| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672376 | #6191 | Antifungal efficacy of pomegranate aril extract against candida albicans ATCC 10231 in vitro: An experimental study |
Syafiq, Ikram Setiawan, Ame Suciati Malinda, Yuti |
ABSTRACT Introduction: Pomegranate (Punica granatum L.) is one of the herbal plants that is widely used as a traditional medicine and has been known to contain alkaloids, saponins, flavonoids, punicalagin, phenolics and tannins that function as antifungals. Given the need for alternative antifungals with minimal side effects and the potential of pomegranate aril as significant antimicrobials and antifungals. This study aims to determine the inhibitory power of pomegranate aril extract against C. albicans which is a fungus that causes oral candidiasis. Methods: The antifungal activity test was carried out using the agar diffusion method by measuring the diameter of the inhibition zone. The average value of the measurement results was taken to see the effect of the concentration of pomegranate aril extract on the growth of C. albicans. Results: The results showed that pomegranate aril extract concentrations of 50%, 25%, 12.5%, 6.25% and 3.12% did not produce an inhibition zone Conclusions: Based on the results of the study, it can be concluded that pomegranate aril extract has no inhibitory power against C. albicans.KEY WORDS: Oral candidiasis, pomegranate aril extract, antifungal, C. albicans, inhibitory zone diameter.Efektivitas antijamur ekstrak aril buah delima terhadap jamur candida albicans ATCC 10231 secara in vitro: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Delima (Punica granatum L.) merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak digunakan sebagai obat tradisional dan telah diketahui mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, punicalagin, fenolik dan tanin yang berfungsi sebagai antijamur. Mengingat adanya kebutuhan akan alternatif antijamur dengan efek samping minimal dan potensi aril buah delima sebagai antimikroba dan antijamur yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak aril buah delima terhadap C. albicans yang merupakan jamur penyebab oral candidiasis. Metode: Ekstrak aril buah delima diperoleh melalui maserasi kemudian diencerkan hingga mendapatkan konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,12%. Uji aktivitas antijamur dilakukan menggunakan metode difusi agar dengan cara mengukur diameter zona hambat. Hasil pengukuran diambil nilai reratanya untuk melihat pengaruh konsentrasi ekstrak aril buah delima terhadap pertumbuhan C. albicans. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak aril buah delima konsentrasi 50%, 25%, 12.5%, 6.25% dan 3.12% tidak menghasilkan zona hambat. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh simpulan bahwa ekstrak aril buah delima tidak memiliki daya hambat terhadap C. albicans.KATA KUNCI: Oral candidiasis, ekstrak aril buah delima, antijamur, C. albicans, diameter zona hambat.
|
Oral candidiasis, ekstrak aril buah delima, antijamur, C. albicans, diameter zona hambat, Oral candidiasis, pomegranate aril extract, antifungal, C. albicans, inhibitory zone diameter. | 2026-01-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65436 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.65436 |
| 1672375 | #6191 | Pengaruh kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva pada pemakai alat orthodontik cekat Effect of oral hygiene and gingival health in fixed orthodontics appliances |
Putri, Iga Nadya Praharani, Depi Pujiastuti, Peni Prijatmoko, Dwi Misrohmasari, Elyda Akhya Afida |
ABSTRAK Pendahuluan: Alat orthodontik cekat adalah salah satu alat yang digunakan untuk perawatan maloklusi. Bagian-bagian alat tersebut menempel pada gigi yang menyulitkan dalam pembersihan gigi, sehingga akan memudahkan akumulasi plak dan dapat menyebabkan gingivitis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva pada pemakai alat orthodontik cekat. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional study. Subjek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember yang memakai alat orthodontik cekat yang diambil dengan metode purposive sampling. Data penelitian diambil dengan kuesioner, pengukuran tingkat kebersihan mulut dengan OHI-S (Green dan Vermilion), dan kesehatan gingiva dengan Indeks Gingiva (Loe dan Silness). Hasil: Sebanyak 17% subjek memiliki tingkat kebersihan rongga mulut baik, 57% sedang, 26% buruk, dan rerata tingkat kebersihan mulutnya adalah sedang. Sebanyak 89% subjek mengalami gingivitis  ringan, 11% sedang, tidak ada yang mengalami gingivitis berat, dan rerata status kesehatan gingivanya adalah gingivitis ringan. Uji korelasi Pearson menunjukkan nilai korelasi (r=0,665) yang artinya terdapat hubungan yang kuat antara kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva. Uji regresi linier didapatkan nilai r2= 0,442 yang berarti kebersihan mulut berhubungan kuat dengan kesehatan gingiva sebesar 44,2%. Simpulan: Semakin buruk tingkat kebersihan mulut pada pemakai alat orthodontik cekat maka status kesehatan gingivanya juga semakin buruk. Kata kunci: kebersihan mulut; kesehatan gingiva; alat orthodontik cekat; OHI-S; indeks gingiva.ABSTRACTIntroductions: A fixed orthodontic device is one of the tools used for the treatment of malocclusion. The parts of the tool attach to the teeth which make it difficult to clean the teeth, so that it will facilitate the accumulation of plaque and can cause gingival inflammation.  To determine whether there is a relationship between oral hygiene and gingival health in students of the Faculty of Dentistry, University of Jember who use fixed orthodontics. Methods: Observational study with a cross–sectional study design. The research subjects were students of the Faculty of Dentistry, University of Jember who used fixed orthodontic appliances which were taken using purposive sampling method. The research data was collected by using a questionnaire, measuring the level of oral hygiene with OHI-S (Green and Vermilion), and gingival health using the Gingival Index (Loe and Silness). Results: 17 % of subjects had good oral hygiene levels, 57 % were moderate, 26 % were poor, and the average level of oral hygiene was moderate. As many as 89 % of subjects had mild gingival inflammation, 11 % were moderate, no one had severe gingival inflammation, and the average gingival health status was mild gingival inflammation. The Pearson correlation test showed a correlation value (r = 0.665) which means that there is a strong relationship between oral hygiene and gingival health. In the linear regression test the value of r2 = 0.442 means that the effect of oral hygiene on gingival health is 44.2 %. Conclusion: In users of fixed orthodontics, the level of oral hygiene is better, the health status of the gingiva is getting better.Keywords: fixed orthodontics; gingival disease; gingival index; malocclusion; OHI–S.
|
kebersihan mulut; kesehatan gingiva; alat orthodontik cekat; OHI-S; indeks gingiva; fixed orthodontics; gingival disease; gingival index; malocclusion; OHI–S. | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40327 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40327 |
| 1672374 | #6191 | Pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan marginThe effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown |
Wijaya, Winna Andryas, Ika |
Pendahuluan: Mahkota sementara harus memiliki ketepatan margin yang baik untuk menjaga kesehatan gingiva dan melindungi gigi dari trauma suhu, kimia, fisik, dan bakteri. Pembuatan mahkota sementara yang paling umum digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan margin. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini adalah resin akrilik autopolimerisasi. Jumlah seluruh sampel adalah 12 dengan 6 sampel untuk masing-masing kelompok. Seluruh sampel diuji ketepatan marginnya menggunakan stereomikroskop. Hasil: Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara terhadap ketepatan margin p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Mahkota sementara yang dibuat menggunakan teknik tidak langsung menghasilkan ketepatan margin yang lebih baik daripada teknik langsung.Kata kunci: Ketepatan margin, mahkota sementara, resin akrilik autopolimerisasi, teknik langsung, teknik tidak langsung. ABSTRACTIntroduction: Temporary crowns must have good margin accuracy to maintain gingival health and protect teeth from temperature, chemical, physical, and bacterial trauma. The most commonly used temporary crown is the direct and indirect technique. This study was aimed to determine the effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown. Method: This research was an experimental laboratory. The sample in this study was auto polymerised acrylic resin. The total number of samples was 12 with 6 samples for each group. All samples were tested for margin accuracy using stereomicroscopes. Results: Statistical analysis using unpaired t-test showed that there were significant differences between the direct and indirect techniques of temporary crowns fabrication on the margin accuracy p = 0.0001 (p < 0.05). Conclusion: Temporary crowns fabricated with indirect technique produce better margin accuracy than direct technique.Keywords: Margin accuracy, temporary crown, auto polymerised acrylic resin, direct technique, indirect technique.
|
Katakunci: Ketepatan margin, mahkota sementara, resin akrilik autopolimerisasi, teknik langsung, teknik tidak langsung. Keywords: Margin accuracy, temporary crown, auto polymerised acrylic resin, direct technique, indirect technique. | 2019-11-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23906 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.23906 |
| 1672373 | #6191 | Effect of the addition of green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement: Experimental study |
Widyastuti, Noor Hafida Ningsih, Juwita Raditya Yuletnawati, Sartari Entin Dewi, Listiana Masyita Jayanti, Puji Tri |
Introduction: Treatment of caries can be carried out through restoration. The selection of restorative materials in dentistry highly considers hardness to withstand occlusal loads. Glass Ionomer Cement is one substance that can be utilized for restoration. By including chitosan derived from green mussel shells, GIC insufficiency is remedied. It is processed into nanochitosan since its usage is maximized when it is manufactured in nanoscale. This study aims to analyze the effect of adding green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement. Methods: This study used a posttest-only control group design in a laboratory setting. Six groups are formed from the group. First, as a control group (GIC Control), GIC was made without the addition of nanochitosan. The GIC liquid was supplemented with nanochitosan at four distinct concentrations: 0.5%, 1%, 1.5%, and 2%, to create the GIC group with the addition of nanochitosan. A Vickers microhardness tester was used to test the surface hardness. HV0.05 (490.3 mN) was the load employed in this study, and the indentation time was set at two seconds. The sample has an 8 mm thickness and a box-like form. Every sample was indented twice. Results: The GIC hardness test with no additives had a mean result and standard deviation of 31.94 ± 3.54. The hardness value of glass ionomer cement can be increased by nanochitosan, with the average outcomes and standard deviation as follow: Concentration: 1.5% = 95.22 ± 14.12, 1% = 91.20 ± 15.09, 2% = 117.60 ± 40.90, and 0.5% = 51.60 ± 9.34. The One-Way Anova test showed a significant difference between the concentration groups in the hardness value of glass ionomer cement, with p = 0.000, meaning that p <0.5. Conclusion: The addition of green mussel shell nanochitosan can increase the hardness of glass ionomer cement.Pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penanganan karies dapat dilakukan dengan cara restorasi. Pemilihan bahan restorasi di kedokteran gigi sangat mempertimbangkan kekerasan untuk menahan beban oklusal. Salah satu bahan yang bisa digunakan untuk restorasi adalah Semen Ionomer Kaca(SIK). Kekurangan SIK diatasi dengan cara mencambahkan kitosan yang didapat dalam cangkang kerang hijau. Penggunaannya lebih efektif apabila dibuat dalam ukuran nano, sehingga diolah menjadi nanokitosan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan desain penelitian posttest only control group design. Kelompok terbagi menjadi 6 kelompok. Pertama, SIK disiapkan tanpa penambahan nanokitosan sebagai kelompok kontrol (SIK Kontrol). Kelompok SIK dengan penambahan nanokitosan dibuat dengan menambahkan nanokitosan ke dalam cairan SIK dengan empat konsentrasi berbeda, yaitu 0,5%, 1%, 1.5%, dan 2%. Pengujian kekerasan permukaan dilakukan menggunakan alat Vickers microhardness tester. Beban yang digunakan pada penelitian ini yaitu HV0,05 (490,3mN) dengan lama indentasi yaitu 2 detik. Bentuk sampel berbentuk kotak dengan ketebalan 8 mm. Setiap sampel dilakukan indentasi sebesar 2 kali Hasil: Hasil rerata dan standar deviasi uji kekerasan SIK tanpa penambahan adalah 31,94 ± 3,54. Nano Kitosan mampu menambah nilai kekerasan semen ionomer kaca dengan hasil rerata dan standar deviasi sebagai berikut konsentrasi 0,5%= 51,60 ± 9,34 , 1%=91,20 ± 15,09, 1,5%,= 95,22 ± 14,12 dan 2%=117,60 ± 40,90. Hasil uji menggunakan uji One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 sehingga p<0,5 dan dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antar kelompok konsentrasi terhadap nilai kekerasan semen ionomer kaca. Simpulan: penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau dapat meningkatkan kekerasan semen ionomer kaca.
|
kekerasan, nanokitosan cangkang kerang hijau, semen ionomer kaca | 2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54769 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54769 |
| 1672372 | #6191 | Perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stress dan tidak stress karena faktor kelelahanDifferences in the salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience |
Candra, Meta Yunia Suniarti, Dewi Fatma Setiawati, Febriana Soedarsono, Nurtami |
Pendahuluan: Penerbang Sipil Indonesia beresiko mengalami stres yang disebabkan karena faktor kelelahan dengan rute penerbangan jarak dekat antara pulau-pulau di Indonesia. Enzim α-amylase saliva dapat digunakan sebagai biomarker stress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stres karena faktor kelelahan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan. Metode: Jenis penelitian adalah cross-sectional, membandingkan tingkat kelelahan yang menjadi penyebab stress pada penerbang sipil Indonesia dengan metode pengukuran Fatigue Severity Scale (FSS) dan membandingkan kadar enzim α-amylase saliva yang dianalisa dengan metode ELISA pada dua kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor sebanyak 24 subjek dengan kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor sebanyak 16 subjek dengan uji analisis data bivariat komparatif. Hasil: Kelompok penerbang sipil Indonesia dengan jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,899 dan kelompok penerbangan sipil Indonesia dengan jam terbang kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,689. Terdapat perbedaan bermakna p = 0,006 (p<0,05) antara kedua kelompok penerbang. Simpulan : Stres yang disebabkan karena faktor kelelahan pada penerbang sipil Indonesia menghasilkan kadar enzim α-amylase yang lebih tinggi dibandingkan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan.Kata kunci: Enzim α-amylase saliva, fatigue severity scale, stres, penerbang. ABSTRACT Introduction: Indonesian civil aviators have a risk of experiencing stress due to fatigue factor with high-frequency intersection routes between islands of Indonesia. Salivary α-amylase is an enzyme that can be used as a stress biomarker. This study was aimed to analyse the differences of salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience. Methods: This research was cross-sectional, comparing the level of fatigue as the cause of stress for Indonesian civil aviators with the Fatigue Severity Scale (FSS) measurement method. The level of the salivary α-amylase enzyme was analysed using the ELISA method in two groups: Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flights (24 subjects); Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights (16 subjects). All data then analysed with comparative bivariate data analysis. Results: The group of Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flight showed an α-amylase enzyme value of 0.899; while the group of Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights showed an α-amylase enzyme value of 0.689. There was a significant difference p=0.006 (p < 0.05) between the two groups of pilots. Conclusion: Indonesian civil aviators with fatigues stress experience of increases the α-amylase enzyme value compared to Indonesian civil pilots without fatigues stress experience. Keywords: Salivary α-amylase, fatigue severity scale, stress, aviator.
|
Salivary α-amylase; fatigue severity scale; stres; penerbang; stress; aviator | 2020-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28063 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.28063 |
| 1672371 | #6191 | The effect of silica addition from palm shell ash on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base: Study experimental |
Pradana, Benny wahyuni, Siti |
ABSTRACTIntroduction: Heat-polymerized acrylic resin is a denture base material that is often used due to its good aesthetic properties. However, it has a drawback in terms of impact strength, making it prone to cracking or fracturing after repeated impacts over time. The addition of reinforcing materials, such as silica derived from palm shell ash, is expected to enhance its impact strength. This study aims to analyze the effect of adding silica from palm shell ash at concentration of 2% and 5% on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base. Methods: This study was a laboratory experiment using samples measuing 65x10x2.5 mm; in accordance with ISO 1567. A total of 30 samples were divided into three groups: Group A (control,without silica addition), Group B (2% silica additon) and Group C (5% silica addition). The sample size was determined using the Federer formula, and the impact strength test was conducted using the Izod Impact Testing method. A one-way ANOVA test was performed to analyze the effect of silica addition from palm shell ash on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base Results: The mean and standard deviation of impact strength in the 5% concentration group (Group C) showed the highest value compared to other groups, with a result of 13.47 ± 1.50 x 10-3 J/mm2. Based on the one-way ANOVA test, a p-value of 0.001 was obtained, indicating a significant effect of silica addition on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base. Conclusion: The addition of silica as a reinforcing material significantly influenced the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture bases. The 5% silica concentration group exhibited the highest impact strength values.KEY WORDS: heat-polymerized acrylic resin, silica, palm shell ash, impact strength.Perbedaan pengaruh penambahan silika dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak: studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan basis gigi tiruan yang sering digunakan karena memiliki nilai estetik yang baik, namun bahan ini memiliki kekurangan dalam hal kekuatan impak sehingga bahan ini mudah mengalami retak atau fraktur setelah beberapa pemakaian akibat benturan yang dialami bahan secara berulang. Penambahan bahan penguat, salah satunya berupa silika dari abu cangkang kelapa sawit yang diharapkan dapat meningkatkan kekuatan impak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pengaruh penambahan silika 2% dan 5% dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Metode: Jenis Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris, menggunakan sampel dengan ukuran (65x10x2,5) mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 30 buah dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok A tanpa bahan penguat (kelompok kontrol) dan kelompok B, C; kelompok dengan penambahan silika dengan konsentrasi 2% dan 5%. Uji kekuatan impak menggunakan Izod Impact Testing. Uji one-way ANOVA digunakan untuk menganalisis perbedaan pengaruh penambahan silika 2% dan 5% dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Hasil: Hasil rerata dan standar deviasi kekuatan impak pada kelompok dengan konsentrasi 5% (kelompok C), menghasilkan nilai tertinggi dibandingkan kelompok lainnya yaitu sebesar 13,47 ± 1,50 x 10-3 J/mm2. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA didapatkan nilai p=0,001 sehingga dinyatakan ada pengaruh yang signifikan penambahan silika pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Simpulan: Penggunaan silika sebagai bahan penguat pada bahan basis gigi tiruan akrilik polimerisasi panas dapat memengaruhi kekuatan impak, dan kelompok dengan konsentrasi 5% yang memiliki kekuatan impak paling tinggi.KATA KUNCI: Resin akrilik polimerisasi panas, silika, abu cangkang kelapa sawit, kekuatan impak.
|
Resin akrilik polimerisasi panas, silika, abu cangkang kelapa sawit, kekuatan impak. | 2025-03-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60516 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.60516 |
| 1672370 | #6191 | Bentuk dan inklinasi eminensia artikularis serta kedalaman fossa glenoidalis berdasarkan usia ditinjau dari radiograf panoramikMorphology and inclination of articular eminence and glenoid fossa depth based on age observed in panoramic radiograph |
Afnia, Salsabila Azhari, Azhari Pramanik, Farina |
ABSTRAK Pendahuluan: Perubahan bentuk, ukuran eminensia artikularis dan fossa glenoidalis selama masa pertumbuhan perlu diketahui karena berperan penting dalam pergerakan sendi temporomandibular, sehingga membantu menegakkan diagnosa ada tidaknya kelainan pada tumbuh kembang. Variasi serta perubahan dapat dilihat dan diukur melalui radiograf panoramik. Tujuan penelitian ini untuk meneliti bentuk dan inklinasi eminensia artikularis serta kedalaman fossa glenoidalis berdasarkan usia ditinjau dari radiograf panoramik. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Jumlah sampel didapat dengan menggunakan rumus Slovin, sebanyak 60 radiograf panoramik pasien RSGM Unpad, bulan Januari-Mei 2018 dengan rentang usia 5-30 tahun dibagi kedalam tiga kelompok usia berdasarkan usia pertumbuhan komponen temporal. Bentuk eminensia, inklinasi eminensia dan kedalaman fossa diukur menggunakan software ImageJ. Data diolah menggunakan Microsoft Excel® untuk mengetahui nilai minimum, maksimum, nilai rerata, dan standar deviasi. Hasil: Mayoritas bentuk eminensia artikularis pada tiap kelompok usia adalah sigmoid. Rerata inklinasi eminensia artikularis adalah 42°, rentang usia 5-10 tahun, 44° pada rentang usia 11-20 tahun, dan 58° pada rentang usia 21-30 tahun. Rerata kedalaman fossa glenoidalis adalah 4,62 mm pada rentang usia 5-10 tahun, 5,71 mm pada rentang usia 11-20 tahun, dan 7,52 mm pada rentang usia 21-30 tahun. Simpulan: Bentuk mayoritas eminensia artikularis selama masa pertumbuhan adalah sigmoid, serta inklinasi eminensia artikularis dan kedalaman fossa glenoidalis nilai reratanya semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia selama masa pertumbuhan. Eminensia artikularis dan fossa glenoidalis mengalami fase pertumbuhan aktif pada rentang usia 5-10 tahun, berjalan lambat pada rentang usia 11-20 tahun, dan mengalami penyempurnaan serta perkembangan pada rentang usia 21-30 tahun.Kata kunci: sendi temporomandibular; eminensia artikularis; fossa glenoidalis; usia; radiograf panoramik ABSTRACT Introduction: Changes in the morphology and size of the articular eminence and the glenoid fossa during the growth period need to be known because it plays an essential role in the movement of the temporomandibular joint, thus helping to diagnose the presence or absence of abnormalities in the growth and development. These variations and changes can be seen and measured through panoramic radiographs. The purpose of this study was to examine the morphology and inclination of the articular eminence and the depth of the glenoid fossa based on age observed from a panoramic radiograph. Methods: This research was descriptive with a purposive sampling technique. The number of samples obtained using the Slovin formula, which resulted in 60 panoramic radiographs of the patients from Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad), during the period of January-May 2018, with an age range of 5-30 years, divided into three age groups based on the age of the temporal component growth. Eminence morphology and inclination, and fossa depth were measured using ImageJ software. The data were processed using Microsoft Excel® to determine the minimum, maximum, mean, and standard deviation values. Results: Most articular eminence morphology found in each age group were sigmoid. The mean articular eminence inclination in the age range of 5-10 years was 42°, 44° in the age range of 11-20 years, and 58° in the age range of 21-30 years. The mean of the glenoid fossa depth in the age range of 5-10 years was 4.62 mm, 5.71 mm in the age range of 11-20 years, and 7.52 mm in the age range of 21-30 years. Conclusions: Most articular eminence morphology during the growth period is sigmoid. The mean value of the articular eminence inclination and the glenoid fossa depth increases with age during the growth period. The articular eminence and glenoid fossa undergo an active growth phase in the age range of 5-10 years, progress slowly at the age range of 11-20 years, and undergo completion and development in the age range of 21-30 years.Keywords: temporomandibular joint; articular eminence; glenoid fossa; age; panoramic radiograph
|
sendi temporomandibular; eminensia artikularis; fossa glenoidalis; usia; radiograf panoramik; temporomandibular joint; articular eminence; glenoid fossa; age; panoramic radiograph | 2022-02-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31413 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.31413 |
| 1672369 | #6191 | Faktor predisposisi stomatitis aftosa rekuren minor pada pasien rumah sakit gigi dan mulut unpad Predisposing factors of minor recurrent aphthous stomatitis in patients at rumah sakit gigi dan mulut fkg unpad |
Afifah, Masfi Herawati, Erna Hidayat, Wahyu |
ABSTRAK Pendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) adalah kelainan pada mukosa mulut yang ditandai dengan keberadaan ulser berulang tanpa tanda-tanda penyakit lainnya. Etiologi SAR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi terdapat faktor predisposisi SAR diantaranya genetik, hormonal, stress, dan defisiensi nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor predisposisi SAR minor pada pasien rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah cross sectional dan deskriptif menggunakan teknik survei. Populasi penelitian ini adalah pasien SAR minor di RSGM Unpad dengan metode Purposive Sampling didapatkan subyek riset berjumlah 30 orang pada periode Januari – Februari 2020. Data hasil penelitian diperoleh dari kuesioner faktor predisposisi SAR, PSS-10, dan FFQ. Hasil: Faktor predisposisi pada pasien adalah faktor tunggal dan kombinasi beberapa faktor yaitu stres (10%); stres dan defisiensi nutrisi (36,67%); genetik, stres, dan defisiensi nutrisi (26,67%); hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi (10%); genetik, hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi (16,66%). Tingkat stres didominasi oleh stres sedang (83,33%). Simpulan: Faktor predisposisi pada pasien SAR minor di RSGM Unpad terdiri dari genetik, hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi. Mayoritas pasien memiliki lebih dari satu faktor predisposisi. Kombinasi faktor predisposisi didominasi oleh 2 faktor yaitu stres dan defisiensi nutrisi (vitamin B12, asam folat, dan zat besi).Kata Kunci: stomatitis aftosa rekuren; faktor predisposisi; kuesioner. ABSTRACTIntroduction: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is an abnormality in the oral mucosa characterized by the presence of recurrent ulcers without other signs of disease. Etiology of RAS is still unknown, but there are several predisposing factors for RAS including genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies. This study aims to determine the predisposing factors for Recurrent Aftosa Stomatitis (RAS) in patients who came to dental hospital (RSGM) Unpad. Methods: This research used a descriptive cross-sectional and survey method. The sampling method was purposive sampling of 30 minor RAS patients at RSGM Unpad in the period January - February 2020. All research subjects were given a questionnaire regarding the predisposing factors of RAS, Perceived Stress Scale-10, and Food Frequency Questionnaire. Result: Predisposing factors in patients was a single factor and combination of factors that is stress (10%); stress and nutritional deficiencies (36.67%),; genetic, stress, and nutritional deficiencies (26.67%); hormonal, stress, and nutritional deficiencies (10%); genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies (16.66%). Stress levels in patients are dominated by moderate stress (83.33%) Conclusion: Predisposing factors in minor RAS patients at RSGM Unpad consist of genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies. The majority of patients have more than one predisposing factor. The combination of predisposing factors is dominated by two factors which are stress and nutritional deficiencies (vitamin B12, folic acid, and iron).Keywords: recurrent aphthous stomatitis; predisposing factors; questionnaire.
|
stomatitis aftosa rekuren; faktor predisposisi; kuesioner; recurrent aphthous stomatitis; predisposing factors; questionnaire. | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33554 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.33554 |
| 1672368 | #6191 | Profil lesi stomatitis aftosa rekuren pada pasien di instalasi Ilmu Penyakit Mulut RSGM Unpad periode 2014-2015 |
Safely, Nurul Mukhliza Nur'aeny, Nanan Hidayat, Wahyu |
Pendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan penyakit mulut yang sangat sering terjadi pada masyarakat. SAR memiliki gambaran klinis berupa lesi ulserasi kecil berbentuk bulat atau oval dengan tepi kemerahan dan batas yang jelas serta dasar ulser berwarna putih atau kekuningan. Prevalensi SAR pada populasi dunia bervariasi antara 5% sampai 66% dengan rata-rata 20%. SAR diklasifikasikan dalam 3 tipe yaitu lesi minor, mayor, dan herpetiform; lesi sering ditemukan di mukosa labial, biasa diberikan terapi farmakologi berupa anti inflamasi topikal, serta membutuhkan masa penyembuhan 7-10 hari. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil lesi SAR pada pasien di Instalasi Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran (RSGM Unpad) periode tahun 2014-2015. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dari penelusuran data sekunder. Sampel penelitian yaitu rekam medis pasien dengan diagnosa SAR di RSGM Unpad periode 2014-2015. Hasil: Kasus SAR ditemukan sejumlah 47 kasus dari sejumlah 132 keseluruhan kasus penyakit mulut di instalasi penyakit mulut RSGM Unpad periode 2014-2015. SAR sebagian besar terjadi pada pasien dengan jenis kelamin perempuan daripada laki-laki, serta paling banyak ditemukan pada usia 20-29 tahun. Simpulan: Profil lesi SAR lebih banyak ditemukan tipe SAR minor, berlokasi di mukosa labial, dengan lama penyembuhan 7-14 hari dan penatalaksanaan farmakologi yang paling sering diberikan adalah topikal anti inflamasi kortikosteroid.Kata Kunci : Profil lesi oral, stomatitis aftosa rekuren, ilmu penyakit mulut
|
Profil lesi oral, stomatitis aftosa rekuren, ilmu penyakit mulut | 2017-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22112 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22112 |
| 1672367 | #6191 | Possible bruxism and probable bruxism in people with down syndrome at the persatuan orang tua dengan down syndrome (POTADS) Foundation: cross-sectional study |
Lathifah, Nabila Dara Soewondo,, Willyanti Yohana, Winny |
Possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang sindrom down di yayasan persatuan orang tua anak dengan down syndrome (POTADS): Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down (DS) merupakan suatu kelainan kongenital kromosom. Penyandang DS memiliki berbagai jenis kebiasaan buruk oral, salah satunya adalah bruksisme. Pendekatan non-instrumental untuk menilai bruksisme termasuk laporan diri dan pemeriksaan klinis. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang DS di Yayasan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS). Metode: Jenis penelitian dengan desain survei cross sectional. Subjek diperoleh dengan metode purposive sampling menghasilkan sebanyak 41 orang dari POTADS, terdiri dari 22 laki-laki dan 19 perempuan yang berhasil diuji. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk menilai possible bruksisme dan pemeriksaan klinis pada rongga mulut berupa kondisi gigi atrisi untuk menilai probable bruksisme. Hasil: Frekuensi possible bruksisme sebesar 68,30%; terdiri dari 14,64% sleep bruksisme (SB), 21,96% awake bruksisme (AB), dan 31,70% kombinasi. Frekuensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 57,14% laki-laki dan 42,85% perempuan, sedangkan berdasarkan kelompok usia sebesar 64,28% pada anak-anak, 25% pada remaja, dan 10,71% pada dewasa. Frekuensi probable bruksisme adalah sebesar 31,70%. Simpulan: Possible bruksisme pada penyandang DS di Yayasan POTADS adalah 68,70%, dimana lebih tinggi dibandingkan frekuensi probable bruksisme yaitu 31,70%. Laki-laki dan usia anak-anak merupakan kelompok terbanyak yang mengalami bruksisme.KATA KUNCI: Sindrom down, kebiasaan buruk oral, bruksisme.ABSTRACT Introduction: Down syndrome (DS) is a chromosomal congenital disorder. People with DS have various types of oral bad habits, one of which is bruxism. Non-instrumental approaches to assessing bruxism include self-report and clinical examination. The purpose of this study was to identify bruxism among individuals with DS at the Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (POTADS) Foundation. Methods: The type of research was a cross-sectional survey design. Subjects were obtained using the purposive sampling method, resulting in 41 people from POTADS, consisting of 22 men and 19 women, who were successfully tested. Data collection was carried out using a questionnaire to assess possible bruxism, as well as a clinical examination of the oral cavity to determine potential occurrence of bruxism by the observation of dental attrition conditions. Results: The frequency of possible bruxism was 68.30%, consisting of 14.64% sleep bruxism (SB), 21.96% awake bruxism (AB), and 31.70% combination bruxism. The frequency based on gender showed 57.14% male and 42.85% female, while based on age group, it was 64.28% in children, 25% in adolescents, and 10.71% in adults. The frequency of probable bruxism was 31.70%. Conclusions: Possible bruxism among individuals with DS at the POTADS Foundation is 68.70%, indicating a higher incidence compared to the frequency of probable bruxism, which is 31.70%. Males and children are the largest group who experience bruxismKEY WORDS: down syndrome, bad oral habit, bruxism.
|
Sindrom down, kebiasaan buruk oral, bruksisme, down syndrome, bad oral habit, bruxism. | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48089 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48089 |
| 1672366 | #6191 | Perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi Kelas I dan II skeletal The vertical facial height difference between skeletal class I and II malocclusions |
Lubis, Mimi Marina Fulvian, Jasver |
ABSTRAK  Pendahuluan: Tinggi vertikal wajah berperan penting untuk menghasilkan bentuk wajah yang seimbang. Bentuk wajah dibagi menjadi hiperdivergen, normodivergen, dan hipodivergen. Tinggi vertikal wajah pada setiap individu dapat dipengaruhi oleh faktor herediter, ras, jenis kelamin, kebiasaan buruk dan maloklusi. Maloklusi dapat menjadi penyebab perubahan dari struktur kraniofasial dan juga dapat mengganggu estetika pada wajah. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal dan perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Jenis penelitian cross-sectional, populasi penelitian adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU. Besar sampel pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus dua proporsi. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan sebanyak 96 sampel. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU berusia 8-15 tahun, tidak memiliki kebiasaan buruk, tidak pernah mengalami trauma, dan fraktur kraniofasial. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah tidak pernah melakukan perawatan ortodonti. Subjek maloklusi skeletal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan metode Steiner, kemudian dilakukan pengukuran tinggi vertikal wajah menggunakan metode Jarabak (S-Go/N-Me)%. Hasil: Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara kelas I dan II skeletal dengan nilai p=0,005 (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan nilai p=0,447 (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah pada kelas I dan II skeletal namun tidak terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah antara laki-laki dan perempuan. Kata kunci: Tinggi vertikal wajah, metode Jarabak, maloklusi kelas II dan kelas II skeletal, metode Steiner. ABSTRACT  Introduction: The vertical height of the face plays an essential role in producing a balanced face shape. The facial shape is divided into hyperdivergent, normodivergent, and hypodivergent. The vertical facial height in each individual can be influenced by hereditary factors, race, gender, bad habits, and malocclusion. Malocclusion can change the craniofacial structure and also interfere the facial aesthetics. This study was aimed to analyse the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions and the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions in males and females. Methods: This study was cross-sectional. The study population was orthodontic patients who had been treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital. The sample in this study was calculated using the formula of two proportions. The research sample that met the inclusion criteria was 96 samples. In this study, the inclusion criteria were orthodontic patients treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital aged 8-15 years, with no bad habits, never experienced trauma and craniofacial fractures. The exclusion criteria in this study was never had orthodontic treatment. Skeletal malocclusion of the subjects was measured with the Steiner method, then the vertical height of the face was measured using the Jarabak method (S-Go / N-Me)%. Results: Statistical analysis showed a significant difference in the vertical facial height between skeletal class I and II malocclusions, with p-value=0.005 (p<0.05), and there was no significant difference in the vertical facial height between male and female with p-value=0.447 (p>0.05). Conclusion: There is a difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions. However, there is no difference in vertical facial height between male and female. Keywords: Vertical facial height, Jarabak method, class I and class II skeletal malocclusions, Steiner method.
|
Tinggi vertikal wajah, metode Jarabak, maloklusi kelas II dan kelas II skeletal, metode Steiner. | 2021-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29376 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.29376 |
| 1672365 | #6191 | Effectiveness of black crab (scylla serrata) chitosan gel in inhibiting the growth of Candida albicans in vitro: experimental study |
Pradiva, Muhammad Naufal Rusdy, Hendry Agusnar, Harry |
ABSTRACTIntroduction: Chitosan is a polymer biomaterial obtained by deacetylation of chitin which is widely used for various processed products. Chitosan can inhibit the growth of Candida albicans, which is one of the fungi that play a role in the process of dental caries. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of black crab (Scylla serrata) chitosan gel in inhibiting the growth of Candida albicans. Methods: This study used a laboratory experimental method with a posttest only control group design. The sample used in this study was Candida albicans ATCC 10231 preparation. The study was conducted using a disc diffusion method to test the inhibition of black crab chitosan gel 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5% against Candida albicans. The data analysis technique used was One-way ANOVA. Results: The inhibition of Scylla serrata chitosan gel with a concentration of 0.5% has no inhibition against Candida albicans. However, it is different with Scylla serrata chitosan gel with a concentration of 1%, 1.5%, 2%, 2.5% has inhibition against Candida albicans. The inhibition of the positive control group (ketoconazole) was more effective in inhibiting Candida albicans than the chitosan gel at concentrations of 1%, 1.5%, 2%, and 2.5%. Conclusion: Chitosan gel derived from Scylla serrata has the ability to inhibit the growth of Candida albicans. This finding indicates the potential of chitosan gel as an effective antifungal agent, which can be used in the development of therapies to treat fungal infections.KEY WORDS: Antifungal, Candida albicans, black crab chitosan (scylla serrata), chitin, cariesEfektivitas daya hambat gel kitosan kepiting hitam (scylla serrata) terhadap pertumbuhan candida albicans secara in vitro : Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Kitosan merupakan biomaterial polimer yang diperoleh dengan deasetilasi kitin yang banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam produk olahan. Kitosan dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans yaitu salah satu jamur yang berperan dalam proses terjadinya karies gigi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas gel kitosan kepiting hitam (Scylla serrata) dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan desain kelompok kontrol post-test only. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sediaan Candida albicans ATCC 10231. Penelitian dilakukan menggunakan metode disc diffusion method untuk menguji daya hambat gel kitosan kepiting hitam 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5% terhadap Candida albicans. Teknik analisis data yang digunakan yaitu One-way ANOVA. Hasil: Daya hambat gel kitosan Scylla serrata dengan konsentrasi 0,5% tidak memiliki daya hambat terhadap Candida albicans. Namun berbeda dengan gel kitosan Scylla serrata dengan konsentrasi 1%, 1,5 %, 2 %, 2,5 % memiliki daya hambat terhadap Candida albicans. Daya hambat kelompok kontrol positif (ketoconazole) lebih efektif dalam menghambat Candida albicans dibandingkan dengan gel kitosan pada konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%. Simpulan: Gel kitosan yang berasal dari Scylla serrata memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan Candida albicans. Temuan ini mengindikasikan potensi gel kitosan sebagai agen antijamur yang efektif, yang dapat digunakan dalam pengembangan terapi untuk mengatasi infeksi jamur.KATA KUNCI: Antijamur, Candida albicans, kitosan kepiting hitam (scylla serrata), kitin, karies
|
Antijamur, Candida albicans, kitosan kepiting hitam (scylla serrata), kitin, karies ; Antifungal, Candida albicans, black crab chitosan (scylla serrata), chitin, caries | 2025-07-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61691 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.61691 |
| 1672364 | #6191 | Hubungan penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut pada remaja dan ibuThe correlation between dental hygiene behavior and self-assessed oral hygiene of adolescents and mothers |
Islamiati, Novita Suryanti, Netty Setiawan, Asty Samiaty |
ABSTRAKPendahuluan: Rendahnya perilaku kebersihan gigi mulut mengakibatkan terjadinya akumulasi plak serta risiko karies dan penyakit gusi. Penilaian diri terhadap kebersihan gigi memengaruhi perilaku. Perilaku kebersihan gigi remaja sangat berperan hingga dewasa serta masih membutuhkan perhatian orang tua. Penelitian bertujuan mengetahui penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut pada remaja dan ibu serta menganalisis hubungan antara penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut masing-masing remaja dan ibu. Metode: Jenis penelitian analitik korelasional dengan desain cross sectional. Populasi seluruh siswa SMP dan ibu. Penentuan subjek menggunakan random group methods didapat 186 siswa beserta ibunya. Data diperoleh melalui kuesioner penilaian diri terhadap kebersihan gigi mulut dan Oral Hygiene Behavior (OHB) Index dan diuji dengan korelasi spearman. Hasil: Indeks OHB remaja dan ibu adalah 8,00 dan 8,22 (kategori sedang). Analisis hubungan antara penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut, menunjukkan hubungan yang tidak signifikan, pada remaja didapatkan koefisien korelasi (r) 0,038; p=0,603 dan ibu (r) 0,042; p=0,569. Uji korelasi penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut antara remaja dan ibu memperlihatkan hubungan yang signifikan dengan p=0,001; r=0,274 dan p=0,013; r=0,181. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara perilaku dengan penilaian diri kebersihan gigi mulut pada remaja maupun ibu. Terdapat hubungan yang signifikan untuk penilaian diri dan perilaku kebersihan gigi mulut antara remaja dengan ibunya. Kata kunci: Kebersihan gigi; perilaku; menyikat gigi; penilaian diri; remajaABSTRACTIntroduction: Poor oral hygiene behavior causes plaque accumulation along with risk of caries and gum disease. Self-assessment of oral hygiene affects the behavior. Adolescent oral hygiene plays an important role until adulthood thus still needs parental attention. This study aims to determine self-assessment and behavior of oral hygiene in adolescents and mothers, as well as to analyze the correlation. Method: A correlation study with cross sectional design. The population was junior high school students and their mothers. Random group methods were used for subject determination, the total sample used was 186 students and their mothers. Data were obtained using Oral Hygiene Behavior (OHB) Index and self-assessed oral hygiene questionnaire, then tested with Spearman correlation. Results: OHB index of adolescents and parents were 8,00 and 8,22 (moderate category). The average self-assessed oral hygiene score of adolescents in the good category (48,9%) and mothers in the fair category (53,2%). Analysis of the relationship between behavior and self-assessment of oral hygiene showed no significant correlation with adolescent coefficient correlation (r) 0,038; p=0.603 and mothers (r) 0,042; p=0,569. Correlation tests of oral hygiene behavior and self-assessment showed significant results with behavior p=0,013; r=0,181 and self-assessment p=0,001; r=0,274. Conclusion: There is no association between behavior with self-assessed oral hygiene in both adolescents and mothers, but there is a correlation between oral hygiene behavior and self-assessment between adolescents and mothers.Keywords: Oral hygiene, behavior, toothbrushing, self-assessment, adolescent
|
Kebersihan gigi; perilaku; menyikat gigi; penilaian diri; remaja | 2022-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33251 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.33251 |
| 1672363 | #6191 | The difference of Heterotrigona itama honey gel degradation rate based on crystallinity index: Study experimental |
Alus, Levi Natya Anitasari, Silvia Kosala, Khemasili Ismail, Sjarif Yani, Sinar |
ABSTRACT Introduction: The application of dental topical agents is a preventive measure to protect dental surfaces, and one potential candidate is a Heterotrigona itama honey gel. Its thick and sticky characteristics allow for strong adhesion, making it less susceptible to degradation. The degradation rate of this gel can be analyzed through the crystallinity index value using FTIR. In addition, supporting components can be identified through functional group analysis. The purpose of this research was to analyze the difference degradation rate of Heterotrigona itama honey gel based on its crystallinity index and functional groups. Methods: The type of this research is a true experimental study utilizing FTIR–ATR Bruker Alpha II and origin software. A total of 25 teeth were divided into 5 groups with 10%, 12.5% and 15% Heterotrigona itama honey gels application, a dental topical application as the positive control and a 3,5% CMC Na gel as the negative control. The statistical analysis used was one way ANOVA and the Games Howell post hoc test. Results: The average crystallinity index values of 10%, 12.5% 15% Heterotrigona itama honey gels were 86,14%±2.91161, 86,60%±2.73380 and 87.88%±2.59568 respectively. The functional groups identified include O-H, C=O, C-H and C-O. Elucidation of chemical compounds showed the presence of carboxylic acid. The results of ANOVA showed significant differences (p<0.05). The statistical test between treatments showed a statistically significant difference between 10%, 12,5% and 15% Heterotrigona itama honey gels compared to the positive and negative controls. Conclusions: There is a difference in the degradation rate of Heterotrigona itama honey gel based on crystallinity index. The 15% Heterotrigona itama honey gel was less prone to degradation on the tooth surface compared to other treatment groups, as it had the highest crystallinity index.KEY WORDS: Heterotrigona itama honey gel, FTIR, degradation rate, crystallinity index, functional groupsPerbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Pengaplikasiaan dental topical merupakan tindakan preventif guna mencegah kerusakan lapisan gigi dan salah satu kandidatnya adalah gel berbasis madu Heterotrigona itama. Karakteristiknya yang kental dan lengket dapat memberikan perlekatan yang erat sehingga tidak mudah terdegradasi. Kecepatan degradasi dari gel ini dapat dianalisis dari nilai indeks kristalinitas menggunakan FTIR. Selain itu, komponen pendukung dapat diketahui melalui gugus fungsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas dan keberadaan gugus fungsi pendukung. Metode: Jenis penelitian berupa true experimental menggunakan FTIR-ATR Bruker Alpha II dan software origin. Sebanyak 25 gigi dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan berupa pengaplikasian gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15%, dental topical application sebagai kontrol positif dan gel CMC Na 3,5% sebagai kontrol negatif. Analisis statistika yang digunakan, yaitu one way ANOVA dan post hoc test Games Howell. Hasil: Rerata nilai indeks kristalinitas gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15% berurutan sebesar 86,14%±2.91161, 86,60%±273380, dan 87,88%±2.59568. Gugus fungsi pendukung meliputi O-H; C=O; C-H serta C-O. Elusidasi senyawa kimia, yaitu carboxylic acid. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0,05), uji statistika antar kelompok perlakuan menunjukkan ada perbedaan signifikan secara nyata antara gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15% terhadap kontrol positif dan kontrol negatif. Simpulan: Terdapat perbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas. Gel berbasis madu Heterotrigona itama 15% tidak mudah mengalami degradasi pada permukaan gigi dibandingkan kelompok perlakuan lain dikarenakan memiliki nilai indeks kristalinitas tertinggi.KATA KUNCI: Gel berbasis madu Heterotrigona itama, FTIR, kecepatan degradasi, indeks kristalinitas, gugus fungsi
|
Gel berbasis madu Heterotrigona itama, ftir, kecepatan degradasi, indeks kristalinitas, gugus fungsi | 2025-06-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63110 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.63110 |
| 1672362 | #6191 | The effect of lime juice as cavity cleanser on the tensile strength of self-etch adhesive system |
Widyastuti, Noor Hafida Rini, Desnia Sinta |
ABSTRACTIntroduction: Composite resin restorative materials cannot bond directly with the tooth structure, so an adhesive material is necessary. The strength of the adhesive bond is affected by the presence of a smear layer which can be cleaned using a cavity cleanser. The purpose of this study was to determine the effect of lime juice (Citrus aurantifolia S.) as a cavity cleanser on the tensile strength of generation VIII self-etch adhesive materials. Methods: The research that has been conducted is a true experimental laboratory study using a post test only control group design. The research was carried out using the Universal Testing Machine to measure the amount of force required to release the adhesion between the two materials. The treatment group consisted of 3 groups: group I was not given any ingredients (negative control), group II was given chlorhexidine (positive control), and group III was given lime juice as a cavity cleanser after the cavity preparation procedure. Then the self-etch adhesive material and GV Black class V composite resin filling were applied and a tensile strength test was carried out. The results of the data were then analyzed using the One Way Anova test. Results: The results of the study based on the One Way ANOVA test and the LSD post-hoc test showed a value of p = 0.00 (p <0.05), which means that there were differences between the three study groups. This is because lime juice contains saponins and citric acid which can clean the smear layer. Conclusion: lime juice (Citrus aurantifolia S.) has the effect of increasing the tensile strength of self-etch adhesive materials.KEY WORDS: self-etch adhesive, tensile strength, cavity cleanserPengaruh air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) sebagai cavity cleanser terhadap kekuatan tarik bahan adhesive self-etchABSTRAKPendahuluan: Bahan restorasi resin komposit tidak dapat berikatan langsung dengan struktur gigi sehingga diperlukan suatu bahan adhesif. Kekuatan ikatan adhesif dipengaruhi oleh keberadaan smear layer yang dapat dibersihkan menggunakan cavity cleanser. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) sebagai cavity cleanser terhadap kekuatan tarik bahan adhesif self etch generasi VIII. Metode: Penelitian yang telah dilakukan merupakan penelitian true eksperimental laboratorium menggunakan posttest only control group design. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat Universal Testing Machine mengukur besarnya gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan pelekatan antara dua bahan. Kelompok perlakuan terdiri dari 3 kelompok yaitu kelompok I tidak diberikan bahan apapun (kontrol negatif), Kelompok II diberikan chlorhexidine (kontrol positif), dan kelompok III diberikan air perasan jeruk nipis sebagai cavity cleanser setelah prosedur preparasi kavitas. Selanjutnya diaplikasikan bahan adhesif selfetch dan tumpatan resin komposit GV Black kelas V dan dilakukan uji kekuatan tarik. Hasil data kemudian dianalisis menggunakan uji One Way Anova. Hasil: hasil penelitian berdasarkan uji Oneway ANOVA dan post-hoc test LSD menunjukkan nilai p=0,00 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan diantara ketiga kelompok penelitian. Hal ini disebabkan karena air perasan jeruk nipis mempunyai kandungan saponin dan asam sitrat yang dapat membesihkan smear layer. Simpulan: Air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) memiliki pengaruh meningkatkan kekuatan tarik bahan adhesif self etch.KATA KUNCI: adhesif self-etch, kekuatan Tarik, cavity cleanser
|
Kata kunci: Cavity cleanser; jeruk nipis(Citrus aurantifolia S.); Adhesif self etch; Kekuatan tarik; Cavity cleanser; lime ( Citrus aurantifolia S.); adhesive self-etch system; tensile strength. | 2023-03-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43232 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.43232 |
| 1672361 | #6191 | Kualitas radiograf periapikal dengan teknik paralel di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas PadjadjaranQuality of periapical radiographs with parallel techniques in Universitas Padjadjaran Dental Hospital |
Fathiyya, Farah Pramanik, Farina Firman, Ria Noerianingsih |
Pendahuluan: Radiografi sering digunakan untuk pemeriksaan penunjang utama dalam menegakkan diagnosis kelainan periapikal dan yang paling sering digunakan adalah teknik intraoral periapikal. Menegakkan diagnosis secara tepat harus memperhatikan kualitas radiograf, karena digunakan sebagai alat bantu dalam penegakan diagnosis, penentuan rencana perawatan, dan evaluasi pasca perawatan. Teknik periapikal paralel menjadi pilihan terbaik karena dapat menghasilkan radiograf dengan distorsi minimal dan akurasi linier yang lebih akurat. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kualitas radiograf perapikal dengan teknik paralel di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjajaran. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh radiograf dengan teknik paralel pada tahun 2018. Sampel penelitian ditentukan dengan metode consecutive sampling pada bulan Oktober-Desember 2018, sehingga didapatkan sebanyak 52 sampel radiograf periapikal dengan teknik paralel. Hasil: Terdapat 27 radiograf periapikal (56%) memiliki kriteria penilaian sempurna, 22 radiograf periapikal (42%) memiliki kriteria penilaian dapat diterima secara diagnostik dengan terdapat beberapa kesalahan, dan 3 radiograf periapikal (6%) memiliki penilaian tidak baik sehingga tidak dapat diterima secara diagnostik berdasarkan National Radiological Protection Board serta pemenuhan kriteria kualitas paling banyak adalah kontras dan distorsi ukuran. Simpulan: Kualitas radiografi periapikal dengan teknik paralel di RSGM UNPAD secara umum dapat diterima secara diagnostik dengan penilaian kualitas berada pada rating 1 yaitu, tidak adanya kesalahan dari persiapan pasien, eksposure, posisi film holder, dan pengolahan film, serta dikatakan sempurna secara visual.Kata kunci: Kualitas radiograf, teknik periapikal paralel ABSTRACTIntroduction: Radiographs are often used for primary investigations in the diagnosis of periapical abnormalities, and the most frequently used is the intraoral periapical technique. Establishing appropriate diagnosis emphasise the radiograph quality, because it is used as a tool in establishing diagnoses, determining treatment plans, and post-treatment evaluation. The parallel periapical technique is the best choice because they can produce radiographs with minimal distortion and more accurate linear accuracy. The purpose of this study was to observe the quality of parallel imaging radiographs in Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: The type of research was descriptive. The study population was all radiographs with parallel techniques in 2018. The study sample was determined by the consecutive sampling method in October-December 2018, resulting in 52 samples of periapical radiographs with parallel technique. Results: There were 27 periapical radiographs (56%) with perfect assessment criteria, 22 periapical radiographs (42%) had diagnostic criteria of acceptable with several errors, and 3 periapical radiographs (6%) had poor assessment, so they were not acceptable for diagnostic use based on the National Radiological Protection Board and the fulfilment of the most quality criteria was the contrast and size distortion. Conclusion: The periapical radiographs quality with parallel techniques in Universitas Padjadjaran Dental Hospital can be generally accepted diagnostically with the assessment of quality at rating 1, namely, the absence of errors from patient’s preparation, exposure, film holder position, and film processing, and is said to be visually perfect.Keywords: Radiograph quality, parallel periapical technique
|
Kualitas radiograf, teknik periapikal paralel, radiograph quality, parallel periapical technique | 2019-02-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22178 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22178 |
| 1672360 | #6191 | Perbedaan stabilitas dimensi cetakan alginat yang disemprot dan direndam dengan natrium hipoklorit dan ekstrak buah mengkudu: studi eksperimental | Comparison of dimensional stability between sprayed and immersed alginate impression with sodium hypochlorite and an extract of Morinda citrifolia: Study experimental |
Sumantri, Dedi Waldiatma, Prima Suci |
ABSTRAKPendahuluan: Alginat merupakan bahan cetak yang paling umum digunakan pada kedokteran gigi, namun cetakan alginat dapat menjadi media penularan infeksi silang, oleh karena itu perlu didesinfeksi terlebih dahulu. Natrium hipoklorit dan ekstrak buah mengkudu merupakan desinfektan untuk alginat. Alginat mempunyai sifat imbibisi yang mempengaruhi stabilitas dimensi cetakan alginat, sehingga akurasi dan stabilitas dimensi cetakan alginat tetap perlu dipertahankan setelah proses desinfeksi. Tujuan penelitian menganalisis perbandingan stabilitas dimensi cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16%. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan post test only group design dengan 12 kelompok uji dan total jumlah sampel 60. Cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16% diisi gips, dengan masing-masing diuji pada perbedaan waktu 5 menit dan 10 menit kemudian diukur stabilitas dimensinya menggunakan jangka sorong digital. Data dianalisis dengan Two Way Anova, kemudian uji Post hoc Bonferroni. Hasil: Cetakan alginat yang direndam dengan sodium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan 16% mengalami perubahan dimensi yang lebih besar dibandingkan dengan yang disemprot dengan menggunakan sodium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan 16%. Uji Two Way Anova menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara cetakan alginat yang direndam dan disemprot. Simpulan: Terdapat perbedaan stabilitas dimensi antara cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16%, selama 5 dan 10 menit.KATA KUNCI: cetakan alginat, desinfeksi, ekstrak buah mengkudu, natrium hipoklorit, stabilitas dimensi.Comparison of dimensional stability between sprayed and immersed alginate impression with sodium hypochlorite and an extract of Morinda citrifolia: an experimental study ABSTRACTIntroduction: Alginate is the most common impression material used in dentistry; however, alginate impression results can be media transmission for cross infection, therefore it is important for disinfection. Sodium hypochlorite and the extract of morinda citrifolia are disinfectants for alginate. Alginate has some characteristics, such as imbibition, that can influence the dimensional stability and accuracy of the alginate impression. The purpose of this study was to determine the difference between the dimensional stability of immersed and sprayed alginate impressions with 0,5% sodium hypochlorite, 12%, and 16% Morinda citrifolia extract, with each tested at a time difference of 5 minutes and 10 minutes. Methods: Laboratory experiment with a posttest-only group design with a total of 60 samples in 12 groups. The alginate impression was immersed and sprayed with 0,5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia, filled with gypsum, then measured for the dimensional stability using a digital caliper. Data were analyzed with Two Way Anova test and Post hoc Bonferroni test. Results: The dimension stability of an immersed alginate impression with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia was greater than that of a sprayed alginate impression with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of morinda citrifolia. The Two Way Anova test showed significant difference (p<0,05) between the immersed and sprayed alginate impression. Conclusion: There are differences in the dimensional stability of alginate impression that was immersed and sprayed with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia for 5 and 10 minutes.KEY WORDS: impression alginate, desinfection, extract of morinda citrifolia, sodium hypochlorite, dimensional stability. | ABSTRACTIntroduction: Alginate is the most common impression material used in dentistry; however, alginate impression results can be media transmission for cross infection, therefore it is important for disinfection. Sodium hypochlorite and the extract of morinda citrifolia are disinfectants for alginate. Alginate has some characteristics, such as imbibition, that can influence the dimensional stability and accuracy of the alginate impression. The purpose of this study was to determine the difference between the dimensional stability of immersed and sprayed alginate impressions with 0,5% sodium hypochlorite, 12%, and 16% Morinda citrifolia extract, with each tested at a time difference of 5 minutes and 10 minutes. Methods: Laboratory experiment with a posttest-only group design with a total of 60 samples in 12 groups. The alginate impression was immersed and sprayed with 0,5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia, filled with gypsum, then measured for the dimensional stability using a digital caliper. Data were analyzed with Two Way Anova test and Post hoc Bonferroni test. Results: The dimension stability of an immersed alginate impression with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia was greater than that of a sprayed alginate impression with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of morinda citrifolia. The Two Way Anova test showed significant difference (p<0,05) between the immersed and sprayed alginate impression. Conclusion: There are differences in the dimensional stability of alginate impression that was immersed and sprayed with 0.5% sodium hypochlorite, 12% extract of Morinda citrifolia, and 16% extract of Morinda citrifolia for 5 and 10 minutes.KEY WORDS: impression alginate, desinfection, extract of morinda citrifolia, sodium hypochlorite, dimensional stability.Perbedaan stabilitas dimensi cetakan alginat yang disemprot dan direndam dengan natrium hipoklorit dan ekstrak buah mengkudu: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Alginat merupakan bahan cetak yang paling umum digunakan pada kedokteran gigi, namun cetakan alginat dapat menjadi media penularan infeksi silang, oleh karena itu perlu didesinfeksi terlebih dahulu. Natrium hipoklorit dan ekstrak buah mengkudu merupakan desinfektan untuk alginat. Alginat mempunyai sifat imbibisi yang mempengaruhi stabilitas dimensi cetakan alginat, sehingga akurasi dan stabilitas dimensi cetakan alginat tetap perlu dipertahankan setelah proses desinfeksi. Tujuan penelitian menganalisis perbandingan stabilitas dimensi cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16%. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan post test only group design dengan 12 kelompok uji dan total jumlah sampel 60. Cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16% diisi gips, dengan masing-masing diuji pada perbedaan waktu 5 menit dan 10 menit kemudian diukur stabilitas dimensinya menggunakan jangka sorong digital. Data dianalisis dengan Two Way Anova, kemudian uji Post hoc Bonferroni. Hasil: Cetakan alginat yang direndam dengan sodium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan 16% mengalami perubahan dimensi yang lebih besar dibandingkan dengan yang disemprot dengan menggunakan sodium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan 16%. Uji Two Way Anova menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara cetakan alginat yang direndam dan disemprot. Simpulan: Terdapat perbedaan stabilitas dimensi antara cetakan alginat yang direndam dan disemprot dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak buah mengkudu 12%, dan ekstrak buah mengkudu 16%, selama 5 dan 10 menit.KATA KUNCI: cetakan alginat, desinfeksi, ekstrak buah mengkudu, natrium hipoklorit, stabilitas dimensi.
|
Cetakan Alginat, desinfeksi, ekstrak buah mengkudu, natrium hipoklorit,stabilitas dimensi. Cetakan Alginat, desinfeksi, ekstrak buah mengkudu, natrium hipoklorit, stabilitas dimensi, Impression alginate, desinfection, extract of morinda citrifolia, sodium hypochlorite, dimentional stability. | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49983 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.49983 |
| 1672359 | #6191 | Pola intonasi tindak tutur direktif berdasarkan parameter akustik suara dalam praktik dental hypnosisIntonation pattern of directive speech acts based on sound acoustic parameters in the practice of dental hypnosis |
Destiarlisa, Aulia Maharani Yubiliana, Gilang Abdurrochman, Andri Darmayanti, Nani |
Pendahuluan: Penelitian ini merupakan penelitian interdisipliner antara ilmu kedokteran gigi, fisika, dan linguistik (bahasa). Komunikasi dokter gigi dan pasien saat melakukan praktik dental hypnosis mengandung tindak tutur di dalam tuturannya. Karakteristik suara tuturan dokter gigi secara kuantitas dapat dihitung menggunakan parameter akustik. Perhitungan parameter akustik akan menghasilkan pola yang dapat membantu untuk mengetahui jenis tindak tutur yang diberikan dokter gigi saat praktik dental hypnosis. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel kualitatif dalam penelitian ini yaitu kalimat-kalimat tindak tutur saat praktik dental hypnosis dan sampel kuantitatif hasil pengukuran parameter akustik dari data sekunder pada penelitian yang dilakukan sebelumnya tahun 2016 dengan jumlah naracoba sebanyak 4 orang yang terdiri dari 2 pria dewasa dan 2 wanita dewasa. Hasil: Pola intonasi tindak tutur berdasarkan parameter akustik dalam praktik dental hypnosis menunjukkan bahwa terdapatnya pola intonasi berupa naik turunnya parameter akustik intensitas dan nada (f0), formant 1 sampai dengan formant 5 khusus pada tindak tutur direktif (perintah). Simpulan: Pola intonasi yang dibentuk oleh tindak tutur murni dapat memperlihatkan bahwa tindak tutur direktif selalu memiliki nilai intensitas dan nada yang lebih tinggi dari tindak tutur lainnya, kemudian pada nilai formant 60% dari keseluruhan data perhitungan memiliki kesamaan pola intonasi.Kata kunci: Pola intonasi, tindak tutur, parameter akustik, dental hypnosis, ABSTRACT Introduction: Communication between dentist and patient during dental hypnosis practice consist of speech acts and can be quantitively measured by acoustic parameters. Based on the acoustic parameters, we can find the most appropriate and accurate pattern to help dentists in performing dental hypnosis practice. Methods: This research was descriptive with both quantitative and qualitative approach. Qualitative sample of this research were the sentences of the acts of speech while doing dental hypnosis, and the quantitative sample was the result of parameter acoustics based on the previous research conducted in 2016 about parameter from secondary data. The total of sample were four people consisted of two adults, men and women. Results: Intonation pattern in the form of up and down of the acoustic parameters. The acoustic parameters identified were intensity, pitch (f0), formant 1 until formant 5, from the directive, assertive, expressive, directive+assertive, expressive+assertive, and assertive+expressive speech acts. Conclusion:  The intonation pattern formed by pure speech acts shows that directive speech acts always have a higher intensity and tone value than other speech acts. The formant value of 60% of the total data calculation data has the same intonation pattern.Keywords : Intonation pattern, speech acts, acoustic parameters, dental hypnosis.
|
Pola intonasi, tindak tutur, parameter akustik, dental hypnosis, intonation pattern, speech acts, acoustic parameters. | 2020-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21989 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.21989 |
| 1672358 | #6191 | The effect of sandblasting surface treatment on shear bond strength between acrylic denture teeth and thermoplastic nylon denture base |
Barus, Ghea Primta Nasution, Hubban |
Thermoplastic nylon has been introduced in dentistry as a material for denture bases since 1950’s. Thermoplastic nylon has become a popular alternative for denture fabrication, which provides better aesthetics and several advantages. Unfortunately, thermoplastic nylon has insufficient shear bond strength with acrylic resin, causing the acrylic denture teeth to often debond from the thermoplastic nylon denture base. Sandblasting is suggested can be used to increase shear bond strength between artificial teeth and denture bases. This study aims-to evaluate the effect of sandblasting surface treatment on shear bond strength between acrylic denture teeth and thermoplastic nylon denture base. Four groups with different aluminum oxide particle sizes (No treatment, 50 μm, 110 μm, 250 μm) were used in this study (n=8). A universal testing machine was used to test the specimens. The data were analyzed using the One-way ANOVA test. One-way ANOVA showed a statistically significant difference between groups (P < 0.001). There is an effect of sandblasting surface treatment on shear bond strength between acrylic denture teeth and thermoplastic nylon denture base. Sandblasting with 250 μm aluminum oxide showed the best result than another group. KEY WORDS: shear bond strength, sandblasting, acrylic denture teeth, thermoplastic nylon, denture base.
|
2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55225 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.55225 | |
| 1672357 | #6191 | Gambaran nilai ketajaman radiograf panoramik berdasarkan pengamatan di RSGM UnpadDescription sharpness of radiograph panoramic in RSGM Unpad |
Fathmi, Nisa Nur Firman, Ria Noerianingsih Nurrachman, Aga Satria Pramanik, Farina |
ABSTRAKPendahuluan: Ketajaman radiograf merupakan kemampuan suatu gambar radiograf memperlihatkan batas tegas objek, sehingga memiliki bentuk dan detail yang jelas. Tidak tajam dan buramnya gambaran radiograf dapat menyebabkan diagnosis serta rencana perawatan menjadi kurang tepat, lesi karies tidak teridentifikasi dengan baik, menyulitkan evaluasi perkembangan gigi-geligi dan menyebabkan pasien terekspos radiasi berlebih, karena dibutuhkan pengulangan pengambilan gambar radiograf. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran nilai ketajaman radiograf panoramik di RSGM UNPAD. Metode: Jenis penelitian merupakan deskriptif dengan populasi yaitu data arsip radiograf panoramik di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran selama bulan September–November 2019. Pengambilan sampel menggunakan total sampling dan diperoleh sebanyak 85 sampel. Analisis ketajaman dilakukan secara visual dengan melakukan pengamatan dan penilaian data radiograf panoramik Hasil: Sebanyak 62 radiograf panoramik (73%) memiliki ketajaman baik, 21 radiograf panoramik (25%) memiliki ketajaman sedang dan 2 radiograf panoramik (2%) memiliki ketajaman buruk. Simpulan: Radiograf panoramik di RSGM UNPAD memiliki gambaran nilai ketajaman baik.Kata kunci: ketajaman radiograf; kualitas radiograf; radiograf panoramik; RSGM Unpad ABSTRACTIntroduction: Radiographic sharpness is the ability of a radiograph image to show strict edge of the object, so it has clear shapes and details. Unsharpness and blurred radiographs can caused diagnosis and treatment plans to be less accurate, carious lesions are not properly identified, complicate the evaluation of the development teeth and cause patients to be exposed by excessive radiation, because it requires repetition of radiographic images. Tthe purpose of this study is to know the description of panoramic radiograph sharpness at RSGM UNPAD. Methods: This research was a descriptive study. The study population was taken from RSGM Padjadjaran University for three months. Total sampling was used and resulted 85 samples. The study was conducted by observing and evaluating panoramic radiograph data. Results: There were 62 panoramic radiograph (73%) have a good sharpness images, 21 panoramic radiograph (25%) have moderate sharpness images and 2 panoramic radiograph (2%) have poor sharpness images. Conclusion: Panoramic radiograph at the RSGM UNPAD have good sharpness images.Keywords: sharpness radiograph; quality radiograph, panoramic radiograph; RSGM Unpad
|
ketajaman radiograf; kualitas radiograf; radiograf panoramik; RSGM Unpad; sharpness radiograph; quality radiograph, panoramic radiograph; RSGM Unpad | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31888 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.31888 |