| ID ↑ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1671901 | #7423 | PENDEKATAN STOCHASTIC FRONTIER PADA EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMI USAHATANI PADI (ORYZA SATIVA L.) DI KECAMATAN BURNEH, KABUPATEN BANGKALAN |
Rachmawati, Amirza Rizki Agustina, Nur Winda Dewi Rahman, Siti Nuridayanti Oktaviana, Tantria Maulidya, Weny Eka Wahyu |
AbstrakKecamatan Burneh merupakan salah satu wilayah penghasil padi tertinggi di Kabupaten Bangkalan. Namun, masih terdapat masalah inefisiensi pada usahatani padi di Kecamatan Burneh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis dan ekonomi serta penyebab inefisiensi usahatani padi di Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis fungsi produksi Stochastic Frontier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata petani padi di Kecamatan Burneh memiliki nilai efisiensi teknis sebesar 0,55, efisiensi alokatif sebesar 0,980 dan efisiensi ekonomi sebesar 0,424. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa rata-rata usahatani padi di Kecamatan Burneh efisien secara alokatif, tetapi tidak efisien secara teknis dan ekonomi.Kata kunci: Usahatani Padi, Produktivitas, Efisiensi, Sumber InefisiensiAbstractThe Burneh district is one of the highest rice producing regions of the district of Bangkalan. However, there is still an inefficiencies in the rice farming in the Burneh district. The study aimed to analyzed  technical and economic efficiency levels and causes of rice inefficiencies in Burneh district, the district of Bangkalan. The study use a quantitative descriptive method approached with a sample number of 68 respondents.the method  of  analysis  used is the stochastic  frontier  production  function  analysis. Researched shows that the average rice farmer in the Burneh district has a technical effieciency value of 0,55, alregional efficiency of 0,980 and economic efficiency of 0,424. It may be concluded, that the average rice farming in the Burneh district is allocative efficient, but not technically and economically efficient.Keywords: Rice Farming, Productivity, Efficiency, Sources of Ineficiency
|
2022-07-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40316 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i1.40316 | |
| 1671902 | #7423 | ANALISIS USAHA HIDROPONIK DI KOTA MAKASSAR (STUDI KASUS DELTA FARM) |
Kamaruddin, Citra Ayni Ma'ruf, Muhammad Imam ., Marhawati Basra, Amar Rahmawati, Dewi |
AbstrakAlih fungsi lahan menyebabkan semakin berkurangnya luas areal tanam sehingga dibutuhkan solusi mengenai hal ini. Salah satu solusi permasalahan tersebut adalah sistem budidaya dengan hidroponik, namun diperlukan analisis terkait keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha hidroponik Delta Farm dengan pendekatan titik impas atau Break Even Point (BEP). Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha pertanian yang menggunakan sistem hidroponik dalam membudidayakan tanaman, yakni Delta Farm. Pemilihan lokasi ini didasarkan secara purposive sampling dilihat lama usaha yang dijalankan karena Delta Farm merupakan perintis usahatani sayuran secara hidroponik di Kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 di Makassar, Sulawesi Selatan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, observasi dan wawancara. Data yang digunakan merupakan data primer hasil wawancara dengan Ibu Fenny, S.T., S.Pd. selaku pemilik Delta Farm. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usaha Delta Farm dalam budidaya sayuran hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) skala kecil menguntungkan. Hal ini dapat terlihat dari jumlah produksi yang melebihi BEP produksi sebanyak 7,75 kg, tingkat harga yang melebihi BEP harga sebesar Rp 6.039,02/kg, dan penerimaan yang melebihi BEP penerimaan senilai Rp 542.680,09.Kata kunci: hidroponik, titik impasAbstractThe conversion of land functions causes a reduction in the planted area, so a solution is needed. One solution to this problem is a hydroponic cultivation system, but an analysis is needed regarding the benefits obtained by using this system. This study aims to determine Delta Farm's hydroponic business's feasibility using the break-even point (BEP) approach. This study's population was agricultural entrepreneurs who use hydroponic systems in cultivating plants, namely Delta Farm. The location selection is based on purposive sampling based on the length of time the business has been running because Delta Farm is a hydroponic vegetable farming pioneer in Makassar City. This research was conducted in October 2020 in Makassar, South Sulawesi. This study used a literature search, observation, and interviews for data collection. Primary data from interviews with Ms. Fenny, S.T., S.Pd. as the Delta Farm owner are used in this study. This study's findings indicate that Delta Farm's efforts in small-scale Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic vegetable cultivation are profitable. It can be seen from the production amount that exceeds the production BEP of 7.75 kg, the price level that exceeds the BEP price of IDR 6,039.02 / kg, and the revenue that exceeds the BEP of IDR 542,680.09.Keywords: hydroponic, break-even point
|
2020-12-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/30920 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.30920 | |
| 1671903 | #7423 | ANALISIS PREFERENSI NASABAH USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) PENJUAL TANAMAN TERHADAP PENGGUNAAN APLIKASI BRIMO PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK |
sibuea, yohana Ramly, Amir Tengku Hidayah, Zainur |
Perkembangan layanan perbankan digital mendorong UMKM untuk beradaptasi dengan sistem transaksi non-tunai yang lebih efisien dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi nasabah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) penjual tanaman terhadap penggunaan aplikasi BRImo PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Penelitian dilaksanakan pada Agustus–Oktober 2025 di BRI Cabang Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan jumlah responden sebanyak 30 pelaku UMKM penjual tanaman yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis konjoin untuk mengukur tingkat kepentingan relatif (importance value) dan nilai utilitas (part-worth utility) dari lima atribut utama, yaitu kemudahan penggunaan, kelengkapan fitur UMKM, keamanan transaksi, biaya transaksi, dan promosi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan merupakan atribut paling dominan dengan tingkat kepentingan sebesar 28,6%, diikuti oleh kelengkapan fitur UMKM (24,1%) dan keamanan transaksi (21,3%). Nilai utilitas tertinggi terdapat pada level “sangat mudah digunakan”, “fitur lengkap”, dan “keamanan tinggi”. Sementara itu, biaya transaksi dan promosi digital memiliki pengaruh yang relatif lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa UMKM penjual tanaman bersikap rasional dan fungsional dalam mengadopsi BRImo dengan memprioritaskan efisiensi operasional dan dukungan langsung terhadap aktivitas usaha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan layanan BRImo yang lebih sesuai dengan kebutuhan UMKM sektor pertanian.
|
Agribisnis;Manajemen;sosial ekonomi; | 2025-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69477 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.69477 |
| 1671904 | #7423 | ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN BAWANG MERAH DI PROVINSI JAWA BARAT |
Pardian, Pandi Noor, Trisna I. Kusumah, Achdya |
ABSTRAKBawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan sayuran rempah yang umum dikonsumsi olehmasyarakat di Indonesia. BPS memperkirakan bahwa kenaikan harga bawang merah merupakanpenyebab terbesar ke dua setelah kenaikan BBM pada bulan Maret 2015. Rendahnya tingkatproduktivitas bawang merah dan karakteristik produksi bawang merah yang bergantung pada musimtidak mampu mengimbangi tingkat permintaan yang cenderung konstan. Kondisi ini menyebabkankesenjangan (gap) antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) sehingga menyebabkanfluktuasi harga antar waktu. Penelitian ini menganalisa permintaan dan penawaran bawang merah diIndonesia sehingga dapat dihasilkan rekomendasi kebijakan pengembangan bawang merah denganmelihat aspek penawaran dan permintaan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penawarandan permintaan bawang merah yang dilakukan secara kualitatif; serta analisis proyeksi pemetaanpenawaran dan permintaan bawang merah dilakukan secara kuantitatif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pola produksi bawang merah Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh 5 kabupatensentra produksi utama (Cirebon, Bandung, Majalengka, Garut, Kuningan). Produktivitas bawangmerah relatif stagnan karena belum terjadi perubahan yang signifikan terkait dengan teknologibudidaya dan pasca panen untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi permintaan, tingkat permintaanbawang merah cenderung mengikuti kenaikan jumlah penduduk. Ini menyebabkan Jawa Barat selaludefisit dalam ketersediaan bawang merah.Kata kunci: bawang merah, fluktuasi harga, penawaran, permintaanABSTRACTShallot (Allium ascalonicum L.) is one of the vegetables consumed by people in Indonesia. Bureau ofStatistics data shows that the increase of shallot price is the second most contributing factor afterthe rising petroleum price to the national inflation in March 2015. Low productivity and its seasonalproduction characteristics became hindrances at the production level, and thus limiting supplycapability to meet the demand. This situation has affected the supply and demand equilibrium bycreating a gap which leads to market price fluctuation. This study analyses shallot’s supply anddemand in order to formulate recommendations to the policy makers so that they are able to supportthe development of shallot by including the supply and demand elements in their policies. This studyutilizes qualitative and quantitative research methods in analyzing and mapping shallot’s supply anddemand. The results show that shallot’s national production is concentrated in 5 provinces (CentralJava, East Java, West Java, West Nusa Tenggara, and West Sumatera). The productivity is relativelylow and stagnant due to limited access to technology and good agricultural practices, in both pre-and post-harvest activities. As for the demand side, due to shallot’s inelastic characteristic, thedemand is constantly growing as the population gets higher. This condition has caused West Java tobe in a constant deficit situation for shallot.Keywords: shallot, price fluctuation, supply, demand
|
2016-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22711 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22711 | |
| 1671905 | #7423 | TINGKAT KEBERDAYAAN PETANI PADI SAWAH DI KECAMATAN TRIMURJO KABUPATEN LAMPUNG TENGAH |
Arianti, Dwi 'Afni, Nur Pujiana, Tri Rahmah, Karina |
AbstrakPangan merupakan komoditas penting karena sangat diminati dan merupakan kebutuhan pokok manusia. Berbagai upaya terus digiatkan demi terciptanya ketahanan pangan, salah satunya peningkatan kemampuan petani dengan peningkatan pemberdayaan petani dalam memanagemen kegiatan usahataninya khususnya di komoditas padi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat keberdayaan petani padi sawah di kecamattan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lampung Tengah sebagai sentral penghasil padi tertinggi di Provinsi Lampung. Pelaksanaanya dilakukan pada bulan Mei-Juli 2024. Metode penelitian ini dilaksanakan dengan teknik survey yang dilakukan melalui wawancara 98 responden petani. Analisis data menggunakan desain kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian yaitu tingkat keberdayaan petani padi sawah di Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah memiliki modus 3 atau klasifikasi tinggi.Kata kunci: Keberdayaan petani, penyuluh, sawah.AbstractFood is an important commodity because it is in great demand and is a basic human need. Various efforts continue to be intensified to create food security, one of which is increasing the ability of farmers by increasing farmer empowerment in managing their farming activities, especially in the lowland rice commodity. This study aims to describe the level of empowerment of lowland rice farmers in Trimurjo District, Central Lampung Regency. This research was conducted in Central Lampung Regency as the highest rice producing center in Lampung Province. It was implemented in May - July 2024. This research method was carried out using a survey technique conducted through interviews with 98 farmer respondents. Data analysis used a descriptive quantitative design. The results of the study were that the level of farmer empowerment had a mode of 3 or high classification.Keywords: Extention worker, empowertment farmer, rice field.
|
Sosial Ekonomi pertanian; Sosiologi Pertanian; Pembangunan Pertanian | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63365 buka_link ↗ Highlight_link |
| 1671906 | #7423 | PARTISIPASI PETANI DALAM PEMULIAN STEVIA (Kasus di Kelompok tani Mulyasari Ciwidey Kabupaten Bandung) |
Sukayat, Yayat Hapsari, Hepi Pardian, Pandi Supyandi, Dika |
ABSTRAKKebutuhan gula pasir yang bersumber dari tanaman tebu (Sacharum oficinarum L) untuk konsumsi rumah tangga dan industri pada tingkat nasional menempati posisi kedua setelah beras. Ketidakmampuan produksi nasional memaksa pemerintah membuka kran impor gula pasir untuk memenuhi kekurangan. Namun tetap saja kurang, sehingga ada indikasi industri makanan/minuman menggunakan gula sintetis. Oleh karenanya, tumbuh keinginan masyarakat untuk mencari alternatif pemanis alami berkalori rendah. Salah satu sumber pemanis tersebut adalah tanaman stevia (Stevia rebudiana). Namun hingga saat ini, pengembangan stevia nasional terkendala oleh ketersediaan benih. Peneliti dan pemulia Unpad melakukan rekayasa genetika stevia melalui induksi mutasi sinar gama dalam rangka menjawab kebutuhan tersebut. Agar komoditas ini adaptif dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, pemulia melibatkan masyarakat dalam pengembangannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterlibatan/partisipasi pengguna dalam pengembangan benih stevia hasil rekayasa tim Unpad, mengkaji faktor-faktor yang ada hubungannya dengan partisipasi petani dalam pengembangan stevia, dan menelaah faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penggunaan benih stevia Unpad. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi petani dalam pengembangan benih stevia adalah dalam bentuk ide/gagasan, kontribusi fisik dan kontribusi finansial. Partisipasi tidak terlepas faktor dukungan koperasi yang berfungsi sebagai penampung hasil, kelompok sebagai tempat belajar, dan petani anggota sebagai pelaku yang menjaga kuantitas dan kualitas produksi. Penggunaan benih stevia Unpad dipertimbangkan jika secara teknis stevia yang dikembangkan berumur pendek, memiliki rendemen gula yang tinggi, adaptif terhadap lingkungan, serta memiliki cabang yang cukup banyak. Kata kunci: pemuliaan stevia, partisipasi petaniABSTRACTThe need for sugar sourced from sugar cane (Sacharum oficinarum L) for household and industrial consumption at the national level occupies the second position after rice. The inability of national production forced the government to import sugar in order to meet the shortage. Import has not solved the problem, even there is an indication that food/beverage industries used synthetic sugar. Hence, desire of the community to find alternative natural low-calorie sweeteners has been growing. One of the sources of sweetener is stevia (Stevia rebudiana). Unpad researchers and breeders genetically modified stevia through induction of gamma rays in order to answer these needs. In order for this commodity to be adaptive and in accordance with the needs of users, breeders involved the community in its development. The purposre of this study was to describe the involvement/participation of users in the development of stevia seeds engineered by Unpad team, to examine factors that have to do with farmer participation in the development of stevia, and to study the factors that are considered in the use of Unpad stevia seeds. This research is descriptive qualitative research with case study techniques. The results showed that farmers' participation in the development of stevia seeds was in the form of ideas, physical contributions and financial contributions. Participation cannot be separated from several factors, namely the cooperative support, which functions as a place of results, the farmer group as a place of learning, and member farmers as actors who maintain the quantity and quality of production. The use of Unpad stevia seeds is considered if technically, developed stevia is short-lived, has a high sugar yield, is adaptive to the environment, and has quite a lot of branches.Keywords: stevia breeding, farmer participation
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18193 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.18193 | |
| 1671907 | #7423 | ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUK KERIPIK PISANG PADA KWT NINE SERU DI DESA LANTAN |
Puspayani, Ni Luh Mira Efendy, Efendy Mulyawati, Sri |
AbstrakAnalisis kelayakan usaha dilakukan terhadap aspek keuangan dari sebuah usaha untuk menentukan apakah usaha tersebut memberikan manfaat ekonomi atau tidak. Namun diketahui terdapat keterbatasan pengetahuan pelaku usaha (KWT Nine Seru) dalam menilai usahanya. Oleh karena itu, diperlukan analisis kelayakan usaha untuk menilai tingkat penerimaan dan pendapatan dari usaha keripik pisang yang dikelola. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan dari usaha keripik pisang yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Nine Seru di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan teknik R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha produk keripik pisang ini memiliki prospek yang menjanjikan dan memberikan keuntungan finansial dengan pendapatan bersih sebesar Rp.450.200,40 perbulan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,245 menunjukkan memenuhi syarat kelayakan finansial, yang berarti pendapatan yang dihasilkan cukup untuk menutupi biaya produksi dan menghasilkan keuntungan.Kata kunci: Kelayakan usaha, keripik pisang, KWT Nine Seru, Desa LantanAbstractThe feasibility analysis of a business focuses on the financial aspects to determine whether the venture provides economic benefits. However, it has been observed that there is a lack of knowledge among the business actors (KWT Nine Seru) in evaluating their operations. Therefore, a feasibility analysis is necessary to assess the level of revenue and income from the banana chip business they manage. This study aims to analyze the feasibility of the banana chip business operated by the Women Farmers Group (KWT) Nine Seru in Lantan Village, Batukliang Utara District, Central Lombok Regency. The methodology employed includes descriptive and quantitative analysis. Data analysis is conducted using the R/C ratio technique. The findings indicate that the banana chip product business has promising prospects and generates financial gains, with a net income of Rp.450.200,40 per month. Based on the analysis results, an R/C ratio of 1.245 was obtained, which signifies that it meets the financial feasibility criteria, meaning that the revenue generated is sufficient to cover production costs and yield a profit.Keywords: Business feasibility, banana chips, KWT Nine Seru, Lantan Village
|
Agribisnis | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58198 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.58198 |
| 1671908 | #7423 | PEMBUATAN TEPUNG UBI UNGU DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA UKM GRIYA KETELAQU DI KELURAHAN PLALANGAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG | Dhani, Ali Umar |
Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan upaya diversifikasi pangan ubi ungu mulai dari proses produksi tepung ubi ungu dari proses persiapan bahan baku, proses pembutan tepung ubi ungu, penanganan produk akhir meliputi pengemasan, penyimpanan, analisis usaha dan pemasaran, kondisi sarana dan prasarana yang digunakan. Kegiatan dilaksanakan di Industri Rumah Tangga UKM Griya Ketelaqu di Kelurahan Plalangan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Metode yang penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif  dengan melakukan observasi secara langsung, interview (wawancara) dan studi pustaka yang berkaitan dengan tepung ubi ungu.  Hasil penelitian menyimpulkan bahwa UKM Griya Ketelaqu memiliki kemampuan mengolah ubi ungu menjadi produk tepung ubi ungu. Selain olahan tepung ubi ungu UKM Griya Ketelaqu juga mengolah berbagai macam jenis tepung-tepungan seperti tepung umbi-umbian, tepung sayur-sayuran, tepung buah-buahan serta mengolah olahan dari ubi lainnya seperti timus, nugget, peyek tumpi dan singkong keju. Dalam setiap produksi UKM Griya Ketelaqu membutuhkan rata-rata 50 kg ubi ungu dan menghasilkan tepung ubi ungu 20 kg. Dengan demikian nilai rendemen tepung ubi ungu sebesar 40%. Keuntungan per bulan dari usaha produksi tepung ubi ungu oleh UKM Griya Ketelaqu adalah  Rp. 905.000,- perbulan.. Tepung Ubi Ungu dapat menjadi alternatif diversifikasi pangan karena memiliki kemampuan menghasilkan beberapa produk pangan yang disukai oleh masyarakatKata Kunci: ubi ungu, diversifikasi, tepung, usaha kecil menengahAbstractThis paper aims to highlight the effort of purple sweet potatoes flour diversification beginning from the process of producing sweet potatoes flour from the preparation of raw material, the process of making sweet potatoes  flour, the handling of the final product including packaging, storage, business analysis and marketing, the condition of the facilities and infrastructure used. The activity was carried out at the UKM (Small Medium Enterprise) Griya Ketelaqu Home Industry in Plalangan Village, Gunungpati District, Semarang. The method used is descriptive exploratory research by direct observation, interviews with the owner and literature studies relating to purple sweet potato flour. The results of the study concluded that UKM Griya Ketelaqu had the ability to process purple sweet potatoes into purple sweet potato flour products. In addition to processed purple sweet potatoes flour UKM Griya Ketelaqu also processes various types of flour such as tuber flour, vegetable flour, fruit flour as well as processing processed from other sweet potatoes such as timus, nuggets, tofu and cassava cheese. Thus the yield of purple sweet potato flour by 40%. The profit per month from the purple sweet potato flour production business by Griya Ketelaqu UKM is Rp.605,000 per month. Purple sweet poatoes flour can be an alternative food diversification because it has the ability to produce some food products that are preferred by the community.Keywords: purple sweet potatoes, diversified, flour, small and medium enterprise
|
2020-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27701 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i1.27701 | |
| 1671909 | #7423 | PERAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI HUTAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS KOPI DI KABUPATEN GOWA (Studi Kasus di Kelompok Tani Parang Maha Kelurahan Bontolerung Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa) |
Pawarrang, Wiraputra Ibrahim, Helda Rahman, Syamsul |
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelembagaan kelompok tani hutan dalam pengembangan agribisnis kopi, dengan fokus pada Kelompok Tani Parang Maha di Desa Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan pengukuran Skala Likert. Responden ditentukan dengan teknik purposive sampling sebanyak 25 orang yang terdiri atas ketua dan anggota kelompok. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner berbasis Skala Likert, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan sikap, persepsi, dan pengalaman responden terkait peran kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi kelembagaan yang paling signifikan adalah dalam mendukung kesejahteraan anggota melalui kegiatan produktif, dengan skor indeks sebesar 97,60%. Dalam hal fungsi kelembagaan, skor tertinggi (93,60%) adalah dalam menjalin kolaborasi dengan lembaga pemerintah, LSM, dan swasta. Mengenai inovasi kelembagaan, peran kelompok dalam mendorong adopsi teknologi dalam produksi dan pengolahan mendapat skor 92,80%. Secara keseluruhan, peran kelembagaan Kelompok Tani Parang Maha dalam mengembangkan agribisnis kopi termasuk dalam kategori sangat tinggi. Temuan ini menyoroti peran strategis kelembagaan kelompok tani dalam memperkuat kapasitas bisnis, meningkatkan kesejahteraan anggota, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang agribisnis kopi berbasis masyarakat lokal.Kata Kunci : Peran Kelembagan, Kelompok Tani Hutan, Agribisnis Kopi.AbstractThis study aims to analyze the institutional role of forest farmer groups in coffee agribusiness development, focusing on the Parang Maha Farmer Group in Bontolerung Village, Tinggimoncong District, Gowa Regency, South Sulawesi Province. The research method used is descriptive with a qualitative approach combined with Likert Scale measurements. Respondents were determined using a purposive sampling technique of 25 people consisting of group leaders and members. Data were collected through interviews, observations, and Likert Scale-based questionnaires, then analyzed using qualitative descriptive methods to describe respondents' attitudes, perceptions, and experiences regarding institutional roles. The results show that the most significant institutional contribution is in supporting member welfare through productive activities, with an index score of 97.60%. In terms of institutional function, the highest score (93.60%) was in establishing collaboration with government agencies, NGOs, and the private sector. Regarding institutional innovation, the group's role in encouraging technology adoption in production and processing received a score of 92.80%. Overall, the institutional role of the Parang Maha Farmer Group in developing coffee agribusiness is categorized as very high. These findings demonstrate the strategic role of farmer group institutions in strengthening business capacity, improving member welfare, and supporting the long-term sustainability of local community-based coffee agribusiness.Keywords: Institutional Role, Forest Farmer Groups, Coffee Agribusiness.
|
agribisnis | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66370 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.66370 |
| 1671910 | #7423 | KAJIAN KEMITRAAN PETANI PAPRIKA (capsicum annum) DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI (Studi Kasus pada Petani Paprika Desa Cibodas Kabupaten Bandung Barat) | Syamsiyah, Nur |
ABSTRAKTujuan penulisan ini adalah mengkaji kemitraan usaha yang dilakukan petani paprika denganKostaman Fruits and Vegetables Suppliers dalam meningkatkan pendapatan petani paprika DesaCibodas Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Pola kemitraan yang terjadi pola kemitraandagang umum, petani paprika berada pada subsistem kegiatan produksi dan Kostaman Fruit andVegetables Supplier pada subsistem pemasaran hasil produksi. Metode penelitian dilakukan dengandesain kualitatif dengan melakukan teknik studi kasus (case study). Keunggulan pola kemitraankemitraan ini adalah peningkatan pendapatan bagi petani paprika dan Kostaman Fruits and VegetablesSuppliers, kendala dan manfaat dari kemitraan usaha, kendala teknis berkaitan dengan faktor cuacayang tidak menentu. Manfaat yang diperoleh dari proses kemitraan bagi petani adalah jaminan hargadan pasar, peningkatan pendapatan. Kostaman Fruits and Vegetables Supplier memperoleh jaminanpasokan paprika sehingga mampu memenuhi permintaan konsumen. Pembagian marjin pada setiappelaku kemitraan, Margin petani sebesar 40,52 % dan margin Kostaman Fruits and VegetablesSupplier sebesar 59,48 %. Kemitraan antara petani paprika dan Kostaman Fruits and VegetablesSupplier menguntungkan kedua belah pihak.Kata kunci : Kemitraan, Paprika, PendapatanABSTRACTThe main objective of studies to analyse business partnership paprika farmers and Kostaman Fruitsand Vegetables Suppliers in increasing the farmers incomes in Cibodas Village, Lembang West JavaRegency. Types partnership general trade, paprika farmer in a place production subsystem andKostaman Fruits and Vegetables Supplier in marketing product subsystem. This research design wasqualitative and used case study research technique. The advantages of business partnership areincreasing income for paprika farmers and Kostaman Fruit and Vegetables Suppliers, contraints andbenefit of partnership, technical contraints be related to uncertainty weather. Benefit of partnershipfor paprika farmers, price and market assurance, increasing incomes. Kostaman Fruits andVegetables Supplier acquiring quarantee paprika supply to able consumer demand. Distribution ofmargin on every offender partnership. Farmers margin 40,52 % and Kostaman Fruits and VegetablesSupplier margin 59,48 %. The partnership between the paprika farmer and kostaman Fruits andVegetables Supplier benefits both sides.Keywords : Partnership, paprika, Farmer’s Income
|
2016-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22692 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22692 | |
| 1671911 | #7423 | RESPON WANITA TANI TERHADAP KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN DALAM PROGRAM PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) DI KOTA PALEMBANG |
Sunjaya, Sunjaya Oktarina, Selly Saefudin, Akbar |
AbstrakSebuah respon dapat diartikan sebagai reaksi terhadap pengamatan suatu objek. Dalam konteks ini, respon perempuan tani mencerminkan persepsi dan perilaku mereka, meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menanggapi peran penyuluh pertanian. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan respon wanita tani terhadap program penyuluhan pertanian P2L di Palembang. Studi deskriptif kuantitatif ini dilakukan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di empat kecamatan Palembang, dengan pengumpulan data pada Juni-Juli 2024. Data primer dan sekunder diperoleh dari subjek yang dipilih melalui purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon wanita tani yang dianalisis melalui aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan, mengalami peningkatan signifikan setelah mengikuti kegiatan penyuluhan dalam program P2L, sehingga mereka kini mampu melakukan kegiatan budidaya tanaman hortikultura secara mandiri mulai dari penyemaian samapai panen, mengatasi kendala selama budidaya, serta memanfaatan lahan pekarangan secara optimal.Kata kunci: Wanita tani, pekarangan pangan lestari, respon.AbstractA response can be interpreted as a reaction to the observation of an object. In this context, farm women's responses reflect their perceptions and behaviors, including knowledge, attitudes, and skills in responding to the role of agricultural extension workers. This study was conducted to describe farm women's responses to the P2L agricultural extension program in Palembang. This descriptive quantitative study was conducted at the Food Security and Agriculture Office and Agricultural Extension Centers (AEC) in four sub-districts of Palembang, with data collection in June-July 2024. Primary and secondary data were obtained from subjects selected through purposive sampling, then analyzed using the Likert Scale. The results showed that the responses of farm women, which were analyzed through aspects of knowledge, attitudes, and skills, experienced a significant increase after participating in extension activities in the P2L program, so that they are now able to carry out horticultural cultivation activities independently from seeding to harvesting, overcoming obstacles during cultivation, and making optimal use of yard land.Keywords: Farm women, response, sustainable food yard.
|
P2L; Wanita Tani; Respon | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62054 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.62054 |
| 1671912 | #7423 | INNOVATION OF LEMBANG VOCATIONAL TRAINING CENTER TO CREATE AGRICULTURAL ENTREPRENEUR |
Setiawan, Timotius Purnomo, Dwi Ernah, Ernah |
ABSTRACTLembang Vocational Training Center (Balai Latihan Kerja/BLK Lembang) is a government vocational training institution in charge of organizing vocational training in agriculture/agribusiness for the community, especially job seekers. The challenge faced by BLK Lembang is to create agricultural entrepreneurs expected to reduce 1.8 million unemployed in West Java (BPS, 2017). This study aims to investigate the innovations undertaken by BLK Lembang in creating agricultural entrepreneurs through agricultural vocational training. The study was conducted from November to December 2017 at BLK Lembang using qualitative descriptive method. Data were collected through secondary data, observation, in-depth interviews, and Focus Group Discussion (FGD) to several key informants. The results of this study showed that BLK Lembang has performed innovations in its vocational training system in order to create agricultural entrepreneurs that include: vision and planning, demonstration and training facilities, capacity building for instructor, training program development, training contents development, utilization of material practice, On Job Training Program, and networking. In the future, BLK Lembang will take opportunities for innovation in management and work culture, human resources, training programs, membership, facilities and partnership to improve its training system and quality in order to create more agricultural entrepreneurs. Keywords: agricultural entrepreneur, agricultural innovation system, agricultural vocational training ABSTRACTBalai Latihan Kerja (BLK) Lembang adalah lembaga pelatihan kerja pemerintah yang bertugas menyelenggarakan pelatihan kerja di bidang pertanian/ agribisnis bagi masyarakat, terutama pencari kerja. Tantangan yang dihadapi oleh BLK Lembang adalah menciptakan wirausaha pertanian yang diharapkan dapat mengurangi 1,8 juta penganggur di Jawa Barat (BPS, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi yang dilakukan oleh BLK Lembang dalam menciptakan wirausaha pertanian melalui pelatihan kerja bidang pertanian. Penelitian dilakukan dari November hingga Desember 2017 di BLK Lembang dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui data sekunder, observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD) kepada beberapa informan kunci. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa BLK Lembang telah melakukan inovasi dalam sistem pelatihan kerjanya untuk menciptakan wirausaha pertanian yang meliputi: visi dan perencanaan, fasilitas peraga dan pelatihan, pengembangan kapasitas untuk instruktur, pengembangan program pelatihan, pengembangan materi pelatihan, pemanfaatan bahan latihan, Program On-Job Training dan jaringan kerja sama. Di masa mendatang, BLK Lembang akan memanfaatkan peluang-peluang untuk inovasi dalam aspek manajemen dan budaya kerja, sumber daya manusia, program pelatihan, kepesertaan, fasilitas, dan jaringan kerja sama untuk meningkatkan sistem dan kualitas pelatihan dalam rangka menciptakan lebih banyak wirausaha pertanian.  Kata kunci: wirausaha pertanian, sistem inovasi pertanian, pelatihan kerja pertanian
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16504 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.16504 | |
| 1671913 | #7423 | TINGKAT PENGETAHUAN PETANI PADI TERHADAP PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PRODUKSI GABAH BERKUALITAS |
Wiyono, Sulistyodewi Nur Heryanto, Mahra Arari Utami, Hesty Nurul |
AbstrakKualitas beras dapat ditentukan dari proses pengolahan di pabrik penggilingan gabah. Pabrik penggilingan gabah akan lebih mudah mengolah gabah berkualitas standar sehingga petani diharapkan dapat memenuhi permintaan kualitas gabah berkualitas tertentu. Namun, di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, sebagai salah satu sentra produksi beras nasional, produksi gabah berkualitas standarnya masih belum tercapai. Pada umumnya kualitas beras yang dihasilkan dari produsen beras di Indramayu memiliki kualitas medium akibat dari bahan baku gabah yang belum berkualitas premium sehingga pada penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan petani padi terhadap prosedur operasional standar produksi gabah berkualitas. Metode penelitian dilakukan dengan teknik survei yang dilakukan melalui wawancara 100 responden petani padi yang diambil secara acak di dua kecamatan dengan luas lahan padi terbesar di Kabupaten Indramayu. Analisis data menggunakan desain kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan petani padi di Kabupaten Indramayu masih termasuk “sedang”.Kata kunci: pengetahuan petani, gabah berkualitas, prosedur operasional standarAbstract The quality of rice can be determined from the processing process at the grain milling factory. Grain milling factories will more easily process standard quality grain so that farmers are expected to meet the demand quality grain. In general, the quality of rice produced from rice producers in Indramayu has medium quality due to the raw material of grain that has not been premium quality; hence, this study aims to determine the level of knowledge of rice farmers on standard operating procedures for quality grain production. The research method was conducted with a survei technique conducted through interviews with 100 rice farmer respondents taken randomly in two sub-districts with the largest rice land area in Indramayu Regency. Data analysis used a descriptive quantitative design. The results showed that the level of knowledge of rice farmers in Indramayu Regency is still included as “medium”. Keywords: farmer knowledge, quality grain, standard operating procedures
|
Sosial Ekonomi Pertanian | 2024-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55229 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i1.55229 |
| 1671914 | #7423 | STRUKTUR PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI DESA KARANGPARI KECAMATAN RANCAH KABUPATEN CIAMIS |
Nurahman, Ivan Sayid Sudrajat, Sudrajat Noor, Trisna Insan |
Abstrak Jagung merupakan salah satu komoditas pangan yang mempunyai peran strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian nasional. Komoditas ini berfungsi multiguna, baik untuk pangan maupun pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani jagung, pendapatan petani jagung dan bagaimana struktur pendapatan petani jagung di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan mengambil sampel sebanyak 32 petani jagung menggunakan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis usahatani dan analisis struktur pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani jagung rata-rata berumur 43 tahun, pendidikan formal yang ditamatkan sebagian besar hanya sampai SD, lahan usatahatani jagung tergolong luas pada lahan kering, pengalaman usahatani selama 7 tahun, tanggungan keluarga sebanyak 3 orang. Rata-rata pendapatan petani jagung sebesar Rp. 8.493.194,- yang diperoleh dari penerimaan Rp. 14.400.000,- dikurangi biaya total sebesar Rp. 5.906.806,- per musim tanam. Struktur pendapatan petani jagung per tahun di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis di dominasi oleh pendapatan sektor pertanian sebesar 62,03 persen, sedangkan pendapatan dari sektor non pertanian berkontribusi sebesar 37,97 persen.Kata kunci : struktur, pendapatan, petani, jagung. Abstract Corn is a food commodity that has a strategic role in agricultural development and the national economy. This commodity has a multipurpose function, both for food and feed. This study aims to determine the characteristics of corn farmers, corn farmers' income and how the income structure of corn farmers in Karangpari Village, Rancah District, Ciamis Regency. This research is a quantitative descriptive study by taking a sample of 32 corn farmers using simple random sampling. The data collected includes primary data and secondary data. Data analysis was carried out using farming analysis and income structure analysis. The results showed that the average corn farmer was 43 years old, most of the formal education completed was only up to elementary school, the corn farming area was classified as large on dry land, farming experience for 7 years, family dependents were 3 people. The average income of corn farmers is Rp. 8,493,194, - which is obtained from the receipt of Rp. 14,400,000, - minus the total cost of Rp. 5,906,806, - per growing season. The income structure of corn farmers per year in Karangpari Village, Rancah District, Ciamis Regency is dominated by income from the agricultural sector by 62.03 percent, while income from the non-agricultural sector contributes 37.97 percent.Keywords: structure, income, farmers, corn.
|
2022-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38259 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.38259 | |
| 1671915 | #7423 | INOVASI PRODUK OLAHAN SUKUN SEBAGAI PANGAN UNGGULAN LOKAL (STUDI KASUS UMKM BUMDES TEMMAPPETUE TEAMALALA KABUPATEN BONE) |
ramadhan, ramadhan Rahman, Syamsul Ibrahim, Helda |
Abstrak Kabupaten Bone dikenal sebagai salah satu penghasil utama sukun (Artocarpus altilis) di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.  Upaya peningkatan nilai tambah sukun dilakukan melalui usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak dibidang pengolahan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Temmappettue di Kecamatan Ulaweng merupakan salah satu inisiatif lokal yang berfokus pada pengolahan sukun menjadi produk turunan seperti keripik dan tepung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi produk pada usaha pengolahan sukun berbasis UMKM dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi prioritas yang tepat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi literatur. Data dianalisis menggunakan pendekatan SWOT yang dilanjutkan dengan konstruksi matriks IFAS dan EFAS untuk memperoleh posisi strategi perusahaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada keunikan produk yang khas dan kepemilikan sertifikasi produk berupa, PIRT, Halal, dan HAKI, sementara kelemahan pada inovasi yang belum rutin dan terstruktur dan kapasitas produksi yang masih terbatas. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah permintaan pasar yang tinggi dan dukungan kebijakan pemerintah untuk pengembangan inovasi pangan lokal, sedangkan ketersediaan dan harga bahan baku yang fluktuatif menjadi ancaman meskipun tidak begitu signifikan. Pemetaan SWOT menempatkan UMKM sukun pada Kuadran I (strategi agresif), sehingga strategi pengembangan yang disarankan adalah pengembangan inovasi melalui  diversifikasi produk, otomatisasi produksi, optimalisasi digital marketing, serta penguatan branding dengan memanfaatkan sertifikasi legalitas. Studi ini menyimpulkan bahwa produk olahan sukun dari  UKM di bawah BUMDes Temmappettue Teamalala Kabupaten Bone berpotensi besar untuk ditingkatkan daya saingnya melalui adaptasi teknologi untuk  meningkatkan kapasitas produksi,  dan membuka akses pasar yang lebih luas, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan masyarakat desa.Kata kunci: Inovasi Produk, Pengolahan Sukun, BUMDes Temmappettue.Abstract Bone Regency is recognized as one of the main producers of breadfruit (Artocarpus altilis) in Indonesia, particularly in South Sulawesi. Efforts to increase the added value of breadfruit have been carried out through small and medium enterprises (SMEs) engaged in processing activities. Temmappettue Village-Owned Enterprise (BUMDes) in Ulaweng District represents a local initiative focusing on breadfruit processing into derivative products such as chips and flour. This study aims to analyze product innovation in breadfruit-based SMEs by identifying internal and external factors and formulating appropriate priority strategies. The research employed a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature review. Data were analyzed using the SWOT approach, followed by the construction of IFAS and EFAS matrices to determine the company’s strategic position. The findings indicate that the main strengths lie in the uniqueness of the products and the possession of product certifications such as PIRT, Halal, and Intellectual Property Rights (IPR), while weaknesses include unstructured and irregular innovation activities and limited production capacity. Opportunities to be leveraged consist of high market demand and supportive government policies for local food innovation, whereas fluctuating availability and prices of raw materials pose a relatively minor threat. The SWOT mapping positions the breadfruit SME in Quadrant I (aggressive strategy), suggesting that the recommended development strategies include product diversification, production automation, optimization of digital marketing, and brand strengthening through legal certifications. This study concludes that breadfruit-based products managed by the Temmappettue Teamalala BUMDes in Bone Regency have considerable potential to enhance competitiveness through technological adaptation to increase production capacity, expand market access, and contribute to local food security and rural community welfare.Keywords: Product Innovation, Breadfruit Processing, Temmappettue BUMDes.
|
Agribisnis | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67044 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.67044 |
| 1671916 | #7423 | IDENTIFIKASI LACTOBACILLUS GASSERI DARI ASI: KARAKTERISASI DAN PENGUJIAN BIOKIMIA |
Hanidah, In-In - Erlangga, Dimas Sumantri, Debby M Wardani, Willa Kusumah |
ABSTRAK ASI dari ibu yang sehat memiliki potensi yang besar mengandung bakteri probiotik spesies Lactobacillus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20% dari sampel lima ASI Ibu menyusui usia 12 – 60 hari setelah melahirkan mengandung bakteri probiotik Lactobacillus gasseri dengan karakteristik morfologi: gram positif, katalase negative, non motil, anaerob, bentuk koloni bulat dengan permukaan cembung, warna koloni putih susu agak krem, tekstur koloni agak keras, koloni tumbuh dibagian tengah media agar (anaerob), sel berbentuk basil dengan ukuran sel 2,0 µm. sedangkan uji biokimia menunjukkan bahwa isolate L. glasseri terseleksi mampu menguraikan: D-Cellobiose, Saccharose, Maltotriose, Phosphatase, Leucine Arylamidase, Tryosine Arylamidase, Arbutin, Esculin hydrolysis, Ala-Phe-Pro_Arylamidase, N-Acetyl-D-Glucosamine, Phenylalanine Arylamidase, D-Glukose, 5-Bromo-4-chloro-3-indoxyl-beta-glucoside, L-Proline Arylamidase, D-Mannose, Arginine GP, D-Maltose. Kata kunci: Lactobacillus gasseri, probiotik, ASI. ABSTRACT Breast milk from healthy mothers has a great potential to contain the probiotic bacteria of the Lactobacillus species. The results showed that 20% of the five samples of breast milk, at days 12 to 60 after birth contained probiotic bacteria of Lactobacillus gasseri with morphology of bacterial: gram-positive, catalase- negative, non-motile, anaerob, rounded colony shape with convex surface, the color colony of slightly creamy, rather hard colony texture, anaerobic, basil-shaped cells with a cell size of 2.0 μm. Biochemical tests show that selected L. glasseri isolates are able to decipher: D-Cellobiose, Saccharose, Maltotriose, Phosphatase, Leucine Arylamidase, Tryosine Arylamidase, Arbutin, Esculin hydrolysis, Ala-Phe-Pro_Arylamidase, N-Acetyl-D-Glucosamine, Phenylalanine Arylamidase, D-Glukose, 5-Bromo-4-chloro-3-indoxyl-beta-glucoside, L-Proline Arylamidase, D-Mannose, Arginine GP, D-Maltose. Keywords: Lactobacillus gasseri, probiotic, breast milk
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21313 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.21313 | |
| 1671917 | #7423 | Analisis Risiko Produksi Anggrek di Estie’s Orchid Desa Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok |
Annas, Fathia Utami Azzahra, Fatimah Mahatmayana, I Ketut Manu |
AbstrakIndonesia memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk dalam sektor florikultura yang berkontribusi besar terhadap perekonomian. Tanaman anggrek menjadi salah satu komoditas unggulan, namun produksinya mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik di tingkat nasional maupun di Kota Depok. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian pemerintah dan teknologi yang masih sederhana dalam perbanyakan anggrek. Kebun Anggrek Estie’s Orchid, yang sudah berdiri sejak 1998, menjadi pelaku utama dalam budidaya anggrek di Kecamatan Limo, namun menghadapi risiko produksi tinggi, terutama pada fase pembibitan dengan tingkat kegagalan hingga 30%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko produksi anggrek di Kebun Anggrek Estie’s Orchid, dengan fokus pada identifikasi risiko utama, akar penyebabnya, pengukuran tingkat risiko, serta penentuan prioritas risiko dan strategi mitigasinya. Metode yang digunakan adalah gabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods), dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis risiko dilakukan menggunakan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) dan Diagram Pareto untuk menentukan prioritas risiko. Hasil penelitian mengidentifikasi 28 risiko produksi, dengan 10 di antaranya masuk dalam kategori prioritas, termasuk kerusakan bibit akibat kesalahan dalam kultur jaringan dan serangan virus. Strategi mitigasi disusun berdasarkan masukan ahli dan mencakup peningkatan pelatihan, perbaikan SOP, dan pengendalian lingkungan budidaya.Kata kunci: Anggrek, diagram pareto, FMEA, produksi, risiko.AbstractIndonesia has high biodiversity, including in the floriculture sector, which contributes significantly to the economy. Orchids have become one of the leading commodities; however, their production has experienced a significant decline in recent years, both nationally and in Depok City. One of the causes is the lack of government attention and the use of simple technology in orchid propagation. Estie’s Orchid Garden, established in 1998, is a key player in orchid cultivation in Limo District but faces high production risks, especially during the seedling phase, with failure rates reaching up to 30%. This study aims to analyze the production risks of orchids at Estie’s Orchid Garden, focusing on identifying the main risks, their root causes, measuring risk levels, determining risk priorities, and formulating mitigation strategies. The research uses a mixed-methods approach, combining both quantitative and qualitative methods, with data collection techniques including interviews, observations, documentation, and literature review. Risk analysis is performed using Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) and Pareto Diagram to prioritize risks. The study identifies 28 production risks, with 10 of them falling into the priority category, including seedling damage due to errors in tissue culture and virus attacks. Mitigation strategies are formulated based on expert input, including improved training, refining standard operating procedures (SOPs), and better environmental control in cultivation.Keywords: Orchids, pareto diagram, FMEA, production, risk.
|
Manajemen Agribisnis | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63087 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63087 |
| 1671918 | #7423 | ANALISIS BAURAN PEMASARAN BERAS INSTANT SEBAGAI PRODUK BARU DI PASAR KOTA BENGKULU |
Pramudita, Ivo Imtar Janah, Miftahul Sari, Fitriana Permata |
ABSTRAK Ubi kayu, ubi jalar, dan jagung merupakan sumberdaya lokal Bengkulu yang potensial untuk dikembangkan sebagai produk inovatif berupa beras instan sumber karbohidrat alternatif (Asriani, 2016). Beras instan ubi kayu, ubi jalar, dan jagung sebagai produk baru tidak selalu dapat langsung diterima oleh calon konsumennya, dalam pengembangannya perlu dikaji bagaimana bauran pemasaran beras instan untuk melihat pada posisi manakah beras instan pada saat ini. Dengan mengetahui posisi tersebut, akan memberikan kemudahan dalam penyusunan strategi pemasaran beras instan agar dapat diterima dengan baik oleh calon konsumennya. Analisis Bauran Pemasaran harus terus dilakukan, salah satunya adalah dengan didasarkan pada 4P (Product,Price, Promotion, Place) terhadap beras instan. Melalui hasil analisis Matrik Internal Eksternal (IE) secara deskriptif kualitatif Beras Instan berada pada sel I dengan total skor faktor internal sebesar 3,611549 dan faktor eksternal sebesar 3,110227 yang menggambarkan bahwa keadaan Beras Instan pada saat ini sedang tumbuh dan membangun (Grow end build), yaitu beras instan berada pada tahap pengembangan produk. Hal tersebut didukung dengan adanya kemudahan beras instan dalam pengolahannya menjadi nasi, praktis dan sehat serta terus dilakukannya pengenalan-pengenalan beras instan kepada calon konsumen. Kata kunci: beras instan, sumber karbohidrat, bauran pemasaran, matrik IE ABSTRACT Cassava, sweet potatoes, and corn are the potential local resources of Bengkulu to be developed as innovative products of instant rice of alternative carbohydrate sources (Asriani, 2016). Instant rice cassava, sweet potato, and corn as a new product cannot always be directly accepted by prospective customers, in its development need to be studied how marketing mix of instant rice to see at which position instant rice at this time. By knowing the position, will provide convenience in the preparation of instant rice marketing strategy to be well received by prospective customers. Marketing mix analysis should continue, one of which is based on 4P (Product, Price, Promotion, Place) on instant rice. Through the analysis of External Internal External (IE) is qualitative descriptive Instant Rice resides in cell I with total internal factor score of 3.611549 and external factor of 3.110227 which illustrates that the state of Instant Rice is currently growing and building (Grow end Build), ie. instant rice is at the stage of product development. This is supported by the ease of instant rice in processing into rice, practical and healthy and continuous introduction of instant rice introductions to prospective customers. Keywords: instant rice, carbohydrate source, marketing mix, IE matrix
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15147 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15147 | |
| 1671919 | #7423 | MERAPAT KE TENGKULAK: MENGUKUR RISIKO DALAM PERTANIAN TEBU |
Aflah, Bryan Marshal Chuluqy, Mohammad Rafi Prasetyo, Sigit Budi |
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang resiko dalam pertanian tebu dan mekanisme pengurangan resiko melalui tengkulak. Ruang lingkup penelitian ini terdiri atas resiko dalam pertanian tebu mulai dari awal penanaman, perawatan, hingga panen. Selain itu, tengkulak akan menjadi titik aksentuasi karena peran mereka sebagai penyelamat petani tebu dengan model patron-klien. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, dalam pendekatan fenomenologi peneliti berusaha memahami arti dari berbagai peristiwa dalam setting tertentu dengan kacamata peneliti sendiri. Penggunaan pendekatan ini dimulai dengan sikap diam, ditunjukkan untuk menelaah apa yang sedang dipelajari. Cara fenomenologi menekankan berbagai aspek subjektif dari perilaku manusia, selanjutnya peneliti berusaha memahami bagaimana subjek memberi arti terhadap peristiwa peristiwa yang terjadi di sekitar kehidupannya. Hal ini berelevansi dengan bagaimana petani disulitkan dengan resiko pada saat awal penanaman, perawatan, dan panen. Pembahasan akan meliputi tentang dinamika kehidupan petani tebu yang dimana sangat bergantung pada tengkulak. Tengkulak berperan sentral pada 3 aras, sebagai pemberi modal, pemberi pupuk, dan pembuka jaringan pemasaran. Hal ini membawa penelitian ini pada kesimpulan petani tebu mempunyai resiko yang sangat kompleks terkait dengan komoditas tebu mereka, yang dimana resiko ini dapat diminimalisir dengan merapat ke tengkulak, sebagai penyelamat mereka.Kata kunci: Petani Tebu, Tengkulak, Patron-Klien, Resiko, Dinamika Pertanian TebuAbstract The purposes of this study are the determines the risks in sugarcane farming and risk reduction mechanisms through the middleman. Moreover, the middlemen will be the point of accentuation because of their role as saviors for the farmers of sugarcane with a patron-client model. In this study, the researcher uses a phenomenology approach that tries to understand the meaning of various events in specific settings from the researcher's own perspective. The use of this approach begins with silence, indicated to examine what is being learned. The way of phenomenology emphasizes various subjective aspects of human behavior, then the researcher tries to understand how the subject gives meaning to the events that occur around his life. This is relevant to how farmers are faced with risks at the beginning of planting, maintenance, and harvesting. The discussion will cover the dynamics of the sugarcane farmers' life who are very dependent on the middlemen. The Middlemen play a central role in three directions as providers of capital, providers of fertilizer, and opening up marketing networks. This study brings to the conclusion that sugarcane farmers have very complex risks related to their sugarcane commodities that risk can be minimized by approaching the middlemen as their saviors.Keywords: sugarcane farmer, Middleman, Patron-Client, Risk, Dynamics of Sugarcane Farming
|
2024-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45001 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.45001 | |
| 1671920 | #7423 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DI KABUPATEN BOGOR |
Jean, Mayang Djuharyanto, Teguh Nurdiani, Ulfah |
AbstrakPerkembangan luas alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor dari tahun ke tahun berfluktuasi. Alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu laju penduduk, jumlah industri, luas lahan perumahan dan jumlah hotel. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui perkembangan alih fungsi lahan sawah. 2) mengetahui pengaruh laju penduduk, jumlah industri, luas lahan perumahan dan jumlah hotel terhadap alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Data yang digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor dengan menggunakan data sekunder dalam bentuk data deret waktu (time series) dengan periode waktu sepuluh tahun, yaitu dari tahun 2009 sampai 2018 dengan data dibuat kuartal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) peningkatan luas alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor berfluktuasi selama tahun 2009 sampai dengan 2018. 2) laju penduduk, jumlah industri, luas lahan perumahan dan jumlah hotel berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bogor. Hal ini perlu didukung dengan peran pemerintah dalam membuat kebijakan untuk mengendalikan alih fungsi lahan sawah dan penyuluh dalam mengedukasi petani pentingnya lahan sawah.Kata kunci: alih fungsi lahan sawahAbstractThe development of rice field conversion area in Bogor Regency fluctuated from year to year. The conversion of rice fields in Bogor Regency can be influenced by several factors including population rate, number of industries, residential land area and number of hotels. This study aims to 1) determine the development of the conversion of rice fields. 2) knowing the effect of population rate, number of industries, residential land area and number of hotels on the conversion of rice fields in Bogor Regency. The method of analysis used in this research is descriptive method. The data used to determine the factors that affect the conversion of rice field in Bogor Regency using secondary data in the form of time series data with a time period of the last ten years, namely from 2009 to 2018. The results show that 1) an increase in area the conversion of rice fields in Bogor Regency tends to fluctuate during the period 2009 to 2018. 2) population rate, number of industries, residential land area and number of hotels have a significant effect on the conversion of rice fields in Bogor Regency. This needs to be supported by the role of the government in making policies to control the conversion of rice fields and extension workers in educating farmers on the importance of rice fields.Keywords: The Conversion of Rice Field
|
2021-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29963 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.29963 |