Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670756 #7423 ANALISA DAYA SAING KOPI INDONESIA DIANTARA BRAZIL, VIETNAM DAN KOLOMBIA Hariri, Rif'an
Abstrak Daya saing kopi selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Selain berdampak pada pendapatan negara penurunan daya saing ini menyebabkan keberadaan kopi Indonesia pada perdagangan internasional rawan tergantikan oleh Brazil, Vietnam, dan Kolombia di tingkat internasional. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis posisi daya saing kopi Indonesia diantara Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Metode yang digunakan adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symetris Comparative Advantae (RSCA), Export Competitiveness Indeks (ECI) dan Export Product Dynamics (EPD). Data yang digunakan diperoleh dari UN Comtrade pada periode 2016 hingga 2023 dan Badan Pusat Statistik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa secara umum daya saing kopi Indonesia masih dibawah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Kopi Indonesia yang mempunyai daya saing tergolong kuat hanya jenis kopi green bean tanpa dekafeinasi dan juga kopi olahan. Faktor kualitas dan kuantitas berpengaruh terhadap rendahnya daya saing kopi Indonesia dibandingkan dengan Brazil, Vietnam dan Kolombia. Untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia perlu berfokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas kopi.Kata kunci: kopi, daya saing, ekspor, impor. AbstractCoffee competitiveness has declined over the past few years. In addition to having an impact on state revenues, this decline in competitiveness has made the presence of Indonesian coffee in international trade vulnerable to being replaced by Brazil, Vietnam and Colombia at the international level. The purpose of this study is to analyze the position of Indonesian coffee competitiveness among Brazil, Vietnam, and Colombia. The methods used are Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symetric Comparative Advantae (RSCA), Export Competitiveness Index (ECI) and Export Product Dynamica (EPD). The data used was obtained from UN Comtrade for the period 2016 to 2023 and the Central Bureau of Statistics. The results obtained show that in general, Indonesia's coffee competitiveness is still below Brazil, Vietnam and Colombia. Indonesian coffee that has strong competitiveness is only green bean coffee without decaffeination and processed coffee. Quality and quantity factors affect the low competitiveness of Indonesian coffee compared to Brazil, Vietnam and Colombia. To improve the competitiveness of Indonesian coffee, it is necessary to focus on improving the quality and quantity of coffee.Keywords: coffee, competitiveness, export, import.
Agribisnis 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64092 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.64092
1670755 #7423 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI DALAM PENGALOKASIAN DANA GANTI RUGI KONVERSI LAHAN PERTANIAN (Suatu Kasus Konversi Lahan Sawah untuk Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka) Umyati, Sri
Sendjaja, Tuhpawana
Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi konversi lahan, mengetahui besarnya pengaruh karakteristik petani dan kelompok acuan terhadap ganti rugi konversi lahan serta mengetahui pengaruh karakteristik petani, kelompok acuan dan ganti rugi konversi lahan terhadap keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi lahan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan AMOS. Teknik penentuan responden dilakukan secara sengaja (Purposive) dengan penentuan sampel menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan analisis deskriptif faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi lahan di daerah penelitian adalah karakteristik petani yang termasuk dalam kategori sedang (60,76%), kelompok acuan dalam kategori rendah (46,20%) dan ganti rugi konversi lahan dalam kategori rendah pula (47,20%). Sedangkan dari hasil analisis menggunakan AMOS diperoleh hasil bahwa variabel karakteristik petani dan kelompok acuan tidak berpengaruh terhadap ganti rugi konversi lahan. Namun variabel karakteristik petani dan kelompok acuan terlihat berpengaruh langsung terhadap keputusan petani, besarnya pengaruh dari variabel-variabel tersebut berturut-turut adalah sebesar 0.17 dan 0.68. Sedangkan variabel ganti rugi konversi lahan tidak berpengaruh terhadap keputusan petani. Kata Kunci : Ganti Rugi, Keputusan, Konversi Lahan, PetaniAbstract The purpose of this research are to know the factors that influence of peasant in the alocation of compensation fund, to know how many the influence of peasant caracteristic and reference group to compensation fund on land conversion and to know the influence of peasant caracteristic and reference group to decisions of peasant in the allocation of and compensation fund. The Research methode use in this research is a kuantitatif descriptive. The analisis use is an Structural Squation Models (SEM) with AMOS. The tecnique use in this research for the determination of respondent is purposive sampling and the determination of sampling with solvin. The result of this research indicated that with use the descriptive analysis that influence factors to influence of peasant in the allocation of land compensastion fund at the research palace are the peasant caracteristic is medium (60.76%), the reference group is lowest (46.20%) and land conversation is lows too (47.20%). The result of AMOS analysis, the caracteristic of peasant and reference group is not influence indirect to compensation fund on land conversation. While the caracteristic of peasant and reference group are influence direct to decision of peasant, the size of factors influence both 0.17 and 0.68 and the compensation fund land conversion is not influence to peasant decision.Keywords : Decisions, Land Conversation, Peasant, Compensation.
2019-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22665 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i1.22665
1670754 #7423 SIKAP PETANI DALAM PEMBIBITAN TANAMAN PORANG DI KECAMATAN SARADAN KABUPATEN MADIUN Kurniati, Fajar Indah
Suminah, Suminah
Widiyanto, Widiyanto
Abstrak Budidaya tanaman porang saat ini menjadi primadona di kalangan masyarakat umum dalam beberapa tahun terakhir. Kecamatan Saradan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Madiun yang sudah menanam porang sejak tahun 1986. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sikap petani dalam pembibitan tanaman porang, yang dilihat dari pengaruh sikap petani dan pengaruh antara faktor yang mempengaruhi sikap petani dengan sikap petani dalam pembibitan tanaman porang. Metode kuantitatif dengan teknik survei digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan lokasi secara purposive di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Lokasi penelitian dipilih karena Kabupaten Madiun merupakan sentra produsen porang di Jawa Timur dan endemik porang Madiun 1. Kecamatan Saradan merupakan kecamatan dengan luas lahan dan produksi porang terbanyak di Kabupaten Madiun. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Responden sebanyak 91 petani dengan populasi 906 petani. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap dilihat dari aspek kognitif, afektif dan konatif ketiganya termasuk dalam kategori sikap yang baik. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor pengalaman pribadi dan luas lahan dengan sikap petani dalam pembibitan tanaman porang. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara lingkungan ekonomi, pendidikan non formal dan media massa dengan sikap petani dalam pembibitan tanaman porang di Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun.Kata kunci: Petani, Porang, Pembibitan, Sikap Abstract Porang plant cultivation has become excellent among the general public in recent years. Saradan sub-district is one of the sub-districts in Madiun Regency that has planted porang since 1986. This study aims to examine farmers 'attitudes in porang plant nurseries, as seen from the influence of farmers' attitudes and the influence of factors affecting farmers 'attitudes and farmers' attitudes in porang plant nurseries. Quantitative methods with survey techniques were used in this study. The location was purposively chosenin Saradan District, Madiun Regency. The research location was chosen because Madiun Regency is the center of porang producer in East Java and is endemic to Porang Madiun 1. Saradan is a district with the largest area of land and production of porang in Madiun Regency. Sampling using proportional random sampling. Respondents were 91 farmers with a population of 906 farmers. Data analysis using multiple linear regression test. The results showed that the attitudes seen from the cognitive, affective and conative aspects were included in the good attitude category. There is a significant influence between personal experience factors and land area with the attitude of farmers in porang plant nurseries. There is an insignificant influence between the economic environment, non-formal education and mass media with the attitude of farmers in the porang plant nursery in Saradan District, Madiun Regency. Keywords: Farmers, Porang, Nurseries, Attitudes
2021-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32475 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.32475
1670753 #7423 ANALISIS RISIKO OPERASIONAL PADA UMKM LAMORA DI KECAMATAN SOCAH KABUPATEN BANGKALAN Samsukdin, Samsukdin
Hasbullah, Muhammad Shofi
Musyafak, Musyafak
Ubaidillah, Ach.
AbstrakUMKM Lamora merupakan unit usaha yang memproduksi olahan kerupuk ikan dan telah memiliki ijin usaha. Risiko operasional yang dihadapi oleh usaha Lamora adalah kecelakaan kerja karyawan dan faktor cuaca yang tidak menentu sehingga mempengaruhi produksi kerupuk ikan. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) mengidentifikasi sumber-sumber risiko operasional, 2) menganalisis tingkat risiko operasional, dan 3) mendeskripsikan strategi penanganan risiko operasional yang dapat dilakukan oleh UMKM Lamora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber risiko operasional terdiri dari risiko produksi, risiko penggunaan teknologi dan risiko pemasaran. Risiko yang tergolong tinggi yaitu risiko bahan baku kurang bagus dan risiko pendidikan tenaga kerja rendah tergolong risiko rendah. Strategi penanganan yang dapat dilakukan yaitu melakukan pengecekan bahan baku produksi sebelum melakukan transaksi pembelian, penetapan standar bahan baku, memanfaatkan aplikasi pencatatan keuangan dan memisahkan uang usaha dan uang pribadi, dan pengolahan adonan menggunakan teknologi modern, serta menambah peralatan produksiKata kunci: Risiko Operasional, UMKM Lamora, FMEA.Abstract Lamora UMKM is a business that produces fish crackers and already has a business license. One of the operational risks faced by Lamora's business is employee work accidents and erratic weather factors that affect the production of fish crackers. The objectives of this study are 1) to find sources of operational risk, 2) to analyze operational risk, and 3) to describe operational risk management strategies that can be carried out by Lamora SMEs. The results show that the sources of operational risk are production, technology use, and marketing. The risk that is classified as high is the risk of good raw materials and the risk of low-risk labor education. Handling strategies that can be carried out are checking raw materials before making purchase transactions, setting standards for raw materials, using financial records and separating business and personal money, and processing the use of modern technology, andipment.Keywords: Operational Risk, UMKM Lamora, FMEA.
Agribisnis 2023-03-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40997 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40997
1670752 #7423 PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI PADI GOGO PADA PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) DI DESA JATIMUNGGUL, KECAMATAN TERISI, KABUPATEN INDRAMAYU Kusno, Kuswarini
Wulandari, Linda
Suminartika, Eti
ABSTRAKPHBM adalah suatu sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan bersama oleh Perum.Perhutani dan masyarakat desa hutan. Salah satu desa yang melaksanakan program tersebut adalahDesa Jatimunggul. Dalam pelaksanaannya pihak masyarakat desa sekitar hutan tidak setuju denganadanya pengambilalihan kekuasaan pengelolaan hutan oleh pihak Perhutani. Akibatnya petani protesmengenai lahan hutan yang dianggap sebagai lahan milikinya.Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui keragaan usahatani padi gogo dan prospek pengembangannya. Desain penelitian adalahkualitatif dengan teknik penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya padigogo program PHBM di Desa Jatimunggul masih menggunakan alat-alat sederhana. Modaldiperoleh sebagian besar dari pinjaman ke tengkulak. Perencanaan lokasi dan komoditas melibatkanPerhutani. Pemasaran hasil melibatkan tengkulak. Rata-rata penerimaan per hektar per musim tanamper tahun adalah Rp. 23.800.333 sedangkan pendapatannya Rp. 9.402.985 dengan rata-rata hasilproduksi 3.543 kg/ha. Rata-rata biaya total adalah Rp. 15.112.352 yang terdiri dari biaya variabelRp. 14.480.450 dan biaya tetap Rp. 631.902. Dibandingkan dengan penerimaan padi gogo di DesaSukasari Kabupaten Subang tahun 2014, penerimaan padi gogo di Desa Jatimunggul adalah 45%lebih besar. Program PHBM memberi manfaat ekonomi berupa usahatani padi gogo yangmenguntungkan dan manfaat sosial berupa penyediaan lapangan pekerjaan, sehingga usahatani inimemiliki prospek untuk dikembangkan.Katakunci: PHBM, usahatani, padi gogoABSTRACTPHBM is a system of forest resources management conducted jointly by “Perum”. Perhutani andforest village community. One of the villages that implement the program is Jatimunggul Village. Inpractice, the villagers around the forest do not agree with the takeover of forest management powerby Perhutani. As a result, farmers protest about the forest land they consider as their own land. Theaim of this study is to identify the performance of upland rice farming and its development prospects.The research design was qualitative supported by quantitative data with case study researchtechnique. The results showed that the cultivation of upland rice in the PHBM Program inJatimunggul Village still used simple tools. Capital was obtained mostly from loans to middlemen.Location and commodity planning involved Perhutani. Marketing of upland rice involvedmiddlemen. The average revenue per hectare per planting season per year was IDR 23,800,333while the income was IDR 9,402,985 with an average production of 3,543 kg/ha. Average total costwas IDR. 15,112,352 consisting of variable cost IDR 14,480,450 and fixed cost IDR 631,902.Compared with the revenue of upland rice in Sukasari Village, Subang Regency in 2014, the revenueof upland rice in Jatimunggul Village was 45% larger. PHBM programs provide economic benefitsin the form of profitable upland rice farming and social benefits in the form of employmentprovision. Therefore, the upland rice farming in Jatimunggul Village is prospective to be developed.Keywords: PHBM, farming,upland rice
2019-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15075 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15075
1670751 #7423 IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN RISIKO USAHATANI JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) Pardian, Pandi
Hidayat, Syarif
Renaldi, Eddy
AbstrakProduksi jamur merang di Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang, dari tahun ke tahun mengalami penurunan padahal potensi dan peluang pengembangan usahatani jamur merang cukup tinggi dikarenakan Kabupaten Karawang memiliki sumber bahan baku media tumbuh jamur merang berupa Jerami. Banyak risiko yang dihadapi dalam usaha budidaya jamur merang yang mempengaruhi dinamika produksinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan risiko yang sering terjadi serta dihadapi petani jamur merang. Pemilihan lokasi penelitian secara sengaja (purposive), karena Jatisari merupakan salah satu sentra produksi jamur merang, dengan anggota kelompok tani budidaya jamur merang paling tinggi. Penelitian ini menggunakan metode mixed method research dan analisis data menggunakan House of Risk (HOR) fase-1. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Risiko yang paling sering muncul dihadapi petani jamur merang adalah: harga jamur merang rendah, kekurangan modal, dan harga jual jamur merang berfluktuatif. Sedangkan, risiko yang paling jarang muncul adalah: gagal panen, kurangnya akses ke lembaga keuangan, dan pinjaman bank lama cair; (2) hasil pemetaan risiko, terdapat delapan agen risiko prioritas yang harus dimitigasi yaitu: kekurangan modal, harga jual jamur merang berfluktuatif rendah, pengeluaran untuk kebutuhan hidup petani tinggi, penjualan jamur kurang lancar, pinjaman bank lama, bunga bank tinggi, dan sulitnya akses ke lembaga keuangan (bank).Kata kunci: Identifikasi risiko, jamur merang, pemetaan risiko, Karawang.AbstractStraw mushroom production in Jatisari District, Karawang Regency, has decreased yearly, even though the potential and opportunities for developing straw mushroom farming are high because Karawang Regency has a source of raw materials for straw mushroom growing media. There are many risks faced in straw mushroom cultivation that affect the dynamics of its production. This study aims to identify risks and map the risks that often occur and are faced by straw mushroom farmers. The research location was chosen intentionally (purposively) because Jatisari District is one of the centers of straw mushroom production, with the highest number of mushroom farming group members. This study uses a mixed method research and data analysis using the House of Risk (HOR) phase-1. The results of the study show: (1) the most common risks faced by straw mushroom farmers are low straw mushroom prices, lack of capital, and fluctuating straw mushroom selling prices. Meanwhile, the risks that occur least frequently are crop failure, lack of access to financial institutions, and slow bank loans to be disbursed. (2) Based on the results of risk mapping, eight priority risk agents must be mitigated, namely: lack of capital, low fluctuating selling price of straw mushrooms, high expenditure for farmers' living needs, less than smooth sales of straw mushrooms, slow disbursement of bank loans, high bank interest, and difficulty in accessing financial institutions (banks).Keywords: Risk identification, Straw mushroom, Risk mapping, Karawang.
Sosial, Ekonomi, Pertanian, Agribisnis 2025-02-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61395 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.61395
1670750 #7423 Dialektika Sistem Sertifikasi Pertanian Organik dan Gaya Bertani (Farming Style) Petani Organik Rivanisa, Firdarani Kirana
Nugraha, Adi
Berkembangnya produk pertanian organik di Indonesia memicu dibentuknya aturan pemerintah mengenai sistem sertifikasi organik yang bertujuan untuk melindungi konsumen dan produsen. Akan tetapi dalam pelaksanaanya, sistem ini dihadapkan pada permasalahan sehingga menimbulkan polemik di masyarakat. Perkembangan polemik tersebut menuntut petani untuk bermanuver guna mempertahankan eksistensinya. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis dialektika yang terjadi antara stuktur yang berupa sistem sertifikasi organik dengan agensi yang dimiliki oleh petani yang ditunjukkan dalam gaya bertaninya serta hal yang melatarbelakangi keputusannya dalam menentukan gaya bertani tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Alat analisis yang digunakan adalah micro-macro linkages. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiap petani memiliki cara pandang yang berbeda terhadap polemik struktur yang ada sehingga menciptakan respon yang berbeda pula. Perbedaan respon tersebut disebabkan oleh perbedaan kondisi struktur yang melekat pada masing-masing usaha tani. Respon petani dapat dilihat dari perbedaan gaya bertani antara Semai Organik dan Eco Camp. Kata Kunci: Dialektika, Sistem Sertifikasi Organik, Gaya Bertani, Farming Styles, Petani Organik
2020-02-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23249 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.23249
1670749 #3029 Pengembangan Dispersi Padat Glukosamin-PEG 6000/PVP untuk Meningkatkan Disolusi Celecoxib sebagai Agen Antiinflamasi Wibowo, Danang Novianto
Prihantini, Malinda
Nazilah, Nur Milatin
Novitaningrum, Pramesti Ayu
Fina, Ya’ti Nur
Celecoxib memiliki disolusi yang rendah sehingga memengaruhi bioavailabilitas obat. Sistem dispersi padat dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan disolusi obat. Glukosamin HCl, PEG 6000, dan PVP merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai pembawa dalam sistem dispersi padat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan disolusi celecoxib melalui pembentukan dispersi padat, dan mengevaluasi perubahan kristalinitas yang terbentuk. Dispersi padat dan campuran fisik celecoxib dibuat menggunakan pembawa glukosamin HCl dengan rasio (F1) 1:1, (F2) 1:2, dan (F3) 2:1; glukosamin HCl–PEG 6000 dengan rasio (F4) 1:1:1, (F5) 1:2:1, dan (F6) 1:1:2; serta glukosamin HCl–PVP dengan rasio (F7) 1:1:1, (F8) 1:2:1, dan (F9) 1:1:2. Dispersi padat dipreparasi menggunakan metode pelarutan. Celecoxib murni, campuran fisik, dan dispersi padat diuji disolusinya serta dikarakterisasi sifat kristalnya menggunakan x-ray diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa disolusi celecoxib meningkat pada sistem dispersi padat. Nilai Q45 dispersi padat celecoxib memenuhi kriteria karena memiliki nilai lebih dari 45%. Nilai DE60 tertinggi diperoleh pada sistem dispersi padat celecoxib dengan pembawa glukosamin HCl pada rasio 1:2, yaitu 80,28% ± 0,58. Hasil difraktogram menunjukkan bahwa dispersi padat dapat mengubah sifat kristalin celecoxib. Secara keseluruhan, sistem dispersi padat meningkatkan disolusi celecoxib dengan pembawa glukosamin, baik tunggal maupun dikombinasikan dengan PEG 6000 atau PVP.
celecoxib; disolusi; dispersi padat; glukosamin HCl 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51711 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v13i1.51711
1670748 #3029 Pembuatan Sabun Cairan Mengandung Susu Sapi dari Usaha Kecil Menengah di Kota Cimahi Sutarna, Titta Hartyana
Anggraeni, Wulan
Alatas, Fikri
Lestari, Regita Ayu
Hermanto, Faizal
Simatupang, Elivas
Sutjiatmo, Afifah Bambang
Puspadewi, Ririn
Rachmawan, Lucky
Haq, Fahmy Ahsanul
Vikasari, Suci Nar
Kulit merupakan salah satu bagian tubuh yang sering terpapar benda asing dan membutuhkan nutrisi dan pembersihan rutin menggunakan sabun. Susu sapi mengandung protein dan lemak yang berkhasiat untuk melembabkan dan menutrisi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan sabun cair dari susu sapi yang berfungsi untuk meningkatkan kelembaban pada kulit. Penelitian dimulai dengan pengumpulan susu sapi dari usaha kecil menengah di kota Cimahi dan uji karakteristik secara organoleptik. Selanjutnya dibuat serangkaian seri formula sabun cair yang mengandung susu sapi sebanyak 0, 5, 10 dan 20%, kemudian dievaluasi meliputi evaluasi fisik (organoleptis, pH, viskositas, dan uji stabilitas) dan pengujian terhadap responden (pengujian daya emolien dengan alat skin analyzer, uji kesukaan, dan efektivitas pembersihan). Data yang diperoleh dianalisa statistik menggunakan uji t-berpasangan. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa formula sabun cair yang mengandung susu sapi stabil selama penyimpanan 28 hari. Hasil pengujian terhadap responden menunjukkan sediaan yang paling disukai adalah sabun cair yang mengandung susu sapi 15% dengan alasan nyaman digunakan, lembut dan tidak lengket pada kulit. Hasil pengujian efektivitas pembersihan juga menunjukkan sabun cair yang mengandung susu sapi 15% dapat membersihkan kotoran dan make up.
Susu sapi, emolien, sabun cair 2022-02-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28901 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v1i1.28901
1670747 #3029 Disolusi Kapsul Dispersi Padat Piroksikam-PEG 6000 Selama Penyimpanan Binarjo, Annas
Khotimah, Husnul
Kelarutan piroksikam yang rendah mempengaruhi laju disolusi sebagai penentu bioavaibilitas. Pembuatan dispersi padat dengan piroksikam-polietilenglikol dapan meningkatkan laju disolusinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembentukan dispersi padat piroksikam- polietilenglikol 6000 (PEG 6000) terhadap laju disolusi kapsul piroksikam selama 1 bulan penyimpanan. Rekristal piroksikam (R) dan dispersi padat piroksikam-PEG 6000 (DP) dibuat dengan metode pelarut menggunakan campuan aseton-etanol (1:1), keduanya bersama dengan piroksikam tanpa modifikasi (P) dikapsul dan disimpan selama 1 bulan. Uji disolusi dilakukan setiap minggu. Efisiensi disolusi 60 menit (DE60), prosentase disolusi 45 menit (C45), dan waktu untuk 80% terdisolusi (t80) digunakan sebagai parameter disolusi. Kurva hubungan DE60, C45, dan t80 terhadap waktu penyimpanan dilihat slope-nya sebagai parameter stabilitas. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Kapsul P dan DP menunjukkannilai DE60, C45, dan t80 yang stabil selama penyimpanan (slope=0, p>0.05), demikian juga nilai t80 kapsul R. Sedangkan DE60 dan C45 kapsul R selama penyimpanan terus menurun dengan slope -0,636 %/hari dan -0,171 mg/hari. Dapat disimpulkan bahwa DP yang dibuat dengan metode pelarut campuran aseton dan etanol (1:1) menunjukkan profil disolusi yang stabil selama penyimpanan 1 bulan.
2017-04-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7933 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/ijpst.v4i1.7933
1670746 #3029 Immunomodulatory Activity of Enau (Arenga pinnata) Leaf Extract on Macrophage Phagocytosis in Mice Yuliastri, Wa Ode
Sahidin, Idin
Isrul, Muhammad
Setiawan, La Ode Wawan
The immune system is vital in protecting the body from pathogens and harmful foreign substances. This study aims to evaluate the immunomodulatory activity of Arenga pinnata leaf extract on macrophage phagocytosis activity in mice (Mus musculus) and determine its optimal dosage. Extraction was conducted using the maceration method with 96% ethanol as the solvent. The immunomodulatory test was performed by measuring macrophage phagocytosis activity. Male mice were divided into six groups: a negative control (0.5% Na-CMC), a positive control (Stimuno® 0.013 mg/kgBW), and four treatment groups receiving Arenga pinnata leaf extract at doses of 100 mg/kgBW, 200 mg/kgBW, 300 mg/kgBW, and 400 mg/kgBW. After seven days of treatment, the mice were injected intraperitoneally with Staphylococcus aureus bacteria, and peritoneal fluid was collected for macrophage phagocytosis activity analysis under a microscope. The results showed that Arenga pinnata leaf extract significantly increased macrophage phagocytosis activity at 300 mg/kgBW and 400 mg/kgBW compared to the positive control. Phytochemical analysis revealed the presence of flavonoids, saponins, tannins, and triterpenoids, which contribute to its immunomodulatory effects. In conclusion, Arenga pinnata ethanol leaf extract exhibits potential as an immunomodulatory agent, particularly at 300 mg/kgBW and 400 mg/kgBW doses. However, further studies are necessary to explore its pharmaceutical applications and elucidate its mechanisms of action.
Enau Leaf (Arenga pinnata); Immunostimulant; Macrophage; Phagocytosis 2025-01-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53970 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v6i3.53970
1670745 #3029 Analysis of Waste Minimization in Production Time to Increase Production Effectiveness Ismail, Nalia El-Huda
Sutomo, Andri Nugraha Nugraha
Muchtaridi, Muchtaridi
Lean manufacturing has been widely applied in the industry as an effort to utilize resources efficientlyand systematically. The purpose of this study is to analyze waste time activities and to proposedminimize the time so it will increase the effectiveness of production sucralfate suspension at PT. X.The concept used in this research is lean manufacturing with a value stream mapping (VSM) approach.This method will make it easier to identify waste time activities through current state mapping, todetermine improvement points and to propose improvements by describing the value stream mapping.The research was carried out by calculating and mapping each step of the production of sucralfatesuspension. The total production time needed for the production of one batch of sucralfate suspensionis 5 hours 16 minutes with a value added activity time about 96%, and a necessary non value addedactivity time about 4%. The proposed improvement to minimize waste time is by carrying outproductions activities in parallel. Based on the proposed improvement, the total production time ofsucralfate syrup that can be reduced is 31 minutes.Keywords: Waste Time, Value Stream Mapping.
Waste Time, Value Stream Mapping. 2023-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34905 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v10i1.34905
1670744 #3029 In Vitro And in Vivo Antidiabetic Activity of Ethanol Extract and Fractions of Hibiscus surattensis L Leaves Yuliet, Yuliet
Sukandar, Elin Yulinah
Adnyana, I Ketut
Hisbiscus surattensis L the local name “tamoenju” is utilized by ethnic Sumari (Central Sulawesi) as an antidiabetic herbal, but de nitive studies on ef cacy and safety are lacking. Therefore, this study was aimed to investigate the antidiabetic activity of ethanolic extract of the leaves and fractions using in vitro and in vivo models. Ethanol extract (EE) of the leaves of H. surattensis L was prepared by maceration. The ethanol extract was separated into three fractions by liquid/liquid extractions to yield n-hexane (HF), ethyl acetate (EAF) and water fraction (WF). Firstly, the extract and fractions were tested for its inhibitory activity on α-glucosidase in vitro. The results showed IC50 EE, HF and WF more than 5000 ppm while the IC50 fraction of EAF 3888.34 ppm. Then, oral glucose tolerance test (OGTT) of the extract/fractions were carried out in normal mice. On OGTT, the ethanol extract, EAF, and WF at doses of 150 and 300 mg/kg BW were able to inhibit increasing the level of glucose in the blood. The results showed that the extract and fraction of H. surattensis L leaves in vitro had no effect as α-glucosidase inhibitor but in vivo had the hypoglycemic effect especially on the fraction of ethyl acetate and the water fraction. Key words: α-glucosidase, antidiabetic, Hibiscus suratttensis, glucose tolerance.
2018-06-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16120 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v1i1.16120
1670743 #3029 Formulasi dan Evaluasi Sediaan Mikrohidrogel dengan Kandungan Piperin sebagai Anti Jerawat Handayani, Retty
Auliasari, Nurul
Khaerunnisa, Clarissa F.
Kusumawardhana, Adith P.
Febriyanti, Raden Maya
Jerawat adalah kondisi peradangan kulit yang ditandai dengan pembentukan papula, komedo, pustula, jaringan parut, dan nodul. Meskipun perawatan jerawat secara konvensional telah tersedia yaitu dengan antibiotik, tetapi penggunaannya memiliki efek samping dan dalam penggunaan jangka Panjang menyebabkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mikro hidrogel topikal yang mengandung piperin sebagai obat anti jerawat yang potensial. Tiga formulasi yang mengandung piperin dengan variasi konsentrasi 10% (F1A), 20% (F1B), dan 30% (F1C) dibuat dengan menggunakan kitosan dan NaTPP sebagai basis mikrohidrogel. Konsentrasi hambat minimum (KHM) piperin terhadap Propionibacterium acne diuji dengan metode dilusi padat. Karakterisasi terhadap sifat fisikokimia mikrohidrogel dilakukan terhadap parameter organoleptic, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas, pH. Uji stabilitas terhadap formula dilakukan selama 28 hari. Dari ketiga formula, F1A menunjukkan aktivitas yang sedang terhadap Propionibacterium acne (diameter hambat 10.26 ± 0.57 mm) dan memenuhi persyaratan mutu untuk sediaan mikrohidrogel.
Anti jerawat; Mikrohidrogel; Piperin; Propionibacterium acne 2025-05-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57781 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v12i0.57781
1670742 #3029 Antioxidant Activity, Sun Protection Factor and Phytochemical Properties of Different Parts Sawo Walanda (Pouteria Campechiana (Kunth.) B.) Extract Fitriansyah, Sani Nurlaela
Fadhilah, Syifa
Ruslan, Komar
Hartati, Rika
Fidrianny, Irda
AbstractUV radiation can lead production of Reactive Oxygen Species (ROS) on the skin and can cause negative effects1. Sun protector and antioxidant ingredients are needed to protect the skin2. Phenolic compounds and flavonoids have been used as sun protectors and as antioxidants3. Pouteria campechiana is known for its high abundance of phenolic compounds4. This study reported the phytochemical group, total phenol and total flavonoid content, antioxidant activity, and sun protector factor of ethanol extracts of pulp, seed, leaves, and twigs of Pouteria campechiana. Determination of antioxidant activity, sun protection factor, and total phenol and total flavonoid content were carried out using UV-visible spectrophotometry. Crude drugs and extract of pulp, seed, twig, and leaves P.campechiana containing phenolic group, tannin, and flavonoid. The leaf extract had the highest total phenolic content, while the highest total flavonoid content was in the seed extract. All of the extracts tested had very strong antioxidant activity indicated by the Antioxidant Activity Index (AAI) to DPPH value, >2. At a concentration of 1000 µg/mL, the leaf extract showed the highest SPF value, 16.01 ± 0.38.The conclusion, the leaf extract had the potential to further as a natural antioxidant, and sun protector. AbstrakPaparan radiasi UV dapat meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) sebagai radikal bebas dan dapat menimbulkan efek negatif pada kulit. Dibutuhkan senayawa aktif sebagai fotoprotektor dan senyawa penangkal radikal bebas yang disebut antioksidan untuk melindungi kulit. Golongan senyawa fenol dan flavonoid dapat menyerap radiasi UV dan menangkal radikal bebas. Pouteria campechiana dilaporkan mengandung senyawa fenol. Penelitian ini melaporkan golongan senyawa kimia, kadar fenol dan flavonoid total, aktivitas antioksidan terhadap DPPH dan aktivitas fotoprotektor yang menggunakan parameter nilai Sun Protector Factor (SPF) dari ekstrak etanol daging buah, biji, ranting dan daun Poteria campechiana. Ativitas antioksidan, nilai SPF, kadar fenol total, dan flavonoid total diukur secara spektrofotometri UV-Sinar tampak. Hasil penelitin menunjukkan simplisia dan ekstrak etanol daging buah, biji, ranting dan daun P.campechiana mengandung golongan senyawa fenoli, tanin, dan flavonoid. Ekstrak etanol daun memiliki kadar fenol total tertinggi, sedangkan kadar flavonoid total tertinggi ada pada ekstrak etanol biji. Keempat ekstrak tergolong pada antioksidan sangat kuat, dengan parameter nilai AAI >2. Pada konsentrasi 1000 µg/mL, ekstrak daun menunjukkan nilai SPF tertinggi yaitu sebesar 16,01 ± 0,38. Kesimpulan, ekstrak etanol daun P.campechiana lebih berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku aktif antioksidan alami dan fotoprotektor.
Sawo walanda, antioxidant, DPPH, sun protection activity 2024-01-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50584 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v0i0.50584
1670741 #3029 Antibacterial Activity of Parijoto (Medinilla speciosa Blume) Fruit Against Serratia marcescens and Staphylococcus aureus Milanda, Tiana
Lestari, Keri
Tarina, Nimas T. I.
Parijoto (Medinilla speciosa Blume) is a plant found in Mount Muria, Kudus, Central Java. The local community often uses its fruit to treat various diseases, as well as antibacterial, anti-inflammatory, antioxidant, and anti-cancer. This study aimed to determine the antibacterial activity of n-hexane, ethyl acetate and methanol extract from parijoto fruit against Staphyococcus aureus ATCC 29213 and Serratia marcescens clinical isolates. Gradual maceration of simplicial and antibacterial activity testing of the extracts was performed, followed by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC), Minimum Bactericidal Concentration (MBC) and comparative antibacterial activity most active extract against ampicillin and cefadroxil. The results showed that all extracts exhibited activity against S. aureus ATCC 29213, but only ethyl acetate and methanol extracts had activity against S. marcescens clinical isolates. The highest antibacterial activity was shown by the methanol extract, which was more effective against S. aureus ATCC 29213, having the largest inhibition diameter and lowest MIC and MBC values (6.25 and 12.5 mg/mL). The comparative analysis indicated that the methanol extract demonstrated lower antibacterial activity against S. aureus ATCC 29213 than cefadroxil (72,511: 1). This antibacterial activity is presumed to be generated from alkaloids, polyphenols, tannins, flavonoids, quinones and saponina in the extract.Keywords: Amoxicillin, Cefadroxil, MIC, MBC
2021-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32166 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v8i2.32166
1670740 #3029 Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro Rusdiana, Taofik
Sriwidodo, Sriwidodo
Solahudin, Jajan
Halimah, Eli
Irwan, Aep W
Amin, Suseno
Sumiwi, Sri A
Abdassah, Marline
Tanaman seledri (Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37 oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%, Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5% dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal. Kata kunci: Antikalkuli, Apium graveolens L., batu ginjal, seledri
2015-06-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7812 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/ijpst.v2i2.7812
1670739 #3029 Identifikasi Potentially Inappropriate Medications Pada Pasien Geriatri di RSUD Inche Abdoel Moeis Ramadhan, Adam M
Pasien geriatri memiliki resiko lebih besar menerima terapi polifarmasi akibat penyakit dan komplikasi yang dideritanya yang membuat pasien geriatri lebih rentan terhadap penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat sehingga meningkatkan terjadinya risiko efek samping obat.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pasien dan mengidentifikasi terjadinya Potentially Inapropriate Medication (PIM) pada pasien geriatri rawat inap dengan diagnosis gangguan kardiovaskuler menggunakan kriteria Beers dan STOPP di RSUD Inche Abdoel Moeis tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan data retrospektif yang teknik pengambilan datanya dilakukan secara purposive sampling. Setelah dilakukan penelitian, didapatkan hasil berupa data pasien sebanyak 87 pasien yang meliputi karakteristik pasien geriatri dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 51 pasien (59%) dengan rentang usia 65-74 tahun sebanyak 64 pasien (74%), riwayat pendidikan pasien terbanyak adalah SMA sebanyak 25 pasien (25%) dengan pekerjaan pasien terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 45 pasien (52%). Berdasarkan analisis Potentially Inappropriate Medications (PIM) menggunakan kriteria Beers dari 72 kasus ditemukan sebanyak 13 kejadian (18,06%) dan berdasarkan kriteria STOPP dari 48 kasus ditemukan 3 kejadian (6,25%).
2024-09-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53555 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v6i1.53555
1670738 #3029 Optimasi Granul Effervescent Kombinasi Ekstrak Daun Kepel, Kulit Manggis dan Rimpang Kunyit Husein, Zulaikhah
diniatik, diniatik
Astuti, Ika Yuni
Hiperurisemia adalah suatu keadaan dimana kadar asam urat dalam tubuh lebih dari 7,0 mg/dL. Daun Stelechocarpus burahol, kulit Garcinia mangostana, dan rimpang temulawak memiliki aktivitas antihiperurisemia. Obat herbal yang mengandung ekstrak tumbuhan biasanya memiliki rasa pahit, sehingga dibuat butiran effervescent yang dapat meningkatkan rasa tidak enak dan memiliki efek menyegarkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimum kombinasi ekstrak granul effervescent daun kepel, kulit manggis dan rimpang kunyit. Optimasi Metode Faktorial 22 (Design Expert 13) dengan variabel bebas asam sitrat dan natrium bikarbonat. Kelembaban, waktu larut dan kecepatan alir sebagai variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa granul dengan komposisi asam sitrat 1800 mg dan natrium bikarbonat 2160 mg merupakan formula optimum dengan nilai prediksi kelembaban 1,435%, waktu larut 90,8 detik dan laju alir 12,64 g/detik dengan nilai desirability. dari 0,859. Formula optimum grnul effervescent memiliki nilai kadar air 1,21%, waktu larut 99,92 detik dan laju alir 11,69 g/detik.
Desain faktorial; Granul Effervescent; Optimasi 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48085 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v13i1.48085
1670737 #3029 Authentication of Lemongrass Oil By Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS) Combination Chemometrics Guntarti, Any
Pratiwi, Husnun Khairunnisa
Nurani, Laela Hayu
Gandjar, Ibnu Gholib
The addition of something foreign to lemongrass essential oil has been done since ancient times. One way is to add turpentine oil which aims to increase the volume and grade of the smell. The purpose of this study was to determine the authentication of citronella oil using the gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) method combined with multivariate PCA analysis. Fragrant lemongrass oil was isolated by distillation of water and using simplicia in the form of powdered dried Cymbpogon citratus leaves. The oil obtained was treated with anhydrous Na2SO4. The results of the characteristics and quality requirements of citronella oil are compared with the SNI. The results of GC-MS analysis were the relative levels of essential oils. The results of the characteristic test meet the quality requirements of SNI 06-3953-1995, except for the yield requirements. The results of analysis by GC-MS, the essential content of citronella oil was citronella (37.47%), geraniol (25.03%), trans-caryophilene (3.69%), citronellol (11.68%), and delta cadinene. (2.44%). Chemometric principle component analysis (PCA) can group samples of fragrant lemongrass oil, turpentine oil and lemongrass oil products on the market.
citronella oil, GC- MS, PCA, chemometric. 2022-12-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32558 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/ijpst.v9i3.32558
Menampilkan 2.421 - 2.440 dari total 1.550.696 data