Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670396 #3279 Inovasi Penggunaan Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus L) untuk Bedak Tabur dan Bedak Padat yang Ramah Lingkungan Leny, Leny
Nasution, Meiliza Putri
Iskandar, Benni
Sari, Melia
Nanas merupakan buah yang populer dikalangan masyarakat lokal maupun Internasional karena rasanya enak. Kulit nanas mengandung flavonoid, karotenoid, dan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan. Cahaya ultraviolet (UV) dapat meningkatkan pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas pada kulit sehingga dibutuhkan senyawa dengan kemampuan antioksidan untuk mengurangi efek yang merugikan dari radikal bebas. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, meliputi penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan bedak tabur dan bedak padat dan evaluasi stabilitas fisik sediaan. Analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menghitung persentase tingkat kesukaan sukarelawan dari data uji hedonik kemudian disajikan dalam bentuk tabulasi dan diagram batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan bedak tabur bertekstur halus, berwarna putih pucat hingga cream tua. Derajat kehalusan berkisar 6,6 , tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji cycling test menunjukkan sediaan stabil. Pada uji hedonik, F1 merupakan sediaan bedak tabur yang paling disukai dengan persentase sebesar 86,67% karena memiliki tekstur ringan dan mudah diaplikasikan ke kulit. Pada sediaan bedak padat berbentuk compact, berwarna cream hingga coklat, tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Namun pada hasil uji cycling test, F0 tidak stabil karena mengalami keretakan. Pada uji hedonik diperoleh sediaan F2 yang paling disukai dengan persentase sebesar 88,33% memiliki warna yang mudah merata ketika diaplikasikan ke kulit. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol limbah kulit nanas dapat diformulasikan kedalam sediaan bedak tabur dan bedak padat dan mempunyai efek sebagai pemberi pigmen warna pada kulit dan mampu menjaga kulit dari paparan sinar UV.
farmasetika Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus L); Bedak Tabur; Bedak Padat 2025-11-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67309 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v10i6.67309
1670395 #3279 Formulasi dan Evaluasi Nanopartikel Ekstrak Biji Alpukat (Persea Americana Mill) Dengan Polimer Plga Ambarwati, Rini
Rustiani, Erni
Biji alpukat mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, terpenoid atau steroid dan fenolik. Senyawa kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa flavonoid dan tanin. Jenis flavonoid dalam biji alpukat yaitu kuersetin. Kuersetin memiliki karakteristik fisika kimia yang sukar larut dalam air. Kelarutan obat yang tidak baik memiliki bioavailabilitas yang rendah sehingga ekstrak biji alpukat ini dibuat dalam bentuk nanopartikel karena sediaan nanopartikel bersifat biodegradable yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat yang sukar larut dalam air dengan meningkatkan bioavailabilitas. Metode pembuatan nanopartikel dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode solvent evaporation dengan cara bahan obat dicampurkan dengan suatu polimer dan menggunakan pelarut etil asetat. Nanopartikel dibuat dalam empat formula, dengan memvariasikan konsentrasi dari PLGA. Nanopartikel yang terbentuk kemudian dikarakteriasasi meliputi pengujian ukuran partikel, nilai zeta potensial, indeks polidispersitas, efisiensi penjerapan, bentuk morfologi partikel menggunakan SEM. Hasil nanopartikel yang terbaik didapat pada formula F4 yang memiliki karakteristik mutu fisik terbaik dengan ukuran partikel 137,1 nm; Indeks Polidispersitas 0,336; Zeta potensial -19 mV; efisiensi penjerapan 85,63% dan morfologi pada perbesaran 30.000x berbentuk bulat atau sferis.
Teknologi Farmasi, Farmasetika Biji Alpukat; Nanopartikel; PLGA; Spray Dry 2022-05-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38549 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v7i4.38549
1670394 #3279 Implementasi Bioetika oleh Apoteker yang Bekerja pada Industri Farmasi Widjadja, Gunawan
Bioetika selalu dikonotasikan dengan pelayanan kefarmasian, di mana apoteker berhubungan langsung dengan pasien. Dengan demikian timbul pertanyaan bagaimana dengan apoteker yang bekerja pada industri farmasi, yang tidak pernah berhubungan langsung dengan pasien. Apakah apoteker pada industri farmasi tetap wajib melaksanakan bioetika dalam pekerjaan kefarmasiannya. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk menjawab dan menjelaskan bahwa apoteker yang bekerja pada bidang industri farmasi tetap wajib melaksanakan bioetika dalam pekerjaan kefarmasiannya tersebut. Penelitian ini adalah penelitian pendekatan kualitatif, yang bersifat deskriptif analitis. Data yang dicari dan dipergunakan adalah data sekunder yang merupakan merupakan kajian tentang konsep dan teori bioetika yang dihubungkan dengan pelaksanaan pekerjaan kefarmasian, khususnya dalam industri farmasi. Pada penelitian ini pembahasan tentang industri farmasi dibatasi hanya pada industri pembuatan obat jadi. Analisis dilakukan dengan melakukan kajian terhadap rangkaian pekerjaan kefarmasian dalam industri farmasi, khususnya dalam pembuatan obat jadi, yang wajib dilakukan oleh apoteker agar obat yang dihasilkan dapat memberikan hasil yang optimum bagi pasien. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan produksi obat tidak lepas dari kewajiban apoteker untuk memastikan bahwa keempat pilar bioetika tetap dipenuhi. Mulai dari proses pengadaan bahan baku, pemilihan formulasi, proses pembuatan hingga pengemasan dan penyimpanan obat jadi, apoteker wajib mempertimbangkan bioetika dalam pelaksanaan pekerjaannya tersebut. Apoteker yang bekerja di sektor industri farmasi wajib melaksanakan empat pilar bioetika dalam proses produksi obat, meskipun dalam kegiatan produksi obat itu sendiri apoteker tidak berhubungan langsung dengan pasien.
2020-01-25 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25853 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v4i0.25853
1670393 #3279 Pengembangan dan Pengujian Sediaan Sheet Mask Ekstrak Daun Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis Leny, Leny
Azelia, Uci Tri
Iskandar, Benni
Safri, Safri
Patikan kebo (Euphorbia hirta L.) adalah salah satu tanaman obat yang mempunyai khasiat sebagai antiseptik, antiinflamasi, antifungal, dan antibakterial karena mengandung senyawa-senyawa seperti flavonoid, tanin dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan sheet mask diformulasikan dengan penambahan ekstrak daun patikan kebo dengan konsentrasi 8%, 10% dan 12% yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dan mengetahui formulasi terbaik berdasarkan uji stabilitas serta efektivitas. Sediaan sheet mask dibandingkan dengan sediaan blanko (kontrol negatif) dan sediaan pasaran sebagai kontrol positif. Evaluasi sediaan sheet mask meliputi pengamatan stabilitas cycling test, organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, waktu kering dan uji iritasi terhadap sukarelawan. Pengujian antibakteri sediaan terhadap Staphylococcus epidermidis menggunakan metode sumuran dengan difusi agar. Formulasi menunjukkan essence sediaan sheet mask berwarna coklat tua, berbau khas, homogen, stabil dalam penyimpanan dan tidak mengiritasi. Pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan sheet mask dengan 8% merupakan konsentrasi terbaik karena mampu menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis dalam kategori sedang dan tidak berbeda signifikan dengan konsentrasi 10 maupun 12%.
Euphorbia hirta L., Sheet mask, Staphylococcus epidermidis 2023-05-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/46024 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v8i4.46024
1670392 #3279 Formulasi Sediaan Hand Sanitizer Spray Ekstrak Etanol Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Dan Uji Antibakteri Terhadap Staphylococcus aureus Sari, Melia
Nasution, Ahmad Faisal
Khairah, Miftahul
Purba, Sartika
Hand sanitizer dalam bentuk spray memiliki daya bunuh kuman yang lebih efektif. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antimikroba adalah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, steroid dan tanin. Hand sanitizer yang terbuat dari bahan alam lebih aman bagi kulit yang sensitif dan dapat mengurangi resiko iritasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sediaan hand sanitizer spray dari ekstrak buah belimbing wuluh. Metode  penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan tahap awal pengambilan bahan sampel, pembuatan simplisia serta pembuatan ekstrak dan pembuatan sediaan hand sanitizer spray dari ekstrak etanol buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)  dengan konsentrasi 10%, 12% dan 15% dan menguji aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian yaitu ekstrak etanol buah belimbing wuluh dapat diformulasikan menjadi hand sanitizer, memiliki uji evaluasi sediaan yang baik dan juga sebagai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan zona hambat F1 (10%) sebesar (7,92±1,2 mm), F2 (12%) sebesar (9,58±0,7 mm), F3 (15%) sebesar (11,63±1,8 mm). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sediaan hand sanitizer spray ekstrak etanol buah belimbing wuluh memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi yang efektif yaitu F3 (15%) dikatakan dalam kategori “sedang”.
Farmasetika Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.), hand sanitizer spray, antibakteri 2026-05-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/70459 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v11i3.70459
1670391 #3279 Aktivitas Penghambatan Denaturasi Albumin dan Efek Anti-Inflamasi Campuran Ekstrak Herba Meniran, Daun Kelor, Daun Salam Laksmitawati, Dian Ratih
Tiffani, Claudia
Kombinasi herbal dalam satu formula memiliki keuntungan antara lain sinergisitas efek. Daun salam, daun kelor dan herba meniran dilaporkan memiliki aktivitas anti-inflamasi, namun dalam bentuk kombinasinya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan aktivitas anti-inflamasi dari meniran (Phyllanthus niruri L.), daun kelor (Moringa oleifera Lamk) dan daun salam (Syzigium polyanthum (Wight) Walp) dalam bentuk tunggal dan kombinasinya secara in vitro dan in vivo. Metode : Metode pengujian aktivitas antiinflamasi in vitro menggunakan metode penghambatan denaturasi albumin sedangkan uji in vivo menggunakan metode edema pada telapak kaki tikus putih jantan. Ketiga daun dari tanaman tersebut masing-masing dibuat ekstrak dengan maserasi etanol 70%. Sebagai sampel uji in vitro, dibuat 7 macam yaitu : ekstrak meniran (M) tunggal, ekstrak kelor (K), tunggal ekstrak salam (S) tunggal  dan ekstrak kombinasi M:K:S dengan perbandingan  = 1:1:1, 2:1:1, 1:2:1, 1:1:2. Ekstrak dengan aktivitas antiinflamasi in vitro tertinggi akan diujikan secara in vivo. Hasil dari pengujian in vitro menunjukkan persen inhibisi denaturasi albumin tertinggi pada kombinasi meniran : kelor : salam (1:2:1) sebesar 60,04% ± 0,32 dan secara in vivo diperoleh persen penghambatan edema kaki tikus yang diinduksi karagenan sebesar 9,06%. Aktivitas penghambatan denaturasi albumin Na diklofenak sebagai kontrol adalah 84,06% dan secara invivo sebesar 41,21%. Aktivitas anti-inflamasi in vivo ektrak tunggal meniran sebesar 19,59%. Kombinasi ekstrak daun meniran, kelor dan salam dengan perbandingan 1:2:1 mempunyai aktivitas antiinflamasi melalui metode penghambatan denaturasi albumin yang cukup besar (60,04%), namun aktivitas penghambatan radang kaki tikus tidak sebaik in vitronya (9,06%).
2020-01-25 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25890 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v4i0.25890
1670390 #3279 Kajian Efektivitas Penataan Obat LASA di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Swasta Bandung Suryanto, Suryanto
Rostinawati, Tina
Kesalahan pemberian obat akibat kemiripan nama dan kemasan, atau dikenal sebagai Look-Alike Sound-Alike (LASA), merupakan salah satu tantangan serius dalam pelayanan farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem penataan dan penandaan obat LASA di unit rawat jalan salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan tenaga farmasi, serta dokumentasi laporan insiden medication error. Hasil menunjukkan bahwa rumah sakit telah menerapkan sistem FIFO dan FEFO, pemisahan obat LASA berdasarkan bentuk dan kekuatan sediaan, serta penggunaan stiker LASA dan Tall Man Lettering. Penandaan ini diterapkan pada berbagai bentuk sediaan seperti tablet, sirup, inhaler, salep, dan krim, dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan petugas farmasi dan mengurangi risiko kesalahan pengambilan obat. Diskusi menunjukkan bahwa strategi visual seperti label mencolok dan huruf kapital sebagian pada nama obat terbukti efektif dalam membedakan produk serupa. Namun, pelatihan berkala dan audit internal tetap diperlukan untuk menjaga konsistensi dan efektivitas sistem. Kesimpulannya, penataan obat LASA di rumah sakit ini telah sesuai dengan standar keselamatan pasien dan dapat menjadi acuan penerapan sistem serupa di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
farmasi klinis dan komunitas LASA, Keselamatan Jiwa, penandaan obat, rawat jalan, Tall Man Lettering 2025-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65388 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v10i4.65388
1670389 #3279 Formulasi dan Evaluasi Granul Instan Ekstrak Etanol Daun Kenikir (Cosmos caudatus) sebagai Antioksidan Pratama, Reza
Pahlevi, Muhamad Reza
Santoso, Rahmat
Rafli, Tri Muhamad
Meningkatnya polusi udara dapat menyebabkan masyarakat rentan akan terpaparnya penyakit yang diakibatkan oleh paparan dari radikal bebas. Radikal bebas adalah senyawa elektron atau atom yang tidak memiliki pasangan, oleh sebab itu diperlukan senyawa yang bisa menangkal radikal bebas yaitu antioksidan. Antioksidan adalah senyawa inhibitor yang berfungsi salah satunya yaitu melindungi sel dari serangan radikal bebas dengan cara mendonorkan atau menerima salah satu elektron dari radikal bebas. Daun kenikir adalah tumbuhan yang secara empiris sering digunakan sebagai sayuran yang berpotensi memiliki khasiat antioksidan. Penelitian ini ingin menghasilkan suatu formula pada sediaan granul instan menggunakan ekstrak etanol pada daun kenikir dengan yang memenuhi syarat fisik dan memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan dengan memformulasikan ekstrak dengan eksipien pengikat, pengisi, peningkat kelarutan dan pemanis. Penelitian ini dilakukan di lab farmasetik Universitas Bhakti Kencana. Hasil dari evaluasi sediaan granul instan dari ekstrak daun kenikir menunjukan semua formula memenuhi syarat uji fisik granul. Hasil pada uji kualitatif menggunakan plat KLT menunjukan hasil positif antioksidan pada ekstrak dan sediaan granul instan dengan timbulnya bercak kuning setelah di semprot DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazy). Hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak daun kenikir dengan nilai IC50 yaitu 50,98 ÎŒg/mL, sediaan granul dengan pengikat PVP sebesar 58,54 ÎŒg/mL dan sediaan granul dengan pengikat CMC sebesar 59,59 ÎŒg/mL. Dimana hasil tersebut termasuk kedalam nilai IC50 dengan kategori kuat.
Farmasetika dan Teknologi Farmasi Antioksidan, Carboxy Methyl Celulosa (CMC), Ekstrak daun kenikir, Granul Instan, Polivinil Pirolidon (PVP) 2024-04-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53782 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v9i3.53782
1670388 #3279 Sistem Penghantaran Obat Berbasis Biopolimer Kitosan pada Formulasi Film Forming System Crendhuty, Fajra Dinda
Sriwidodo, Sriwidodo
Wardhana, Yoga Windhu
Sistem penghantaran obat topikal melalui film forming system mampu mengatasi keterbatasan sediaan konvensional dengan membentuk film tipis in situ dan memberikan kontak lebih lama dikulit yang dapat mengontrol pelapasan obat. Polimer kitosan sebagai basis film forming system banyak digunakan karena sifatnya yang mukoadhesif dan mampu membentuk film tipis. Dalam review ini, dibahas penggunaan kitosan sebagai basis dalam sistem penghantaran obat yang telah banyak diaplikasikan dengan berbagai aktivitas biologis. Dalam formula FFS, perlu diperhatikan parameter kritis yang mempengaruhi formulasi film forming system seperti pemilihan konsentrasi polimer, kombinasi dengan polimer lain seperti polimer sintetik polyvinyl alcohol (PVA), derajat deasetilasi kitosan yang rendah untuk meningkatkan sifat mekanik dan pembentukan film yang lebih baik, penambahan eksipien seperti plasticizer, humektan dan crosslinker yang dilaporkan berpengaruh terhadap sifat fisika kimia obat. Parameter fisikokimia yang diinginkan harus memiliki sifat mekanik yang mampu mengatasi tekanan takensial gerakan tubuh, pH untuk formula topikal berada pada rentang 4 – 6, waktu pembentukan film kurang dari 15 menit serta water vapour permeability (WVP) lebih dari 0,05 g/cm2. 24 jam. Dari berbagai hasil penelitian, dilaporkan bahwa Film forming system menggunakan basis kitosan menjadi salah satu pendekatan yang potensial dalam sistem penghantaran obat untuk meningkatkan efektivitas permeasi dan penetrasi yang lebih baik.
biopolimer; film forming system; dan kitosan. 2021-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27457 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v6i1.27457
1670387 #3279 Review : Superdisintegran dalam Sediaan Oral Safitri, Ira
Sulistiyaningsih, Sulistiyaningsih
Chaerunisaa, Anis Yohana
Rute pemberian obat secara oral banyak disukai masyarakat karena memiliki kemudahan dalam penggunaannya namun juga memiliki kelemahan bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan sehingga dapat menurunkan kepatuhan pasien serta memerlukan waktu yang lama untuk mencapai efek farmakologis. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan mempercepat waktu mencapai efek farmakologis, penekanan diberikan pada pengembangan formula baru. Salah satu pendekatan tersebut adalah pengembangan fast dissolving tablets (FDTs). FDT merupakan bentuk sediaan padat yang hancur dan larut di mulut dalam 60 detik atau lebih rendah dan dapat digunakan tanpa air. Dalam formulasi FDT digunakan superdisintegran baik yang berasal dari alam maupun sintesis. Review artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan infomasi tentang superdisintegran yang biasa digunakan dalam formulasi beserta kelebihan dan kekurangannya, mekanisme kerja superdesintegran dan metode pencampurannya, evaluasi dalam sediaan FDT serta aplikasi penggunaan superdisintegran. Superdisintegran alam dapat berupa polisakarida, mucilago, gum, pati, dan chitosan sedangkan superdisintegran sintetik dapat berupa natrium starch glikolat dan natrium crosscarmellose. Superdisintegran ini memiliki kondisi optimum yang berbeda-beda serta memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Secara umum evaluasi sediaan FDT hampir sama dengan evaluasi tablet oral namun hanya persyaratannya saja yang membedakan.Kata kunci : fast dissolving tablets, superdisintegran, alam, sintesis
2019-07-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22945 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/farmasetika.v4i3.22945
1670386 #3279 Formulasi Nanoemulgel Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) Sebagai Antioksidan Christian, Yulius Evan
Rahmat, Deni
Farida, Yunahara
AbstrakCantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) merupakan salah satu tumbuhan yang terdapat di kawah putih. Ekstrak daun cantigi diketahui memiliki kandungan antosianin, klorofil, fenol, saponin, steroid, tanin, triterpenoid, flavonoid dan aktivitas antioksidan yang bermanfaat dalam meredam radikal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh sediaan nanoemulgel yang aman, stabil secara fisika dan kimia serta berkhasiat sebagai antioksidan. Ekstrak daun cantigi dibuat secara maserasi kinetik secara bertahap dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol 96%, kemudian diuapkan dengan evaporator. Nanoemulsi dibuat dengan memvariasikan jumlah ekstrak daun cantigi (50 x IC50; 100 x IC50; dan 200 x IC50). Formula nanoemulsi terdiri dari ekstrak, isopropil miristat, cremophor RH-40, etanol 96% dan air suling. Kondisi kecepatan pengadukan 400 rpm pada suhu 40 °C. Nanoemulsi dikarakterisasi ukuran partikel, potensial zeta, morfologi (TEM), dan aktivitas antioksidannya. Hasil evaluasi Formula 1, 2, dan 3 memiliki ukuran partikel rata-rata 83,40; 93,38; dan 171,1 nm dengan indeks polidispersitas 0,217; 0,240; dan 0,268. Nilai potensial zeta berturut-turut yaitu – 32,3; – 33,8; dan – 35,9 mV. TEM menunjukkan morfologi nanoemulsi sferis. Hasil evaluasi diperoleh hasil nanoemulgel berwarna putih, kekuningan, kental, bau khas, homogen, dengan viskositas sebesar (754) Ps – (2132) Ps, sifat alir tiksotropik plastik, daya sebar  5,93 – 6,8 cm, pH (5,18 ± 0,008) – (6,05 ± 0,03). Aktivitas antioksidan vitamin C, ekstrak, dan nanoemulgel berturut-turut sebesar 3,24 ppm, 18,55 ppm, dan 61,05 ppm. Sediaan nanoemulgel tidak menyebabkan iritasi pada kulit kelinci.
Cantigi, nanoemulsi, nanoemulgel, antioksidan, ABTS 2022-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39789 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v7i5.39789
1670385 #3279 Pola Penggunaan Antibiotik Dalam Swamedikasi Pada Mahasiswa Tahun Pertama Bersama (TPB) Universitas Mataram Fatmah, Siti
Aini, Siti Rahmatul
Pratama, Iman Surya
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dalam swamedikasi sering terjadi di berbagai kalangan tak terkecuali mahasiswa. Ketidaktepatan penggunaan menyebabkan peningkatan resiko efek samping dan resistensi antibiotik sehingga diperlukan implementasi swamedikasi yang tepat. Studi pola penggunaan obat pada kalangan mahasiswa di Kota Mataram masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola penggunaan antibiotik dalam swamedikasi pada mahasiswa TPB Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif pada 400 mahasiswa TPB yang dipilih secara acak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2018 di Unit Pelaksana Tahun Pertama Bersama Universitas Mataram. Data karakteristik demografi dan pola penggunaan antibiotik diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Data karakteristik demografi meliputi nama, nim, alamat, asal sekolah, asal fakultas, dan kontak responden. Pola penggunaan antibiotik meliputi alasan penggunaan, indikasi, sumber mendapatkan, lama terapi, dan efek samping  Analisis dilakukan secara deskriptif. Dari 421 mahasiswa, 379 pernah menggunakan antibiotik. Mahasiswa terdiri dari 119 laki-laki dan 260 perempuan dengan rata-rata usia 17-18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik untuk mengobati flu dan batuk selama 1-3 hari (43%). Antibiotik diperoleh dengan mudah di apotek berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan (49,6%). Antibiotik jika digunakan berlebihan dapat meningkatkan resiko efek samping seperti mual muntah 35,9%. Penggunaan dihentikan jika efek samping terjadi dan berkonsultasi ke dokter (51,7%). Penggunaan antibiotik dalam swamedikasi pada mahasiswa TPB masih belum tepat ditinjau dari pola penggunaan antibiotik.
2020-01-25 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25865 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v4i0.25865
1670384 #3279 Senyawa Peningkat Penetrasi pada Sistem Penghantaran Obat Topikal Berdasarkan Lipofilisitas Senyawa Obat Christinne, Nikita
Amalia, Eri
Formulasi obat merupakan faktor penting yang menentukan penghantaran obat secara optimal ke target terapi pada semua bentuk sediaan dan rute pemberiannya. Terutama pada sediaan dengan rute pemberian topikal, tidak hanya bahan aktif farmasi namun peran bahan tambahan dalam formulasi juga sangat penting. Hal ini karena obat topikal harus melewati beberapa lapisan kulit untuk mencapai aliran darah dan memberikan efek obat sehingga efikasinya bergantung pada tingkat penetrasi ke kulit. Kemajuan teknologi telah berhasil menemukan cara meningkatkan penetrasi obat baik secara kimia maupun fisika yang dapat dipilih berdasarkan tujuan terapi. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi mengenai senyawa peningkat penetrasi, termasuk sifat dan mekanismenya yang saat ini telah digunakan untuk senyawa obat dengan lipofilisitas berbeda. Data berasal dari 56 literatur yang diperoleh melalui pencarian pada database NCBI, ScienceDirect, Google Scholar, dan PubMed dengan kata kunci “penetration enhancer AND mechanism”, “penetration enhancer AND polar OR non polar”, “lipophilicity AND topical drug”, dan “penetration enhancer mechanism”. Hasil penelusuran informasi menunjukkan bahwa senyawa peningkat penetrasi polar seperti alkohol dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat yang bersifat hidrofilik dengan cara mengganggu struktur lipid bilayer antar sel, yaitu dengan berinteraksi dengan gugus kepala polar dari lipid bilayer atau interkalasi. Sedangkan, senyawa peningkat penetrasi non polar seperti asam lemak, terpen, glikol, atau sulfoksida dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat hidrofobik dengan cara berinteraksi dengan rantai hidrokarbon pada lipid bilayer yang mengakibatkan fluidisasi. Surfaktan dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat hidrofilik dan hidrofobik dengan cara dengan mengganggu susunan keratin intraseluler.
Farmasetika Jalur Penetrasi Kulit, Koefisien Partisi, Senyawa Peningkat Penetrasi, Sistem Penghantaran Obat, Topikal 2023-07-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47418 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v8i5.47418
1670383 #3279 Kualifikasi Pemasok Bahan Baku yang Digunakan pada Industri Farmasi Kadir, Mika Febryati
Sopyan, Iyan
Pengadaan adalah salah satu kegiatan pendukung yang penting dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Proses pengadaan dimulai dengan proses pemilihan pemasok yang tepat. Sertifikasi pemasok merupakan salah satu persyaratan GMP untuk dapat menghasilkan produk jadi yang memiliki mutu tinggi dan aman dan menghindari penarikan produk, kematian, kejadian efek samping yang merugikan, dan penyakit serius karena mutu rendah dari produk jadi yang dihasilkan. Dari segi bisnis untuk mencapai keuntungan, terkadang tekanan akan meningkat untuk mendapat bahan baku dengan harga rendah, yang dapat mengarah ke pengadaan bahan baku di bawah standar. Hal tersebut dapat dihindari dengan menggunakan kualifikasi pemasok sebagai alat. Artikel ini menjelaskan prosedur kualifikasi terhadap pemasok bahan baku yang akan digunakan oleh perusahaan farmasi serta menyediakan dokumen penunjangnya.Kata Kunci : Bahan Baku, Kualifikasi, Pemasok.
2020-02-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26237 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v5i2.26237
1670382 #3279 Alasan Kurkumin Efektif Mempercepat Penyembuhan Luka di Kulit Wathoni, Nasrul
Kurkumin yang merupakan senyawa utama dari Kunyit (Curcuma longa) dan Temulawak (Curcuma xanthoriza), baru-baru ini banyak penelitian terkait potensinya yang mampu mempercepat proses penyembuhan luka di kulit baik luka akut maupun kronis. Secara natural, ada 4 tahapan proses penyembuhan luka dimana setiap tahapannya saling tumpang tindih. Tahapan itu adalah hemostatis, inflamasi/peradangan, proliferasi, dan remodeling. Banyak penelitian pra-klinis telah menunjukkan bahwa kurkumin mampu bekerja pada fase inflamasi, proliferasi dan remodeling dari proses penyembuhan luka sehingga mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka.
2016-10-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9722 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/farmasetika.v1i3.9722
1670381 #3279 Uji Performa Pengaruh Gliserin dalam Formulasi Sabun Cair Cuci Piring M Aras, Neny Rasnyanti
Fia Lestari, Mega
Sabun merupakan produk yang wajib ada di rumah yang berpotensi untuk dikembangkan guna kenyamanan konsumen. Pembuatan sabun cuci cair menggunakan surfaktan sebagai bahan utama dengan berbagai bahan tambahan berguna meningkatkan kinerjanya. Dalam penelitian ini enam formulasi dibuat untuk menguji kinerja sabun cair cuci piring dengan menambahkan gliserin pada berbagai konsentrasi dengan bahan utama SLES (Sodium Lauryl Ether Sulphate) menggunakan metode dingin. Dengan memasukkan gliserin, SLES, dan bahan ramah lingkungan lainnya dalam formulasi sabun, dimungkinkan untuk menciptakan sabun berkualitas tinggi yang tidak hanya membersihkan secara efektif tetapi juga memberikan nutrisi dan hidrasi pada kulit, memenuhi permintaan yang terus meningkat akan produk yang berkelanjutan dan ramah kulit di industri kosmetik. Keenam variasi yang dihasilkan diukur sifat organoleptik fisik dan kimianya. Kinerja deterjen terbaik dalam hal kelembaban dan tinggi busa ditunjukkan pada formulasi F3 dengan bau yang tidak menyengat berwarna transparan, nilai FFA sebesar 0,09+0,00 dan pH 5,77+0,01 dengan kecenderungan viskositas dan kelembaban yang proporsional satu sama lain dengan campuran gliserin seiring dengan bertambahnya gliserin pada batas tertentu. Secara umum kinerja sabun yang dibuat pada enam formulasi untuk semua parameter tidak terpengaruh dengan penambahan gliserin. Dimana warna  sabun yang dihasilkan transparan, bau yang agak menyengat, kesat, pH diantara 5,85 – 5,91 dan Free Fatty Acid (FFA) sebesar 0.09 %.
Kimia, Analisis Kimia gliserin, SLES, kelembaban, sabun cair cuci piring. 2024-09-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56837 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v9i5.56837
1670380 #3279 Uji dan Karakterisasi Serbuk Pektin dari Albedo Durian sebagai Kandidat Eksipien Farmasi Husni, Patihul
Ikhrom, Uvita Kafilatul
Hasanah, Uswatul
Pektin adalah senyawa polisakarida yang larut dalam air dan merupakan asam-asam pektinat yang mengandung gugus-gugus metoksil. Fungsi utamanya sebagai bahan pengental dan pembentuk gel. Durian (Durio zibethinus L.) merupakan buah yang memiliki aroma yang sangat khas dan banyak diminati masyarakat karena memiliki rasa enak dan aroma yang harum. Buah durian terdiri dari tiga bagian yaitu daging buah sekitar 20-35%, biji sekitar 5-15% sisanya berupa bobot kulit yang mencapai 60-75% dari bobot total buah. Bagian kulit buah durian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pektin yaitu pada bagian kulit dalam durian yang berwarna putih yang disebut juga dengan mesocarp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan karakterisasi serbuk pektin albedo durian yang dihasilkan dan mengetahui kualitas serbuk eksipien pharmaceutical grade dari pektin albedo durian. Penelitian ini dilakukan dengan metode refluks menggunakan pelarut asam sulfat. Pada kondisi keasaman pelarut pH 2, pH 3, dan pH 4, waktu ekstraksi 5 jam dan pada suhu 90⁰C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pektin pH 3 lebih memenuhi kriteria sebagai eksipien pharmaceutical grade karena laju alir yang paling baik yaitu 4,368 g/detik, kerapatan mampat 0,590 g/mL, kompresibilitas 11,802%, sudut diam 20,124⁰, susut pengeringan 10%, kadar Pb 7,075 bpj dan kadar abu 10,760%.
karakterisasi, albedo durian, pektin, eksipien 2021-06-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33349 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v6i3.33349
1670379 #3279 Kontroversi Terapi Homeopati Untuk Sembuhkan Berbagai Penyakit Rachma, Elmira
Terapi homoepati kurang didengar di masyarakat Indonesia dikarenakan di Indonesia jarang dipakai pengobatan secara homoepati. Penyembuhan penyakit secara homoepati sangat dimungkinkan untuk masyarakat Indonesia, dikarenakan penyembuhan secara homoepati dapat memanfaatkan tumbuhan yang ada di indonesia. Hoemoepati sering disebut dengan gagasan “seperti pengobatan”, penyakit yang disembuhkan contohnya penyakit demam. Mengobati penyakit demam dengan cara mengambil ekstrak tanaman yang bisa menurunkan demam, walaupun ketingkatan yang sangat encer. Pengobatan homoepati tidak memenuhi persyaratan yang ada di farmokologi modern. Pengobatan homoepati memang tidak memakai percobaan pada binatang namun bahan percobaan langsung ke manusia, hal itu tidak diketahui efek toksik yang mungkin terkandung dalam obat tersebut. Tetapi pengobatan homoepati ini bisa dicontoh pada perlakuan terhadap pasien yang meyakinkan untuk sembuh. Oleh karena itu, pilihlah penyembuhan yang sudah di rekomendasi oleh peneliti-peneliti.Kata kunci : terapi homeopati, penyakit, pengobatan
2018-05-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16794 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/farmasetika.v3i1.16794
1670378 #3279 Kualifikasi Sistem Komputerisasi Perangkat Lunak pada UHPLC di Salah Satu Industri Farmasi Rahmah, Raisya
R.H.P, Fitri
Wathoni, Nasrul
Industri farmasi wajib menerapkan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi, aman, dan efektif. Sistem komputerisasi merupakan salah satu aspek penting pada CPOB karena  berperan dalam pengendalian mutu dengan meminimalkan risiko kesalahan manual serta memastikan data yang dihasilkan konsisten dan akurat. Penelitian ini berfokus pada kualifikasi sistem komputerisasi yang bertujuan untuk memastikan bahwa sistem komputerisasi perangkat lunak pada UHPLC sudah sesuai dengan spesifikasi dan menghasilkan data yang akurat. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengujian Kualifikasi Instalasi (KI), Kualifikasi Operasional (KO), dan Kualifikasi Kinerja (KK) perangkat lunak Chromeleon pada UHPLC Thermo dengan dasar pedoman adalah CPOB dan protokol kualifikasi sistem komputerisasi di Industri Farmasi. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap hasil kualifikasi dengan membandingkan hasil yang didapatkan dengan syarat keberterimaannya. Hasil analisis kualifikasi tersebut disajikan dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, pengujian kualifikasi yang dilakukan baik itu Kualifikasi Instalasi (KI), Kualifikasi Operasional (KO), dan Kualifikasi Kinerja (KK) telah memenuhi syarat keberterimaan sehingga dapat dipastikan bahwa sistem sudah berfungsi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan serta mampu menghasilkan data yang valid, konsisten, dan dapat diandalkan.
Farmasi Industri CPOB, Kualifikasi, Sistem Komputerisasi 2025-03-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62299 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v10i2.62299
1670377 #3279 Perbandingan Aktivitas Diuretik pada Berbagai Produk Seduhan Teh Hijau(Camellia sinensis L.) Susilowati, Agustina
Kusuma Ramadhan, Nur Karim
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang berbahaya karena memiliki faktor resiko yang mengarah pada penyakit kardiovaskuler. Penggunaan diuretik berperan dalam terapi pengobatan seperti hipertensi, gagal jantung, serta edema. Diketahui bahwa teh hijau dapat berkhasiat sebagai diuretik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan aktivitas diuretik pada berbagai produk teh hijau (Camellia sinensis L.). Pada uji aktivitas diuretik, 30 ekor mencit di bagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kelompok I (CMC. Na 1%), Kelompok II (Furosemid), Kelompok III, IV, V dan VI merupakan kelompok perlakuan yang terdiri dari pemberian seduhan White Tea, Yellow Tea, Black Dragon Tea Dan Green Tea Premium dengan dosis 2g, 4g dan 6g yang diseduh dengan 200ml air suhu 70οC selama 5-15 menit. Pengukuran urin dilakukan setiap 1 jam selama 6 jam. Analisa data dilakukan dengan menggunakan spss versi 26 dengan taraf kepercayaan 95%. Seduhan white tea, yellow tea, dan  black dragon tea pada dosis 2g tidak memiliki efek diuretik (p>0,05) sedangkan green tea premium 2g memiliki aktivitas diuretik namun lebih rendah dibandingkan dengan furosemid. Pada dosis 4g, white tea, yellow tea dan green tea premium memiliki aktivitas sebagai diuretik (p<0,05) namun masih lebih rendah dibandingkan dengan furosemid. Pada dosis 6g, white tea, yellow tea, black dragon tea memiliki aktivitas sebagai diuretik (p<0,05) namun masih lebih rendah dibandingkan dengan furosemid, sedangkan green tea premium  dosis 6g memiliki aktivitas diuretik yang sebanding dengan furosemid (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa white tea, yellow tea, black dragon tea, dan green tea premium  dosis 6g memiliki aktivitas diuretik.
Aktivitas; Diuretik; Teh Hijau; Seduhan 2021-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36705 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/mfarmasetika.v6i0.36705
Menampilkan 2.781 - 2.800 dari total 1.550.696 data