, so that garlic production is better and growing. The garlic seed development program in cooperation with importers has several main problems including non-tuber. This attracted researchers to conduct research related to the strategy of developing garlic seeds in Majalengka Regency. This study uses a survey method while to determine the strategy of developing garlic seeds with AHP (Analytical Hierarchy Proces). This study uses primary and secondary data. Primary data is obtained from surveys, while secondary data is obtained from recording/ information from relevant agencies and reports on previous research results. The study results indicate that the alternative strategy for developing garlic seeds is to collaborate with farmers or farmer groups with the use cultivation technology and market guaranteed for the seeds production.Keywords: Garlic, Seeds, Analytical Hierarchy Proces,  Majalengka.
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22953 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i1.22953 | |
| 1669953 | #7423 | Struktur Biaya Pedagang Buah Impor Di Kelurahan Handil Bakti Kabupaten Barito Kuala |
Agustina, Aulia Hidayat, M. Ilmi Ifada, Inda Ilma |
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kegiatan penjualan, struktur biaya, dan efisiensi biaya pedagang buah impor di Kelurahan Handil Bakti Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus dengan jumlah 10 orang responden. Metode analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan finansial. Ada 6 orang pedagang berjualan di toko dan ada 4 orang pedagang berjualan menggunakan mobil pick up. Struktur biaya yang dikeluarkan pedagang buah impor adalah sewa lahan, penyusutan alat, pembelian kantong plastik, pembelian buah impor, biaya listrik, biaya perawatan mobil pick up, tenaga kerja dalam keluarga, biaya keamanan dan kebersihan. Total biaya rata-rata pedagang buah impor yang berjualan di toko sebesar Rp 13.491.037 dan total biaya rata-rata pedagang yang berjualan di mobil pick up sebesar Rp 17.439.977, penerimaan rata-rata pedagang buah yang berjualan di toko sebesar Rp 20.010.000 dan penerimaan rata-rata pedagang yang berjualan di mobil pick up Rp 27.173.500, pendapatan rata-rata pedagang buah impor yang berjualan di toko sebesar Rp 7.488.630 dan pendapatan rata-rata pedagang yang berjualan di mobil pick up sebesar Rp 9.918.523, keuntungan rata- rata pedagang yang berjualan di toko sebesar Rp 6.519.296,7 dan keuntungan rata-rata pedagang yang berjualan di mobil pick up sebesar Rp 9.733.523.Kata Kunci: pedagang buah impor, struktur biaya, pendapatanAbstractThis study aims to determine the sales activity, cost structure, and cost efficiency of imported fruit traders in Handil Bakti Village, Barito Kuala Regency. The research method used is the census method with a total of 10 respondents. The analytical method used is to use descriptive and financial analysis methods. There were 6 traders selling at the shop and there were 4 traders selling using a pick up car. The cost structure incurred by imported fruit traders is land rent, depreciation of tools, purchase of plastic bags, purchase of imported fruit, consumption, electricity costs, maintenance costs for pick-up cars, labor in the family, security and cleaning costs. The average total cost of imported fruit traders selling in stores is IDR 13,491,037 and the average total cost of traders selling in pick-up cars is IDR 17,439,977, the average income of fruit traders selling in stores is IDR 20,010. 000 and the average income of traders selling in pick-up cars is IDR 27,173,500, the average income of imported fruit traders selling in shops is IDR 7,488,630 and the average income of traders selling in pick-up cars is IDR 9,918. 523, the average profit of traders selling in shops is IDR 6,519,296.7 and the average profit of traders selling in pick-up cars is IDR 9,733,523.Keywords: imported fruit traders, cost structure, income
|
2021-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33583 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.33583 | |
| 1669952 | #7423 | EVALUASI PENERAPAN SISTEM PERTANIAN ORGANIK DI DESA SUKAMANAH KECAMATAN BAROS KAB.SERANG |
Sutisna, Dadang Firdaus, Muhamad |
AbstrakSistem pertanian yang dilakukan dalam membudidayakan padi di Indonesia masih konvensional. Dampak negative dari sistem pertanian konvensional dapat diatasi dengan dilakukannya sistem pertanian organik. Pertanian organik merupakan suatu sistem dalam arti budidaya pertanian yang menggunakan bahan alami tanpa bahan kimia selama proses produksinya. Kelompok Tani Ranca Layung telah melakukan budidaya tanaman organik dari Tahun 2020 namun belum memperoleh sertifikasi organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan sistem pertanian organik di Kelompok Tani Ranca Layung sudah sesuai dengan SNI 6729 : 2016 tentang sistem pertanian organik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pendekatan studi kasus dengan model analisis data Miles and Huberman. Hasil Penelitian menunjukan persentase kesesuaian sistem pertanian organik yang diterapkan oleh Kelompok Tani Ranca Layung dengan SNI 6729 : 2016 tentang sistem pertanian organik yaitu sebesar 73,94 persen (%) dan ketidak sesuaian sistem pertanian organik yaitu sebesar 26,06 persen (%).Kata kunci: Pertanian Organik, SNI 6729 : 2016, kelompok tani AbstractThe agricultural system used in cultivating rice in Indonesia is still conventional. The negative impact of conventional farming systems can be overcome by carrying out organic farming systems. Organic farming is a system in the sense of agricultural cultivation that uses natural ingredients without chemicals during the production process. The Ranca Layung Farmers Group has been cultivating organic plants from 2020 but has not yet obtained organic certification. The purpose of this study was to determine whether the application of the organic farming system in the Ranca Layung Farmer Group was in accordance with SNI 6729: 2016 concerning organic farming systems. This study uses a qualitative descriptive method with a case study approach with a data analysis model of Miles and Huberman. The results showed that the percentage of conformity of the organic farming system applied by the Ranca Layung Farmer Group with SNI 6729: 2016 regarding the organic farming system was 73.94 percent (%) and the incompatibility of the organic farming system was 26.06 percent (%).Keywords:Organic Farming, SNI 6729 : 2016, farmer group
|
2024-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42566 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.42566 | |
| 1669951 | #7423 | STRATEGI PETANI DALAM MENGHADAPI KEKURANGAN AIR: STUDI KASUS DI DAERAH IRIGASI WANIR, KECAMATAN CIPARAY, KAB. BANDUNG |
Nurseto, Hardian Eko Nugraha, Adi |
ABSTRAKKetersediaan air irigasi sangat penting dalam pertanian.Namun, sifat dan jumlah pasokan air yangtak terduga, ketika musim kemarau air sulit untuk didapat dan dapat mengancam pertumbuhan,terkadang di musim hujan jumlah air melebihi batas hingga menimbulkan banjir dan menghancurkantanaman padi. Untuk itu diperlukan berbagai strategi untuk menyiasati dan menjamin ketersediaanair guna mempertahankan produktifitas pertanian. Penelitian ini bermaksud menggambarkanbagaimana petani di Dusun Leles Desa Mekarsari Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandungbekerjasama dalam menjamin ketersediaan air irigasi.Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan deskriptif yangbertujuan menggambarkan bagaimana petani-petani di Dusun Leles Desa Mekarsari KecamatanCiparay Kabupaten Bandung membuat strategi-strategi dalam mengelola irigasi. Hasil yang didapat,Petani mengembangkan organisasi irigasi untuk meneglola air irigasi melalu Mitra Cai. Petanibekerjasama melakukan nganir cai, dan pompanisasi. Selain itu juga petani mengaktifkanhubungan-hubungan kekerabatan untuk mendapatkan akses pada air irigasi.Kata kunci: irigasi, strategi petani, mitra caiABSTRACTThe availability and access to water is very vital to agriculture. However, both of these are oftenunpredictable in some parts of Indonesia, especially in locations which has ‘bowl’ geographicalcharacteristic such as Ciparay District, Bandung Regency, West Java. This is due to lack ofinfrastructure and water management system. During the drought, the water is so scarce whileduring rainy season, the water overflows. This condition poses threats to surrounding farmlands.Therefore, a proper water management system is needed. This paper aims to identify how dofarmers in Mekarsari Village, Ciparay work together in assuring the availability and their access towater. The study was a qualitative study which was designed to provide in-depth information inorder to describe the phenomenon. The results show that there is a self-organized organization,which was formed by farmers to arrange the water usage in the region. The farmers are bound tomitra cai organization, organizing themselves to do nganir cai (looking for water sources) anddistribute the water. Aside of that, the farmers also enhance collegial relationships in the process,reducing the risks of social dispute.Keywords: irrigation, farmers’ strategy, mitra cai
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15046 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15046 | |
| 1669950 | #7423 | EVALUASI TINGKAT KESUKAAN PANELIS TERHADAP UJI HEDONIK TEH KULIT BUAH SALAK SERAI SECANG BERDASARKAN LIMA ATRIBUT |
Ambarwati, Kiki Juli Puspitojati, Endah Munambar, Siwitri |
AbstrakTeh kulit buah salak serai secang merupakan salah satu produk pangan turunan dari buah salak, yang berbentuk teh celup dan merupakan campuran dari simplisia kulit buah salak, serai dan secang. Kulit buah salak biasanya dianggap limbah ternyata memiliki potensi pengembangan karena mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan tannin yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik melalui uji hedonik dengan melibatkan 7 panelis ahli, serta menganalisis kelayakan usaha secara finansial. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) serta deskripsi kuantitatif. Pengujian statistik menggunakan metode One Way Anova (ANOVA), diikuti uji lanjut Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pra-pengeringan, baik melalui steam blanching dan non blanching pada kulit buah salak, secara nyata mempengaruhi aroma produk. Namun, tidak ditemukan pengaruh nyata terhadap warna, rasa, aftertaste dan overall produk. Berdasarkan rata-rata uji hedonik, formulasi terbaik produk teh kulit buah salak serai secang yaitu F1 dengan perlakuan steam blanching yang memperoleh nilai 3,43 dengan kategori suka. Berdasarkan kelayakan finansial, diperoleh nilai R/C Ratio sebesar 1,66 menunjukkan bahwa usaha ini memenuhi syarat kelayakan finansial, dimana pendapatan yang dihasilkan cukup untuk menutupi biaya produksi dan memberikan keuntungan.Kata Kunci: Teh Kulit Buah Salak, Uji Hedonik, One Way Anova, Kelayakan FinansialAbstractSalak fruit peel tea serai secang is one of the food products derived from salak fruit, which is in the form of tea bags and is a mixture of salak fruit peel simplisia, lemongrass and secang. Salak fruit peel is usually considered waste, but it has development potential because it contains secondary metabolite compounds such as flavonoids and tannins that are beneficial for health. This study aims to determine the best formulation through hedonic test involving 7 expert panelists, and analyze the financial feasibility of the business. The research method used an experimental approach with a complete randomized design (CRD) and quantitative description. Statistical testing used One Way Anova (ANOVA) method, followed by Duncan's further test at 5% significance level. The results showed that pre-drying treatment, both through steam blanching and non-blanching of salak fruit peel, significantly affected the product’s aroma. However, there was no significant effect on the color, taste, aftertaste and overall product. Based on the average hedonic test, the best formulation of snake fruit peel tea product is F1 with steam blanching treatment, which obtained a score of 3.43 in the liking category. Based on financial feasibility, the R/C Ratio value of 1.66 indicates that this business meets the financial feasibility requirements, where the income generated is sufficient to cover production costs and provide a profit.Keywords: Salak Fruit Peel Tea, Hedonic Test, One Way Anova, Financial Feasibility
|
Sosial Ekonomi Pertanian; Agribisnis | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63587 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63587 |
| 1669949 | #7423 | PERILAKU PETANI DALAM PENGEMBANGAN PADI LOKAL VARIETAS PANDAN WANGI (Kasus di desa-desa sekitar kampung budaya , Kecamatan Warung Kondang Kabupaten Cianjur) |
Sukayat, Yayat Supyandi, Dika Charina, Anne |
ABSTRAKBeras pandan wangi, di Jawa Barat, menjadi salah satu varietas padi yang sudah sejak lama menjadi unggulan. Kekhasan yang dimiliki Pandan Wangi membuat beras Pandan Wangi diminati masyarakat menengah ke atas. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur menetapkan Pandan Wangi sebagai komoditas unggul utama disamping tanaman palawija, sayuran, buahbuahan, dan tanaman hias (Podesta, 2009).  Meskipun luas tanam dan produksi beras pandan wangi masih terbatas, dan cenderung tetap. Adanya ketidak sejalanan antara ikon di satu sisi, dan terbatasnya produksi dan luas tanam di sisi lain;  ada apa dengan perilaku petaninya (pengetahuan, motivasi dan persepsi perannannya). Tujuan penelitian  adalah untuk menggambarkan  perilaku petani dalam usahatani padi lokal pandan wangi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif, dengan metode yang di gunakan adalah Survey deskriptif. Dari hasil penelitian,secara teknik agronomis pengetahuan petani tentang budidaya padi masuk kategori baik; motivasi usahatani cenderung ke arah sosial; dan ada kebanggaan masih konsisten menanam pandan wangi.Kata kunci : Pandan wangi, pengetahuan, motivasi, persepsi peran ABSTRACTPandan  Wangi rice, in West Java, has become one of the rice varieties that has long been a superior. Pandan Wangi rice has advantages in terms of aroma, taste and texture of fluffier rice. The peculiarities of the Pandan Wangi make Pandan Wangi rice prestigious and are of interest to the upper middle class. Even the Agriculture Office of Cianjur Regency established Wangi Pandanus as the main superior commodity in addition to crops, vegetables, fruits, and ornamental plants (Podesta, 2009). Although the area of planting and production of fragrant pandan rice is still limited and tends to remain. The existence of disparity between icons on the one hand, and limited production and planting area on the other side; what's wrong with the farmers' behavior (knowledge, motivation and perceptions of their role). The purpose of the study was to describe the behavior of farmers in the local pandan wangi rice farming. This research uses quantitative design, with the method used is descriptive survey. From the results of the study, the agronomic technique of farmers' knowledge of rice cultivation entered the good category; farming motivation tends to be social; and there is pride in consistently planting fragrant pandanus.Keywords: fragrant pandanus, knowledge, motivation, perception of role
|
2018-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20875 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20875 | |
| 1669948 | #7423 | KARAKTERISTIK KONSUMEN YANG MEMBELI BERAS HITAM ORGANIK SECARA ONLINE MELALUI SOCIAL COMMERCE DAN YANG MENGONSUMSINYA SERTA KEPUASANNYA |
Kusno, Kuswarini Kusumo, Rani Andriani Budi Suminartika, Eti Karyani, Tuti |
Abstrak Masyarakat sering menganggap beras hitam sebagai ketan hitam sehingga kurang diminati sebagai pangan sehat. Pesatnya peningkatan pengguna media sosial menyebabkan perdagangan beras hitam organik dilakukan secara online melalui social commerce. Tujuan penelitian adalah 1). mendeskripsikan karakteristik konsumen yang membeli beras hitam organik secara online melalui s-commerce dan yang mengonsumsinya serta 2). menganalisis kepuasan konsumen terhadap atributnya. Design penelitian adalah kuantitatif. Sampel berukuran 59 ditarik menggunakan teknik stratified random sampling dan convenience sampling. Data primer dianalisis dengan menggunakan cross tab, Importance Performance Analysis serta Consumer’s Satisfaction Index. Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya konsumen beras hitam organik yang membeli secara online melalui s-commerce adalah responden sendiri, wanita, sudah menikah, remaja akhir, berpendidikan sarjana, kepala keluarganya bekerja sebagai PNS atau wiraswasta dan berasal dari kalangan menengah ke atas. Dari 12 atribut, 4 atribut menjadi prioritas utama dalam perbaikan yaitu derajat hitamnya warna beras, daya tahan beras, tercantumnya logo organik dan tanggal kadaluarsa. Konsumen merasa cukup puas terhadap keduabelas atribut beras hitam organik.Kata kunci: beras hitam organik, atribut produk, kepuasan terhadap atribut, pembelian secara online melalui social commerceAbstractPeople often think of black rice as black sticky rice, so it is less desirable as a healthy food. The rapid increase in social media users causes organic black rice trading to be carried out online via social commerce. The research was performed to 1). describe the characteristics of consumers who buy organic black rice online via s-commerce and who consume it and 2). analyze consumer satisfaction with its attributes. The research design was quantitative. The sample size 59 was drawn using stratified random sampling and convenience sampling. The data used primary data which was analyzed using cross tab, Importance Performance Analysis and Consumer's Satisfaction Index. The results show that in general, consumers of organic black rice who buy online via s-commerce were the respondents themselves, women, married, late teens, graduated with a bachelor's degree, the head of his family works as a civil servant or entrepreneur and comes from the upper middle class. Of the 12 attributes, there are 4 attributes that are the main priority for improvement, namely the degree of blackness of the color of the rice, the durability of the rice, organic logo is printed and expiration date are printed. Consumers were quite satisfied with the twelve attributes of organic black rice.Keywords: organic black rice, product attributes, satisfaction with attributes, online purchases via social commerce
|
2022-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38056 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.38056 | |
| 1669947 | #7423 | STRATEGI BAURAN PEMASARAN SAYURAN ORGANIK KANGKUNG DI KURNIA KITRI AYU FARM KOTA MALANG |
Nafi'ah, Rima Hayyin Maharianti, Titis Surya |
Abstrak Kurnia Kitri Ayu Farm merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang hortikultura yaitu budidaya sayuran organik. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemasaran usaha ini adalah strategi bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, promosi dan tempat/saluran distribusi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi bauran pemasaran yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) di Kurnia Kitri Ayu Farm Kota Malang. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa tempat tersebut merupakan salah satu sentra pemasaran sayuran organik khususnya sayuran kangkung. Data diperoleh dari berbagai sumber, yaitu dari obervasi, wawancara langsung, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode analis bauran pemasaran 4P. Hasil penelitian strategi bauran pemasaran adalah produk kangkung organik yang diproduksi memiliki kualitas produk yang baik dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729. Harga yang ditetapkan sudah mampu menjangkau ke konsumen pasar yang dituju. Tempat atau saluran distribusi pemasaran sayur organik kangkung hampir 90% dipasarkan di Kota Surabaya yakni di supermarket dan 10% di Kota Malang.Kata kunci: Bauran Pemasaran, Sayuran Organik, 4PAbstract Kurnia Kitri Ayu Farm is a company operating in the field of horticulture, namely the cultivation of organic vegetables. One of the factors that influences the marketing of this business is the marketing mix strategy which includes product, price, promotion and place/distribution channels. This research aims to describe the marketing mix strategy used by the company. This research was conducted purposively at Kurnia Kitri Ayu Farm, Malang City. This is based on the consideration that this place is a marketing center for organic vegetables, especially kale. Data was obtained from various sources, namely from observation, direct interviews, and documentation. The data analysis method used is the 4P marketing mix analysis method. The results of the marketing mix strategy research are that the organic kale products produced have good product quality and are in accordance with the Indonesian National Standard (SNI) 6729. The prices set are able to reach the target market consumers. Almost 90% of the places or distribution channels for marketing organic kale vegetables are marketed in the city of Surabaya, namely in supermarkets and 10% in the city of Malang.Keywords: Marketing Mix, Organic Vegetables, 4Ps
|
2024-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48040 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i1.48040 | |
| 1669946 | #7423 | PENGARUH CITRA LAYANAN KOPERASI TERHADAP PARTISIPASI ANGGOTA |
Rustidja, Ery Supriyadi Untari, Umi Karyani, Tuti M., Nurul Risti |
ABSTRAK Ekspektasi sekaligus realitas terhadap sesuatu dapat menimbulkan kesan, pembentukan citra, keyakinan, persepsi, kognisi, sikap, motivasi, dan tindakan. Artikel ini menyajikan hasil kajian adanya fenomena partisipasi anggota koperasi yang tinggi yang berawal dari tingkat sukarelaan anggota yang tinggi sebagai akibat dari pelayanan yang prima pada suatu koperasi. Dengan menggunakan metode studi kasus, dengan analisis multikriteria dan analisis korelasi, maka diperoleh hasil kajian yang menunjukkan bahwa pencitraan yang positif melalui pelayanan prima pada unit usaha simpan pinjam koperasi dapat memberikan manfaat internal dan eksternal bagi pengembangan koperasi. Pencitraan koperasi memiliki hubungan yang erat dengan partisipasi anggota baik sebagai pemilik maupun pelanggan. Semakin baik citra koperasi dimata anggota dalam pelayanannya maka semakin tinggi partisipasi kontributif dan insentifnya. Kata kunci : citra, partisipasi, anggota, koperasi, layanan prima ABSTRACT Expectations as well as the reality of something can create an impression, image formation, belief, perception, cognition, attitude, motivation, and action. This article presents the results of the study of the phenomenon of participation of members of a high co-operative which started from the high volunteer level of members as a result of excellent service in a cooperative. By using case study method, with multicriteria analysis and correlation analysis, the result of the study showed that positive image through excellent service at cooperative savings and loan business unit can provide internal and external benefit for cooperative development. Cooperative imaging has a close relationship with the participation of both members as owners and customers. The better the image of the cooperative in its service, so the higher the contribution and incentive participation of its members. Keywords: image, participation, members, cooperatives, excellent service
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15871 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15871 | |
| 1669945 | #7423 | PERAMALAN PRODUKSI GULA TEBU DI INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL HYBRID SARIMA (SARIMA-ANN) DALAM MENGUKUR CAPAIAN SWASEMBADA GULA 2025 |
Hermawan, Kadek Dody Kusuma Cahyarani, Arista Ika Siregar, Tiara Khorijah Hamid Kartiasih, Fitri |
AbstrakGula merupakan salah satu barang hasil industri yang termasuk kebutuhan esensial bagi masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model terbaik dalam meramalkan produksi gula di Indonesia, sekaligus meramalkan pencapaian swasembada gula nasional pada tahun 2025. Penelitian ini menggunakan data bulanan produksi gula di Indonesia dari periode Januari 2014 sampai Desember 2023, yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Data tersebut dimodelkan dengan model SARIMA (Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average) dan hybrid SARIMA (gabungan Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average dengan Artificial Neural Network) untuk menentukan model terbaik. Kedua model tersebut dapat memodelkan produksi gula di Indonesia yang memiliki pola musiman kuat. Namun, model hybrid SARIMA menghasilkan akurasi peramalan yang lebih baik dibandingkan model SARIMA. Oleh karena itu, model terbaik yang digunakan untuk meramalkan produksi gula di Indonesia adalah model hybrid SARIMA. Hasil peramalan dengan model tersebut pada dua tahun ke depan menunjukkan bahwa produksi gula nasional mengalami stagnan, sehingga belum mampu mencapai swasembada gula nasional pada tahun 2025.Kata kunci: Produksi gula, swasembada gula, SARIMA, hybrid SARIMA.AbstractSugar is one of the industrial goods that are essential to the Indonesian people. This study aims to determine the best model for forecasting sugar production in Indonesia and to assess the achievement of national sugar self-sufficiency by 2025. The study uses monthly data on sugar production in Indonesia from January 2014 to December 2023, sourced from Statistics Indonesia. The data were modeled using SARIMA (Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average) and hybrid SARIMA models (a combination of SARIMA and Artificial Neural Network) to identify the best model. Both models were capable of capturing the strong seasonal pattern of sugar production in Indonesia. However, the hybrid SARIMA model produces better forecasting accuracy than the SARIMA model. Therefore, the hybrid SARIMA model was selected as the best model for forecasting sugar production in Indonesia. Forecast results for the next two years indicate stagnation in national sugar production, suggesting that Indonesia is unable to achieve sugar self-sufficiency by 2025.Keywords: Sugar production, sugar self-sufficiency, SARIMA, hybrid SARIMA.
|
2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62470 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.62470 | |
| 1669944 | #7423 | ANALISIS RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) BAWANG MERAH DI JAWA BARAT |
Noor, Trisna Insan Pardian, Pandi Nugraha, Adi |
Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi kinerja rantai nilai bawang merah di Jawa Barat, yangmenitik beratkan pada proses penambahan nilai dan aspek keadilan dalam pembagian pendapatan disetiap pelaku yang terlibat di dalam rantai. Peta pelaku, sebaran penambahan nilai, dan pembagiankeuntungan dalam rantai nilai bawang merah dijabarkan, dilengkapi oleh formulasi saran kebijakandemi meningkatkan kinerja rantai nilai bawang merah yang dilandasi aspek keadilan. Metode yangditerapkan pada kajian ini adalah pendekatan rantai nilai, yang merupakan suatu kerangka kunci untukmemahami berbagai penggunaan input dan jasa secara bersama yang digunakan untuk menumbuhkan,mengubah, atau menghasilkan suatu produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nilaitambah dari agribisnis bawang merah dinikmati oleh para pelaku yang terlibat dalam rantai pasokanbawang segar (52,39%-70,23%), sedangkan sisanya dinikmati oleh pelaku yang berasal dari luar rantaipasokan bawang merah segar (29,77%- 47,61%). Hasil analisis juga menunjukan bahwa penerimanilai tambah terbesar di antara para pelaku adalah petani (39,87%), sementara penerima nilai tambahterkecil adalah penebas (10,62%). Namun besar kecilnya nilai tambah yang diperoleh setiap pelakutidak mencerminkan nilai keuntungan yang diterimanya, karena keuntungan lebih dipengaruhi olehfrekuensi transaksi dari setiap pelaku.Kata kunci: bawang merah, rantai nilai, nilai tambah, aspek keadilan, Jawa Barat
|
2016-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22684 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22684 | |
| 1669943 | #7423 | ANALISIS VOLATILITAS HARGA BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI |
Sari, Nadia Rosmala Agustina, Yohana |
Abstrak Bawang merah termasuk dalam kategori komoditas hortikultura yang bersifat strategis, memiliki nilai ekonomi yang signifikan dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Salah satu sentra produsen bawang merah di Jawa Timur adalah Kabupaten Kediri. Harga bawang merah di wilayah ini memperlihatkan variasi yang signifikan selama periode tahun 2019-2023, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor permintaan, penawaran, serta kondisi musiman dan cuaca. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap volatilitas harga bawang merah dengan menggunakan pendekatan deret waktu (time series) dengan model ARIMA dan ARCH/GARCH. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder terkait harga eceran mingguan bawang merah di Kabupaten Kediri selama lima tahun (2019-2023). Hasil pengujian stasioneritas mengindikasikan bahwa data telah memenuhi kriteria stasioner pada tingkat level. Model ARIMA (1,0,0) terpilih sebagai model terbaik untuk menggambarkan pola harga, sedangkan ARCH (1) menunjukkan adanya volatilitas harga yang naik turun secara tidak pasti, di mana varians harga saat ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi periode sebelumnya. Temuan ini menegaskan bahwa harga bawang merah di Kabupaten Kediri bersifat fluktuatif dan memerlukan perhatian dalam pengelolaan risiko harga. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pengambilan keputusan bagi pelaku pasar dan pemangku kebijakan untuk mengantisipasi perubahan harga dan meningkatkan stabilitas harga bawang merah.Kata kunci: Bawang Merah, Volatilitas, ARIMA, ARCH/GARCH, Fluktuasi Harga.Abstract Shallots are classified as a strategic horticultural commodity with significant economic value and hold an essential role in fulfilling national consumption demands. One of the key production centers for shallots in East Java is Kediri Regency. The price of shallots in this region exhibited notable fluctuations during the period from 2019 to 2023, influenced by supply and demand dynamics as well as seasonal and weather-related factors. This study aims to analyze the price volatility of shallots using time series methods, specifically the ARIMA and ARCH/GARCH models. Secondary data consisting of weekly retail prices of shallots in Kediri Regency over five years (2019–2023) were utilized. Stationarity tests indicated that the data were stationary at the level. The ARIMA (1,0,0) model was selected as the most appropriate model to represent the price pattern, while the ARCH (1) model captured the presence of volatility characterized by unpredictable fluctuations, where the current variance is strongly affected by past period shocks. These results confirm that shallot prices in Kediri Regency are volatile and highlight the necessity for effective price risk management. This study is expected to provide valuable insights for market participants and policymakers to anticipate price changes and enhance the stability of shallot prices.Keywords: Shallots, Volatility, ARIMA, ARCH/GARCH, Price-Fluctuation.
|
2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65263 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.65263 | |
| 1669942 | #7423 | Tingkat Adopsi Tanam Jajar Legowo 2:1 Pada Petani Padi di Kabupaten Purwakarta | SUNANDAR, BAMBANG |
Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan inovasi pada tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi melalui peningkatan populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Penyebarluasan inovasi tersebut telah banyak dilakukan melalui program-program pemerintah, tetapi dalam lima tahun terakhir produktivitas padi di Kabupaten Purwakarta masih rendah dan penerapan inovasi tanam jajar legowo 2:1 masih rendah. Penelitian in bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi inovasi tanam jajar legowo 2:1 di Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menggunakan design kuantitatif dengan metode survei. Jumlah responden 130 orang diambil melalui teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada populasi yang heterogen dan berstrata dengan mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota dari masing-masing sub populasi secara acak. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Tingkat adopsi petani terhadap inovasi tanam jajar legowo 2:1 di Kabupaten Purwakarta pada tahap pengetahuan adalah 63,1% (tinggi), tahap pembujukan 58.8% (sedang), tahap pengambilan keputusan 85,4% (sangat tinggi), tahap implementasi 43,8% (sedang), dan tahap konfirmasi 64,1% (tinggi). Tingkat adopsi pada setiap tahapan tersebut menggambarkan bahwa petani padi di Kabupaten Purwakarta berada pada kategori adopsi early majority artinya mereka akan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi tanam jajar legowo 2:1.
|
2019-12-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26525 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.26525 | |
| 1669941 | #7423 | ANALISIS KONTRIBUSI USAHATANI PADI SAWAH TADAH HUJAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA PARARAPAK KABUPATEN BARITO SELATAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH |
Anggreini, Trisna Anggreini Milgani, Hepycelsi Sintha, Tri Yuliana Eka |
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis pendapatan petani padi sawah tadah hujan berdasarkan luas lahan di Desa Pararapak dan (2) menganalisis kontribusi petani padi sawah tadah hujan terhadap rumah tangga petani di Desa Pararapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani padi sawah tadah hujan di Desa Pararapak menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dalam hal luas lahan yang diusahakan oleh petani. Untuk setiap musim tanam, rata-rata penerimaan sebesar Rp.8.755.337,00 untuk luas lahan antara 0,5 dan 1 ha, sedangkan peneriman sebesar Rp.16.870.360,00 untuk luas lebih dari 1 ha. Jumlah biaya yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp 5.411.476,00 untuk luas lahan 0,5-1 ha, dan rata-rata Rp 12.367.857,00 untuk luas lahan lebih dari 1 ha. Pendapatan rata-rata untuk luas lahan 0,5-1 ha adalah Rp 3.247.194,00, dan untuk luas lahan lebih dari 1 ha adalah Rp 4.156.253,00. Dengan kontribusi usahatani padi sawah tadah hujan di Desa Pararapak Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan sebesar 0,51% terhadap pendapatan rumah tangga petani, dibandingkan dengan pendapatan luar pertanian (Karet dan Nanas Parigi) sebesar 96,84% dan non pertanian sebesar 2,61%, dapat disimpulkan bahwa kontribusi usahatani padi sawah tadah hujan sangat rendah terhadap pendapatan rumah tangga petani.Kata kunci: Pendapatan, padi sawah tadah hujan.Abstract The objectives of this study were (1) to analyze the income of rainfed wetland rice farmers based on land area in Pararapak Village, and (2) to analyze the contribution of rainfed wetland rice farmers to farming households in Pararapak Village. The results showed that the average income of rainfed wetland rice farmers in Pararapak Village showed significant differences in terms of land area cultivated by farmers. For each growing season, the average income was Rp.8,755,337 for land areas between 0.5 and 1 ha, while the income was Rp.16,870,360 for land areas of more than 1 ha. The average cost was IDR 5,411,476 for land area of 0.5 to 1 ha, and an average of IDR 12,367,857 for land area of more than 1 ha. The average income for land area 0.5-1 ha is Rp 3,247,194 and for land area more than 1 ha is Rp 4,156,253. With the contribution of rainfed wetland rice farming in Pararapak Village, South Hamlet Subdistrict, South Barito Regency of 0.51% to farmers' household income, compared to off-farm income (rubber and Parigi pineapple) of 96.84% and non-agricultural income of 2.61%, it can be concluded that the contribution of rainfed wetland rice farming to farmers' household income is very low.Keywords: Income, Rain-fed Rice Paddy
|
Sosial Ekonomi Pertanian;Agribisnis;Ekonomi Pertanian | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58060 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.58060 |
| 1669940 | #7423 | FAKTOR PENENTU DINAMIKA PERILAKU AGRIBISNIS PETANI MANGGA DI KECAMATAN GREGED KABUPATEN CIREBON |
Rasmikayati, Elly Mukti, Gema Wibawa Saefudin, Bobby Rachmat |
ABSTRAKCirebon sudah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil mangga. Tetapi sampai sekarang, agribisnis mangganya belum mampu mempertahankan kualitas dan menjamin ketersediaan mangga sepanjang tahun. Permasalahan tersebut merupakan akibat dari dinamisnya perilaku agribisis yang dilakukan oleh para petaninya, sehingga pengembangan agribisnis mangga di era globalisasi harus didasarkan pada peningkatan perilaku agribisnis petani mangga ke arah yang lebih baik. Tujuan makalah ini adalah menganalisis faktor-faktor apa saja yang menentukan peningkatan perilaku agribisnis petani mangga. Metode penelitian menggunakan teknik survey di Kecamatan Greged Kabupeten Cirebon menggunakan teknik simple ramdom sampling kepada 130 petani mangga. Teknik analisis data dilakukan menggunakan path analysis. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara berurutan dari yang terbesar ke terkecil, faktor yang paling kuat pengaruhnya secara signifikan dalam menentukan peningkatan perilaku agribisnis petani mangga adalah faktor sumberdaya dengan pengaruh langsung sebesar 5,7% dan pengaruh tak langsung sebesar 3,5%, faktor berikutnya adalah faktor kelembagaan dengan pengaruh langsung sebesar 6,4% dan pengaruh tak langsung sebesar 1,8%, kemudian faktor budaya dengan pengaruh langsung sebesar 5,3% dan pengaruh tak langsung sebesar 1,7% dan terakhir faktor teknologi dengan pengaruh langsung sebesar 2,3% dan pengaruh tak langsung sebesar 2,5%.Kata kunci: Faktor penentu, dinamika perilaku agribisnis, agribisnis mangga, path analysisABSTRACTCirebon is already known as one of the mango-producing regions. But until now, mangosteen agribusiness has not been able to maintain quality and guarantee the availability of mangoes throughout the year. These problems are a result of the dynamic agribusiness behavior carried out by the farmers, so that the development of mango agribusiness in the era of globalization must be based on improving the agribusiness behavior of mango farmers in a better direction. The purpose of this paper is to analyze what factors determine the increase in agribusiness behavior of mango farmers. The research method used survey techniques in the Greged District of Cirebon Regency using a simple ramdom sampling technique to 130 mango farmers. Data analysis techniques are done using path analysis. The results of the study show that sequentially from the largest to the smallest, the most influential factor significantly in determining the increase in agribusiness behavior of mango farmers is the resource factor with a direct influence of 5.7% and indirect effects of 3.5%, the next factor is institutional factors with a direct effect of 6.4% and indirect effects of 1.8%, then cultural factors with a direct influence of 5.3% and indirect effects of 1.7% and finally technological factors with a direct effect of 2, 3% and indirect effect of 2.5%.Keywords: Determinants, dynamics of agribusiness behavior, mango agribusiness, path analysis
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18051 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.18051 | |
| 1669939 | #7423 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KUNJUNGAN KONSUMEN KE COFFEE GARUNG |
Trivita, Rara Annisa Wulandari, Eliana |
AbstrakSaat ini kopi menjadi bagian penting dari budaya dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Keberadaan kedai kopi memberikan kesempatan kepada masyarakat sosial untuk bertemu, bercengkrama, berdiskusi terkait aktivitas pekerjaan atau pendidikan, maupun menghabiskan waktu untuk diri sendiri atau kelompok. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen ke Coffee Garung. Faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen meliputi bauran pemasaran, yaitu produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik. Penelitian ini menerapkan pendekatan metode survei. Faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan konsumen ke Coffee Garung diukur melalui uji regresi linear berganda. Hasil menjelaskan bahwa secara keseluruhan variabel produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik memberikan pengaruh secara signifikan terhadap minat kunjungan konsumen. Apabila dikaji secara parsial, variabel harga dan produk memberikan pengaruh secara signifikan terhadap minat kunjungan konsumen.Kata kunci: Kopi, regresi linear berganda, minat kunjungan.AbstractCoffee has become an essential element within Indonesian culture and lifestyle. The presence of coffee shops provides opportunities for socially active individuals to socialize, engage in discussions related to work or education, or simply spend time alone or with others. This study aims to investigate the factors that influence consumer interest in visiting Coffee Garung. The study focuses on various elements of the marketing mix, containing product, price, place, promotion, people, process, and physical evidence. The study applies a survey method. Factors that influence consumer visits to Coffee Garung were measured through multiple linear regression analysis. The study reveals that simultaneously the variables of product, price, place, promotion, people, process, and physical evidence effect on consumer visit interest significantly. When performing partial analysis, the price and product variables significantly effect on consumer visit interest.Keywords: Coffee, multiple linear regression, visitation interest.
|
2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63589 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63589 | |
| 1669938 | #7423 | STRATEGI PENINGKATAN VOLUME PRODUKSI SELADA ROMAINE (LACTUCA SATIVA VAR. LONGIFOLIA) DALAM MEMENUHI PERMINTAAN RITEL MODERN (Studi Kasus di InaGreen Farm, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat) |
Putri, Sakina I. Kusno, Kuswarini |
ABSTRAKDengan kemajuan perekonomian, peningkatan pendapatan, dan kesadaran masyarakat untukkesehatan dan lingkungan menyebabkan permintaan produk sayuran organik semakin meningkat.InaGreen Farm adalah salah satu perusahaan hortikultura yang bergerak sebagai produsen danpemasok sayuran organik ke ritel modern Kota Bandung. Perusahaan tersebut menerapkan kegiatanon-farm mulai dari proses pembibitan hingga panen, dan kegiatan off-farm yakni sortasi,pengemasan hingga distribusi. Namun setiap bulannya, InaGreen Farm tidak dapat memenuhipermintaan ritel modern tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal daneksternal yang menjadi penyebabnya. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dataprimer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara lima informan (pemilik, dua kepaladivisi, tiga kepala bagian) dan observasi langsung, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi,pustaka, internet, media massa. Analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama InaGreen Farm adalah pencatatan dan perencanaanusahatani secara teratur; dan kelemahan utamanya adalah atap greenhouse mengalami kerusakan.Sedangkan peluang utama perusahaan adalah pemanfaatan teknologi informasi dan ancamanutamanya adalah hama penyakit yang terus berkembang. Selanjutnya, penelitian ini menghasilkansembilan alternatif strategi peningkatan volume produksi selada romaine.Kata kunci: selada romaine, manajemen strategi, manajemen produksiABSTRACTThe advancement of the economy, increased revenue, and public awareness for health and theenvironment led to product demand growing organic vegetables. One of the horticultural enterprisesengaged as a manufacturer and supplier of organic vegetables to modern retail Bandung isInaGreen Farm. InaGreen Farm apply on-farm activites of the seedlings to harvest, off-farmactivites such as sorting to packaging. However, InaGreen Farm still can’t fulfil modern retail’sdemands. This study aims to identify internal and external factors that influenced the situation. Datawas analysed by using SWOT analysis. The results showed that the main strength InaGreen Farmwas the recording and planning the farm on a regular basis; and its weakness is the green houseroof was damaged. While the main opportunities the company was the use of information technologyand its main threats were constantly evolving pests. The result of this research also produced ninealternative strategies for the company in order to improve their condition.Keywords: romaine lettuce, strategy management, prodcution management
|
2016-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22708 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22708 | |
| 1669937 | #7423 | PERSEPSI PETANI MITRA OKIAGARU AGRICOOP TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADA TANAMAN HORTIKULTURA DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT |
Manalu, Doni Sahat Tua Wicaksono, Aditya Pratama, Agief Julio Sebayang, Veralianta Br Awaliyyah, Nadia Febrianti Siti Nailalmuna, Aghitsni Syahira, Salwa Putri, Nabilah Parhusip, Debora K.P |
AbstrakSektor hortikultura mengemban andil vital pada sistem ekonomi Nusantara, pada Kabupaten Cianjur yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah petani. Namun, terdapat kesenjangan antara potensi besar sektor hortikultura dengan masih rendahnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), terutama di kalangan petani mitra Okiagaru implementasi Good Agricultural Practices (GAP), khususnya bagi lingkup petani mitra Okiagaru Agricoop. Riset ini bermaksud guna menelaah perspektif petani mitra Okiagaru Agricoop mengenai aplikasi Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya tanaman hortikultura di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. GAP merupakan pedoman standar pertanian yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Penelitian ini memakai tata cara naratif kualitatif serta prosedur kuantitatif. Penghimpunan informasi dilangsungkan lewat instrumen angket, diskusi mendetail, maupun peninjauan situs. Bedah fakta diproses memakai statistika eksplanatif bagi menggambarkan persepsi petani terhadap berbagai aspek penerapan GAP dan dan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis konjoin. Simpulan observasi mengindikasikan yakni sebagian besar petani mempunyai impresi baik perihal penerapan GAP, terutama dalam meningkatkan kualitas hasil panen dan keberlanjutan lingkungan. Faktor utama yang memengaruhi persepsi petani meliputi pengalaman petani, ketersediaan sarana, dan keberlanjutan, biaya penerapan GAP, pengetahuan tentang GAP, dan penyuluhan. Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan persepsi positif terhadap GAP dapat dicapai melalui edukasi, pelatihan, dan pemberian insentif untuk produk bersertifikat GAP.Kata kunci: Good Agricultural Practices, Persepsi Petani, Hortikultura, Okiagaru Agricoop.AbstractThe hortikultura domain possesses a pivotal function inside the Indonesian financial system, encompassing Kabupaten Cianjur yang demonstrates a substantial escalation in the quantity of petani. Nonetheless, a disparity exists between the immense possibilities of the hortikultura field and the minimal execution of Good Agricultural Practices (GAP), particularly amidst petani mitra Okiagaru Agricoop. This research endeavors to scrutinize the perspective ofOkiagaru Agricoop's partner farmers towards the application of Good Agricultural Practices (GAP) in horticultural crop cultivation in Cianjur Regency, West Java. GAP is an agricultural standard guideline that aims to increase productivity and product quality, maintain environmental sustainability, and improve farmers' welfare. This research employs narrative-focused analytical techniques and numerical procedures. Information gathering was executed via surveys, intensive consultations, and site inspections. Fact processing was performed utilizing explanatory metrics to depict petani impressions regarding diverse facets of the Good Agricultural Practices adoption and arithmetic systems with an integrated evaluation methodology. The findings of the exploration reveal that the preponderance of farmers have a positive perception of the implementation of GAP, especially in improving crop quality and environmental sustainability. The main factors that affect farmers' perceptions include farmer experience, availability of facilities, and sustainability, cost of implementing GAP, knowledge about GAP, and counseling. The study concludes that increasing positive perceptions of GAP can be achieved through education, training, and incentivization for GAP-certified products.Keywords: Good Agricultural Practices, farmer perception, horticulture, Okiagaru Agricoop.
|
Agribisnis | 2026-01-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/68912 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.68912 |