Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1669976 #7489 Review: Isolation of Gelatin from Several Types of Fish Suryaman, Ine Suharyani
Sulastri, Lela
Astuti, Enih Nindi
Delviyanti, Elis
Senja, Rima Yulia
Tomi, Tomi
Indonesia is a country with the largest fishery waste, one of which is fish bones as a source of gelatin. Gelatin is the main protein that makes up skin and bone tissue in animals. This review was compiled to compare the results of isolating gelatin from bone waste in various types of fish. Articles were collected from the website https://scholar.google.co.id/ with "gelatin, gelatin content, gelatin in fish bones, viscosity, pH" in the 2015–2022 period, and 11 journals were obtained. In this literature study, a method for isolating gelatin from fish bone waste will be discussed, followed by an evaluation of the gelatin obtained, including its yield and its physical properties. It is hoped that the results of this review will provide information regarding a new source for gelatin isolation so that gelatin can be widely used by the food, pharmaceutical, cosmetic, and photographic industries, particularly in the pharmaceutical and food industries, which currently require gelatin as a stabilizer and emulsifier so that it can make and maintain the emulsion system.
2025-07-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58575 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/idjp.v7i1.58575
1669975 #7423 KARAKTERISTIK KOMUNITAS HIJAU PADA PENGELOLAAN MINYAK JELANTAH Setiawati, Indah
Pratama, Dandi Agustian
Putri, Dindy Darmawati
Soemanto, Bambang
Syahrullah, Yudi
Widyarini, Indah
AbstrakJelantah merupakan minyak nabati yang dapat diolah menjadi produk sabun cuci. Keberadaan komunitas hijau yang mengelola jelantah saat ini hanya bergerak sebagai pengumpul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik komunitas pengelola minyak jelantah dan bagaimana sikap komunitas hijau terhadap pengelolaan minyak jelantah. Penelitian dilakukan pada bulan April-Oktober 2021 di Komunitas Sedekah Jelantah Kabupaten Tegal yang merupakan komunitas pengelola minyak jelantah pertama di Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari survei kepada anggota komunitas yang masih aktif selama 3 bulan terakhir. Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas anggota komunitas adalah ibu rumah tangga dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah. Karakteristik komunitas hijau memiliki sikap, motivasi, niat dan perilaku yang positif terhadap kegiatan mengelola dan mengolah jelantah. Analisis daya tarik komunitas hijau menunjukkan bahwa sabun cuci olahan minyak jelantah yang diminati adalah sabun cuci cair, aroma lemon, daya bersih baik, busa yang banyak, mengandung bahan alami, dan harga terjangkau.Kata kunci: bank jelantah, minyak jelantah, komunitas hijau, manajemen jelantahAbstractWaste cooking is a vegetable oil that can be processed into laundry soap products. The existence of a green community that manages used cooking oil currently only acts as a collector. The purpose of this study was to determine the characteristics of the used cooking oil management community and how the attitude of the green community towards the management of used cooking oil was made. The research was conducted in April-October 2021 in the Sedekah Jelantah Community, Tegal Regency, which is the first used cooking oil community in Central Java. The data used are primary and secondary data. Primary data were obtained from surveys to community members who were still active during the last 3 months. The analysis was carried out descriptively. The results of the analysis show that the majority of community members are housewives with lower to middle income levels. The characteristics of the green community have positive attitudes, motivations, intentions and behaviors towards the activities of managing and processing used cooking oil. The analysis of the attractiveness of the green community shows that the washing soap processed by used cooking oil that is in demand is liquid laundry soap, lemon scent, good cleaning power, lots of foam, contains natural ingredients, and affordable prices.Keywords: waste cooking bank, used cooking oil, green community, waste cooking management
2022-02-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37066 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.37066
1669974 #7423 STUDI KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI BENIH KENTANG G0 INDUSTRI DI CV. BUMI AGRO TECHNOLOGY Siahaan, Emil Morris Gumanti
Saidah, Zumi
Karyani, Tuti
Ernah, Ernah
AbstrakKentang merupakan jenis sayuran umbi yang tidak hanya dikonsumsi sebagai sayuran semata, namun kentang dapat diolah menjadi chips dan french fries.Tingkat konsumsi kentang di Jawa Barat terus meningkat secara signifikan seiring dengan tingkat produksinya sehingga mampu memenuhi konsumsi masyarakat di Jawa Barat. Akan tetapi, pemerintah tetap melakukan impor kentang dikarena rendahnya kualitas dan kuantitas benih kentang. Benih G0 kentang merupakan salah satu benih kentang yang mudah untuk dibudidaya daripada benih kentang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani benih G0 kentang industri di CV. Bumi Agro Technology yang berlokasi di Lembang. Metode penelitiannya adalah desain kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kemudian dianalisis penerimaan, pendapatan, dan kelayakannya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa CV. Bumi Agrotech layak secara finansial.Kata kunci: Benih G0 Kentang, Kelayakan, Finansial, UsahataniAbstractPotatoes are a type of tuber vegetable that is not only consumed as a vegetable, but potatoes can be processed into chips and French fries. The level of potato consumption in West Java continues to increase significantly along with the level of production so that it is able to meet public consumption in West Java. However, the government continues to import potatoes due to the low quality and quantity of potato seeds. G0 potato seeds are one of the potato seeds that are easier to cultivate than other potato seeds. This research aims to determine the financial feasibility of industrial G0 potato seed farming in CV. Bumi Agro Technology located in Lembang. The research method is a qualitative design using a case study approach. Data collection was carried out through observation and interviews and then analyzed for acceptance, income and feasibility. The results of this research show that CV. Bumi Agrotech is financially viable. Keywords: G0 Potato Seeds, Feasibility, Financial, Farming
Sosial Ekonomi Pertanian 2024-02-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53265 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.53265
1669973 #7423 KEANGGOTAAN KELOMPOK TANI DAN KAITANNYA DENGAN AKSES TERHADAP SUMBER PEMBIAYAAN USAHA TANI PISANG DI KABUPATEN CIANJUR Handriyadi, Irfan
Wulandari, Eliana
ABSTRAK Kelompok tani berperan penting bagi petani yang bergabung di dalamnya karena dapat berbagi informasi mengenai manajemen usaha tani dan akses terhadap berbagai jenis pembiayaan. Petani pada umumnya dapat mengakses pembiayaan dari berbagai sumber pembiayaan seperti dari bank, lembaga keuangan mikro, pemerintah, pedagang, kios input pertanian, dan pinjaman dari keluarga, tetangga dan teman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana akses pembiayaan petani yang bergabung dalam keanggotaan pada kelompok tani. Metode survei dilakukan dalam pengumpulan data dari enam puluh petani pisang di sentra produksi pisang di Kabupaten Cianjur. Data dianalisis dengan menggunakan independent t-test untuk melihat perbedaan akses pembiayaan antara petani yang merupakan anggota kelompok tani dan petani yang bukan anggota pada kelompok tani. Hasil analisis menunjukkan bahwa petani yang menjadi anggota kelompok tani memiliki akses yang lebih baik terhadap kredit dari bank dan lembaga keuangan mikro, dan pembiayaan in-kind dari pemerintah dan pedagang. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya memotivasi petani untuk bergabung pada kelompok tani untuk mendapatkan kesempatan lebih besar dalam mengakses pembiayaan dari berbagai sumber pembiayaan. Kata kunci: akses pembiayaan, kelompok tani, pisang ABSTRACT Farmers’ group plays important role for farmers who join with the farmers’ group in sharing the information of farming management and access to many sources of finance. In general, farmers can access finance from many financial sources such as from bank, micro finance institution, government, trader/buyer, agricultural input kiosk, and from other financial sources such as from family, neighbors or friends. This research aims to analyze financial access of farmers who join with farmers’ group. Survey was conducted to collect data from sixty banana farmers in the centre of banana production in Cianjur District. The data was analyzed using independent t-test to see the difference of financial access between two groups of farmers, i.e. farmers who are member of farmers’ group and farmers who are not. The results of this research show that farmers who are member of farmers’ group have better access to commercial credit from bank and micro finance institution, and in-kind finance from government and trader/buyer. The findings of this research show the importance to motivate farmers to join with a farmers’ group to have a better opportunity in accessing finance from different financial sources. Keywords: financial access, farmers group, banana
2019-12-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15565 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15565
1669972 #7423 Analisis Risiko Distribusi Pisang Cavendish pada CV Agro Berkah Seraya di Kabupaten Bekasi Nurfadilah, Rizka
Wulandari, Yeni Sari
Budiandrian, Bayu
AbstrakProvinsi Jawa Barat berpotensi dalam memproduksi pisang yaitu sebanyak 1.267.922 ton dan menempati urutan ketiga sebagai penghasil pisang terbesar di Indonesia. Selain itu, minat konsumsi masyarakat terhadap pisang di Jawa Barat pun cukup tinggi dengan rata - rata konsumsi mencapai 14,846 kg. Hal ini menunjukkan bahwa pisang menjadi komoditas unggulan yang strategis. CV Agro Berkah Seraya sebagai perusahaan distributor pisang cavendish yang telah bekerja sama dengan petani pisang di beberapa wilayah Indonesia berupaya untuk memenuhi permintaan konsumen terkait kebutuhan pisang cavendish yang siap konsumsi. Namun, dalam proses operasional di perusahaan tersebut mengalami beberapa kendala pada kegiatan distribusi seperti kerusakan produk yang menyebabkan kerugian perusahaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi penyebab risiko prioritas dan strategi mitigasi prioritas dari risiko distribusi pisang cavendish di CV Agro Berkah Seraya. Penelitian ini menggunakan metode House of Risk dengan 2 fase diantaranya yaitu House of Risk fase 1 dan diagram pareto untuk mengidentifikasi penyebab risiko prioritas dan House of Risk fase 2 untuk mengidentifikasi strategi mitigasi prioritas. Berdasarkan hasil identifikasi risiko, diperoleh 15 kejadian risiko (risk event) dan 15 penyebab risiko (risk agent) dari kegiatan distribusi pisang cavendish. Kemudian dilakukan perhitungan dengan diagram pareto dan dihasilkan 9 penyebab risiko (risk agent) prioritas. Pada hasil 9 risk agent prioritas tersebut, dirumuskan 13 strategi mitigasi menggunakan metode House of Risk fase 2. Metode tersebut menghasilkan urutan prioritas strategi mitigasi dengan urutan pertama yaitu melakukan perjanjian kontrak pemesanan dengan konsumen. Urutan prioritas strategi mitigasi tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya kejadian risiko yang dapat merugikan CV Agro Berkah Seraya.Kata kunci: Diagram pareto, house of risk, mitigasi, pisang cavendish, risiko.AbstractWest Java Province has the potential to produce 1.267.922 tons of bananas and ranks as the third largest banana producer in Indonesia. In addition, public consumption interest in bananas in West Java is also quite high with an average consumption of 14,846 kg. This shows that bananas are a strategic, superior commodity. CV Agro Berkah Seraya as a cavendish banana distributor company that has collaborated with banana farmers in several regions of Indonesia strives to meet consumer demand for cavendish bananas that are ready for consumption. However, in the operational process, the company experiences several obstacles in distribution activities such as product damage that causes company losses. This study aims to identify the causes of priority risks and priority mitigation strategies of cavendish banana distribution risks at CV Agro Berkah Seraya. This research uses the House of Risk method with 2 phases including House of Risk phase 1 and pareto diagram to identify priority risk agents and House of Risk phase 2 to identify priority mitigation strategies. Based on the results of risk identification, 15 risk events and 15 risk agents were obtained from cavendish banana distribution activities. Pareto diagrams were used and 9 prioritized risk agents were identified. As a result of the 9 prioritized risk agents, 13 mitigation strategies were formulated using the House of Risk phase 2 method. The method produces a prioritized sequence of mitigation strategies with the first order being to make an order contract agreement with consumers. The priority order of the mitigation strategy is expected to prevent the occurrence of risk events that can harm CV Agro Berkah Seraya.Keywords: Cavendish banana, house of risk, mitigation, pareto diagram, risk.
Manajemen Agribisnis 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62859 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.62859
1669971 #7423 KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT KUALITAS MINUMAN KOPI DI JAVA PREANGER COFFEE HOUSE BANDUNG Rahmanisa, Rayi
Sadeli, Agriani H.
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen minuman kopi, kesesuaiantingkat kinerja dengan kepentingan atribut kualitas dan tingkat kepuasan konsumen mengenai atributkualitas produk minuman kopi di Java Preanger Coffee House, Bandung. Penelitian didesain secarakuantitatif dengan analisis Importance Performance Analysis dan Customer Satisfaction Index. Hasilpenelitian terhadap 62 orang responden menunjukkan bahwa (1) konsumen didominasi laki-laki,berpendidikan sarjana, berusia 25-30 tahun, pekerjaan wiraswasta, tinggal di kota Bandung danberpendapatan di atas Rp5.000.000 per bulan; (2) Berdasarkan hasil perhitungan IPA, atribut yangmemiliki kepentingan tinggi dan kinerja yang memuaskan meliputi atribut rasa, kualitas, bahan baku,kenyamanan tempat serta pelayanan. Atribut yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi namunkinerjanya perlu ditingkatkan adalah atribut harga, aroma dan cara penyajian. Atribut yang memilikikinerja yang biasa saja serta tingkat kepentingannya rendah adalah atribut manfaat, tampilan fisik,ukuran volume dan informasi menu. Sementara, atribut yang konsumen anggap kurang pentingpengaruhnya namun kinerjanya berlebihan adalah atribut variasi rasa. (3) Hasil perhitungan indekskepuasan konsumen menunjukan bahwa konsumen merasa puas atas kinerja atribut kualitas produksecara keseluruhan. Perusahaan harus meningkatkan kualitas produknya sehingga sesuai dengan hargayang ditawarkan, memberikan pelatihan kepada pramusaji, menggunakan teknik pengolahan kopiyang lebih baik. Sedangkan untuk penelitian selanjutnya sebaiknya diteliti kegiatan pemasaranpromosi dan distribusi terhadap kepuasan konsumenKata kunci: kepuasan konsumen, atribut kualitas, Customer Satisfaction Index, Importance, Performance Analysis, kopi.ABSTRACTThe aim of this research is to analyze consumers’ characteristic, the level of conformity betweenimportance and performance level of coffee’s quality attributes and the overall satisfaction level ofconsumers towards quality attributes of coffee in Java Preanger Coffee House. Design of this researchis quantitative with 62 respondents. This research used descriptive analysis, Importance PerformanceAnalysis and Customer Satisfaction Index. Results showed 1) the major consumers in Java PreangerCoffee House are men which age around 25-30 year old that have job in private sector. They live inBandung, have allowance per month more than Rp5.000.000 and have bachelor degree; (2) Based onImportance Performance Analysis, attributes that have high importance and performance are taste,raw material quality, convenience place, and service atrribute. Attributes that the performance shouldbe increased are price, flavor, and serving method. Attributes that have average performance and lowimportance are benefit, physical appereance, coffee volume, and information menu. Attribute that haslow importance but has too much performance is variance of flavor; 3) The Customer SatisfactionIndex calculation showed that Java Preanger Coffee House consumers are overall satisfied withperformance of the coffee drinks quality attribute. Companies should improve the quality of theirproducts to match the price offered, providing training to waiters and using better coffee processingtechniques. Further research should be investigated the impact of distribution and promotionmarketing activities on customer satisfaction.Keywords: customer satisfaction, quality attribute, Customer Satisfaction Index, ImportancePerformance Analysis , coffee.
2016-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22690 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22690
1669970 #7423 STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA PONDOK MADU SULANGAI DI DESA SULANGAI KECAMATAN PETANG KABUPATEN BADUNG Julian Saputra, I Made Aldi
Sri Yudhari, I Dewa Ayu
AbstrakAgrowisata Pondok Madu Sulangai berpotensi sebagai destinasi edukasi berbasis budidaya madu kele (Trigona sp.) dan madu nyawan (Apis cerana). Namun, hal ini menghadapi beberapa tantangan seperti promosi digital terbatas, variasi atraksi minim, dan persaingan dengan agrowisata lain. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal-eksternal dan merumuskan strategi prioritas pengembangan. Metode analisis mencakup IFAS, EFAS, matriks IE, SWOT, dan QSPM. Hasil analisis menunjukkan kekuatan utama meliputi daya tarik budidaya madu kele, program edukasi interaktif, dan lokasi strategis dekat Air Terjun Goa Gong. Kelemahan utama adalah promosi digital belum optimal dan variasi atraksi terbatas. Peluang meliputi tren wisata edukasi, dukungan pemerintah, dan kemitraan dengan lembaga pendidikan, sementara ancaman utamanya adalah persaingan dengan agrowisata lain dan ketidakpastian panen madu. Berdasarkan QSPM, strategi prioritas adalah: (1) pengembangan paket wisata terintegrasi “Madu Kele & Goa Gong Waterfall”, (2) optimalisasi promosi digital berbasis konten edukatif, dan (3) penambahan atraksi seperti mini-outbound atau kebun bunga. Implementasi strategi ini diharapkan meningkatkan daya saing, kunjungan wisatawan, dan keberlanjutan agrowisata.Kata kunci: Agrowisata, Pondok Madu Sulangai, SWOT, QSPM.AbstractPondok Madu Sulangai Agrotourism has the potential as an educational destination based on the cultivation of kele honey (Trigona sp.) and nyawan honey (Apis cerana). However, it faces challenges such as limited digital promotion, minimal variety of attractions, and competition with other agrotourism. This research aims to identify internal-external factors and formulate development priority strategies. Analysis methods include IFAS, EFAS, IE matrix, SWOT, and QSPM. The results of the analysis show that the main strengths include the attractiveness of kele honey cultivation, interactive educational programs, and strategic location near Goa Gong Waterfall. The main weaknesses are not optimal digital promotion and limited variety of attractions. Opportunities include the trend of educational tourism, government support, and partnerships with educational institutions, while the main threats are competition with other agritourisms and the uncertainty of the honey harvest. Based on QSPM, the priority strategies are: (1) development of an integrated tour package “Madu Kele & Goa Gong Waterfall”, (2) optimization of digital promotion based on educational content, and (3) addition of attractions such as mini-outbound or flower gardens. The implementation of this strategy is expected to increase competitiveness, tourist visits, and agritourism sustainability.Keywords: Agritourism, Pondok Madu Sulangai, SWOT, QSPM.
Agribisnis 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64487 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.64487
1669969 #7423 STRATEGI MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK UNGGAS DI SAAT PEMULIHAN PENDEMI COVID-19 Widagdo, Jati
Roosdihani, M. Rifky
AbstrakKelesuan sektor ekonomi tetap terlihat pada tahun ketiga wabah covid 19 ini. Salah satu sector usaha yang terpengaruh adalah bidang usaha ternak unggas. Banyak peternak unggas mengalami dampak operasional yang mengakibatkan turunnya omset penjualan. Berkurangnya omset dikarenakan terbatasnya ruang gerak bagi bidang peternak, meningkatnya biaya operasional dan menurunnya permintaan dipasar akibat banyaknya pembatasan dimasa pandemic. Perlu ada langkah setrategis yang mampu meningkatkan peternakan unggas agar bisa mempertahankan serta meningkatkan lagi jumlah pendapatannya. Metode penelitian yang dipakai yaitu analisis kualitatif mengunakan tahapan-tahapan eksplorasi, metode observasi partispatif ialah upaya yang dipakai. Penelitian menghasilkan beberapa strategi alternative supaya mampu digunakan bagi peternak unggas untuk meningktakan daya jual hasil peternakannya yang diselaraskan kepada perubahan kondisi serta diharapkan industri ternak unggas bisa bertahan bahkan berkembang.Kata kunci: Covid-19, Strategi penikatan ekonomi, Peternak unggas AbstractThe sluggishness of the economic sector is still visible in the third year of the COVID-19 outbreak. One of the affected business sectors is the poultry business sector. Many poultry farmers experienced operational impacts which resulted in a decrease in sales turnover. The reduced turnover is due to the limited space for movement in the livestock sector, increased operational costs and decreased demand in the market due to the many restrictions during the pandemic. There needs to be a strategic step that is able to increase poultry farms in order to maintain and increase their income. The research method used is qualitative analysis using the stages of exploration, participatory observation method is the effort used. The research resulted in several alternative strategies so that they could be used for poultry farmers to increase the marketability of their livestock products which were aligned with changing conditions and it was hoped that the poultry industry could survive and even develop.Keywords: Covid-19, Strategy for economic engagement, Poultry farmers
2022-07-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37742 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i1.37742
1669968 #7423 ANALISIS STRATEGI PEMASARAN UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PADA UMKM BEDHAG COFFEE DI KABUPATEN JEMBER Maulidina, Niswah Saffanah
Nurayuni, Kholifa Dinda
Wicaksono, Ryan Alhafidz
Hamzah, Muhammad Ali
Ramadhan, Gilang
Prabowo, Rachmat Udhi
AbstrakKabupaten Jember merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi tumbuhnya tanaman kopi berkualitas. Rasa yang unik membuat kopi asal Jember dikenal baik secara nasional maupun internasional. Bedhag Coffee merupakan salah satu UMKM dibidang kopi. Kurang maksimalnya pemasaran dan distribusi merupakan salah satu kendala dari Bedhag Coffee. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis strategi pemasaran yang tepat untuk UMKM Bedhag Coffee. Analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats). Bedhag Coffee belum banyak mengembangkan jangkauan pasar hal ini dikarenakan keterbatasan media pemasaran dan inovasi produk serta keterbatasan bahan baku yang menjadi penghambat untuk usaha roastery kopi ini berkembang dengan baik. Strategi yang dapat dilakukan adalah mempromosikan dan mengunggulkan cita rasa kopi, memperbanyak relasi, membangun dan memperluas branding media sosial yang baik, dan membuat inovasi produk yang menarik.Kata Kunci: kopi, bedhag coffee, strategi pemasaran, dan SWOTAbstractJember Regency is one of the regencies that has the potential to grow quality coffee plants. The unique flavor makes coffee from Jember known both nationally and internationally. Bedhag Coffee is one of the MSMEs in the coffee sector. The lack of maximization of marketing and distribution is one of the obstacles of Bedhag Coffee. This research was conducted to analyze the right marketing strategy for Bedhag Coffee. The analysis carried out is by using SWOT (strength, weakness, opportunities, and threats).  Bedhag Coffee has not developed much market reach, this is due to limited marketing media and product innovation as well as limited raw materials which are obstacles to this coffee roastery business developing well. Strategies that can be done are promoting and favoring coffee flavors, increasing relationships, building and expanding good social media branding, and making interesting product innovations.Keywords: coffee, bedhag coffee, marketing strategy, and SWOT
agribisnis 2024-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55489 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i1.55489
1669967 #7423 Penerapan Good Manufacturing Practices Pada Produksi Sistik Ebi Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Produk Olahan Ikan di Pesisir Eretan - Indramayu Hanidah, In-in
Mulyono, Agung Tri
Andoyo, Robi
Mardawati, Efri
Huda, Samsul
ABSTRAKGMP (Good Manufacturing Practices) merupakan salah satu metode mitigasi resiko dalam proses produksi pangan beresiko tinggi diantaranya produk pangan berbasis ikan yang banyak ditemui di daerah pesisir pantai khususnya di Desa Eretan Kulon Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Sistik ebi merupakan salah satu produk olahan ikan lokal Eretan yang memiliki kelemahan diantaranya umur simpan yang relatif singkat karena terjadinya perubahan kualitas selama penyimpanan yang diakibatkan metode pengolahan dan pengemasan yang kurang baik. Penelitian ini  mengevaluasi penerapan GMP selama proses produksi sistik ebi dan memperbaiki kemasan dalam rangka meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa sistik ebi yang mengandung protein tinggi ( 59,4%) memerlukan implementasi GMP dalam memitigasi resiko selama pengolahan. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian terhadap persyaratan GMP dengan jumlah ketidaksesuaian mayor (MA) 5 elemen dan minor (MI) 21 elemen dari total keseluruhan 37 elemen pemeriksaan yang meliputi elemen lokasi, bangunan, dan sanitasi pekerja, peralatan produksi, sanitasi peralatan dan ruangan produksi, penyimpanan, pengendalian proses, pelabelan, dokumentasi dokumen dan legalitas produk. Proses pendampingan mampu mereduksi ketidaksesuaian elemen sebesar 96,16%. Penerapan GMP didalam produksi sistik ebi membuka peluang bagi pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus meningkatkan peluang bagi produk tersebut dalam memasuki pasar global.Kata kunci: GMP, sistik ebi, sanitasiABSTRACTGMP (Good Manufacturing Practices) is one of the risk mitigation in food production such as fish-based food product which is found mainly in coastal area such as in Eretan Kulon Village, Indramayu Regency, West Java. Sistik ebi is one of Eretan local processed fish products that have weaknesses such as shelf life which is relatively short due to quality change during storage caused by poor processing and packaging method. This study evaluates the application of GMP during the Sistik ebi production and applying a proper packaging in order to improve product quality thus improve the welfare of the community. The results of the study showed that sistik ebi contain high protein (59.4%) thus required GMP implementation in mitigating risks during processing. The observation results show that there are some deviations to the GMP requirement with the number of major non-conformities (MA) 5 elements and minor (MI) 21 elements out of the total 37 inspection elements covering site elements, building and sanitation, production equipment, room sanitation production, storage, process control, labeling, documentation and legal aspect of the product. The GMP mentoring process reduces the non-conformity of the elements by 96.16%. The application of GMP in the production of sistik ebi opens opportunities for business actors in improving product quality while increasing the opportunity for the product to enter the global market.Keywords: GMP, sistik ebi, sanitation
2019-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17585 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.17585
1669966 #7423 ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BUAH SEMANGKA DI DESA BANGO, KECAMATAN DEMAK, KABUPATEN DEMAK Khoiriyyah, Iffatul
Santoso, Siswanto Imam
Mukson, Mukson
AbstrakPemasaran mencakup seluruh kegiatan usaha dari penentuan harga jual produk hingga pendistribusian produk kepada konsumen. Penelitian bertujuan untuk menganalisis saluran distribusi semangka, margin, farmer’s share dan efisiensi pemasaran serta faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pemasaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Lokasi penelitian di Desa Bango, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak pada bulan Agustus – September 2024. Pengambilan sampel secara quota sampling dengan jumlah sampel keseluruhan 60 petani semangka dan 14 lembaga pemasaran. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan statistik. Hasil penelitian menunjukkan distribusi pemasaran semangka terbagi menjadi tiga saluran. Saluran I (petani – tengkulak – pedagang pengecer – konsumen), saluran II (petani– pedagang pengecer – konsumen), saluran III (petani– konsumen). Nilai rata-rata margin pemasaran pada masing-masing saluran yaitu Rp 3.405/kg, Rp 1.780/kg, dan Rp 0/kg. Nilai rata-rata farmer’s share masing-masing saluran yaitu 44%, 72% dan 100%. Nilai rata-rata efisiensi pemasaran pada saluran I, II, III berturut-turut yaitu 11,52%, 11,06%, dan 8,7% dengan standar efisiensi sebesar 33%. Berdasarkan pengujian regresi linear berganda terdapat pengaruh yang nyata baik secara simultan maupun parsial antara variabel margin pemasaran, biaya pemasaran, dan harga jual ditingkat petani terhadap variabel efisiensi pemasaran. Nilai koefisien determinasi menunjukkan hasil sebesar 96,9%.Kata kunci: Efisiensi, farmer’s share, margin, pemasaran, semangka.AbstractMarketing is the overall process of business activities in planning and determining product prices to distributing products to consumers. The research aims to analyze watermelon distribution channels, margins, farmer's share and marketing efficiency as well as factors affecting marketing efficiency. The research method used is the survey method. The research location is in Bango Village, Demak District, Demak Regency in August – September 2024. Sampling was conducted by quota sampling with a total sample of 60 watermelon farmers and 14 marketing institutions. The data analysis method uses quantitative descriptive analysis and statistics. The results of the study show that the distribution of watermelon marketing is divided into three channels. Channel I (farmers – middlemen – retailers – consumers), channel II (farmers – retailers – consumers), channel III (farmers – consumers). The average value of marketing margin in each channel is Rp 3,405/kg, Rp 1,780/kg, and Rp 0/kg. The average farmer's share value of each channel is 44%, 72% and 100%. The average value of marketing efficiency in channels I, II, III was 11.52%, 11.06%, and 8.7% respectively with an efficiency standard of 33%. Based on the multiple linear regression test, there is a real influence both simultaneously and partially between the variables of marketing margin, marketing cost, and selling price at the farmer level on the variable of marketing efficiency. The value of the determination coefficient showed a result of 96.9%.Keywords: Efficiency, farmer's share, margin, marketing, watermelon.
Agribisnis 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61263 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.61263
1669965 #7423 INTEGRASI PARTICIPATORY PLANT BREEDING DAN PREFERENSI KONSUMEN: PELUANG PENERAPANNYA DALAM PENGEMBANGAN VARIETAS KEDELAI BARU DI INDONESIA Supyandi, Dika
Sukayat, Yayat
Rachmadi, Meddy
ABSTRAKMetode pemuliaan tanaman formal tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, terkait dengan beragamnyakondisi agroekosistem pertanaman dan sosial budaya masyarakat serta karakteristik produk benih yangdibutuhkan. Karakteristik benih yang dibutuhkan dapat ditelusur dari pengguna itu sendiri, yang bukanhanya di tingkat petani pengguna benih, tetapi juga sampai pada konsumen akhir pengguna produkusahatani. Salah satu pendekatan yang saat ini mulai banyak digunakan dalam kegiatan pemuliaantanaman adalah participatory plant breeding (PPB). Dalam pendekatan ini, petani beserta pelakulainnya, seperti penyuluh pertanian dan peneliti pemulia, berpartisipasi dalam pengembangan varietasbaru. Kata participatory berarti bahwa aktivitas pemuliaan tanaman ini bersifat inklusif,mempromosikan keragaman genetik, serta memberdayakan petani dan masyarakat perdesaan. PPBdapat dikenali dari tujuannya (pendekatan proses atau fungsional), konteks kelembagaannya (farmerled atau formal led), dan bentuk interaksi antar petani dan pemulia (konsultatif, kolaboratif, ataukolegial). Namun demikian, upaya pemuliaan kedelai saat ini, seyogyanya diantisipasi tidak hanyasampai pada tingkat petani pengguna tetapi lebih jauh lagi hingga tingkat pengguna akhir, dalam halini para pengrajin pangan berbahan baku kedelai. Oleh karenanya, integrasi antara pendekatanpemuliaan kedelai yang lebih partisipatif dengan produksi yang didorong permintaan pasar harusmenjadi perhatian. Artikel ini adalah studi literatur, mendeskripsikan cara mengimplementasikan PPB,perhatian terhadap preferensi konsumen akhir kedelai dan peluang penerapan integrasi antara PPB danpreferensi konsumen dalam pengembangan varietas kedelai baru di Indonesia. Sejumlah prasyaratharus dipenuhi dalam penerapan PPB, khususnya dalam konteks pengembangan varietas kedelai baru.Kata kunci:pengembangan varietas kedelai, participatory plant breedingABSTRACTFormal led plant breeding has not been always suitable with the needs, related to variance ofenvironmental and socio-cultural conditions and needed seed characteristics. Needed seedcharacteristics could be traced from the users, which is not only at seed user farmers level, but also atend consumers. Participatory plant breeding has begun to be a popular approach in plant breedingactivities, where farmers with other actors, such as agriculture extension officers and plant breedingresearchers work together to develop new variety of plants. The word “participatory” means that thisactivity is inclusive, promote genetics variability, and empower farmers as well as rural community.Participatory plant breeding can be recognized from the goals (process approach or functionalapproach), institutional contexts (farmer led or formal led), and interaction between farmers andbreeders (consultative, collaborative, or collegial). However, recent soybean breeding efforts shouldbe anticipated not only at user farmer level, but also at end user, namely food industries usingsoybean as raw material. This paper is a literature study; describe means to implement participatoryplant breeding, attentions toward soybean’s end consumer preferences, and the implementationopportunity of integration between PPB and consumer preference to develop new soybean variety inIndonesia. Several preconditions are needed to implement participatory plant breeding, particularlyin the context of development of new soybean variety.Keywords: soybean variety improvement,participatory plant breeding
2016-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22694 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22694
1669964 #7423 Peran Pertanian Perkotaan Terhadap kesejahteraan Sosial dan Ekonomi Masyarakat dalam Mendukung Smart City di Kota Cimahi Afiani, Nunuy Nur
Banani, Ade Banani
Dharmawan, Budi Dharmawan
Abstrak Pertumbuhan penduduk yang pesat di Kota Cimahi telah memicu perubahan infrastruktur dan tata guna lahan, khususnya alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Kondisi ini berpotensi menurunkan produksi pangan dan memicu krisis pangan yang berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi. Pertanian perkotaan merupakan salah satu solusi strategis untuk menghadapi tantangan tersebut. Kebijakan Pemerintah Kota Cimahi melalui Sistem Pertanian Terintegrasi, Gerakan Tanam Cepat panen Tanaman Hortikultura, dan Gerakan Pangan Murah diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian dilakasanakan pada Bulan Februari sampai dengan Mei 2025 bertempat di Kota Cimahi, dengan menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian perkotaan berperan terhadap kesejahteraan sosial masyarakat, dengan nilai indeks 82,90 (sangat tinngi). Pada aspek ekonomi, analisis Benefit Cost Analysis (BCA) menunjukkan kelayakan ekonomi pada dua program utama: Sistem Pertanian Terintegrasi (BCA 1,01) dan Gerakan Tanam Cepat Panen Tanaman Hortikultura (BCA 9,82). Analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi strategi pertanian perkotaan berada pada kuadran V (hold and maintain), menandakan posisi strategis yang stabil dan perlu dipertahankan. Strategi yang direkomendasikan dalam posisi ini yaitu penetrasi pasar (market penetration) dan pengembangan produk (product development).Kata kunci: Pertanian Perkotaan, Sosial, Ekonomi, Ketahanan Pangan.Abstract The rapid population growth in Cimahi, has triggered change in infrastrucuture and land use, especially the convertion of agricultural land to non-agricultural use. This condition has potencial to reduce food production and trigger a food crisis that effects social and economic welfare. Urban agriculture serves as a strategic solution to adress this challenges. The Cimahi City Government’s policies throught the Integrated Agricultural System Program, The Horticultural Crop Harvest Rapid Planting Moment, and the Cheap Food Movement are expected to support achievment of smart economy and imporove community walfare. This study was conducted from February to May 2025 in Cimahi City, using a survey methode. The results study show that urban agriculture play a role in the social welfare of the community, with an index score 82,9 (very high). In the economyc aspect, the Benefit Cost Analysis (BCA) shows the economyc feasibility of two main programs: the Integrated Agricultural System (BCA 1.01), and the Horticultural Crop Harvest rapid Planting Movement (BCA 9.82). The SWOT analysis shows that the position of the urban agriculture strategy is in quadran V (hold and maintaince), indicating a stable strategic position that need to be maintained. The strategies recommended in this position are market penetration and product development.Keywords:Urban Agriculture, Social, Economy, Food Security.
Sosial Ekonomi Pertanian; Pembangunan Pertanian 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67187 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.67187
1669963 #7423 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pergerakan Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018 Galih, Chikal
Sulistyowati, Lies
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah salah satu indikator perkembangan investasi saham di Indonesia, di mana ada indeks sektor yang mewakili perusahaan publik, salah satu indeks sektoral adalah Indeks Harga Saham Sektoral (IHSS) Pertanian. Fenomena yang terjadi pada periode 2014-2018 adalah tingkat pengembalian investasi di IHSS Pertanian menjadi yang terburuk dibandingkan dengan IHSG dan sektor lainnya sebesar -33,47%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian periode 2014 hingga 2018 secara bulanan. Analisis yang digunakan adalah analisis Ordinary Least Square (OLS) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, nilai tukar USD/IDR, suku bunga bank sentral, IHSG, harga minyak kelapa sawit, dan harga emas berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSS Pertanian dengan nilai pengaruh 88,6%.Kata Kunci: Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian, Return Saham, Makroekonomi, Ordinary Least Square (OLS)AbstractJakarta Composite Index (IHSG) is an indicator of the development of stock investment in Indonesia, where there are indices of sectors that represent public companies, one of the sectoral indices is the Sectoral Stock Price Index (IHSS) of Agriculture. The phenomenon that occurred in the 2014-2018 period was the level of investment return in the IHSS of Agriculture being the worst compared to the IHSG and other sectors by -33.47%. The purpose of this study is to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture for the period of 2014 up to 2018 on monthly base. The analysis used is Ordinary Least Square (OLS) analysis to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture. The results showed that inflation, USD/IDR exchange rate, central bank interest rate, IHSG, palm oil prices, and gold prices significantly influence the movement of IHSS of Agriculture with an influence value of 88.6%. Keywords: Agricultural Sectoral Stock Price Index, Stock Return, Macroeconomics, Ordinary Least Square (OLS).
2020-08-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28739 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i1.28739
1669962 #7423 STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS KELAPA (STUDI PADA DISTRIK MUARA TAMI PERBATASAN RI-PNG) Arisandi DN, Dani
Apriani, Anita
Sari, Wahyu Kumala
Weya, Tekison
AbstrakKelapa merupakan komoditas unggulan di Distrik Muara Tami, yang terletak di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Dengan kelimpahan kelapa di wilayah ini, penting untuk mengembangkan strategi agribisnis kelapa dan produk turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan agribisnis kelapa melalui analisis SWOT terhadap sistem agribisnis dari hulu hingga hilir. Hasil penelitian menunjukkan kekuatan internal yang baik pada setiap subsistem agribisnis, meskipun terdapat kelemahan pada subsistem pemasaran dan penunjang. Skor IFAS subsistem adalah: Produksi: 3,40, Pengolahan: 3,80, Pemasaran: 2,90, Penunjang: 2,75, dengan rata-rata IFAS 3,21. Peluang eksternal juga besar, dengan dukungan pemerintah, permintaan global yang meningkat, dan potensi kerjasama internasional. Skor EFAS subsistem adalah: Produksi: 3,45, Pengolahan: 3,85, Pemasaran: 3,20, Penunjang: 3,10, dengan rata-rata EFAS 3,40. Berdasarkan skor IFAS 3,21 dan EFAS 3,40 yang berada pada Kuadran I, strategi yang disarankan adalah strategi pertumbuhan agresif, yang mencakup: 1) Memperluas kapasitas produksi, 2) Mengoptimalkan infrastruktur pengolahan dan distribusi, 3) Meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan 4) Memanfaatkan peluang ekspor.Kata kunci: Agribisnis kelapa, perbatasan RI-PNG, subsistem agribisnis, strategi pengembangan, SWOT.AbstractCoconut is a flagship commodity in the Muara Tami District, located at the Indonesia-Papua New Guinea border. Due to the abundance of coconuts in this region, it is crucial to develop strategies for coconut agribusiness and its derivative products. This study aims to analyze the development strategies for coconut agribusiness using a SWOT analysis of the agribusiness system from upstream to downstream. The results show that the internal strengths of each agribusiness subsystem are relatively strong, although there are weaknesses in the marketing and supporting subsystems. The IFAS scores for each subsystem are as follows: Production: 3.40, Processing: 3.80, Marketing: 2.90, Supporting: 2.75, with an average IFAS of 3.21. External opportunities are also significant, with government support, increasing global demand, and the potential for international collaboration. The EFAS scores for each subsystem are: Production: 3.45, Processing: 3.85, Marketing: 3.20, Supporting: 3.10, with an average EFAS of 3.40. Based on the IFAS score of 3.21 and EFAS score of 3.40, which falls in Quadrant I, the recommended strategy is an aggressive growth strategy, including: 1) Expanding production capacity, 2) Optimizing processing and distribution infrastructure, 3) Enhancing workforce skills, and 4) Capitalizing on export opportunities.Keywords: Coconut agribusiness, RI-PNG border, agribusiness subsystem, development strategy, SWOT.
AGRIBISNIS 2025-02-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58999 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.58999
1669961 #7423 TRANSFORMASI PETANI MENJADI ENTREPRENEUR (Studi Kasus pada Program Wirausaha Muda Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran) Mukti, Gema Wibawa
Andriani, Rani
Pardian, Pandi
ABSTRAKPetani masa kini dituntut memiliki jiwa kewirausahaan dan juga kemampuan manajemen usaha yang baik sehingga memiliki daya saing yang tinggi untuk menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia bisnis pertanian.  Tantangan bagi sektor pertanian di Indonesia saat ini adalah memfasilitasi pengembangan wirausaha petani muda agar menjadi petani modern di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transformasi petani sebagai hasil dari proses pendidikan kewirausahaan yang diberikan kepada petani muda terdidik. Mereka adalah lulusan Perguruan Tinggi (Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran) yang mengikuti Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi kewirausahaan dapat diarahkan kepada petani muda terdidik yang memiliki semangat yang besar untuk berkembang. Petani muda yang berasal dari lulusan Perguruan Tinggi menjadi sangat potensial karena umumnya mereka memiliki keberanian mengambil risiko,  mampu mengenali kelebihan atau potensi dirinya, selalu berorientasi pada proses dan hasil, adaptif terhadap perubahan, selalu berinovasi untuk kemajuan usahanya, bersedia untuk berjejaring dan berkolaborasi secara positif dengan pihak lain sehingga semua pihak dapat berkembang dan sukses secara bersama – sama, selalu membangun jaringan usaha (silaturahmi) dengan mitra dan stakeholder.Kata kunci: Wirausaha Muda, Kolaboratif, Transformasi, Petani MudaABSTRACTModern farmers must have an entrepreneurial spirit as well as good business management skills so it has a high competitiveness to cope with business changes. The challenge for the agricultural sector in Indonesia at this time is to facilitate the development of young entrepreneur farmers to become a modern farmer in the future. This study aims to determine the transformation of farmers as a result of the entrepreneurship education process provided to educated young farmers. They are graduates of Higher Education (Faculty of Agriculture, Padjadjaran University) who follow the Programe. The results show that the development of entrepreneurial competence can be directed to educated young farmers who have a great passion to be an entrepreneurial farmers. Young become very potential because generally they have the courage to take risks, be able to recognize their strengths or potentials, always oriented to process and outcomes, adaptive to change, always innovate for the progress of their business, willing to network and collaborate positively with other parties so that all parties can grow and succeed together, always build a business network with partners and stakeholders.Keywords: Young Entrepreneur, Collaborative, Transformation, Young Farmers   Kata kunci: Wirausaha Muda, Kolaboratif, Transformasi, Petani Muda
2018-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20491 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20491
1669960 #7423 FAKTOR FAKTOR MEMENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN BERAS PORANG (Amorphophallus muelleri) DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS: BRASTAGI SUPERMARKET, GATOT SUBROTO) Saragih, Gelael Pranata
Ilvira, Rika Fitri
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen yang melakukan pembelian beras porang dan menganalisis faktor faktor mempengaruhi keputusan pembelian beras porang di Brastagi Supermarket Gatot Subroto. Penelitian ini dilakukan di Brastagi Supermarket pada bulan Oktober-November 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pembelian beras porang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Accidental sampling Jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 40 responden Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kusioner. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan menggunakan software SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini didominasi oleh perempuan, mayoritas berusia 50-59 tahun, pekerjaan Pegawai Negeri/BUMN dengan tingkat pendapatan Rp.3.000.000-Rp.3.900.000. Frekuensi pembelian beras porang 2 kali dalam sebulan. Beras porang yang sering dibeli adalah Brand Fukumi. Faktor faktor mempengaruhi keputusan pembelian beras porang adalah kualitas produk dan lokasi.Kata Kunci: Keputusan pembelian, beras porang, kualitas produk, harga.AbstractThis research aimed to describe the characteristics of consumers who purchased porang rice and analyze the factors influencing the purchasing decisions of porang rice at Brastagi Supermarket Gatot Subroto. The research was conducted at Brastagi Supermarket in October–November 2024. The population consisted of consumers who purchased porang rice. The sampling method used was accidental sampling, with a total of 40 respondents. Data were collected through questionnaires. The analysis method used was multiple linear regression with SPSS 26 software. The results showed that the respondents were mostly female, aged 50–59 years, working as civil servants or employees of state-owned enterprises, with incomes ranging from Rp.3,000,000 to Rp.3,900,000. The purchase frequency of porang rice was twice a month. The most frequently purchased brand was Fukumi. The factors influencing purchasing decisions were product quality and location.Keywords: Purchase decision, porang rice, product quality, price.
2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63715 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63715
1669959 #7423 MODEL SISTEM PERTANIAN PADI ORGANIK: PEMBERDAYAAN PETANI SKALA KECIL (STUDI KASUS DESA SUNDAKERTA, KECAMATAN SUKAHENING, KABUPATEN TASIKMALAYA) Heryanto, Mahra A.
Kusno, Kuswarini
Mukti, Gema W.
ABSTRAKKebergantungan petani padi terhadap program pemerintah telah berlangsung lama sejak dijalankanRevolusi Hijau digulirkan. Dibalik prestasi peningkatan produksi pangan, terdapat kerusakan-kerusakan yang saat ini disadari atau tidak oleh petani dari aspek sosial dan lingkungan. Sistempertanian organik muncul sebagai inovasi dan solusi bagi persoalan sosial dan lingkungan.Keberdayaan petani yang terdiri dari sosial, ekonomi dan lingkungan digambarkan dalam suatustruktur model sistem pertanian organik menggunakan pendekatan berpikir sistem (system thinking).Studi kasus ini dilakukan pada kelompok tani padi organik yang usahanya berskala kecil di DesaSundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Kelembagaan sosial yangditerjemahkan dalam konsep modal sosial menjadi akslerator dalam proses peningkatan keberdayaanpetani. Aksi bersama (collective action) sebagai “buah” dari “pohon” modal sosial (kepercayaan,aturan dan jejaring sosial) memegang peranan penting dalam menggerakan peningkatan keberdayaanpetani dari aspek sosial, eknomi, dan lingkungan.Kata kunci: modal sosial, aksi kolektif, berpikir sistem, kelembagaan sosial, pemberdayaanABSTRACTFarmer dependency toward governemnt policy have been existed in a long period since GreenRevolution started. Behind the food incresed achievement, there was some failure that realized ornot by farmers socially and environmentally. Organic farming system currently emerge as solutionand innovation for social and environemntal failure. Farmer empowerment which consist of social,economics and environemental aspect are illustrated in a model structure of organic farming systemusing system thinking approach. These case study was held in a farmer group with small scaleorganic farming at Sundakerta Village, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Socialinstitution which is translated into social capital opperationally, pay role as engine or accelerator inorder to increase the powerment level of farmer. Collective action as “fruit” of social capital “tree”(trust, norm and obligation, and social networking) play an important role in movement of farmerempowerment in social, economics and environement aspects.Keywords: social capital, collective action, system thinking, social institution, empowerment
2016-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22714 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22714
1669958 #7423 FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS KELOMPOK TANI DI KECAMATAN MOJOLABAN, KABUPATEN SUKOHARJO Permatasari, Mutik
Suminah, Suminah
Sugihardjo, Sugihardjo
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani, menganalisis efektivitas kelompok tani, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan efektivitas kelompok tani. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik survei. Pengambilan sampel dengan metode cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas yaitu faktor ciri kelompok, faktor fungsi tugas, dan faktor luar kelompok. Efektivitas kelompok tani di Kecamatan Mojolaban termasuk dalam kategori tinggi. Secara simultan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani. Secara parsial variabel faktor ciri kelompok dan faktor fungsi tugas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani, sedangkan variabel faktor luar kelompok tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani.Kata kunci: Efektivitas, Kelompok Tani, ProduktivitasAbstractThis study aims to analyze the factors that influence the effectiveness of farmer groups, analyze the effectiveness of farmer groups, and analyze the influence between factors that affect the effectiveness of farmer groups with the effectiveness of farmer groups. Research using quantitative research method with survey technique. Sampling by cluster random sampling method with the number of samples as many as 67 respondents. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that factors that influence effectiveness are group characteristics factors, task function factors, and factors outside the group. The effectiveness of farmer groups in Mojolaban sub-district is in a high category. Simultaneously the factors that influence the effectiveness have a significant effect on the effectiveness of farmer groups. Partially variable group character factors and task function factors have a significant effect on the effectiveness of farmer groups, while factor variables outside the group have no significant effect on the effectiveness of farmer groups.Keywords: Effectiveness; Farmer Group; Productivity
2020-12-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31700 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.31700
1669957 #7423 KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA PEMBUATAN TAPAI KETAN DI DESA PEMATANG PANJANG KECAMATAN GAMBUT KABUPATEN BANJAR Ni'mah, Gusti Khairun
Ifada, Inda Ilma
Munawarah, Munawarah
AbstrakUsaha tapai ketan merupakan usaha yang ditekuni oleh masyakarat Desa Pematang Panjang secara turun temurun dan masih ada hingga sekarang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui teknis pembuatan, prospek finansial, dan kontribusi pendapatan usaha tapai ketan. Metode penelitian yang digunakan yaitu teknik purposive sampling dan sampel sebanyak 30 orang dari 50 pengusaha tapai ketan di Desa Pematang Panjang yang merupakan sentral usaha tapai ketan. Analisis data yang digunakan ialah analisis kualitatif untuk mendapatkan gambaran pembuatan dan kontribusi pendapatan usaha tapai ketan secara deskriptif. Analisis kuantitatif menggunakan analisis rata-rata biaya, penerimaan dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan teknis pembuatan tapai ketan sudah sesuai ketentuan. Total biaya rata-rata yang dikeluarkan yaitu Rp 46,550,805/tahun. Penerimaan rata-rata yang diterima yaitu Rp 64,140,800/tahun. Pendapatan rata-rata yang diperoleh yaitu Rp 33,585,995/tahun. Jumlah pendapatan di luar usaha pembuatan tapai ketan rata-rata yaitu Rp 41,578,000/tahun. Total pendapatan rumah tangga pengusaha tapai ketan rata-rata yaitu Rp 76,608,905/tahun. Nilai kontribusi untuk usaha tapai ketan yaitu sebesar 49% dan dikategorikan baik.Kata kunci: Kontribusi Pendapatan; Tapai Ketan;AbstractThe business of tapai ketan is a business that has been occupied by the people of Desa Pematang Panjang for generations and still exists. This study is to find out technical aspects, financial prospects, and the income contribution. The research method used was purposive sampling technique and a sample of 30 people from 50 entrepreneurs in Desa Pematang Panjang which is the center of business. The data analysis used was qualitative analysis to get a description of production and contribution of the tapai ketan descriptively. Quantitative analysis uses average cost, acceptance and income analysis. The results showed that technique for making tapai ketan was in accordance with the provisions. The average total cost incurred is Rp 46,550,805/year. The average income received is Rp 64,140,800/year. The average income earned is Rp 33,585,995/year. The average amount of income outside the business is Rp 41,578,000/year. The average total household income of entrepreneurs is Rp 76,608,905/year. The contribution value is 49% and is categorized as good.Keywords: Revenue Contribution; Tapai Ketan;
Agribisnis 2023-03-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40381 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40381
Menampilkan 3.201 - 3.220 dari total 1.550.696 data