Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670276 #3358 ANALISIS PERHITUNGAN KEBUTUHAN OPTIMUM TRAKTOR RODA DUA DI KABUPATEN BANDUNG Kendarto, Dwi Rustam
Mekanisasi pertanian berperan penting dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian. Efisiensi waktu dan biaya dapat dicapai dengan proses mekanisasi. Waktu panen juga dapat lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja padat karya sehingga efisiensi biaya meningkat hingga 40%. Traktor sebagai salah satu produk mekanisasi telah banyak diaplikasikan di petani, akan tetapi kebutuhan optimum suatu daerah terhadap traktor seringkali belum diketahui. Kajian ini mencoba menghitung jumlah traktor yang dapat diserap secara optimum berdasarkan potensi lahan pertanian, perubahan lahan dan dinamika kependudukan di Kabupaten Bandung. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis desriptif menggunakan aplikasi analisis spasial untuk memperoleh data luasan area lahan pertanian eksisting maupun potensi berdasarkan arahan penggunaan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah di sekitar Kabupaten Bandung jumlah kebutuhan traktor roda dua masih kurang, namun demikian jumlah kekurangan dalam analisis proyeksi menunjukkan kecenderungan menurun. Jumlah kebutuhan traktor pada tahun 2025 adalah 2237 untuk kebutuhan traktor dengan berdasarkan pada luas lahan dan proyeksi ketersediaan traktor adalah 2393.Kata kunci: Optimasi pengembangan traktor, neraca ketersediaan dan kebutuhan traktor, karakteristik lahan
2016-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8828 buka_link ↗ Highlight_link
1670275 #3358 KINETIKA FRENCH FRIES UMBI GARUT SELAMA PENGGORENGAN Widyasanti, Asri
Marta, Herlina
Mardawati, Efri
French fries adalah produk olahan makanan siap saji berbentuk batang yang diolah melalui tahapan pemanasan dan pembekuan serta siap diproses lebih lanjut. Tujuan penelitian adalah mempelajari perubahan kekerasan, dan kematangan serta membuat pemodelan kinetika perubahan karakteristik french fries umbi garut selama penggorengan.Sampel digoreng dengan perlakuan suhu pengorengan (155±2oC, 170±2oC, 180±2oC).Hasil penelitian menunjukkan penggorengan dengan suhu minyak 180±2oC selama 2 menit menghasilkan karakteristik french fries umbi garut yang terbaik, yaitu tingkat kekerasan 52,875 mm/gram/detik, warna coklat keemasan, crust renyah, core lunak, tidak terjadi pemisahan core dan crust. Konstanta laju perubahan sifat mekanis mengikuti hubungan eksponensial kp = A e. Kenaikan Kp pelunakan sejalan dengan kenaikan suhu minyak penggorengan dan  kp pengerasan berbanding terbalik dengan kenaikan suhu minyak. Besar energi aktivasi fase pelunakan 40605,576 J dan faktor frekuensi 2,60 x 10-8, sedangkan fase pengerasan  23753,098 J dan faktor frekuensi  4,19 x 10-6. Pemodelan nilai kekerasan menunjukkan kesesuaian antara data kekerasan observasi dengan prediksi. Pemodelan nilai kekerasan dapat digunakan untuk perancangan dan pengendalian proses. Kata kunci: Umbi garut, French fries, Penggorengan, Kinetika
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4864 buka_link ↗ Highlight_link
1670274 #3358 Rekayasa Metode Penyimpanan Terhadap Perubahan Sifat Sensoris dan Aktivitas Respirasi Jamur Tiram Yuniarto, Kurniawan
Aqidah, Fitratul
Fuadi, Mi'raj
Jamur tiram digolongkan sebagai bahan pangan yang sangat mudah rusak dan termasuk ke dalam komoditas dengan nilai laju respirasi yang sangat tinggi. Pembatasan gas oksigen dalam pengemasan jamur tiram dapat mengurangi laju respirasi selama periode penyimpanan. Penelitian ini bertujuan mengukur perubahan sifat sensoris dan pola respirasi jamur tiram setelah panen melalui rekayasa model pengemasan (terbuka, berpori dan MAP Pasif). Jamur tiram terkemas dalam kondisi konsentrasi oksigen yang semakin tinggi akan mempercepat susut sensoris yang ditandai pelunakan tekstur, kecoklatan dan muncul aroma busuk. Jamur tiram yang disimpan dalam wadah terbuka, wadah berpori dan MAP pasif mengalami susut bobot berturut-turut sebesar 49%, 12,5% dan 9,9% untuk periode penyimpanan 3 hari. Kehilangan bobot sangat cepat pada kondisi jamur tiram yang kontak langsung dengan udara bebas. Respirasi jamur tiram sangat cepat pada periode 100 menit dan akan mengalami kestabilan pada periode penyimpanan berikutnya. Nilai laju respirasi pada kemasan kedap atau MAP pasif terukur sebesar RRO2 sebesar 4,67 ml/kg.jam dan RRCO2 sebesar 240,47 ml/kg.jam. Perbandingan laju respirasi yang terukur ke dalam nilai respiratory quotient (RQ) sebesar 51.48. Penerapan metode penyimpanan MAP Pasif dapat menjaga atribut mutu sensoris jamur tiram selama 72 jam penyimpanan dan sifat sensoris hampir sama dengan kondisi jamur tiram setelah petik.
teknik bioproses jamur tiram; MAP; mutu; oksigen; sensoris. 2024-04-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52736 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n1.2
1670273 #3358 Pengaruh Jumlah Bahan Baku serta Waktu Ekstraksi terhadap Karakteristik dan Umur Simpan Ekstrak Stevia Cair Zain, Zulfaa Irbah
Nurjanah, Sarifah
Nurhadi, Bambang
Kebutuhan akan bahan tambahan pemanis semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan industri pangan. Salah satu jenis pemanis alami yang belum banyak dikembangkan adalah Stevia rebaudiana Bertonii. Daun stevia dapat diekstrak dengan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi ekstraksi yang menghasilkan karakteristik ekstrak paling baik. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan faktor rasio bahan baku:pelarut (b/v) dan faktor waktu ekstraksi. Daun stevia dikeringkan pada suhu 55℃ selama 5 jam dan diekstrak menggunakan water bath pada suhu 95℃ dengan air sebagai pelarut. Variasi perlakuan rasio bahan baku:pelarut yang digunakan sebesar 1:25, 1:30, dan 1:35 (b/v), dengan variasi waktu ekstraksi sebesar 20, 30, dan 40 menit. Karakteristik yang diamati diantaranya adalah total padatan terlarut, kecerahan, kadar steviosida, dan kemanisan dengan metode uji ranking. Selain itu dilakukan pula pengujian tingkat kemanisan terhadap gula pasir dengan metode magnitude estimation dan pengujian umur simpan dengan sensory shelf-life estimation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi dengan perlakuan rasio bahan baku:pelarut 1:25 (b/v) dan waktu ekstraksi 40 menit menghasilkan karakteristik paling baik dengan nilai total padatan terlarut sebesar 2oBrix, nilai kecerahan sebesar 8,52, kadar steviosida sebesar 2,82%, dan nilai rata-rata kemanisan sebesar 3,33. Pada penelitian ini diketahui bahwa ekstrak stevia memiliki tingkat kemanisan 120 kali dari gula pasir, serta umur simpan 12,531 hari.
stevia, ekstraksi, jumlah bahan baku, waktu ekstraksi 2021-01-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23186 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol14n2.5
1670272 #3358 ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK TANAH HASIL PENGOLAHAN TANAH DI KEBUN TEBU LAHAN KERING Pramuhadi, Gatot
Holqi, Trya Adheshi
Surbakti, Andri Asmoro
Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan sifat fisik dan mekanik tanah hasil operasional mesin pengolahan tanah (traktor). Pengamatan deskriptif dilaksanakan di areal kebun tebu lahan kering yang diolah menggunakan traktor roda 4 dengan implemen pengolahan tanah: bajak, garu, dan kair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengolahan tanah dengan cara dibajak, digaru, dan dikair menghasilkan sifat fisik dan mekanik tanah yang bervariasi. Tekstur tanah di areal lahan penelitian adalah lempung liat berpasir (sandy clay loam) dengan kandungan fraksi pasir (sand): 61,53-63,55%, liat (clay): 24,33-28,37%, dan debu (silt): 10,10-12,12%.  Nilai kohesi tanah dan sudut gesek internal dalam pada kedalaman tanah 0-30 cm berturut-turut adalah sebesar 0,12-0,57 kgf/cm2 dan 14,27-33,66°. Perubahan densitas tanah dan tahanan penetrasi tanah sebelum dan sesudah pengolahan tanah pada kedalaman 0-10 cm, berturut-turut adalah dari 1,33-1,56 menjadi 0,98-1,35 g/cc dan dari 0,94 menjadi 0-0,02 kgf/cm2; pada kedalaman 10-20 cm adalah dari 1,27-1,63 menjadi 0,98-1,55 g/cc; dan dari1,23 menjadi 0-0,32 kgf/cm2; pada kedalaman 20-30 cm, dari 1,16-1,42 menjadi 1,07-1,62 g/cc dan dari 1,43 menjadi 0,71-1,05 kgf/cm2.  Sedang perubahan diameter bobot rata-rata (mean weight diameter) bongkah tanah hingga kedalaman 20 cm oleh Bajak I – Bajak II – Garu I – Garu II – Kair, adalah dari 1,50- 1,57 menjadi 0,65-0,98 cm.  Sementara hubungan penurunan densitas tanah (BD) akibat pengolahan tanah diikuti dengan berkurangnya diameter bobot rata-rata (MWD) dinyatakan dengan persamaan: MWD = 1,97 BD – 1,63. Besar kedalaman tekan (sinkage) dari Bajak I hingga ke Kair adalah dari 7,60-8,38 menjadi 5,99-7,16 cm akibat besar tekanan mesin ke tanah (ground pressure) sebesar 5,67-6,56 kgf/cm2. Kata kunci : Tekstur, Densitas, Tahanan penetrasi tanah, Diameter bobot rata-rata, Sinkage
2012-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6327 buka_link ↗ Highlight_link
1670271 #3358 Karakteristik Fisikokimia Tepung Talas Belitung (Xantoshoma sagittifolium) Dipengaruhi oleh Suhu dan Lama Pengeringan Moulia, Mona Nur
Ummah, Narjisul
Kumalasari, Rafika
Talas belitung segar merupakan bahan pangan yang mengandung karbohidrat tinggi yang mudah sekali rusak karena kandungan airnya yang tinggi. Salah satu cara memperpanjang umur simpan talas adalah dengan mengolah talas menjadi tepung. Pengolahan talas menjadi tepung meliputi tahapan penimbangan, pengupasan, pencucian, perajangan, pengeringan dan penepungan. Proses pengeringan merupakan salah satu tahapan terpenting. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji karakteristik fisikokimia tepung talas belitung yang dihasilkan dari pengeringan irisan talas dengan variasi suhu dan lama pengeringan. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan faktor suhu dan lama pengeringan. Suhu yang digunakan yaitu sinar matahari, oven suhu 60 oC dan 70 oC (T0, T1 dan T2) dan lama pengeringan yaitu 10 jam dan 12 jam (A1 dan A2). Analisis tepung talas belitung terdiri dari rendemen, kadar air, warna, derajat putih, amilosa dan amilopektin. Semakin tinggi suhu dan lamanya lama pengeringan, maka nilai rendemen, kadar air, warna derajat putih dan amilosa semakin kecil. Tepung talas belitung memiliki rendemen (18,18-23,57%), kadar air (6,76-11,05%), warna (81-68-88,63), derajat putih (64,67-75,33%), amilosa (16,17-19,20%) dan amilopektin (80,80-83,83%).
pengeringan; talas belitung; tepung 2025-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63593 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n2.5
1670270 #3358 Rancang Bangun dan Uji Kinerja Mesin Perajang Keripik Pisang dengan Empat Pisau Horizontal Dharmawan, Agus
Alamsyah, Rizky Akthur
Tasliman, Tasliman
Soekarno, Siswoyo
Peningkatan produksi keripik pisang oleh suatu industri tidak lepas dari permintaan proses. Proses pengirisan pisang merupakan proses penentu untuk meningkatkan kapasitas produksi keripik pisang. Permasalahan terjadi pada stasiun pengirisan yang masih sederhana dan dilakukan secara manual. Penggunaan mesin perajang pisang bermaksud untuk agar proses pengirisan pisang lebih mudah dan dapat mempersingkat waktu kerja dengan hasil yang optimum. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun dan menguji mesin perajang pisang dengan empat pisau horizontal. Perancangan mesin terdiri atas pembuatan model, pemilihan material, perakitan, dan pengujian. Mesin perajang yang berdimensi 480 x 360 x 600 mm dan berat kosong mesin 12 kg memiliki lima komponen utama yaitu unit pemasukan, unit pemotongan, unit pengeluaran, kerangka mesin, sumber dan transmisi daya. Pengujian pada mesin dengan pisang kepok ditetapkan variasi tegangan input motor penggerak antara 75 – 250 volts. Rata-rata slip putaran yang terjadi adalah 3.7%. Putaran pisau dengan kecepatan rendah meningkatkan terjadinya slip. Kapasitas kerja yang dihasilkan untuk merajang pisang adalah 14.2 kg/jam pada tegangan 220 V. Potongan pisang dengan kualitas baik sebesar 77.6% memiliki bentuk bulat dengan tebal rata-rata 2.2 mm, sisanya merupakan potongan pisang yang rusak, berbentuk tidak beraturan, dan hilang karena lengket di dalam mesin. Mesin yang dikembangkan dapat dimanfaatkan oleh industri rumahan yang memproduksi keripik pisang.
Alat dan Mesin Pertanian mesin perajang, kripik pisang, rancang bangun, uji kinerja 2022-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39696 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n2.3
1670269 #3358 RANCANG BANGUN REAKTOR BIOGAS DENGAN PENGADUK UNTUK SAMPAH ORGANIK SKALA RUMAH TANGGA Herwanto, Totok
Amaru, Kharistya
Saputra, Dodi Nurhadi
Untuk mengurangi kelemahan reaktor biogas yang ada dan pemanfaatan sampah organik telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang bangun reaktor biogas yang mudah dibuat, relatif murah, tidak korosi, tahan lama, dan memiliki pengaduk  dengan memanfaatkan sampah organik skala rumah tangga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2011 di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Hasil penelitian memberikan rancangan reaktor biogas berbahan dasar drum plastik High density Polyethilen (HDPE) dengan pengaduk untuk sampah organik skala rumah tangga dengan spesifikasi: volume total 500l, volume isian 400l, panjang pengaduk 750mm dengan diameter poros 20mm. Reaktor biogas dapat menghasilkan biogas sebanyak 1100l dengan proses selama 30hari, temperatur dan pH rata-rata bahan isian berkisar 28ÂșC dan 7,23 dengan nilai kalor bersih 19,78 Joule/cm3. Pengaduk dapat mengaduk bahan isian di dalam reaktor biogas sehingga tidak mengalami pengeringan. Biaya investasi reaktor biogas Rp 587.000, NPV= Rp 752.906, IRR= 34,11 %, BCR= 1,59, reaktor biogas ini mencapai BEP pada produksi 1.350 l/bulan. Kata kunci : rancang bangun, reaktor biogas, pengaduk, sampah organik.
2013-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6370 buka_link ↗ Highlight_link
1670268 #3029 The Stability of Protein Therapeutics: A Significant Challenge in the Formulation of Biopharmaceuticals Nuwarda, Rina Fajri
Ramadhania, Zelika Mega
Novianti, Mia Tria
Protein-based therapies have already brought about a significant transformation in the field of medicine, and their use continues to grow. The development of protein therapeutics has revolutionized the treatment of various diseases, such as cancer, autoimmune disorders, viral infections, cardiovascular disease, myocardial infarction, etc. Consequently, it is crucial to ensure the stability of formulations, given their rapid growth. Preserving the structural integrity of protein-based medicines is a significant challenge in developing a stable and high-quality formulation. This challenge arises during various stages, including manufacturing procedures, storage, handling, distribution, and delivery due to proteins' intricate and delicate nature. Hence, it is crucial to thoroughly understand the various degradation mechanisms that impact protein stability to enhance different variables and minimize the formation of degradation products, such as aggregation, oxidation, deamidation, etc., which could potentially have clinical implications. This review provides an important step in understanding the process of protein degradation and offers a beneficial approach to investigate the degradation of proteins, specifically aggregation, through several analytical and biophysical methods. This is important for facilitating the further advancement of protein-based therapies.
Biologics, biotherapeutics, protein aggregation, protein formulation stability. 2024-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56009 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v6i2.56009
1670267 #3029 Efek Imunostimulan Ekstrak dan Fraksi dari Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata) pada Mencit Jantan Miranti, Rizka Mulya
Mulyani, Tuty
Nashihah, Siti
Limpasu merupakan tanaman khas Kalimantan yang ditemukan di pegunungan Meratus dan secara empiris digunakan untuk membantu mengobati COVID-19. Buah limpasu mengandung senyawa fenol dan flavonoid yang telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri, namun uji coba sebagai imunomodulator belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas imunomodulator ekstrak etanol buah limpasu (EEBL) serta fraksi etil asetat (FEA) dan fraksi air (FA) pada dosis 250 dan 500 mg/kgBB pada hewan. Buah limpasu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% dengan metode maserasi dan difraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Pengujian imunomodulator dilakukan menggunakan metode uji bersihan karbon untuk menggambarkan aktivitas respon imun non spesifik, uji titer antibodi untuk menggambarkan aktivitas respon imun spesifik dan uji hipersensitivitas tipe lambat untuk menggambarkan respon imun seluler. Hasil uji bersihan karbon pada kelompok EEBL dan FEA menunjukkan aktivitas imunostimulan kuat, sedangkan kelompok FA menunjukkan hasil imunostimulan ringan. Hasil uji titer antibodi primer menunjukkan kelompok yang diberi zat uji memiliki angka titer antibodi lebih tinggi dibandingkan kontrol, namun hanya kelompok EEBL yang mengalami peningkatan angka titer antibodi sekunder. Selanjutnya, EEBL, FEA dan FA menyebabkan peningkatan tebal kaki mencit. Secara keseluruhan, hanya EEBLyang menunjukkan aktivitas imunostimulan berdasarkan respon imun non spesifik, spesifik dan seluler.
antioksidan; imunomodulator; limpasu 2026-03-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52721 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v13i1.52721
1670266 #3029 Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Umbi Allium cepa L. Octaviani, Melzi
Alfitri, Nadilla
Fadhli, Haiyul
Bawang merah (Allium cepa L.) selain digunakan sebagai bumbu penyedap masakan, juga bisa digunakan sebagai obat oleh masyarakat Indonesia. Bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah bagian umbinya. Umbi bawang merah mengandung metabolit sekunder yaitu fenolik, flavonoid, dan terpenoid yang berkhasiat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, etil asetat, dan 1-butanol umbi bawang merah terhadapbakteri Gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif Escherichia coli dengan metode difusi cakram. Fraksi umbi bawang merah dibuat dalam beberapa seri konsentrasi yaitu 25%; 12,5%; 6,25%; 3,125%; dan 1,5625%. Konsentrasi 25% memberikan daya hambat paling baik dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil analisisdata menggunakan uji one way ANOVA dan Kruskall-Wallis didapatkan hasil p <0,05 yang menandakan adanya perbedaan daya hambat yang signifikan yang diberikan antara seri konsentrasi masing-masing fraksi dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Simpulan dari penelitian ini adalah fraksi etil asetat memiliki daya hambat yang lebih besar terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dibandingkan fraksi n-heksana dan 1-butanol.
Allium cepa L., antibakteri, fraksi, umbi 2022-02-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29474 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v1i1.29474
1670265 #3029 Formulation of Instant Granule Containing Nano Calcium from the Shell of Freshwater Mussels (Anodonta woodiana) for Autism Children Aminingsih, Tri
Srie Rahayu, Sata Yoshida
Yulianita, Yulianita
The small particle size of nano calcium from freshwater mussels shell will tend to increase the absorp- tion of calcium by human’s body and will be very well consumed by children with special needs to suppress hyperactivity disorders that caused by mercury. This study aimed to create and determine the best instant granule formulation containing nano calcium from freshwater mussels shell. The research method began with the manufacture of freshwater mussels shell powder and isolated nano calcium. Nano calcium was tested for its solubility in acid. The granule formula was made with stevia varia- tions. Instant granule evaluation included granule ow test, rest angle, compressibility, water content, solubility, hedonic test, and calcium bioavailability. The results showed that nano calcium was soluble in 1:1 ratio of citric and tartrate acids, so that each formula needs 1.2% citric and 1.2% tartrate acids. Based on the avor, aroma, and texture, the most preferred granule formula contained 600 mg nano calcium, 60 mg citric acid, 60 mg tartaric acid, 400 mg stevia each sachet weighing 5 g. The best in- stant granule evaluation showed that the ow rate was 4.253 g/sec, 33.90 rest angle, 4.65% compress- ibility, 2.21% water content, soluble time 58 second and calcium bioavailability was 100%. Key words: Calcium bioavailability, detoxi cation, freshwater mussels, instant granule, nano cal- cium.
2018-06-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16125 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v1i1.16125
1670264 #3029 Therapeutic Potential of Kaempferia galanga L. Extract in Ameliorating Oxidative Stress and Metabolic Dysregulation in a Rat Model of Metabolic Syndrome Hasimun, Patonah
Muzaki, Yoga Adi Restu
Sukmawati, Ika Kurnia
Zahra, Nadhira Aulia
Kusriani, Herni
Metabolic syndrome is associated with an increased risk of hypertension, diabetes, and cardiovascular disease, which are often triggered by oxidative stress and inflammation. This study evaluated the effects of Kaempferia galanga L extract (ERK) on oxidative stress and metabolic dysfunction using a fructose-induced male Wistar rat model. A total of 25 rats were divided into five groups: normal control, positive control, allopurinol group, and two ERK treatment groups at doses of 50 and 100 mg/kg body weight. All groups, except the normal control, were given 25% fructose in the drinking water and an injection of potassium oxonate (4.5 mg/kg body weight) for 28 days. Evaluation was done by measurement of glucose, triglyceride, malondialdehyde (MDA) and nitric oxide (NO) and histological analysis of aortic tissue. The results showed that ERK, especially at a dose of 100 mg/kg, significantly reduced glucose, triglyceride and MDA levels and increased NO levels. ERK administration also reduced the body weight of mice and prevented the formation of foam and inflammatory cells in aortic tissue. The total flavonoid content of ERK also supports its biological activity. This study concludes that ERK has potential as a natural therapeutic agent to treat metabolic syndrome through antioxidant and anti-inflammatory mechanisms.
Kaempferia galanga L.; oxidative stress; metabolic syndrome; nitric oxide; malondialdehyde 2025-05-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60514 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v12i0.60514
1670263 #3029 The Potency Mucoadhesive Granules of Ethanol Extract Green Grass Jelly (Premna oblongifolia MERR.) as Peptic Ulcer Treatment Agent NOFIANTI, TITA
Cincau hijau (Premna oblongifolia Merr) banyak tumbuh di Indonesia dan merupakan makanan tradisional Indonesia yang kaya akan serat dan memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun cincau terhadap penyembuhan maag. dan komposisi butiran mukoadhesif yang optimal. Tikus dikelompokkan menjadi kontrol negatif, kontrol positif, dan 3 kelompok dosis uji. Pengobatan diberikan selama tiga hari, tukak gastrointestinal diberi skor berdasarkan kuantitas dan tingkat keparahan tukak, dan statistik dibandingkan antar kelompok perlakuan menggunakan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji dosis ketiga memiliki aktivitas dalam penyembuhan tukak lambung dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif, dengan proporsi penyembuhan luka pada dosis 1 sebesar (12,13%; p. 0,024), dosis 2 sebesar (20,93%; p. 0,004). ), dan dosis 3 menjadi (24,47%; p. 0,000). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun cincau hijau dosis ketiga dipilih sebagai dosis optimal untuk pengobatan tukak lambung. Formulasi terbaik terdapat pada formula 3.
Cincau Hijau, Premna oblongifolia Merr, Ulkus peptikum, Granul Mukoadhesif 2024-01-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50688 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v0i0.50688
1670262 #3029 Evaluation of 99mTc-Ethambutol Radiopharmaceutical Using High Performance Liquid Chromatography with Radioactive Detector (Radio-HPLC) Sriyani, Maula Eka
Sugiharti, Rizky Juwita
Widyasari, Eva Maria
Halimah, Iim
99mTc-ethambutol is a radiopharmaceuticals used to determine the location of Mycobacterium tuberculosisthat causes TB disease. To prepare this radiopharmaceuticals, several supporting compounds are required in addition to ethambutol and radionuclide compounds. These are mannitol as filler, SnCl2as a reducing agent and sodium pyrophosphate as co-ligand. The radiopharmaceuticals is made in the form of a lyophilized kit without 99mTc radionuclides. The aim of this study was to determined the effect of reducing agents on 99mTc-ethambutol preparation using the High Performance liquid chromatography (HPLC) equiped with radiodetector (radio-HPLC) to the quality of radiopharmaceuticals. In the previous study, the determination of radiochemical purity only used TLC by determining the amount of impurities TcO2and TcO4. This study was carried out more profoundly by using radio-HPLC to ensure the quality of radiopharmaceutical products that were made is actually 99mTc-ethambutol. The Test were performed using paper chromatography, electrophoresis, radio-HPLC, and stability test of 99mTc-ethambutol radiopharmaceuticals. The results showed that the radiopharmaceuticalkit of ethambutol is performing good physical characterictics and high radiochemical purity of 99mTc-ethambutol both in analysis using paper chromatography, electrophoresis and radio-HPLC. The 99mTc-ethambutol shown the peak at retention time (tr) 7,97 minutes using UV and radioactive detector, C18 column, isocratic system using phosphate buffer 0,2 M pH 7,4 and Acetonitrile (90 :10), flow rate 0,8 mL/min. The radiochemical purity of 99mTc-ethambutol is still remain high (91.44 ± 0.92%) after 27 days of kit were made.Key words: 99mTc-ethambutol, radio-HPLC, TB disease, Mycobacterium tuberculosis, radiopharmaceuticals.
2019-05-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21033 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v1i3.21033
1670261 #3029 Shallot (Allium ascalonicum): An overview of antidiabetic activity by α-glucosidase inhibition Ramadaini, Tiara
Sumiwi, Sri Adi
Febrina, Ellin
Allium ascalonicum (shallot) is a medicinal plant with promising potential in the management of type 2 diabetes mellitus (T2DM). This review summarizes the phytochemical constituents, mechanisms of action, and existing research gaps that warrant further exploration for targeted drug development. A systematic literature search was performed using PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar to identify relevant studies published between 2013 and 2023. Only full-text original research articles in English were included, while reviews and incomplete studies were excluded. The search strategy employed the keywords: “Allium ascalonicum OR shallot AND α-glucosidase.” The findings indicate that A. ascalonicum demonstrates significant antidiabetic activity across in vitro, in vivo, and limited human studies, primarily through inhibition of the α-glucosidase enzyme. This activity is largely attributed to quercetin and other flavonoid compounds, which play an essential role in reducing blood glucose levels and mitigating oxidative stress. Collectively, the evidence highlights the therapeutic potential of A. ascalonicum as a natural α-glucosidase inhibitor. However, further clinical investigations and comprehensive toxicity assessments are required to establish its efficacy and safety as a standardized herbal medicine and future phytopharmaceutical candidate for diabetes management.
Allium ascalonicum; α-glucosidase inhibition; antidiabetic; phytochemicals; shallot 2025-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52104 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v12i3.52104
1670260 #3029 Studi In Silico Potensi Antidiabetes Senyawa pada Black Garlic sebagai Inhibitor Enzim DPP-4 Sudirman, Virgiana Keisha Rajabi Johni
Priana, Diva Dhaifina Mazaya
Puspitasari, Citra Dewi
Hutapea, Ezra Calista
Muntashir, Ilham Mohammad
Pribadi, Alya Puteri Agustina
Parameswari, Natashya
Aulifa, Diah Lia
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan gangguan metabolisme glukosa darah. Black Garlic memiliki potensi sebagai antidiabetes karena mengandung berbagai senyawa yang dapat mengontrol kadar gula darah seperti asam fenolik, senyawa flavonoid dan S-allyl-L-cysteine (SAC). DPP-4 merupakan enzim yang berperan penting sebagai target terapeutik dari gliptin dalam pengobatan diabetes mellitus mellitus tipe II. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membuktikan potensi senyawa pada Black Garlic sebagai inhibitor enzim DPP-4 secara in silico melalui metode penambatan molekuler. Berdasarkan hasil penelitian, SAC memiliki nilai energi ikatan sebesar -5,36 kkal/mol dan nilai konstanta inhibisi sebesar 118,08 ÎŒM. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan antara senyawa SAC dengan enzim DPP-4 bersifat stabil dan terbukti berpotensi sebagai inhibitor enzim DPP-4 dibandingkan keempat senyawa uji lainnya. Namun, senyawa SAC tidak lebih baik dari ligan alaminya karena memiliki nilai energi ikatan dan konstanta inhibisi yang lebih kecil. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa senyawa SAC pada Black Garlic tidak lebih efektif dibandingkan dengan ligan alaminya yaitu Vildagliptin tetapi tetap dapat berpotensi sebagai inhibitor enzim DPP-4.
Black Garlic, Antidiabetes, Inhibitor DPP-4 2024-06-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47506 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v11i2.47506
1670259 #3029 In Silico Study of Compounds Contained in Hemigraphis alternata Leaves against 5-LOX for Anti-Inflammatory Yeni, Yeni
Rachmania, Rizky
Yanuar, Mochamad D.
Inflammation is a self-protection response to begin the healing process. One of the anti-inflammatory targets worth developing is lipoxygenase inhibitors, which have been studied for several diseases, including severe airways disease. The aim of this study was to predict the affinity of 23 compounds that contained in Hemigraphis alternata leaves against 5-lipoxygenase (5-LOX). The compounds of Hemigraphis alternata leaves were screened for its affinity againts 5-LOX using docking software, DOCK 6.9, with zileuton as the comparator. Based on the grid score, most of the 23 of Hemigraphis alternata leaves compounds showed a higher affinity towards 5-LOX compare to zileuton. The highest affinity was shown by n-hexadecanoid acid. The study showed that Hemigraphis alternata leaves contains potential active components that could be developed as 5-LOX-inhibitor.Keywords: In silico, Hemigraphis alternata, lipoxygenase, anti-inflammatory
2021-02-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29869 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v8i1.29869
1670258 #3029 Effect of Adding Granul Basil (Ocimum americanum) as Antioxidants in Fried Foods Dinata, Deden I
Supriadi, Dadih
Djafar, Garnadi
Syerliana, Syerliana
Wijayanti, Wahyu
Suherman, Shelvy E
Basil is one of medicinal plants in Indonesia that has been used empirically as antimicrobes, analgetic, antiinflammatory, antivirus, antitumor, and antioxidants that prevented ischemia. This research aimed to investigate the effect of adding granule ethanol extract of basil leaves (Ocimum americanum) as antioxidant to capture free radicals in fried foods. The antioxidant activity of ethanol extract of basil leaves with DPPH determinated by IC50, comparing the antioxidant activity of the granule and the control by determination of quality properties of oil and food after frying using Fourier Transfor Infra Red (FTIR) spectra, and quantitative parameters by determination percentage of free fatty acid (FFA). Results of maceration with ethanol 15.94% w/w, total ash content 9.85%, water soluble ash content 3.98%, acid insoluble ash content 3.98%, water soluble extract 25.89%, ethanol soluble extract 12.76%, water content 6.87%, drying shrinkage 11.19%. Testing the antioxidant activity of the ethanol extract of basil leaves with DPPH gave IC50 of 80.55 ppm. The result of antioxidant testing by determination percentage of FFA statistically with ANOVA (significance 0.00<5) and comparison of the concentration extract in basil granule with LSD test significantly different. The result indicates that adding ethanol extract of granules basil on fried foods gave antioxidant activity because it can inhibit the increasing of FFA percentage. Keywords: Antioxidant, basil leaves, DPPH, granule
2015-02-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7807 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/ijpst.v2i1.7807
1670257 #3029 Antifungal Activity Testing of Extract and Fractions from Tectona grandis Linn. F Leaves Using the Microdilution Method Anwar, Irvan -
Malina, Rachma -
Nuralifah, Nuralifah -
Parawansah, Parawansah -
U, Wa Ode Hartasyah
Teak leaves (Tectona grandis Linn. F) are one of the plants that have empirically been used as antifungal, antioxidant, antibacterial, and antidiabetic agents, due to their content of secondary metabolite compounds including saponins, tannins, alkaloids, and sterols. This research aims to determine the secondary metabolite compounds present in the extract and fractions of teak leaves (Tectona grandis Linn. F) and the antifungal activity of the teak leaf extract and fractions against Candida albicans using the microdilution method. The ethanol extract was fractionated using a partition method with solvents n-hexane, chloroform, and ethyl acetate. Antifungal testing was carried out against Candida albicans using the Broth Microdilution method to measure the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Fungicidal Concentration (MFC) values. Based on the phytochemical screening results, teak leaves contain alkaloids, phenolics, flavonoids, and terpenoids. The MIC results for the antifungal activity of the ethanol extract, n-hexane fraction, chloroform fraction, and water fraction against Candida albicans were all >500 ”g/mL. In the meantime, the MIC and MFC values for ketoconazole 200 mg against Candida albicans were 64 ”g/mL. These results indicate that there is a difference in MIC and MFC values between the samples and the positive control (ketoconazole 200 mg), with the antifungal activity of the samples being weaker compared to the positive control
2024-09-19 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52625 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v6i2.52625
Menampilkan 2.901 - 2.920 dari total 1.550.696 data