Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670316 #3358 Penanganan Limbah Cair Industri Pengolahan Produk Hewani Serta Pemanfaatannya Menjadi Sabun Cair Kemala, Nadya Shita
Pareira, Boy Macklin
Widyasanti, Asri
Industri makanan merupakan salah satu sumber penghasil limbah cair. Industri makanan pada penelitian ini berada di tengah kota yang limbahnya berdampak langsung pada masyarakat. Tujuan penelitian ialah melakukan proses pemisahan minyak dan lemak serta membuat sabun cair berbahan dasar minyak dan lemak limbah cair. Metode pertama yang digunakan ialah grease trap dan metode kedua ialah pemurnian dengan degumming dan deodorizing. Penggunaan metode pertama menunjukkan peningkatan dengan karakteristik BOD menjadi 5.371 mg/liter, TSS menjadi 117 mg/liter, minyak dan lemak menjadi 5,0 mg/liter, berkurangnya bau serta pH menjadi 7,44. Selanjutnya, penggunaan metode kedua dengan penambahan 2% bentonit dan 2% zeolit mendapatkan hasil kadar air 0,015%, kadar abu 0,11%, kadar protein 0,45%, kadar lemak 100% dan kadar karbohidrat 0%. Sabun cair dapat dihasilkan dengan penambahan VCO (Virgin Coconut Oil) yang mampu meningkatkan pembusaan. Perbandingan penggunaan bahan utama sebesar 50:50. Hasil analisa mutu SNI 06-2048-1990 adalah alkali bebas 0,0077%, lemak tak tersabunkan 1,9808% dan minyak pelikan negatif telah memenuhi persyaratan. Namun, jumlah asam lemak tidak memenuhi persyaratan dengan nilai sebesar 7,151%. Kadar air sebesar 53,9696% tetapi tidak ada angka spesifik pada SNI untuk parameter ini. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan panelis menyukai sabun tersebut dengan nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan sabun pembanding dengan interpretasi baik.Kata kunci: Limbah cair, minyak dan lemak, sabun cair
2018-09-20 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13741 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol12n1.2
1670315 #3358 RANCANGAN JADWAL DAN POLA TANAM PERTANIAN LAHAN KERING BERBASIS PERUBAHAN KONDISI IKLIM (STUDI KASUS KECAMATAN NAGREG) NP, Sophia Dwiratna
Tujuan penelitian ini adalah membuat rancangan jadwal dan pola tanam pertanian lahan kering di Kecamatan Nagreg untuk mengantisipasi dampak perubahan kondisi iklim. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dimana jadwal dan pola tanam pertanian lahan kering di Kecamatan Nagreg disusun berdasarkan ketersediaan air pada tiga kondisi iklim (tahun kering, tahun normal dan tahun basah). Penentuan pola tanam mengacu pada kondisi setempat, yaitu sesuai dengan jenis tanaman yang biasa di budidayakan petani. Berdasarkan analisis neraca air ketiga kondisi iklim tersebut diketahui bahwa pola tanam lahan kering di Kecamatan Nagreg hanya dapat dilakukan 2 kali dalam setahun pada semua kejadian iklim. Jadwal tanam tahun basah dimulai pada September 2 (MT1) dan Januari 2 (MT2), jadwal tanam tahun normal pada Oktober 2 (MT1) dan Februari 2 (MT1), sedangkan jadwal tanam tahun kering pada November 1 (MT1) dan Maret 1 (MT2). Pola tanam yang direkomendasikan pada tahun basah adalah Jagung/Padi Ladang + Mentimun/Cabe rawit/kacang panjang/kacang merah (MT1) – Jagung + kacangmerah/kacang tanah/mentimun + singkong(MT2). Pola tanam yang direkomendasikan pada tahun normal dan tahun kering adalah Jagung/cabe + cabe rawit/mentimun/kacang panjang + singkong (MT1) - kacang merah (MT2). Kata kunci: jadwal tanam, pola tanam, perubahan iklim, tahun basah, tahun normal, tahun                        kering
2012-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6336 buka_link ↗ Highlight_link
1670314 #3358 Kajian Pemanfaatan Sampah Pemukiman Sebagai Bahan Dasar EM-Bokashi dan Interaksinya dengan Jumlah Pemberian Air Terhadap Hasil dan Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicon eseulentum Mill) -, Wagiono
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jumlah pemberian air dan berbagai jenis EM-Bokashi sampah rumah tangga sebagai bahan dasar pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill), dan memberikan informasi kombinasi perlakukan jumlah pemberian air dan EM-Bokashi mana yang paling mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2005Hasil penelitian menujukkan terdapat interaksi antara perlakuan jumlah pemberian air dan perlakuan berbagai jenis EM-Bokashi terhadap  tinggi tanaman sebagai respon pertumbuhan tanaman tomat dan pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan kombinasi perlakuan jumlah pemberian air 625 ml/hari dan pemberian EM-Bokashi berasal dari rubbish sebanyak 30 ton/ha (K3E1), setinggi 208,00 cm. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan jumlah pemberian air dan perlakuan berbagai jenis EM-Bokashi terhadap jumlah buah dan berat buah sebagai respon hasil tanaman tomat. Berat buah paling baik terdapat pada perlakuan pemberian EM-Bokashi yang berasal dari rubbish sebanyak 30 ton/ha(K3), seberat  3.495,00 gram pertanaman atau setara dengan 13,980 ton/ha, demikian juga dengan jumlah buah pertanaman yang paling baik terdapat pada perlakuan pemberian EM-Bokashi yang berasal dari rubbish  sebanyak 30 ton/ha(K3), dengan jumlah buah rata-rata 46,32 buah pertanaman. Kata kunci: Sampah pemukiman, EM-Bokashi
2014-12-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4787 buka_link ↗ Highlight_link
1670313 #3358 Sifat Fisikokimia dan Komposisi Nutrisi Pada Gula Cair yang Diproses dengan Metode Vakum Kusuma, Hasbi Ashshiddiqi
Lestari, Nia Agus
Christie, Chitra Dewi Yulia
Faktor utama penyakit diabetes adalah tingginya konsumsi gula dalam produk makanan, minuman, dan kembang gula. Nira memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah sebesar 35, sehingga dapat dijadikan sebagai pemanis yang lebih sehat. Nira adalah minuman manis dan transparan yang populer diberbagai negara karena nilai kesehatannya yang tinggi. Selain itu merupakan salah satu minuman paling sehat dan tidak mengandung alkohol. Nira kelapa yang baru disadap mengandung 15-18% (b/v) sukrosa. Gula cair palma dari tiga varietas berbeda di Kecamatan Nglegok Kab. Blitar diteliti karena sifat fisikokimia dan nilai gizinya. Variasi viskositas, pH, total padatan terlarut, total keasaman, salinitas, aktivitas air, intensitas pencoklatan dan kandungan antioksidan dari Gula cair diamati di antara varietas tersebut. Gula adalah bahan kering utama yang disajikan dalam semua Gula cair, diikuti oleh protein dan abu. Total asam fenolik dan kandungan flavonoid total ditentukan dalam semua Gula cair dengan konsentrasi yang bervariasi. Hasil menyoroti variasi sifat fisikokimia dan komposisi nutrisi Gula cair. Secara keseluruhan, Gula cair dapat dikatakan sebagai pemanis alternatif untuk aplikasi dalam formulasi pangan fungsional.
teknologi industri pertanian diabetes; gula cair; nira 2022-08-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38988 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n2.8
1670312 #3358 Redesign of Sago Tempe Chips Packaging Using a Kansei Engineering Approach Audia, Farhana
Johan, Vonny Setiaries
Juarsa, Rahmadini Payla
Dewi, Yossie Kharisma
Kurniawan, Mhd Andry
Sago tempe chips are snacks made from soybeans and sago flour. The packaging of sago tempe chips uses transparent plastic with label stickers, making it appear simple and less attractive to consumers. One strategy to attract consumers is redesigning the packaging using the kansei engineering approach. This study aims to produce a packaging design for sago tempe chips that suits consumer preferences using a kansei engineering approach. This study helps produce packaging designs that suit consumer desires and needs so that they can attract consumers. The method used is a survey with a kansei engineering approach. Based on this study, eight kansei words were identified, namely informative, unique, artistic, attractive, quality, easy to use, innovative, and colorful. The packaging design concepts extracted from the kansei words using principal component analysis (PCA) were identified as “informative,” “colorful,” and “quality.” The design elements identified from the 10 packaging samples included shape, supporting images, materials, color, and size. Based on the R-squared value of quantification theory type 1 (QTT1), the concept of “quality” was selected because it had a higher value. Tempe sagu chip packaging is considered quality if it has a pillow-shaped bag design, features product images, uses aluminum foil material, employs multiple colors (>3 colors), and has a medium-sized package.
kansei engineering; packaging design; principal component analysis (PCA); quantification theory type 1 (QTT1); sago tempe chips 2026-04-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65183 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.3
1670311 #3358 PERUBAHAN KANDUNGAN KLOROFIL DARI TIGA JENIS SAYURAN SELAMA PROSES PENGERINGAN DENGAN OVEN VAKUM ,, Tensiska
Setiasih, Imas Siti
., Fathunnisa
Klorofil sebagai pewarna alami dapat digunakan sebagai suplemen makanan. Sumber klorofil potensial terdapat pada sayuran hijau seperti daun singkong, bayam, dan daun pepaya.yang tersedia dalam bentuk ekstrak cairan, sehingga kurang praktis dalam penggunaannya. Karena itu perlu dilakukan mikroenkapsulasi dengan penyalut dekstrin. Pengeringan dilakukan menggunakan oven vakum pada suhu 40 ± 5ÂșC dengan variasi waktu pengeringan Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan kandungan klorofil dari tiga jenis sayuran selama proses pengeringan ekstrak klorofil dengan oven vakum pada waktu yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama ialah jenis sayuran yang terdiri dari 3 taraf yaitu daun singkong, bayam, dan daun pepaya. Faktor yang kedua ialah lama pengeringan yang terdiri dari 3 taraf yaitu 30, 60, dan 90 menit. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis sayuran bayam menghasilkan bubuk klorofil dengan intensitas warna hijau (-a*) paling tinggi -4,34, kandungan total klorofil 23,47 mg/L, klorofil a 14,65 mg/L, klorofil b 8,85 mg/L, dan rendemennya 0,29 %. Lama pengeringan 30 menit sudah cukup untuk mengeringkan bubuk klorofil dalam oven vakum dengan suhu 40±5ÂșC. Kata kunci: kloropil, sayuran, proses  pengeringan, oven vakum
2013-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6376 buka_link ↗ Highlight_link
1670310 #3358 PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT ARI KACANG KEDELAI Sugandi, Wahyu Kristian
Sufyandi, Ari
Herwanto, Totok
Pengusaha Tahu Sumedang sampai sekarang masih mengupas sendiri bahanbakukedelainya secara manual dengan kapasitas pengupasan antara 20 – 22 kg/jam atau 120 – 132 kg per hari (6 jam kerja). Sementara  kebutuhan kedelai kupasan berkisar antara  30 – 40 kg per jam atau antara 180 – 260 kg per hari. Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian UNPAD telah merancang mesin pengupas kulit ari kacang kedelai dengan kapasitas manual 30 kg/jam melalui metode rekayasa berdasarkan analisis kebutuhan, analisis struktural, analisis fungsional, analisis teknik dan analisis biaya. Hasil rancangan adalah mesin pengupas kulit ari kacang kedelai berdimensi panjang  61 cm, lebar 52 cm dan tinggi 106,37 cm. Daya yang dibutuhkan mesin ini adalah 313 watt/jam dan total biaya produksi Rp 2.053.320,- per unit. Kata kunci: Mesin pengupas, Kulit ari kacang kedelai
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4826 buka_link ↗ Highlight_link
1670309 #3358 Analisis Kinerja Lingkungan Unit Bisnis Teh Hijau Perusahaan X dengan Metode IEPMS dan LCA Putri, Selly Harnesa
Andriyani, Mery
Sita, Kralawi
Widyasanti, Asri
Persoalan lingkungan pada industri teh semakin berkembang seiring dengan perkembangan fokus utama industri dalam meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap kinerja lingkungannya. Perusahaan X sebagai salah satu perusahaan teh berupaya untuk meningkatkan performa kinerja lingkungannya dengan menciptakan proses produksi yang ramah lingkungan. Perusahaan X belum memiliki sistem pengukuran kinerja lingkungan yang seimbang dan terintegrasi. Penelitian ini berfokus pada perancangan sistem pengukuran kinerja lingkungan di unit bisnis teh hijau perusahaan x dengan menggunakan metode Integrated Environmental Performance Measurement System (IEPMS) dan Life Cycle Assessment (LCA), kemudian melakukan identifikasi aspek lingkungan dari kegiatan operasional, merancang Key to Environmental Performance Indicator (KEPI), melakukan pembobotan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), mengukur KEPI menggunakan Objective Matrix (OMAX) dan traffic light, serta memberikan rekomendasi perbaikan kinerja lingkungannya. Hasil perancangan kinerja lingkungan di perusaahan x berupa 23 KEPI yang meliputi 16 KEPI kuantitatif dan 7 KEPI kualitatif dengan menghasilkan 7 KEPI kategori merah, 2 KEPI kategori kuning, dan 14 KEPI kategori hijau. Nilai kinerja lingkungan unit bisnis teh hijau perusahaan x yang diperoleh dari hasil pembobotan menggunakan metode AHP dan scoring system adalah sebesar 6,373 dan berada dalam kategori kuning menggunakan traffic light system yang berarti bahwa kinerja lingkungan perusahaan x masih perlu dilakukan perbaikan dan pengawasan oleh pihak perusahaan.Kata kunci: Industri Teh Hijau; Kinerja Lingkungan
2023-08-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42587 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jtvol17n2.9
1670308 #3358 EVALUASI PENGGUNAAN LYSIMETER UNTUK MENDUGA EVAPOTRANSPIRASI STANDAR DAN EVAPOTRANSPIRASI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L) Merril) Adha, Fadhilatul
Manik, Tumiar Katarina
Rosadi, R.A. Bustomi
The purpose of this research was to evaluate estimating method of standard evapotranspiration and crops evapotranspiration using lysimeter than be compared with estimation result of evaporimeter pan and Penman – Monteith model who recommendated by FAO.  Standard evapotranspiration was estimated using reference crops and crops evapotranspiration was estimated using soybean Kaba varieties which planted in lysimeters. Rainfall data and standard evapotranspiration of evaporimeter pan be obtained from Agroclimate stations of Masgar in Pesawaran distric in Lampung, and evapotranspiration Penman – Monteith model was estimated by CROPWAT using climate data during 2007 – 2011 from Agroclimate stations of Masgar. The estimating result of standard evapotranspiration and crops evapotranspiration using lysimeter were higher than evaporimeter pan and model. The estimation results of standard evapotranspiration and crop evapotranspiration of Lysimeter was higher than the estimation evaporimeter pan and model. The average of standard evapotranspiration during nine dasarian is  6.14 mm/day, average of crop evapotranspiration is 7.54 mm/day, while the standard evapotranspiration of evaporimeter pan is 3.55 mm / day, and standard evapotranspiration estimation results with CROPWAT for November to February are 3.27; 3.20; 3.63; 3.51 mm/day. Crop coefficient (Kc) estimation results of each phase was 0.96 in the initial phase, 1.16 in the development phase, 1.67 in the mid season phase, and 1.18 at the end season phase. Crop coefficient (Kc) Soybean lysimeter estimation results are higher than FAO Crop coefficient recommendation. However observed from the growth and yield of soybean plants seen their best with 10.73 gr of 100  seeds of yield. So that suggested for further research with direct ETo measurement method can be applied with modification or regenerated of lysimeter specifications and construction to consider other parameters of water balance in lysimeter.keywords :  standard evapotranspiration, crops evapotranspiration, lysimeter, soybean
2017-03-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10334 buka_link ↗ Highlight_link
1670307 #3358 PENGARUH PENAMBAHAN NATRIUM ALGINAT TERHADAP KARAKTERISTIK MINUMAN FUNGSIONAL DARI SERBUK MINUMAN CINCAU HIJAU (Cyclea barbata L. Miers) Miranti, Mira
Rialita, Tita
-, Tensiska
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Na-alginat yang tepat untuk menghasilkan minuman fungsional dari serbuk minuman dari serbuk minuman cincau hijau yang memiliki karakteristik yang baik dan disukai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 Ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah Penambahan Na-alginat dengan konsentrasi  0 % (A), 0,5 % (B). 1% (C), 1,5 % (D), dan 2% (E).Hasil penelitian menunjukkan penambahan Na-alginat 0,5 % menghasilkan  minuman dari serbuk cincau hijau dengan rasa  ”disukai”, dan nilai kesukaan ”biasa’  untuk warna, aroma  kekentalan dengan total padatan terlarut 12,16 o Brix dan  viskositas 15,28 cp. Serbuk cincau hijau tersebut memiliki kadar  total serat pangan  9,51%, serat pangan tidak larut 2,46% dan serat pangan larut 7,05%, kadar air 3,24 % dan kadar abu 3,47 %. Kata kunci : Cincau hijau, Minuman fungsional, Kekentalan, Serat pangan
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4878 buka_link ↗ Highlight_link
1670306 #3358 Hidrosol Serai Wangi: Karakteristik, Aktivitas Antioksidan dan Aktivitas Antibakteri Putri, Annisa
Kasim, Anwar
Hidrosol serai wangi merupakan produk samping yang dihasilkan dari proses penyulingan tanaman serai wangi. Hidrosol berbentuk cair, berwarna jernih dan beraroma sama dengan tanaman aromatiknya. Hidrosol masih mengandung minyak atsiri dalam jumlah yang kecil yaitu 0.2%. Hal ini menjadikan hidrosol berpotensi sebagai produk samping yang memiliki manfaat untuk digunakan dan diolah lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik hidrosol serai wangi yang meliputi pH, warna, aroma, dan indeks bias, mengetahui aktivitas antioksidan hidrosol serai wangi, dan mengetahui aktivitas antibakteri hidrosol serai wangi. Pengujian pH hidrosol serai wangi menggunakan pH meter, aroma dan warna menggunakan uji organoleptik dan indeks bias menggunakan refraktometer abbe. Aktivitas antioksidan diukur dengan menggunakan metode DPPH, dan total fenol diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Aktivitas antibakteri diukur menggunakan metode cakram dengan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan pH hidrosol serai wangi 4.7, aroma khas serai wangi dengan warna bening sedikit kuning, nilai indeks bias hidrosol serai wangi adalah 1.313. Aktivitas antioksidan dan total fenol hidrosol serai wangi pada konsentrasi hidrosol 200, 400, 600, 800 dan 1000 ppm adalah 9.60, 12.65, 18.27, 27.75, dan 32.44 % inhibisi dan 35.87, 52.17, 68.04, 73.48, dan 81.30 mgGAE/gr. Aktivitas antibakteri menggunakan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan zona hambat 3.8 mm dengan kategori daya hambat lemah untuk E.coli dan 11.7 mm dengan kategori daya hambat sedang.
Hidrosol; serai wangi; aktivitas antioksidan; aktivitas antibakteri 2024-08-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51069 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n2.5
1670305 #3358 Comparative Study of Glucose and Xylose Production in Enzymatic Hydrolysis Result by Batch and Fed Batch Method Yudiastuti, Silvia Oktavia Nur
Mardawati, Efri
Kresnowati, MTAP
Bindar, Yazid
Xylose is a five carbon chain monosaccharide that can be used as a substrate in the fermentation of low-calorie xylitol. While glucose is a six carbon chain monosaccharide that can be processed into glucose syrup as a more stable natural sweetener in the food processing industry. Xylose is xylan monomer produced from hydrolysis of hemicellulose from plants or biomass woody waste.  While glucose is the result which is also produced in xylan hydrolysis by xylanase enzymatic hydrolysys. In the search for the source of hemicellulose, oil palm empty fruit bunch (OPEFB) as a solid waste from crude palm oil processing is a source that can be utilized in this research. OPEFB waste is abundant by the increasing world demand for vegetable oil. Considering the OPEFB enzymatic hydrolysis was a hetrogenous solid-liquid reaction, fed batch feeding of substrate was thought to improve the reaction performance. Hydrolysis experiments were performed at temperature 500C, pH 5 and for 96 hours hydrolysys time with substrate concentration at 15% and enzyme dose of 1%. The result showed that the feed-batch hydrolysis configuration provided higher yield of xylose and glucose than batch configuration but unsignificant.Keywords : Enzymatic Hydrolysis, Fed-batch, glucose, Xylan, Xylanase, Xylose.
2018-10-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15994 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol12n1.9
1670304 #3358 Prediksi Erosi Dengan Persamaan Modified Universal Soil Loss Equation di Lahan Pertanian Berlereng Curam Bafdal, Nurpilihan
Amaru, Kharistya
Suryadi, Edy
Pengambilan data erosi di lapangan telah dilaksanakan di lahan penelitian Laboratorium Hijauan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Plot penelitian mempunyai kemiringan lahan 22 % dengan panjang lereng 22 meter dan lebar 9 meter. Berdasarkan analisis pada segitiga tekstur tanah, tanah di lahan penelitian masuk kedalam Liat Berdebu. Penelitian ini bertujuan memprediksi erosi dengan menggunakan pengembangan model  prediksi erosi Modified Universal Soil Loss Equation / MUSLE dan disesuaikan dengan karakteristik daerah penelitian. Hasil pengamatan lapang menunjukkan jumlah erosi kecil, dengan intensitas berkisar antara 0.03 mm/menit sampai 0.89 mm/menit. Intensitas tersebut belum dapat mengakibatkan erosi yang tinggi. Hasil perbandingan antara data pengukuran dengan data perhitungan prediksi erosi berdasarkan metoda Sum Square Error memberikan hasil yang memuaskan dalam prediksi erosi. Sum Square Error menunjukkan  nilai yang berkisar antara 0.43 hingga nol, berarti persamaan dapat digunakan di daerah penelitian. Hasil simulasi dengan variasi kategori hujan menunjukkan korelasi yang erat pada hubungan antara tinggi hujan dan erosi, hal ini dapat terlihat pada nilai korelasi yang mendekati satu. Kata kunci : Prediksi erosi, MUSLE, Lahan kemiringan curam, Lahan pertanian
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5071 buka_link ↗ Highlight_link
1670303 #3358 Kajian Kualitas Briket Sekam Padi sebagai Bahan Bakar Alternatif Moulia, Mona Nur
Rahayu, Dwi
Ahmad, Shaf Rijal
Suliyanto, Heri
Sekam padi merupakan salah satu limbah hasil penggilingan padi. Sekam padi dapat dipakai sebagai sumber biomassa yang dijadikan bahan utama pembuatan briket. Penambahan barang perekat pada briket sekam bertujuan untuk meningkatkan nilai kalor dari briket. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi briket sekam sebagai energi alternatif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pirolisis dengan pembakaran menggunakan tungku tertutup dan menggunakan ayakan dengan ukuran 20 mesh. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan faktor sekam bakar, tapioka dan oli (0 g, 5 g dan 10 g). Analisis briket terdiri dari kadar air (metode Gravimetri), kadar abu (metode Gravimetri), pengukuran kerapatan (densitas) (SNI 013235 2000), pengukuran berat jenis (SNI 013235 2000), kadar zat menguap (volatile matters) (SNI 013235 2000), laju pembakaran (SNI 013235 2000), nilai kalor menggunakan bomb colorimeter Parr 6200 (ASTM D4809). Sampel B (penambahan oli 5 g) menunjukkan hasil yang optimal dibandingkan dengan sampel A (tanpa penambahan oli) dan C (penambahan oli 10 g). Sampel B memiliki kadar air terendah (10%). kadar abu terendah (27,96%), densitas terendah (0,73 g/cm2), berat jenis tertinggi (72,04 kg/m3), kadar zat menguap (volatile matters) tertinggi (72,04%), laju pembakaran tertinggi (0,22 g/menit) dan memiliki nilai kalor sebesar 3024,33 kkal/kg.
Arang sekam; briket; tapioka 2025-08-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63591 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n2.1
1670302 #3358 Penggunaan Berbagai Konsentrasi Kulit Buah Pepaya dalam Penurunan Kadar Kafein pada Kopi Rosalinda, S.
Febriananda, Tio
Nurjanah, Sarifah
Biji kopi merupakan bijian penghasil minuman. Beberapa peneliti terdahulu menunjukkan bahwa kopi memiliki potensi sebagai zat antioksidan, merangsang kinerja otak dan antikanker. Kopi juga memiliki kekurangan yaitu mengandung kadar kafein yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan beberapa efek negatif pada tubuh, seperti meningkatnya denyut jantung. Pengurangan kadar kafein dapat dilakukan dengan cara melakukan dekafeinasi pada biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kulit buah pepaya dalam penurunan kadar kafein kopi arabika. Penelitian ini menggunakan konsentrasi kulit papaya yang dihaluskan (0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) dengan lama waktu fermentasi selama 36 jam. Hasil perlakuan dibandingkan dengan data kontrol (kopi standar produksi Poktan Kopi Manglayang) sebagai acuan penelitian. Kopi bubuk yang dihasilkan telah dilakukan analisa kadar kafein, kadar air, kadar abu, dan uji hedonik. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi kulit pepaya 80%. Perlakuan terbaik ini menghasilkan kadar air 3,48% ± 0,01, kadar kafein 1,07% ± 0,06, kadar abu 3,46% ± 0,02, dan uji hedonik dengan nilai analisa warna 4,17; analisa aroma 3,7; analisa rasa 3 dan 3,43 dan analisa aftertaste 3,43. Hasil analisa kadar kafein didapatkan bahwa konsentrasi 0% sebesar 1,40% ± 0,02, konsentrasi 20% sebesar 1,38% ± 0,02, konsentrasi 40% sebesar 1,24% ± 0,04, konsentrasi 60% sebesar 1,13% ± 0,08. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa enzim papain yang terdapat pada kulit buah pepaya mampu menurunkan kadar kafein. Kata kunci: dekafeinasi; kopi arabika; kulit papaya; penurunan kafein
pengolahan hasil pertanian dekafenisasi; kopi arabika; kulit papaya, penurunan kafein Teknik pertanian 2021-08-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34086 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n1.5
1670301 #3358 Perbaikan Tanah Sulfat Masam melalui Aplikasi Biochar Diperkaya Daun Kelor dan Kalium untuk Produksi Terong Astar, Ismail
Rahayu, Sri
Oktarianti, Sherly
Setiawan, Setiawan
Suyanto, Agus
Tanah sulfat masam merupakan kendala utama dalam pengelolaan lahan pertanian karena kemasaman tinggi dan keterbatasan hara yang menghambat produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh aplikasi biochar dari sekam padi yang diperkaya ekstrak daun kelor (MLE), dikombinasikan dengan pupuk kalium (KCl), terhadap sifat kimia tanah dan produktivitas tanaman terong ungu (Solanum melongena L.). Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial menggunakan tiga dosis biochar-MLE (5, 10, 15 t ha⁻Âč) dan tiga dosis KCl (100, 200, 300 kg ha⁻Âč), masing-masing diulang tiga kali. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi dosis tertinggi (15 t ha⁻Âč biochar-MLE + 300 kg ha⁻Âč KCl) secara signifikan meningkatkan pH tanah (dari 4,58 menjadi 5,50), kapasitas tukar kation, karbon organik, serta ketersediaan unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg, dan sekaligus menurunkan kejenuhan Al dan H pertukaran. Perlakuan tersebut juga memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil tanaman, termasuk tinggi tanaman, jumlah buah, bobot, dan ukuran buah. Aplikasi kombinasi biochar diperkaya ekstrak daun kelor dan pupuk K menunjukkan sinergi fungsional secara agronomis, yaitu perbaikan sifat kimia tanah yang saling melengkapi dan meningkatkan ketersediaan hara, tanpa dimaknai sebagai interaksi statistik antar perlakuan. Temuan ini mendukung penggunaan amandemen berbasis biomassa untuk restorasi kesuburan tanah secara berkelanjutan pada lingkungan lahan basah terdegradasi.
Kimia tanah; agricultural science Biochar; ekstrak daun kelor; pupuk KCl; restorasi kesuburan tanah; tanah sulfat masam Ilmu Tanah 2026-04-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66503 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.12
1670300 #3358 KARAKTERISASI BAHAN BAKU PEMBUATAN FOOD BAR BERBASIS PISANG NANGKA UNTUK PANGAN DARURAT Ekafitri, Riyanti
Luthfiyanti, Rohmah
Rahman, Taufik
Berbagai bahan baku lokal dapat dibuat menjadi pangan untuk kondisi darurat (food bar), namun bahan baku tersebut perlu dikarakterisasi lebih dahulu. Dalam penelitian ini digunakan bahan baku pisang nangka murni, tepung pisang nangka, tepung kedelai dan tepung ubi jalar. Tepung pisang nangka dihasilkan melalui tahapan pengupasan, pengirisan, perendaman dalam larutan Na-bisulfit, pengukusan, pengeringan, penepungan, dan pengayakan. Tepung kedelai dihasilkan melalui tahapan perendaman, pengupasan kulit, pengukusan, pengeringan, penepungan dan pengayakan. Metode karakterisasi bahan baku yang dilakukan adalah: kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Hasil karakterisasi untuk ke-empat bahan baku  tersebut untuk kadar lemak adalah 0.39; 1.53, 15.12 dan 0.48 persen., untuk kadar protein 1,57; 4,085; 39,705; dan 0,34 persen, dan untuk kadar karbohidrat  36,14; 40,00, 36,94; and 68,44 persen. Untuk memenuhi kebutuhan energi 2100 kkal perhari, maka susunan formulasi pangan darurat yang dibuat berdasarkan karakterisasi di atas adalah 38.88 persen pisang nangka murni, 28.32 persen tepung pisang nangka, 7.6 persen tepung kedelai, dan 1.00 persen tepung ubi jalar.. Kata kunci: karakterisasi, bahan  baku, pangan darurat
2013-09-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6386 buka_link ↗ Highlight_link
1670299 #3358 PENGARUH JENIS DESIKAN DAN SUHU DESIKASI PADA KARAKTERISTIK DAUN JERUK PURUT KERING Susanti, Erwin
Tjahjadi, Carmencita
Achyar, Cucu S.
Daun jeruk purut (Citrus hystrix L.) adalah komoditas pertanian yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur karena memiliki aroma yang khas. Salah satu cara untuk mengawetkan daun jeruk purut namun tetap mempertahankan aroma khasnya adalah dengan desikasi.Penelitian ini dilakukan dengan menetapkan jenis desikan dan suhu desikasi yang tepat agar diperoleh daun jeruk purut kering dengan warna, aroma, dan karakteristik lain yang baik. Metode percobaan yang dipakai adalah Rancangan Petak Terpisah dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Faktor petak utama adalah suhu desikasi, yaitu suhu ruang (26°C±1°C) dan 34°C±2°C. Faktor anak petak adalah jenis desikan, yaitu silika gel, batuan zeolit dan batuan lempung tufa.Penggunaan jenis desikan teknis batuan zeolit pada suhu desikasi 34°C±2°C menghasilkan daun jeruk purut kering dengan warna dan aroma yang paling baik, yaitu warna permukaan atas hijau agak kuning yang cerah, warna permukaan bawah hijau muda agak kuning, kadar air 5,51 % b.k., kadar Volatile Reducing Substances 104,55 mikrogram ekivalen/gram, rendemen 32,37 %, dan nilai kesukaan terhadap warna 4,2, atau antara agak suka sampai suka, aroma daun jeruk purut kering 3,6 dan aroma daun jeruk purut kering setelah rehidrasi 3,4 atau antara biasa sampai agak suka. Kata kunci: Daun jeruk purut, Desikasi, Zeolit, Silika gel, Batuan lempung tufa
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4850 buka_link ↗ Highlight_link
1670298 #3358 Sistem Monitoring Smart Garden Tanaman Cabai Berbasis IoT Menggunakan Protokol MQTT, Node Red, dan Telegram Bot Islamy, Irfan
Wisudawati, Lulu Mawaddah
Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis, dan iklim tersebut sangat cocok ditumbuhi berbagai macam tumbuhan seperti tanaman cabai. Tanaman cabai merupakan salah satu tanaman yang memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaannya. Untuk itu, memantau dan menjaga keadaan tanaman menjadi sangat penting. Aspek utama dalam pemeliharaan tanaman cabai adalah pengawasan kelembaban tanah untuk mencegah kekeringan pada daun akibat suhu tinggi. Selain itu, monitoring ketersediaan air dan pupuk dalam wadah juga sangat penting untuk mengoptimalkan kondisi pertumbuhan tanaman cabai. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi juga memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam membantu melakukan aktivitas manusia. Salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah Internet of Things (IoT), dimana dengan keberadaan Iot dapat membantu dan digunakan dalam  kegiatan manusia di masa depan. Internet of Things (IoT) merupakan suatu konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus menerus. Salah satu perangkat yang sering digunakan untuk membuat sistem IoT adalah ESP8266, perangkat ini adalah mikrokontroler yang telah dilengkapi modul wifi, sehingga pengguna dapat dengan mudah terhubung dengan internet. Penelitian ini bertujuan untuk membangun Sistem Monitoring Tanaman Cabai pada Smart Garden Berbasis IoT dengan integrasi Protokol MQTT, Node Red, dan Telegram Bot. Metode dalam penelitian ini terdiri dari analisis, perancangan, pembuatan alat, dan pengujian. Hasil pengujian menunjukan alat sistem monitoring Smart Garden Tanaman Cabai Berbasis IoT dapat secara otomatis menyiram tanaman berdasarkan kelembaban tanah, memberikan notifikasi jika suhu tinggi, mengirimkan pembacaan sensor periodik melalui Telegram, dan memberikan pemberitahuan pemupukan melalui protokol MQTT, NodeRed, dan Telegram bot.
Smart Garden; tanaman cabai; MQTT; nodered; telegram bot; internet of things (IoT). 2023-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49811 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n3.6
1670297 #3358 Pembuatan Sabun Cair Berbasis Virgin Coconut Oil (VCO) Dengan Penambahan Minyak Melati (Jasminum sambac) Sebagai Essential Oil Widyasanti, Asri
Rahayu, Anisa Yanthy
Zein, Sudaryanto
Minyak kelapa murni merupakan minyak dengan kandungan asam laurat yang tinggi. Asam laurat ini berfungsi untuk menghaluskan dan melembabkan kulit. Sehingga VCO cocok dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Sabun yang dibuat dalam penelitian ini menggunakan penambahan minyak atsiri melati yang mampu meningkatkan kualitas pada sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun cair, mencari penambahan konsentrasi minyak atsiri melati yang tepat dalam pembuatan sabun cair dan mengetahui pengaruh penambahan minyak atsiri melati terhadap karakteristik sabun cair. Perlakuan pada penelitian ini konsentrasi minyak atsiri melati adalah dengan penambahan sebesar A = 0% (b/v), B = 1% (b/v), C = 1,5% (b/v), dan D = 2% (b/v) dari 300 gram basis sabun. Parameter pengamatan meliputi sifat kimia, sifat fisik sabun dan uji organoleptik. Hasil analisis menunjukan bahwa semua formula sabun cair memenuhi persyaratan berdasarkan SNI sabun padat 06-4085-1996. Formula sabun cair dengan perlakuan D merupakan produk terbaik dengan hasil uji organoleptik kesukaan secara umum adalah 50%. Hasil analisis sabun transparan pada perlakuan D adalah kadar alkali bebas bebas 0,0079%, nilai pH 8,93, bobot jenis 1,0509 dan angka lempeng total 0. Sehingga teknologi proses pembuatan sabun cair dengan penambahan minyak atsiri melati selanjutnya dapat dikembangkan dan diaplikasikan pada skala industri. Kata kunci: Sabun cair, Virgin Coconut Oil, Minyak Atsiri Melati
teknik pengolahan hasil pertanian 2017-10-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10415 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol11n2.1
Menampilkan 2.861 - 2.880 dari total 1.550.696 data