Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672201 #3358 PERANCANGAN SISTEM PAKAR ELEKTRIFIKASI BANGUNAN PERTANIAN Ardiansah, Irfan
Pakar perancangan elektrifikasi bangunan pertanian belum tersedia, karena itu perancangan system pakar diperlukan. Penelitian yang berfokus pada perancangan perangkat lunak system pakar (FABEL) untuk merancang system elektrikasi dalam bangunan pertanian pra-panen dan pascapanen seperti untuk pengairan pencahayaan dan pendinginan. Metode rekayasa digunakan untuk membuat FABEL yang menyimpan pengetahuan basis dalam format teks dengan ekstensi*.clp dan bersifat open source dan diimplementasikan dengan menggunakan CLIPS. Hasil rancangan adalah sistem pakar Shell yang bersifat open source. Penggunaan elektrifikasi dalam bangunan pertanian merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan produksi pertanian. Pengetahuan dalam perancangan elektrifikasi dan bangunan pertanian merupakan hal penting untuk membangun sebuah bangunan pertanian. Untuk merancang sebuah bangunan pertanian dan elektrifikasinya dibutuhkan seorang pakar, tetapi sulit untuk ditemukan. Penelitian ini difokuskan pada pembangunan FABEL, sebuah perangkat lunak sistem pakar yang digunakan untuk merancang elektrifikasi dalam bangunan pertanian. Dalam bangunan pertanian pra-panen, FABEL digunakan untuk merancang elektrifikasi untuk pencahayaan, pendinginan dan pengairan, sedangkan dalam bangunan pertanian pasca panen digunakan untuk merancang elektrifikasi untuk pendinginan. Akuisisi data untuk membangun basis pengetahuan dilakukan oleh perekayasa pengetahuan. Basis pengetahuan tersebut disimpan dalam format teks dengan ekstensi *.clp. Sistem pakar FABEL diimplementasikan dengan menggunakan CLIPS yang merupakan shell sistem pakar yang bersifat open source. Kata kunci: Sistem pakar, Bangunan pertanian, Elektrifikasi, CLIPS
2014-07-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4802 buka_link ↗ Highlight_link
1672202 #3358 PENGARUH SUHU TERHADAP DAYA REKAT ALUMINIUM FOIL UNTUK KEMASAN Angwar, Mukhammad
Nurhikmat, Asep
Proses sterilisasi dilakukan pada kondisi suhu dan tekanan tinggi  sering menyebabkan menurunnya daya rekat kemasan dari alumunium foil yang mempercepat kadaluwarsa produk pangan yang dikemasnya. Penelitian  menggunakan metode deskriptif  eksperimentil telah dilakukan pada suhu berbeda untuk mengetahui daya rekat kemasan alumunium foil. Pengamatan dilakukan terhadap daya rekat 2 sampel kemasan alumunium foil (Sampel A dan B), yang diperlakukan pada suhu 160 °C dan 170 °C dan direkatkan selama 5 detik, di mana Sampel A direkatkan oleh sealer injak manual, sedang Sampel B oleh sealer otomatis. Data daya rekat sampel A dan B kemudian diibandingkan dengan daya rekat sampel hasil fabrikasi sebagai sampel kontrol. Hasil pembandingan menunjukan bahwa sampel A memiliki daya rekat  maksimum 1,709 kgf, minimum 1.253 kgf dan rata-rata 1.438 kgf. Sedang sampel B maksimum 1.618 kgf, minimum 1.379 kgf, dan rata-rata 1.508 kgf. Sementara sampel kontrol maksimum1.556 kgf, minimum 1.371 kgf, dan rata-rata 1.475 kgf. Kata kunci: daya rekat, aluminium foil, kemasan pangan
2012-09-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6351 buka_link ↗ Highlight_link
1672203 #3358 Eksplorasi Potensi Akar Millettia sericea sebagai Sumber Antioksidan Alami Filianty, Fitry
Noor, Erliza
Suryadarma, Prayoga
Yuliasih, Indah
Akar Millettia sericea merupakan salah satu tanaman khas Indonesia yang belum banyak diketahui manfaatnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sifat fisik, kimia, toksisitas dan kandungan fitokimia dalam akar Millettia sericea , dan (2) mengetahui sifat kelarutan senyawa antioksidan dalam beberapa jenis pelarut dan menduga jenis senyawa aktifnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental-deskrkiptif yang diulang 3 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan akar Millettia sericea  mengandung senyawa fitokimia berupa fenolik, flavonoid dan tannin yang tinggi. Hal itu menjadi indikasi adanya potensi senyawa antioksidan dalam akar Millettia sericea . Ekstraksi akar ini menggunakan beberapa jenis pelarut yang berbeda kepolarannya menunjukkan bahwa senyawa antioksidan dalam akar Millettia sericea  bersifat semi polar. Hal itu disebabkan antifitas antioksidan tertinggi dihasilkan dari pelarut metanol dan etanol. Hasil identifikasi berdasarkan berat molekulnya, terdapa 5 jenis senyawa aktif potensial yang bersifat antioksidan. Akar Millettia sericea  ini telah menunjukkan potensinya sebagai alternatif sumber senyawa antioksidan alami, yang dapat dikembangkan untuk produk pangan dan kosmetik.
teknologi industri pertanian antioksidan; akar; fitokimia; Millettia sericea; toksisitas. Ekstraksi Bahan alam 2021-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35193 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n2.9
1672204 #3358 Aplikasi Edible coating Pati Biji Durian Terhadap Lama Penyimpanan dan Kualitas Jambu Air Astar, Ismail
Suryani, Rini
Mulyadi, Mulyadi
Jambu air merupakan salah satu buah tropis yang banyak digemari masyarakat karena rasanya yang manis dan menyegarkan, namun memiliki daya simpan yang relatif singkat pada suhu ruang, yaitu hanya 3–4 hari. Kondisi ini menjadi kendala dalam distribusi dan pemasaran buah segar, sehingga diperlukan teknologi pascapanen yang dapat memperpanjang umur simpannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi edible coating dari pati biji durian terbaik dalam mempertahankan umur simpan dan kualitas jambu air. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) ekstraksi pati dari biji durian, (2) pembuatan larutan edible coating, dan (3) pengaplikasian edible coating pada buah jambu air. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, dan hasilnya dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) atau Tukey pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan edible coating berbasis pati biji durian berpengaruh nyata terhadap karakteristik jambu air, meliputi kadar air, kadar vitamin C, susut bobot, dan total padatan terlarut pada berbagai perlakuan dan lama penyimpanan. Berdasarkan parameter kadar air dan susut bobot, perlakuan dengan pati biji durian 6% memberikan hasil terbaik dalam menekan penurunan kadar air dan susut bobot selama penyimpanan hingga 15 hari pada suhu ruang. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan pati biji durian sebagai bahan dasar edible coating yang ramah lingkungan untuk memperpanjang umur simpan buah tropis seperti jambu air dan mengurangi limbah pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal.
Pascapanen dan Teknologi proses Biji durian; edible coating; jambu air; pati 2025-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62917 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n3.14
1672205 #3358 MODEL PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN PENDEKATAN CAUSAL LOOP DIAGRAM STUDI KASUS DI PANTAI CIPATUJAH KABUPATEN TASIKMALAYA Sugandi, Wahyu Kristian
Potensi pembudidayaan rumput laut (Eucheuma cottonii) di daerah pesisir Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya - ditunjang oleh kondisi topografi alaminya yang baik perlu dikembangkan untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan pasar akan rumput laut sebagai bahan industri makanan dan obat-obatan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan metode causal loop diagram, yaitu dengan melakukan simulasi model pengembangan berdasarkan tiga skenario yang dibandingkan dengan model dasar, yaitu; 1) Penambahan bobot bibit tebar rumput laut dari dasarnya 10 kg menjadi 30 kg bobot bibit tebar per jalur tiap penanaman, 2) Penambahan modal 1 persen dan jalur 1 persen tiap penanaman dan 3) Penambahan modal 1 persen dan jalur  2 persen tiap penanaman. Ketiga skenario ini disimulasi untuk 25 kali panen selama 5 tahun. Hasil analisis menunjukan bahwa model skenario 1, yaitu penambahan bobot bibit menjadi 30 kg per jalur menunjukkan hasil yang paling bagus jika dibanding dengan model dasar, skenario 2 dan 3. Kata kunci : Budidaya rumput laut, Model causal loop diagram, Simulasi skenario
2011-09-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6309 buka_link ↗ Highlight_link
1672206 #3358 Analisis Penjadwalan Irigasi pada Budidaya Tanaman Talas Pratama (Colocasia esculenta (L). Schott var. Pratama) Menggunakan CROPWAT 8.0 Nurliani, Leni
Dwiratna, Sophia
Prawiranegara, Boy Macklin Pareira
Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L). Schott ) merupakan salah satu bahan pangan lokal yang dapat digunakan sebagai penunjang swasembada pangan nasional. Salah satu cara untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang baik dilakukan kajian analisis penjadwalan irigasi yang tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penjadwalan irigasi pada budidaya Talas Pratama (Colocasia esculenta (L). Schott var. Pratama) di lahan penelitian menggunakan aplikasi Cropwat 8.0 untuk mengoptimalkan ketersediaan air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis yaitu dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan serta menganalisis dan menggambarkan besarnya kebutuhan air dan interval pemberian air irigasi dengan menggunakan Software Cropwat 8.0 yang dikembangkan oleh FAO. Interval waktu yang digunakan yaitu berdasarkan setiap tahap pertumbuhan talas dengan jumlah air yang diberikan hingga memenuhi kapasitas lapang pada lahan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah kebutuhan air tanaman Talas Pratama (Colocasia esculenta (L). Schott var. Pratama) berdasarkan Cropwat 8.0 yaitu sebesar 1093.9 mm sedangkan kebutuhan air irihasi untuk interval 3 hari, dan 1.853.400 liter untuk interval 4 hari adalah 1.605.150 liter pada lahan seluas 1500 m2.
Teknik Tanah dan Air Penjadwalan Irigasi; Cropwat 8.0; Neraca Air; Talas Pratama 2019-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17787 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol13n2.3
1672207 #3358 Analisis Metode Pengendalian Kualitas Statistik dalam Pengendalian Kualitas Proses Produksi Keranjang Rotan DI CV. Ravindo Rifaldi, Amrullah Rahman
Kastaman, Roni
Syahmurman, Faizal
Dalam situasi persaingan yang semakin ketat dalam industri furnitur, kualitas produk adalah salah satu faktor kunci yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Agar produk dapat memenuhi standar kualitas yang tinggi, perusahaan harus menerapkan sistem pengendalian kualitas yang baik. CV. Ravindo merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur yang memproduksi furnitur. Adapun salah satu permasalahan yang dihadapi oleh CV. Ravindo saat ini yaitu masih ditemukannya produk cacat atau rusak selama proses produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat kecacatan yang ada pada produk furnitur jenis keranjang rotan beserta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya produk cacat tersebut pada CV. Ravindo. Sehingga dapat disusun usulan perbaikan atau tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan menggunakan metode Statistical Quality Control. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Jenis kecacatan yang sering terjadi pada bagian produksi keranjang rotan adalah cacat rapuh sebesar 49,22%, ketidaksesuaian warna 32,55%, dan anyaman kendur 18,23%; 2) Pengendalian kualitas yang dilakukan oleh CV. Ravindo masih belum terkontrol atau di luar batas kendali; 3) Faktor-faktor penyebab terjadinya kecacatan pada produksi keranjang rotan adalah tenaga kerja, bahan baku rotan, metode produksi, dan lingkungan; 4) Usulan perbaikan atau tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh CV. Ravindo meliputi peningkatan pengawasan di bagian produksi, peningkatan kualitas bahan baku, serta kelengkapan sarana prasarana yang dibutuhkan perusahaan.
Teknologi Industri Pertanian; Teknik Industri Keranjang Rotan; Pengendalian Kualitas; Pengendalian Kualitas Statistik Manajemen Kualitas 2024-12-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56198 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n3.7
1672208 #3358 ANALISA FILM NANOKOMPOSIT BIODEGRADABLE MENGGUNAKAN DIFRAKSI SINAR-X Cahyana, Yana
Material dengan struktur nanokomposit telah berhasil dibuat dengan metode interkalasi polimer dalam larutan dengan menggunakan gluten tepung terigu yang berfungsi sebagai matriks, gliserol sebagai plasticizer, dan Montmorillonite (MMT) sebagai pengisi (filler). Pengaruh jenis pengadukan beserta perlakuan tambahan ultrasound terhadap struktur nanokomposite menjadi fokus penelitian ini. Analisis dengan menggunakan difraksi sinar X (XRD) menunjukkan bahwa perlakuan tambahan dengan ultrasound telah berhasil menghasilkan struktur montmorillonite yang tereksfoliasi, sedangkan perlakuan yang hanya mengandalkan magnetik strirer atau pengaduk kecepatan tinggi (Silverson) menyebabkan struktur montmorillonite yang terinterkalasi, yang ditunjukkan dengan adanya pelebaran peak pada 2θ=4.9°, yang setara dengan jarak interlayer Montmorillonite sebesar 18 Ǻ. Peran gliserol dan gluten dalam menghasilkan struktur interkalasi atau eksfoliasi juga didiskusikan dalam tulisan ini. Kata kunci: Gluten terigu, Montmorillonite, Gliserol, Nanocomposites, XRD.
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4996 buka_link ↗ Highlight_link
1672209 #3358 Analisis Teknik dan Uji Kinerja Mesin Pelubang Tanah untuk Resapan Air Sugandi, Wahyu Kristian
Zaida, Zaida
Yusuf, Asep
Lubang resapan merupakan salah satu cara untuk dapat menanggulangi permasalahan kualitas dan kuantitas air. Namun pembuatan lubang resapan masih menggunakan alat manual dan kurang efektif. Hal ini karena dilakukan oleh dua orang dengan laju pemboran hanya 1,6 cm/menit. Untuk menangani hal ini Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian UNPAD telah merancang bangun Mesin Pembuat Pelubang Tanah Untuk Resapan Air. Mesin yang telah dibuat belum memiliki spesifikasi teknis, sehingga perlu dilakukan analisis teknik dan uji kinerja untuk menetapkan spesifikasi teknis pada mesin tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode desain dan dilanjutkan dengan percobaan secara empiris, yaitu melakukan desain, perhitungan dan pengukuran terhadap komponen struktural dan kinerja mesin yang meliputi kekuatan rangka, lendutan, laju pemboran, kebutuhan konsumsi bahan bakar, tingkat kebisingan dan tingkat getaran. Berdasarkan evaluasi kelayakan teknis dan kinerja mesin diperoleh bahwa kekuatan rangka untuk menopang beban maksimal adalah 6.048 N, lendutan pada rangka sebesar 0,038 mm, dengan laju pemboran 5,5 cm/menit, kebutuhan konsumsi bahan bakar 0,16 liter/jam, tingkat kebisingan 87,32 dB dan getaran mesin sebesar 46,38 mm/s. Hasil uji kinerja mesin menunjukkan mesin berfungsi dengan baik, namun getaran yang terjadi masih belum memenuhi standar uji mesin.Kata kunci : pelubang tanah, resapan air, lubang resapan
mesin pelubang tanah; resapan air 2017-10-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11426 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol11n2.3
1672210 #3358 Analisis Ergonomi dan Ekonomi Mesin Pencacah Plastik Tipe Reel Sugandi, Wahyu
Rosalinda, S.
Sampurno, Rizky Mulya
Thoriq, Ahmad
Penanganan sampah yang tidak efektif memberikan dampak buruk bagi lingkungan, terutama sampah anorganik atau non biodegradable. Salah satu sampah anorganik yang banyak dihasilkan dari suatu proses industri atau rumah tangga adalah sampah plastik. Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran sudah mengembangkan mesin pencacah plastik tipe reel namun mesin tersebut belum dilakukan analisis ekonomi dan ergonomi. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kelayakan ergonomi dan ekonomi untuk mesin tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei deskriptif yaitu melalui pengukuran antropometri, perhitungan beban kerja, biomekanik, ekonomi dan tingkat kebisingan, pengisian kuesioner dan wawancara. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut; observasi lapang, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, analisis beban kerja, analisis biomekanika, analisis ekonomi dan analisis kebisingan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi mesin pencacah plastik berdasarkan hasil pengukuran antropometri belum memenuhi kaidah ergonomi karena tinggi hopper 170 cm  melebihi tinggi bahu operator 140 cm dan tinggi outlet 40 cm lebih rendah dari tinggi pinggul operator 96 cm sehingga pada saat pengoperasian mesin operator merasa tidak nyaman. Hasil skor REBA yang didapat yaitu 7 untuk posisi menyalakan mesin dan pengambilan hasil cacahan sementara didapatkan skor 6 untuk posisi memasukkan bahan ke dalam hopper, hasil tersebut menunjukkan belum sesuai dengan kaidah ergonomi karena tergolong tingkat resiko sedang. Hasil uji kebisingan yaitu pada hopper 97,9 dB dan outlet 102,24 dB  kondisi dengan beban, hasil tersebut belum sesuai dengan kaidah ergonomi karena melebihi standar yaitu 85 dB. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa mesin sudah layak secara ekonomi, karena hasil menunjukkan NPV Rp. 37.354.120 > 0, BCR 1,11 > 1, IRR 2,07% > suku bunga MARR (suku bunga deposito Bank BRI  2%), dan PBP pada bulan ke- 24.
analisis ergonomi; analisis kelayakan usaha; mesin pencacah plastik tipe reel 2022-12-25 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42085 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n3.3
1672211 #3358 BIOKONVERSI SAMPAH ORGANIK DENGAN METODE VERMICOMPOSTING (STUDI KASUS PT SARI ATER, SUBANG-JAWA BARAT) Rachmawati j, Siti Hanggita
Kurnani, Tb. Benito A.
Rusendi, Dadi
Akumulasi sampah organik pada suatu industri pariwisata menimbulkan permasalahan estetik berupa bau dan ketidaknyamanan dipandang mata. Sampah organik ini dapat diolah dengan metode vermicomposting yang memanfaatkan pengaruh padat tebar cacing tanah jenis Lumbricus rubellus pada proses vermicomposting  terhadap konversi sampah restoran dan potongan rumput hingga menjadi kompos. Metode eksperimen dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada lima variasi perlakuan yang diulang lima kali, yaitu; Perlakuan A (tanpa cacing sebagai kontrol), B (dengan cacing sebanyak 1,5 kg/m2), C (dengan cacing 2 kg/m2),D (dengan cacing 2,5 kg/m2), dan E (dengan cacing 3 kg/m2). Selanjutnya dilakukan perhitungan persentase selisih kompos sebelum dan sesudah berlangsungnya proses komposting berdasarkan basis basah. Data dianalisis secara statistik dengan analisis keragaman, dilanjutkan dengan uji Duncan bila berpengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan padat tebar yang diberikan dalam proses vermicomposting berpengaruh sangat nyata terhadap biokonversi sampah restoran dan potongan rumput hingga menjadi kompos.  Perlakuan C (jumlah cacing sebanyak 2 kg/m2) menghasilkan nilai biokonversi yang paling optimum dan  secara statistik berbeda sangat nyata dengan empat perlakuan lainnya. Kata kunci: sampah organik, vermicomposting, biokonversi
2014-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4792 buka_link ↗ Highlight_link
1672212 #3358 KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI PADA PROSES KRISTALISASI GULA SEMUT DENGAN SUMBER PANAS UAP Rahayoe, Sri
Wiyanto, Andri
Bintoro, Nursigit
Rahardjo, Budi
Gula semut merupakan produk pengembangan gula dari nira kelapa yang berbentuk kristal dan mudah larut dalam air panas maupun dingin. Bahan baku pembuatan gula semut dapat berupa nira segar maupun gula kelapa yang diencerkan. Penelitian ini bertujuan menentukan koefisien perpindahan panas konveksi pada proses kristalisasi gula semut menggunakan kristalisator dengan sumber panas dari uap panas. Bahan baku pembuatan gula semut dalam penelitian ini adalah gula kelapa (gula jawa) yang diencerkan dengan perbandingan gula kelapa dan air berturut-turut 10 kg : 5 liter ; 10 kg : 10 liter dan 10 kg : 15 liter. Kristalisasi dilakukan menggunakan kristalisator bersumber panas uap dari boiler dengan tekanan maksimum 1,8 atm. Uap panas dialirkan selama proses penguapan hingga diperoleh larutan kental yang siap dikristalisasi, kemudian uap panas dihentikan hingga terbentuk kristal yang siap dikeringkan. Selama proses pengolahan diamati perubahan suhu tiap 30 detik selama 10 menit pertama, kemudian pengamatan selanjutnya dilakukan tiap 2 menit sampai proses berakhir. Data perubahan suhu dianalisis untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan panas konveksi (h). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu proses bervariasi tergantung kualitas gula kelapa dan konsentrasi larutan dengan kisaran 100 – 170 menit. Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (h) diperoleh hevaporasi1 berkisar antara 23-102 W/m2oC; hevaporasi2 berkisar antara 192-1276  W/m2oC; dan hkristalisasi  berkisar antara 3-15 W/m2oC. Kata kunci: gula semut, koefisien pindah panas konveksi
2012-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6341 buka_link ↗ Highlight_link
1672213 #3358 Internet of Things dan Keberlanjutan Pendekatan Revolusioner Sebaran Petugas Lapangan Pertanian sebagai Enumerator Maharani, Maya Dewi Dyah
Pamungkas, R. Wisnu Prio
ABSTRAK Data, informasi real time, serta sebaran Petugas Lapangan (PL) pada urusan pilihan pertanian menjadi salah satu masalah dalam urusan pemerintahan.  Hal ini diperlukan Tim Pelaporan yang mengawal data akurat dan jujur melalui statistik pertanian (SP) sebagai bahan baku penyusunan dokumen perencanaan dan evaluasi dalam siklus perumusan strategi. Tujuan penelitian ini adalah memaksimalkan peran PL dalam mengawal data dan informasi SP, melakukan sosialisasi, transformasi dan mengubah cara pandang baik PL Aparatur Sipil Negara (ASN), swasta maupun swadaya tentang pentingnya akurasi data dan informasi yang real time. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Metode perancangan sistem yang digunakan menggunakan metode prototype yaitu: (i) pengumpulan data, (ii) membangun prototype, (iii) evaluasi prototype, (iv) mengkodekan sistem, (v) menguji sistem, (vi) evaluasi sistem, (vii) menggunakan sistem, dan (viii) face validity sistem. Selanjutnya proses System Development Life Cycle (SDLC) diperkuat dengan metode Multidimensional Scaling (MDS), menggunakan software Rap-PL yang merupakan modifikasi dari software RapFish untuk mengetahui indeks keberlanjutan pendekatan revolusioner dalam sebaran PL pertanian. Hasil yang dicapai pada penelitian ini berupa aplikasi monitoring sebaran PL berbasis website dan android pada wilayah kerjanya masing-masing. Pemanfaatan teknologi opensource tak berbayar ini membuat efektifitas, efisiensi, serta meningkatkan kinerja dalam pelaporan PL yang real dan lebih jujur.  Penggunaan aplikasi sebaran PL pertanian sebagai pendekatan revolusioner IoT dinilai berkelanjutan dengan indeks sebesar 87,57 persen. Kondisi tersebut dapat ditingkatkan, apabila atribut leverage yaitu Para PL berkinerja secara kolaborasi dan berfikir sistemik, sehingga fast respon dapat lebih berkualitas serta dapat mendukung keberhasilan program Jawa Barat Digital Service (JDS) Provinsi Jawa Barat.
data; pelaporan; Petugas-Lapangan; IoT 2021-08-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34820 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n1.10
1672214 #3358 Optimalisasi Kinerja Irigasi Bawah Permukaan Berpori pada Budidaya Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) Triana, Arjuna Neni
Mursidi, Mursidi
Setyaaji, Primayoga Harsana
Kartika, Jaya Mega
Andini, Farah Aprillia
Irigasi bawah permukaan berpori adalah inovasi terkini dalam pengairan, yang memungkinkan penyaluran air di sekitar akar tanaman tanpa mengalami evaporasi, aliran permukaan, maupun infiltrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan air dengan menggunakan irigasi berpori, sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanama. Metode penelitian yang digunakan dalam adalah metode deskriptif dan studi pustaka yang menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik. Parameter penelitian pada penelitian ini yaitu suhu dan kelembaban udara, sifat fisik tanah, konduktivitas hidrolik, pola sebaran, evapotranspirasi aktual (ETc), koefisien tanaman (Kc), total kebutuhan air tanaman, efisiensi penggunaan air dan produktivitas tanaman. Hasil pengukuran evapotranspirasi aktual tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman berturut-turut yaitu 2,45 mm/hari, 3,4 mm/hari dan 1,25 mm/hari. Rerata nilai evapotranspirasi potensial tanaman (ETo) adalah sebesar 2,49 mm/hari. Nilai koefisien tanaman (Kc) pada masa vegetatif adalah 0,9, generatif sebesar 1,3 dan generatif akhir sebesar 0,5. Total kebutuhan air tanaman tomat selama masa vegetatif yaitu 4 liter, generatif sebanyak 8,4 liter dan generatif akhir (panen) sebanyak 1,2 liter. Pola sebaran air tertinggi yaitu 3,9 cm (B8), sedangkan yang terendah nya yaitu B2 dihari pertama dengan 3,0 cm.  Pada pola sebaran air yang di dapatkan sebaran yg menyebarkan airnya dengan baik yaitu pada M1. Produksi tanaman tertinggi pada Q1N2M2 yaitu penyiraman 2 menit dengan pertambahan nutrisi 200 ppm perminggu serta media tanam campuran tanah ultisol dan cocopeat. Jumlah daun tebanyak pada sampel Q1N2M2 yaitu 198 helai dan Q2N2M2. Berat buah tertinggi terdapat pada sampel Q1N2M2 dengan rerata berat sebesar 103,55 gram.
Evapotranspirasi; irigasi berpori; kebutuhan air; koefisien tanaman; pola sebaran 2025-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63175 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n3.5
1672215 #3358 PENGARUH BEBERAPA RASIO BAKTERI PEMBANGKIT (Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus) TERHADAP CITA-RASA YOGHURT. k, Indira K.
Subroto, Edy
Berbagai rasio antar bakteri pembangkit (starter) dalam pembuatan yogurt dapat merangsang pertumbuhan mikroba yogurt yang membentuk cita-rasa khas yang disukai. Dalam penelitian ini digunakan dua bakteri pembangkit, yaitu; Streptococcus thermophilus (St) dan Lactobacillus bulgaricus (Lb) pada pembuatan yogurt dari susu kental manis. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan rasio, yaitu; P1= 1:1; P2 = 3:1 dan P3 = 5:1. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasio P2 = 3:1 memiliki cita-rasa yang paling disukai dengan total populasi mikroba 1.28 x 1011 cfu/ml pada kadar asam laktat 0,22 persen dan kadar gula total 14.03 persen. Kata kunci: Rasio bakteri pembangkit (Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus), Yogurt susu kental manis
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5168 buka_link ↗ Highlight_link
1672216 #3358 Kajian Proses Destilasi Fraksinasi Biodiesel Kemiri Sunan (Reutealis trisperma) Emmaputri, Fathia Salsabila
Nurjanah, Sarifah
Mardawati, Efri
Kramadibrata, M. Ade Moetangad
Muhaemin, Mimin
Daradjat, Wahyu
Handarto, Handarto
Herwanto, Totok
Rosalinda, S.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari minyak nabati. Kemiri sunan (Reutealis trisperma) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai bahan baku biodiesel. Untuk mendapatkan mutu biodiesel yang optimal, perlu dilakukan peningkatan asam lemak ester yang relevan melalui proses destilasi fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur destilasi fraksinasi terhadap mutu biodiesel, mengetahui fraksi biodiesel dengan rendemen dan mutu terbaik, serta mengetahui mutu biodiesel kemiri sunan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan analisis deskriptif. Destilasi fraksinasi dilakukan dengan tiga perlakuan suhu yaitu A = 260-330°C; B = 330-348°C; dan C = 348-360°C. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodiesel terdestilasi pada perlakuan A dan B. Fraksi biodiesel terbaik apabila ditinjau dari kebutuhan mesin dan kebutuhan proses merupakan fraksi biodiesel hasil perlakuan A dengan perolehan nilai terbaik dari rendemen, viskositas kinematik, densitas, kadar air, bilangan asam, bilangan iod, titik nyala, serta angka setana secara berturut-turut adalah 16,08%; 2,69 mm2/s; 872,27 g/cm3; 0,22%; 0,27 mg KOH/g minyak; 17,83 g-I2/100 g minyak; 288,33°C; dan 71,50.Kata Kunci: Biodiesel, kemiri sunan, destilasi fraksinasi
teknologi pertanian; pasca panen dan teknologi proses; bioproses; 2019-04-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11121 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol12n2.5
1672217 #3358 Aplikasi Bioadsorben Fiber Kelapa Sawit dengan Aktivator Asam Phospat untuk Meningkatkan Kualitas Minyak Goreng Bekas Ilmannafian, Adzani Ghani
Kiptiah, Mariatul
Darmawan, Muhammad Indra
Ramadani, Ramadani
Jumlah produksi minyak jelantah di Indonesia mencapai 4 juta ton/tahun. Jika hal ini tidak ditangani dengan maksimal maka dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu diperlukan penanganan melalui pemurnian dengan cara adsorpsi menggunakan adsorben. Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan adsorben yaitu fiber kelapa sawit karena memiliki selulosa yang merupakan unsur utama penyusun bioadsorben. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kualitas bioadsorben dan menganalisis kualitas minyak goreng bekas hasil pemurnian menggunakan bioadsorben fiber kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yang  terdiri atas tahapan pembuatan bioadsorben dan pemurnian minyak goreng bekas dengan variasi suhu dan massa bioadsorben. Kualitas bioadsorben dianalisis berdasarkan hasil uji kadar air, kadar abu,  bagian yang hilang pada pemanasan 950oC , dan karbon aktif murni sesuai dengan SNI No. 06-3730 Tahun 1995 tentang arang aktif teknis dan kualitas minyak hasil pemurnian dianalisis berdasarkan hasil uji kadar air, bilangan asam, asam lemak bebas, dan bilangan peroksida sesuai dengan SNI No. 3741 tahun 2013 dan SNI No. 7709 Tahun 2019  tentang minyak goreng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioadsorben memiliki kadar air sebesar 2,02 %, kadar abu sebesar 3,22 %, bagian yang hilang pada pemanasan 950oC sebesar 2,77%, dan karbon aktif murni sebesar 94,22% serta bioadsorben mampu menurunkan  kadar air minyak goreng bekas dari 0,476 % menjadi 0,020 %, bilangan asam dari 2,902 % menjadi 1,773 %, asam lemak bebas dari 1,674 % menjadi 1,463 %, dan bilangan peroksida dari 2,57 % menjadi 0,60 %. Kualitas bio adsorben fiber dengan aktivator asam phospat telah sesuai SNI No. 06-3730 Tahun 1995 dan kualitas minyak hasil pemurnian belum sesuai dengan SNI No. 3741 tahun 2013 dan SNI No. 7709 Tahun 2019 namun mampu meningkatkan kualitas minyak goreng bekas.
Bioadsorben; fiber; pemurnian; phospat. 2024-08-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48967 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n2.10
1672218 #3358 PENGARUH MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN AIR KELAPA PADA VOLUME DAN INTERVAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BATANG BAWAH KARET (Hevea brasiliensis L.) KLON GT 1 Ariyanti, Mira
-, Komariah
Setiasari, Ani Putri
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan kombinasi volume dan interval pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan bibit batang bawah karet (Hevea brasiliensis) klon GT 1 dengan tipe tanah Latosol. Percobaan ini telah dilakukan di Kebun Karet Cikumpay, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Purwakarta Jawa Barat, dengan ketinggian ± 70 m di atas permukaan laut, dari bulan Mei 2008 sampai Juni 2008.Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Perlakuannya adalah penggunaan media tanam tanah, tanah dan pasir (1:1), tanah dan arang sekam (1:1), tanah dan arang sekam (2:1), dengan kombinasi pemberian air kelapa pada enam taraf, yaitu 100 ml dengan interval 5 hari sekali, 100 ml dengan interval 10 hari sekali, 300 ml dengan interval 5 hari sekali, 300 ml dengan interval 10 hari sekali, 500 ml dengan interval 5 hari sekali dan 500 ml dengan interval 10 hari sekali.Hasil percobaan menunjukkan bahwa media tanam yang diberi air kelapa lebih baik dibandingkan dengan media tanam yang tidak diberi air kelapa pada pengamatan tinggi bibit (6 MST-12 MST), lilit batang (10 MST dan 12 MST), luas daun (12 MST), bobot kering akar (12 MST), bobot kering pupus (12 MST), dan volume akar (12 MST). Penggunaan media tanam tanah dan arang sekam (2:1) dengan pemberian air kelapa 100 ml pada interval 10 hari lebih efektif dan efisien untuk diaplikasikan. Kata kunci : Media tanam, Air kelapa, Bibit karet
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4883 buka_link ↗ Highlight_link
1672219 #3358 Model DInamis Produksi Jagung di Indonesia Rahmah, Devi Maulida
Rizal, Fahmi
Bunyamin, Anas
Peningkatan jumlah permintaan Jagung didominasi oleh permintaan dari sektor industri pakan ternak. Hal ini disebabkan semakin berkembangnya sektor industri ini.Luas panen Jagung pada periode 2005 – 2015 mengalami perlambatan yaitu dengan rata – rata pertumbuhan sekitar 1,76%. Hal ini menunjukkan semakin terbatasnya lahan untuk perluasan jagung. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Data dan informasi Pertanian kementerian Pertanian RI menyebutkan bahwa penurunan luas panen terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 7,72% dan tahun 2011 sebesar 6,46% dan peningkatan luas panen tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 10,24%. Luas panen jagung pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 2,40% dibandingkan tahun 2011, sedangkan pada tahun 2013 luas panen jagung menurun sebesar 3,44% dan pada tahun 2014 meningkat sebesar 0,41%. Oleh karena itu perlu dipikirkan upaya yang dapat dilakukan untukmeningkatkan produksi jagung. Berdasarkan uraian terebut maka fokus penelitian ini adalah merancang sebuah model produksi jagung dengan pendekatan sistem dinamis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem produksi Jagung di Indonesia, serta memodelkannya dalam sebuah model dinamis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan diolah dengan menggunakan software vensim. Berdasarkan Hasil penelitian, sub sistem dibagi kedalam 7 subsistem, yaitu sub sistem produksi, permintaan, industri hilir, kebijakan pemerintah,  modal, tenaga kerja, dan kelembagaan petani. Hasil perumusan masalah dalam tahapan proses pengembangan sistem, diperoleh rumusan masalah utama yaitu beupa ”bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi jagung Nasional?”. Hasil perumusan masalah ini kemudian dianalisis sistem produksinya dan dimodelkan kedalam diagram kausalitas, stock flow diagram, dan model matematika. Model yang dihasilkan, menunjukkan bahwa tingkat produksi dipengaruhi oleh produktifitas dan luas lahan panen; Gap kekurangan produksi merupakan permintaan dikurangi dengan tingkat produksi; Penambahan kapasitas produksi diperoleh melalui permintaan dikurangi dengan tingkat produksi; Penambahan Kapasistas produksi lahan Potensial diperoleh melalui produktifitas dikali dengan luas lahan potensial; Luas Penambahan Lahan dapat diprediksi melalui Gap kekurangan dibagi produktifitas.Kata kunci: Model dinamis, sistem produksi jagung
Teknologi Industri Pertanian 2017-07-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11075 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol11n1.4
1672220 #3358 Perancangan dan Uji Kinerja Sistem Kendali Iklim Mikro di Smart Greenhouse Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Priyonggo, Budi
Wardani, Intan Kusuma
Ichniarsyah, Annisa Nur
Telaumbanua, Marelli
Fil’aini, Raizummi
Mufidah, Zunanik
Dewangga, Dualim Atma
Greenhouse merupakan inovasi teknologi untuk mengontrol faktor iklim yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Kondisi tanaman di greenhouse dapat dipantau secara realtime dengan penerapan teknologi Internet of Things. Pengembangan teknologi kendali dalam greenhouse sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi iklim mikro dalam greenhouse adalah suhu lingkungan. Penelitian bertujuan untuk merancang bangun dan menguji kinerja sistem kendali iklim mikro di greenhouse. Sistem kendali iklim mikro tersusun dari DHT22 sebagai sensor, ESP32 dan Atmega2560 sebagai mikrokontroler dan exhaust fan sebagai aktuator. Sistem kendali yang dirancang mengendalikan suhu lingkungan tidak lebih dari 38oC dengan menggunakan sembilan sensor yang dipasang di dalam greenhouse. Pada penelitian ini pengujian sistem kendali berupa uji ketidakakuratan sistem dan uji efisiensi penggunaan listrik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai ketidakakuratan sebesar 12% dan efisiensi penggunaan listrik sebesar 39.02%. Secara keseluruhan dapat disimpulkan sistem kendali iklim mikro yang dirancang dapat berjalan dengan baik dan dapat digunakan sebagai alternatif teknologi kendali iklim mikro.
DHT22; iklim mikro; sistem kendali. 2023-12-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48832 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n3.1
Menampilkan 1.549.721 - 1.549.740 dari total 1.550.696 data