Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670796 #7423 FAKTOR YANG MEMENGARUHI MINAT WANITA TANI UNTUK BERGABUNG DALAM KELOMPOK WANITA TANI DI KECAMATAN HARAU Zendato, Christyn Frizz
Putra, Vicka Pramudya
Afrizal, Roni
AbstrakKelompok wanita tani terbentuk dengan dilandasi oleh kesamaan kondisi sosial ekonomi dan tujuan bersama anggotanya yang bertekad untuk mengubah kehidupan yang lebih sejahtera dengan semangat utamanya adalah menaikkan derajat dan kualitas hidup. Akan tetapi di lokasi penelitian masih banyak masyarakat khususnya wanita tani yang tidak bergabung dalam suatu kelompok tani, dan mengakibatkan keadaan ekonomi mereka masih berada pada taraf rendah tanpa ada peningkatan. Adapun maksud dari penelitian ini adalah mengkaji faktor yang memengaruhi minat wanita tani untuk bergabung dalam Kelompok Wanita Tani. Untuk mengumpulkan sampel dengan total 100 responden yang sudah memenuhi kriteria, penelitian ini menerapkan metode Simple Random Sampling dan pendekatan analisis data yang dipilih adalah Regresi Logistik Biner. Perhitungan analisis menghasilkan 3 dari 7 faktor memiliki nilai sig. > 0,05 yaitu usia, kepercayaan diri, dan aset yang dimiliki. Sedangkan 4 lainnya yaitu faktor lama pendidikan, jaringan sosial, akses terhadap informasi, dan kesehatan memiliki nilai sig.< 0,05. Sehingga disimpulkan 3 faktor tersebut berpengaruh terhadap 66% minat wanita tani untuk bergabung dalam Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Harau, dan faktor 4 faktor lain tidak berpengaruh. Dari hasil ini diharapkan pemerintah dan organisasi terkait memastikan setiap program yang ada dapat terserap dengan tepat dan baik.Kata kunci: Minat bergabung, kelompok wanita tani, regresi logistik biner.AbstractFarmer groups are created based on the similarity of socio-economic conditions and the common goals of its members who are determined to change a more prosperous life with the main spirit is to raise the degree and quality of life. However, in the research location there are still many people, especially farm women, who do not join a farmer group, and as a result their economic situation is still at a low level without any improvement. The aim of this study is to investigate the factors that influence the interest of women farmers to join the Women Farmers Group. In order to collect samples with a total of 100 respondents who met the criteria, this study applies the method of Simple Random Sampling. The data analysis approach chosen is Binary Logistic Regression. The results of the analysis indicated that 3 out of 7 factors had a sig. > 0.05, namely age, self-confidence and wealth. While the other 4 factors, duration of education, social network, access to information, and health have a sig value <0.05. It is concluded that these 3 factors influence 66% of farmer women's interest to join the women farmers group in Harau district, while the other 4 factors have no effect. On the basis of these results, it is expected that the government and related organizations can ensure that each existing program can be properly and well absorbed.Keywords: Joining interest, women farmers group, binary logistic regression.
sosial ekonomi pertanian 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62848 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.62848
1670795 #7423 TRADITIONAL RETAILER’S PERCEPTION ON THE IMPACT OF MODERN RETAIL GROWTH IN BANDUNG Qanti, Sara Ratna
ABSTRAKPertumbuhan modern ritel yang sangat cepat di Indonesia menimbulkan perdebatan mengenaibagaimana pertumbuhan yang cepat ini mempengaruhi sektor ritel tradisonal. Tujuan dari tulisan inimenitikberatkan kepada persepsi para peritel tradisional mengenai dampak dari pertumbuhan modernritel terhadap pendapatan peritel tradisional. Studi ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif.Data primer diperoleh berdasarkan wawancara mendalam dengan 45 peritel tradisional yang berlokasidi 3 pasar tradisional di Bandung. Hasil studi menunjukkan bahwa: (1) Bertolak belakang denganpandangan pada umumnya, peritel tradisional (yang menjual sayur dan buah segar) percaya bahwakeberadaan ritel modern di sekitar lokasi penjualan mereka memiliki dampak yang kecil terhadappendapatan mereka. (2) Penurunan pendapatan peritel tradisional yang terlibat dalam studi inidisebabkan terutama karena adanya kompetisi dengan para pedagang kaki lima (PKL) danpermasalahan yang berkaitan dengan managemen internal dari pasar tradisional itu sendiri sepertimisalnya peningkatan harga sewa jongko dan keterbatasan infrastruktur pendukung lainnya. (3)Diferensiasi produk (dalam kualitas dan jenis produk) yang diperjualbelikan di pasar tradisional danpasar modern serta perbedaan segmen pasar diantara keduanya, membuat kedua jenis pasar ini salingmelengkapi satu sama lain.Kata kunci: persepsi peritel, dampak, pertumbuhan ritel modern, ritel tradisional, BandungABSTRACTRapid rise of modern retails in Indonesia raised a debate on how this rapid rise affects traditionalretail sectors. This study highlights traditional retailer’s perception on the impact of modern retailgrowth to their income. Descriptive analysis is used in this study. Primary data was gained from indepth interview with 45 traditional retailers in 3 traditional markets in Bandung. This study showsthat: (1) On the contrary with the conventional wisdom, traditional retailers (who sell FFV) believethat the existence of modern retails nearby their selling locations has little impact on their income. (2)Decreasing income of traditional retailers in our study is mostly caused by competition with illegalstreet vendors and internal traditional market management issues such as increasing rental price ofstalls and limited infrastructures. (3) Product differentiation (in quality and type of goods) that aresold in traditional and modern retails and market segmentation, make these two types of marketscomplement to each other.Keywords: retailer’s perception, impact, modern retail growth, traditional retail, Bandung.
2016-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22689 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22689
1670794 #7423 ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI KACANG TANAH DI DESA LENGKONG KECAMATAN LENGKONG KABUPATEN SUKABUMI Zepta Suprianto, Muhammad Ridho
Tsani, Ashrul
Abstrak Kacang tanah merupakan salah satu komoditas pangan penting yang memiliki nilai ekonomi dan gizi tinggi, serta banyak dibudidayakan oleh petani skala kecil di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usahatani kacang tanah di Desa Lengkong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei dan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 30 petani yang memenuhi kriteria luas lahan minimal 0,1 ha dan pengalaman berusahatani minimal 4 tahun. Analisis dilakukan terhadap komponen biaya produksi, penerimaan, pendapatan, serta rasio R/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total biaya produksi per hektar adalah Rp4.722.891, dengan penerimaan sebesar Rp6.083.000 dan pendapatan bersih sebesar Rp1.360.109. Nilai R/C ratio sebesar 1,3. menunjukkan bahwa usahatani ini dinilai layak secara ekonomi. Adapun peningkatan efisiensi penggunaan input produksi berpotensi meningkatkan pendapatan petani kacang tanah. Dukungan dari pemerintah dan penyuluh pertanian dalam bentuk pendampingan teknologi serta perluasan akses pasar juga menjadi faktor penting untuk mendorong nilai tambah dan daya saing produk lokal.Kata kunci: Kelayakan Usaha Tani, Kacang Tanah, R/C Ratio, Pendapatan.Abstract Peanuts are one of the important food commodities that have high economic and nutritional value and are widely cultivated by small-scale farmers in Indonesia.This study aims to analyze the financial feasibility of peanut farming in Lengkong Village, Lengkong Subdistrict, Sukabumi Regency. The research employed a descriptive quantitative approach using a survey method and purposive sampling technique. A total of 30 farmers were selected as respondents based on specific criteria, namely a minimum land area of 0.1 hectares and at least four years of farming experience. Data were collected through direct interviews and analyzed based on production costs, revenue, income, and the R/C (Revenue/Cost) ratio. The results showed that the average total production cost per hectare was IDR 4,722,891, with an average revenue of IDR 6,083,000, resulting in a net income of IDR 1,360,109. The R/C ratio of 1.3 indicates that peanut farming in the area is economically feasible. Improving input efficiency has the potential to further increase farmers' income. In addition, government and agricultural extension support in the form of technological assistance and expanded market access are crucial factors in enhancing the added value and competitiveness of local peanut products.Keywords: Farm Feasibility, Peanut Farming, R/C Ratio, Income.
Usahatani, Ekonomi, Pertanian, Agribisnis 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64655 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.64655
1670793 #7423 Analisis Manajemen Rantai Pasok Benih Padi Lokal di PT Saprotan Benih Utama, Kabupaten Sragen Aprilianingsih, Lisa
Ekowati, Titik
Nurfadillah, Suryani
AbstrakManajemen rantai pasok merupakan konsep pengelolaan manajemen perusahaan mulai dari proses pengadaan sampai produk siap untuk dikirim. Penerapan manajemen rantai pasok di perusahaan mengalami kendala yaitu kurangnya strategi yang tepat. Kurangnya strategi yang tepat khususnya dalam kegiatan produksi menyebabkan terkendalanya proses distribusi. Oleh karena itu, diperlukan beberapa strategi untuk mengatasi permasalahan manajemen rantai pasok tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Pengukuran kinerja manajemen rantai pasok menggunakan metode analisis supply chain operation reference (SCOR). Hasil penerapan manajemen rantai pasok benih padi di PT Saprotan Benih Utama sudah dilaksanakan dengan baik. Aliran rantai pasok benih padi baik aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi sudah dapat dikatakan baik. Tahun 2021, produk benih padi yang terjual sebanyak 4.633,66 ton/th hampir mendekati target sebanyak 5.000 ton/th. Nilai kinerja manajemen rantai pasok benih padi sebesar 74,63% dan termasuk kedalam kategori good dengan atribut prioritas tertinggi yaitu reliability, kriteria pemenuhan pesanan (PP). Hasil analisis efisiensi pemasaran menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara nilai margin dan efisiensi pemasaran pola 1 dan 2. Nilai total margin pemasaran pola 1 sebesar Rp 34.500,00, pola 2 sebesar Rp 42.500,00. Rata – rata nilai efisiensi pemasaran pola 1 yaitu 89,4%, pola 2 sebesar 87%. Pola 1 lebih efisien dibandingkan pola 2.Kata kunci: benih padi, manajemen rantai pasok, kinerja, SCOR, efisien.AbstractSupply chain management is company management concept starting from the procurement process until the product ready shipped. The implementation of supply chain management is experiencing problems, namely the lack of the right strategy. The lack of the right strategy, especially in production activities, causes distribution problems. Therefore, several strategies are needed to overcome them. The research method used is the survey method. The supply chain management performance measurement uses the supply chain operation reference (SCOR) analysis method. The result of the implementation of rice seed supply chain management have been carried well. The flow of the rice seed suplly chain both product flow, financial flow, and information flow can be good. The value of rice seed supply chain management performance is 74,63% and included in the good category with the highest priority attribute, namely reliability, order fulfillment criteria (PP). The result of marketing efficiency analysis show that there is significant difference between margin dan marketing efficiency of pattern 1 and 2. The total value of margins for pattern 1 is Rp 34,500.00 and pattern 2 Rp 42,500.00. The average value of marketing efficiency for pattern 1 is 89,4% and pattern 2 87%. Pattern 1 is more efficient than pattern 2.Keywords: rice seeds, supply chain management, performance, SCOR, efficient.
2022-07-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39335 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i1.39335
1670792 #7423 IMPLEMENTASI SAPTA PESONA DAN KINERJA AGROEDUWISATA KAMPUNG PASIR ANGLING DESA SUNTENJAYA LEMBANG Djuwendah, Endah
Junawinata, M. Gunardi
Ernah, Ernah
Hasbiansyah, O.
AbstrakAgroeduwisata  sebagai bentuk  pariwisata berkelanjutan  yang dapat terlaksana apabila berkineja baik  dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam melaksanakan sapta pesona. Sapta pesona   harus diwujudkan di setiap destinasi wisata, baik  destinasi  alam, budaya, buatan maupun minаt khusus agar  menciptаkаn kenyаmаnаn  bagi  wisаtаwаn. Kampung Pasir Angling merupakan sаlаh sаtu destinаsi wisаtа yаng   menerapkan  konsep agroeduwisata berbasis  mаsyаrаkаt.  Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis implementasi sapta pesona dan Kinerja agroeduwisata di Kampung Pasir Angling Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan metode survei.  Data yang digunakan berasal dari data  primer dan sekunder. Data Primer diperoleh melalui  wawancara dengan 42 orang masyarakat dan wisatawan, obervasi dan studi literatur.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dan wisatawan terhadap implementasi sapta pesona termasuk kategori baik dengan rataan skor 3,86. Aspek kesejukan, keindahan dan kenangan termasuk kategori sangat baik sedangkan aspek keamanan masuk kategori cukup baik.   Kinerja agroeduwisata Kampung Pasir Angling dilihat dari aspek  kelamiahan dan optimalisasi penggunaan lahan  temasuk kategori sangat baik sedangkan pendidikan termasuk kategori baik. Penataan kawasan, pelibatan masyarakat dan keunikan  temasuk kategori  cukup baik. Kata kunci: Sapta pesona, Kinerja,  Agroeduwisata,  Kampung Pasir AnglingAbstractAgro-tourism is a form of sustainable tourism that can be implemented if it performs well and the community actively participates in implementing Sapta Pesona. Seven charms must be realized in every tourist destination, whether natural, cultural, artificial or special interest destinations in order to create comfort for tourists. Kampung Pasir Angling is one of the tourist destinations that applies the concept of community-based agro-education.  This research was conducted to analyze the implementation of Sapta Pesona and the performance of agro-tourism in Pasir Angling Village, Lembang District, West Bandung Regency. The research design used is quantitative descriptive, with a survey method.  The data used comes from primary and secondary data. Primary data was obtained through interviews with 42 local people and tourists, observations and literature studies.  The research results show that the perception of the public and tourists regarding the implementation of Sapta Pesona is in the good category with an average score of 3.86. The coolness, beauty and memories aspects are in the very good category, while the security aspect is in the quite good category.   The performance of Kampung Pasir Angling agro-tourism, seen from the aspects of nature and optimization of land use, is in the very good category, while education is in the good category. Area planning, community involvement and uniqueness are categorized as quite good.Keywords: Sapta Pesona, Performance, Agro-edutourism, Pasir Angling Village
Sosial Ekonomi Pertanian 2024-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56657 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i1.56657
1670791 #7423 UPAYA PENINGKATAN KONSUMSI TEMPE MELALUI DIVERSIFIKASI OLAHAN Raswanti, Hana
Aditya, Ary Okta
Aisyah, Sarah R. O.
Alham, Aldiano
Hanidah, In-in
ABSTRAKTempe adalah produk olahan makanan yang terbuat dari fermentasi kacang kedelai atau beberapa bahan lainnya. Fermentasi menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, dan beberapa jenis kapang Rhizopus lainnya. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli 2018 di Kampung Lebak Jati RW.08, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan konsumsi tempe melalui diversifikasi olahan dari produk berbahan dasar tempe. penelitian ini dilakukan dengan uji organoleptik terhadap 20 (dua puluh) panelis untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap warna, rasa, tekstur, dan aroma. Metode penelitian yang digunakan adalah RAL (3x20) dengan 3 perlakuan yang berbeda yaitu nugget tempe, steak tempe, dan ham tempe dalam uji organoleptik dengan 20 kali ulangan, dan dilanjut dengan uji BNT (beda nyata terkecil). Hasil analisis ragam menunjukan bahwa diversifikasi produk olahan berbahan dasar tempe (Fhitung > Ftabel) berpengaruh sangat nyata terhadap warna, rasa, dan aroma dan hasil analisis ragam juga menunjukan bahwa penggunaan berbagai produk olahan berbahan dasar tempe (Fhitung < Ftabel) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tekstur. Produk olahan tempe yang paling disukai adalah steak tempe.Kata Kunci: Diversifikasi Tempe, Uji OrganoleptikABSTRACTTempe is a processed food product made from fermented soybeans or some other ingredients. Fermentation uses several types of Rhizopus mold, such as Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, and several other types of Rhizopus mold. This research was conducted in July 2018 in Kampung Lebak Jati RW.08, Cileles Village, Jatinangor District, Sumedang Regency. The purpose of this study is to increase the consumption of tempe through the diversification of processed products from tempe-based products. this study was conducted by organoleptic tests on 20 (twenty) panelists to determine the level of preference for color, taste, texture, and aroma. The research method used was RAL (3x20) with 3 different treatments, namely tempeh, steak tempeh, and ham tempe in organoleptic test with 20 replications, and continued with LSD test (smallest real difference). The results of the variance analysis showed that the diversification of processed products based on tempe (F count> F table) had a very significant effect on color, taste and aroma and the results of variance analysis also showed that the use of various processed products made from tempe (Fcount <Ftable) did not have a significant effect against texture. The most preferred tempe product is steak tempe.Keywords: Tempe Diversification, Organoleptic Test
2019-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17804 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.17804
1670790 #7423 NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI SALE PISANG KECAMATAN POGALAN KABUPATEN TRENGGALEK Pamujiati, Agustia Dwi
Sutiknjo, Tutut Dwi
Azkiyah, Lailatul
Lisanty, Nina
Slamet, Ahmad Haris Hasanudin
Sa'adah, Enik Nur
AbstrakAgroindustri sale pisang banyak ditemukan di Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek dengan mayoritas mempekerjakan saudara sebagai tenaga kerja sehingga kurang memperhitungkan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan. Hal ini akan mempengaruhi nilai tambah produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah agroindustri sale pisang di Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek. Metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan metode Hayami. Sampel diambil secara sensus dengan jumlah responden sebanyak 25 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 41-45 tahun dan berpendidikan terakhir SMA. Dalam satu kali proses produksi sale pisang membutuhkan 100 kg pisang kepok dan menghasilkan 65 kg sale pisang dengan harga jual Rp 41.000 per kg. Nilai tambah agroindustri sale pisang di Kecamatan Pogalan sebesar Rp 16.350 per kg dengan rasio nilai tambah 61,35%. Keuntungan yang diperoleh industri sale pisang sebesar Rp 14.850 dengan tingkat keuntungan 90,83%. Distribusi margin terbesar adalah untuk keuntungan yaitu 72,62%, tenaga kerja 7,33%, dan input lain sebesar 20,05%. Penelitian ini menunjukkan bahwa agroindustri sale pisang di Kecamatan Pogalan memiliki nilai tambah yang tinggi dan potensial untuk dikembangkan.Kata kunci: Agroindustri, nilai tambah, sale pisang.AbstractThis research aims to determine the added value of banana chip agroindustry in Pogalan District, Trenggalek Regency. The method used is quantitative analysis using the Hayami method. The results of the study show that the majority of respondents are aged 41-45 years and have the last education level of high school. One process of producing banana chips requires 100 kg of kepok bananas and produces 65 kg of banana chips with a selling price of Rp 41,000 per kg. The added value of banana chip agroindustry in Pogalan District is Rp 16,350 per kg with an added value ratio of 61.35%. The profit obtained by the banana chip industry is Rp 14,850 with a profit rate of 90.83%. The largest margin distribution is for profit, namely 72.62%, labor 7.33%, and other inputs 20.05%. This research shows that banana chip agroindustry in Pogalan District has high added value and is potential to be developed.Keywords: Agroindustry, value added, dried banana dish.
Agribisnis; Ekonomi Pertanian 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60711 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.60711
1670789 #7423 KERAGAAN KEMITRAAN DI KOPERASI PRODUKSI SUSU (STUDI KASUS DI KPS BOGOR, KEDUNG BADAK, KOTA BOGOR) Kartika, Annisa Indah
Qanti, Sara R.
ABSTRAKPeningkatan produksi susu di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan konsumsi susu diIndonesia yang juga terus meningkat. Koperasi Produksi Susu (KPS) hadir untuk memfasilitasi parapeternak sapi perah. KPS tidak dapat menjalankan seluruh kegiatannya sendiri maka KPS menjalinkerja sama dalam memenuhi sarana produksi, distribusi, kualitas, dan kontinuitas. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui pola dan keragaan kemitraan yang terjadi pada KPS Bogor. Penelitiandilakukan di KPS Bogor di Jln. Baru Kedung Badak, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan TanahSareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif kualitatif dan teknikpenelitian studi kasus. Responden dan informan ditentukan dengan sengaja. Data yang digunakanadalah data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPS Bogor memiliki enamperusahaan mitra yaitu PT. AMS, CV. MAJU, Cimory, Indolakto, Nutrifood, dan Unican. Hanya satudari enam perusahaan ini yang memiliki perjanjian tertulis yaitu PT. AMS dalam bentuk Kerja SamaOperasi (KSO). Perjanjian tidak tertulis dengan Indolakto, Cimory, Nutrifood, dan Unican dalambentuk kemitraan subkontrak, dan CV. MAJU dalam bentuk vertical forward linkage. Dalampelaksanaan kerjasama antara KPS dan mitra, banyak proses yang dilakukan secara spontan.Kata kunci: susu, keragaan, kemitraan, kerja sama bisnis, spontanABSTRACTMilk production in Indonesia is still insufficient to fulfil increasing milk consumption in Indonesia.West Java is one of the largest milk production centre in Indonesia and also place where there aremany milk production cooperatives (MPC). MPC presents to facilitates the dairy farmers. MPC wasnot able to run the entire business itself, then it cooperates with various partners in term ofproduction facilities, distribution, quality control, and continuity. The purpose of this study is todetermine the pattern and the performance of partnerships at the MPC in Bogor. The study wasconducted at the MPC in Bogor located at Jln. Baru Kedung Badak, Kedung Badak Village, TanahSareal District, City of Bogor, West Java. Descriptive design and a qualitative case study researchtechnique were used in this study. Primary data were collected by using participant observation andinterviews. Both primary and secondary data were used in this study. Important results suggest thatMPC in Bogor has six partner companies, namely PT. AMS, CV. MAJU, Indolakto, Cimory,Nutrifood, and Unican. Only one (PT. AMS) of these six companies has written agreement and inform of Joint Operation. The unwritten agreements with Indolakto, Cimory, Nutrifood, and Unicanare in subcontract partnerships form, and CV. MAJU is in vertical forward linkage form. In theimplementation of partnerships, many processes are carried out spontaneously.Keywords: milk, the performance, partnerships, business collaboration, spontaneous
2016-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22702 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22702
1670788 #7423 PROJECTED SCENARIO OF BIOFORTIFIED RICE NEEDS IN FIVE PRIORITY PROVINCES TO REDUCE STUNTING Amalina, Dian
Yazid, M
Ritonga, Utan Sahiro
Abstract The problem of malnutrition and hidden hunger is still a challenge in Indonesia, with an uneven prevalence of stunting between regions. Nutrition interventions require a targeted approach. This study aims to analyze the market potential and project the demand for biofortified rice specifically in the five priority provinces with the highest stunting prevalence: Aceh, NTB, NTT, West Sulawesi, and Southwest Papua. This study uses a descriptive quantitative method with projection and scenario analysis. Secondary data from BPS, SUSENAS, and SSGI were analyzed to map the potential for market uptake using pessimistic (5%), moderate (15%), and optimistic (30%) adoption scenarios. The results of the analysis show a very significant economic potential. In the moderate adoption scenario (15%), the total estimated market value of biofortified rice in the five provinces collectively has the potential to reach Rp 16.987 trillion per year. Volume demand in the same scenario is projected to grow consistently, reaching 241,970 tons by 2030. These findings confirm that biofortified rice has a strong economic justification as an investment opportunity and nutritional intervention. This research provides quantitative targets for stakeholders to design effective production and distribution strategies in these priority areas.Keywords: Food Investment, Rice Needs, Biofortified Foods, Nutritional Problems, Food Demand.
Sosial Ekonomi Pertanian, Agribisnis, Pembangunan Pertanian, kebijakan Pertanian 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/68031 buka_link ↗ Highlight_link
1670787 #7423 DAMPAK IMPOR GULA TERHADAP PRODUKSI TEBU DAN HARGA GULA DOMESTIK DI INDONESIA Safrida, Safrida
Sofyan, Sofyan
Taufani, Adawiya
Gula merupakan salah satu produksi dari subsektor perkebunan yang berasal dari tanaman tebu. Selama tahun 2005-2016, produksi tebu Indonesia cenderung menurun, sementara konsumsi gula semakin meningkat. Untuk memenuhi konsumsi tersebut, Indonesia melakukan impor gula dengan harga yang lebih rendah dari harga gula dalam negeri. Namun dampaknya adalah terjadinya penurunan produksi tebu di Indonesia.   Kondisi ini tidak sesuai dengan tujuan dari kegiatan impor. Secara teori,  impor hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak mempengaruhi produksi. Ketika impor meningkat, produksi gula dalam negeri seharusnya juga meningkat untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak impor gula terhadap produksi tebu dan harga gula domestik di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk data time series tahun 1997-2016. Penelitian ini menggunakan model regresi persamaan simultan dengan 7 persamaan yang terdiri dari 6 persamaan struktural dan 1 persamaan identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) trend dan proyeksi impor gula, produksi tebu dan harga gula pada lima tahun yang akan datang terus meningkat, (2) impor gula berdampak pada turunnya produksi tebu di Indonesia, (3) impor gula juga berdampak pada peningkatan harga gula domestik.Kata Kunci: gula, tebu, produksi, impor, hargaABSTRACTSugar is one of the production from the plantation sub-sector derived from sugar cane. During 2005-2016, Indonesian sugarcane production tended to decrease, while sugar consumption increased. To fulfill this consumption, Indonesia imports sugar at prices lower than domestic sugar prices. However, the impact of sugar imports  is the decline in sugarcane production in Indonesia. This condition is not accordance with the objectives of the import activity. In theory, imports are only to meet domestic needs and do not affect production. When imports increase, domestic sugar production should also increase to reduce dependence on imports. This study aims to determine the impact of sugar imports on sugarcane production and domestic sugar prices in Indonesia. The data used in this study are secondary data in the form of time series data for 1997-2016. This study uses a simultaneous equation regression model with 7 equations consisting of 6 structural equations and 1 identity equation. The results showed that: (1) the trend and projection of sugar imports, sugarcane production and sugar prices in the coming five years continues to increase, (2) sugar imports have an impact on the decline in sugarcane production in Indonesia, (3) sugar imports also have an impact on increasing domestic sugar prices. Keywords: sugar, sugarcane, production, import, price
2020-08-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24850 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i1.24850
1670786 #7423 “IJON YANG TAK LEKANG OLEH WAKTU” ALASAN SISTEM INI MASIH MENJADI TRADISI PETANI PADI Arumandani, Sekar
Safi'i, M. Aris
Adinugraha, Hendri Hermawan
AbstrakPenelitian ini mengkaji persistensi sistem ijon sebagai tradisi di kalangan petani padi di Indonesia, meski terdapat opsi pembiayaan lain. Identifikasi masalah meliputi alasan petani tetap memilih sistem ijon meskipun terjebak dalam siklus hutang dan harga rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ijon bertahan karena faktor sosial, budaya, serta keterbatasan akses ke keuangan formal. Relasi sosial dengan tengkulak memengaruhi keputusan petani, yang melihatnya sebagai solusi cepat. Sistem ini juga mulai beradaptasi dengan teknologi, namun penggunaannya belum merata. Kesimpulannya, meski sistem ijon dianggap merugikan, ia bertahan karena mampu menjawab kebutuhan mendesak petani. Disarankan adanya kebijakan yang meningkatkan akses ke pembiayaan lebih adil, untuk membantu petani bertransisi dari ketergantungan ijon.Kata kunci: Sistem ijon, petani padi, keterbatasan akses.AbstractThis study examines the persistence of the ijon system as a tradition among rice farmers in Indonesia, despite the availability of other financing options. Problem identification includes the reasons why farmers continue to choose the ijon system despite being trapped in a cycle of debt and low prices. The research method used is qualitative with a case study approach, involving in-depth interviews and observations. The results of the study indicate that the ijon system persists due to social and cultural factors, as well as limited access to formal finance. Social relations with middlemen influence farmers' decisions, who see it as a quick solution. This system has also begun to adapt to technology, but its use is not yet evenly distributed. In conclusion, although the ijon system is considered detrimental, it persists because it is able to answer the urgent needs of farmers. It is recommended that there be policies that increase access to fairer financing, to help farmers transition from dependence on ijon.Keywords: Ijon system, rice farmers, limited access.
2025-02-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59044 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.59044
1670785 #7423 PEMBERDAYAAN UMKM BERBASIS EKONOMI KREATIF DI PESISIR PANTAI CIMALAYA – SUBANG JAWA BARAT Hanidah, In-In -
Mulyono, Agung Tri
Moody, Sumanti Debby
Aprilani, Renita Dwi
Setiasih, Imas Siti
ABSTRAKPengembangan UMKM Abon Ikan Tengkek mempunyai peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat Desa Cilamaya Hilir Kabupaten Subang. Penerapan ekonomi kreatif merupakan konsep pengembangan ekonomi pelaku UMKM Abon Ikan Tengkek untuk meningkatkan nilai tambah produk dengan menciptakan produk melalui perbaikan proses produksi, penerapan GMP, perbaikan desain kemasan, peningkatan legalitas usaha, dan perluasan pemasaran. Metode kajian yang dilakukan terdiri dari: observasi, wawancara, persuasif, dan andragogi untuk mengoptimalkan tujuan penelitian. Hasil kajian menunjukkan pemberdayaan UMKM Abon Ikan Tengkek berbasis ekonomi kreatif mampu meningkatkan penjualan sebesar 81,25%/tahun. Kata Kunci: UMKM, abon, ikan tengkek, ekonomi kreatifABSTRACTSmall and medium-sized enterprises (SMEs) development of "Abon Ikan Tengkek"  has a very important role for economic growth for the people of Cilamaya Hilir Village - Subang. The application of the creative economy is the concept businessmen of "Abon Ikan Tengkek" SMEs to increase product added value by creating products through improving production processes, implementing GMP, improving packaging design, improving business legality, and expanding marketing. The method of study conducted consists of: observation, interview, persuasive, and andragogy to optimize the research objectives. The results of the study showed that the empowerment "Abon Ikan Tengkek" SMEs based on creative economy was able to increase sales by 81.25%/year.Keywords: SMEs, abon, tengkek fish, creative economy
2018-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15480 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.15480
1670784 #7423 FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERMINTAAN KUNJUNGAN KE AGROWISATA BUMI PERKEMAHAN RANCA CANGKUANG DENGAN PENDEKATAN METODE BIAYA PERJALANAN INDIVIDU Yusuf, Ghina Amelia
Ernah, Ernah
Rochdiani, Dini
Wulandari, Eliana
Bagaskara, Fadil
AbstrakKabupaten Bandung memiliki objek wisata terbanyak kedua di Jawa Barat. Salah satunya adalah agrowisata Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang. Namun, kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut mengalami penurunan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan kunjungan dengan menggunakan metode biaya perjalanan individu. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Pengambilan sampel menggunakan teori Lemeshow dan ditentukan secara accidental sampling, sehingga didapatkan 100 sampel wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya perjalanan, pendapatan, jumlah rombongan, dan jenis kelamin berpengaruh signifikan terhadap permintaan kunjungan. Faktor-faktor ini dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan dan pemasaran untuk meningkatkan kunjungan dan keberlanjutan objek wisata tersebut.Kata kunci: Permintaan, kunjungan, metode biaya perjalanan individu, agrowisata.AbstractBandung Regency has the second highest number of tourist attractions in West Java, including the agrotourism site Bumi Perkemahan Ranca Cangkuang. However, visitor numbers to this location have declined. Therefore, this study aims to analyze the factors influencing visitation demand using the Individual Travel Cost Method. The research employs a quantitative design with multiple linear regression analysis. Sampling was conducted using Lemeshow’s theory and accidental sampling technique, resulting in 100 tourist respondents. The results indicate that travel costs, income, group size, and gender significantly affect visitation demand. These factors can serve as important references for management and marketing strategies to increase visits and ensure the sustainability of the tourism site.Keywords: Visit, demand, individual travel cost method, agrotourism.
Agribisnis 2025-07-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64514 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.64514
1670783 #7423 REFLEKSI PARADIGMA KEDAULATAN PANGAN DI INDONESIA: STUDI KASUS GERAKAN PANGAN LOKAL DI FLORES TIMUR Nugraha, Adi
Hestiawan, Mochamad S.
Supyandi, Dika
ABSTRAKKedaulatan Pangan telah diadopsi sebagai pendekatan pembangunan pangan dan pertanian nasionalbersama dengan konsep kemandirian pangan dan ketahanan pangan. Namun, Program yangdiinisiasi pemerintah lebih dipengaruhi oleh paradigma ketahanan pangan dan kemandirian panganyang lebih rentan terhadap rezim korporasi pangan. Kedaulatan pangan perlu lebih jauhdidiseminasikan sebagai alternatif terhadap rezim korporasi pangan. Studi ini merupakan studikualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan etnografis dalam pengambilan informasi. Kajianterhadap Persepsi terhadap operasionalisasi konsep kedaulatan pangan di tingkat petani dapatdiungkap secara lebih detail salah satunya dengan teori Hegemoni Gramsci, analisa regim pangan,dan teori multi kedaulatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa respon petani terhadap kedaulatanpangan dan ketahanan pangan cenderung samar dan menunjukkan keterkaitan yang sejajar non-komplementer. Kedaulatan dapat bekerja baik dalam kondisi yang menghargai adanya keberagamansumber kedaulatan. Kedaulatan pangan memiliki kecenderungan untuk dapat menguatkankeberagaman konteks, budaya, dan pilihan cara produksi sebagai upaya nyata untuk mengurangidampak dominasi regim pangan korporasi terhadap upaya negara dan petani menjamin terpenuhinyahak rakyat atas pangan.Kata kunci: kedaulatan pangan, ketahanan pangan, rezim korporasi pangan, gerakan petaniABSTRACTFood sovereignty has been officially adopted as national food and agriculture developmentapproach along with food self sufficiency and food security. However, state led program wereheavily influence by food security paradigm and food self-sufficiency which more vulnerable topredatory character of corporate food regime. The food sovereignty discourse must be disseminatedfurther as alternative to corporate food regime. The discourse of food sovereignty was put into theaction by NGO and local groups which framed as local food movement initiative. The local foodmovement and the phenomena surrounding its rise needs to be ethnographically scrutinized.Gramsci's theory of hegemony, food regime analysis, relational scale and multiple sovereigntyelucidate the perception of food sovereignty value concept its relation and contestation among smallscale in the Flores Timur. Results shows that in small scale farmer perceived food sovereignty andfood security are interrelated because the persistence penetration of neoliberal economy. Foodsovereignty should be articulated and adapted for different contexts without losing its ground. Foodsovereignty works best with multiple recognitions of sovereignty. Food sovereignty were embraceand strengthen the diversity of contexts, cultures and pathways in order to slow down the furtherdomination of the corporate food regime.Keywords: food sovereignty, food security, corporate food regime, farmer’s movement
2016-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22717 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22717
1670782 #7423 PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP UNIT USAHA SUSU KOPERASI UNIT DESA (KUD) CEPOGO KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI Isna, Ziva Arsiatul
Sugihardjo, Sugihardjo
Lestari, Eny
Abstrak Kabupaten Boyolali merupakan pusat populasi sapi perah tertinggi di Jawa Tengah. Wilayah yang memiliki populasi sapi perah berada di Kecamatan Cepogo. Berdasarkan mutasi anggota KUD Cepogo tidak semua anggota KUD aktif dalam unit usaha susu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, menganalisis faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67% anggota memiliki persepsi yang baik terhadap unit usaha KUD Cepogo. Faktor-faktor pembentuk persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo meliputi: pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman, pendapatan, dan motivasi. Faktor-faktor pembentuk persepsi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota unit usaha susu KUD Cepogo. Secara parsial variabel pengalaman, pendapatan, dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota, sedangkan variabel pendidikan formal dan pendidikan non formal tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo.Kata kunci: Unit Usaha Susu, KUD Cepogo, PersepsiAbstract Boyolali Regency is the highest dairy population center in Central Java. The area that has a dairy population is in Cepogo Subdistrict. Based on cepogo kud member mutation, not all kud members are active in milk business unit. This study aims to analyze the perception of members of the cepogo kud milk business unit, analyze the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit, and analyze the influence between the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that 67% of members have a good perception of cepogo kud business unit. Factors that shape members' perception of Cepogo's dairy business unit include: formal education, non-formal education, experience, income, and motivation. The perception-forming factors simultaneously have a significant effect on the perception of members of the Cepogo KUD dairy business unit. Partial variables of experience, income, and motivation have a significant effect on members' perceptions, while the variables of formal education and non-formal education have no significant effect on members' perception of cepogo's dairy business unit.Keywords: Dairy Business Unit, Kud Cepogo, Perception
2020-12-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31702 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.31702
1670781 #7423 PASCAPANEN DAN PEMASARAN KOPI ARABIKA DI PT. SINAR MAYANG LESTARI, KECAMATAN PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG Kasyfillah, Luthfi
Setiawati, Indah
AbstrakTujuan dari penelitian adalah: 1) Mengetahui mengenai proses penaganan pascapanen  kopi arabika di PT. Sinar Mayang Lestari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 2) Mengetahui strategi pemasaran kopi arabika di PT. Sinar Mayang Lestari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif melalui kegiatan wawancara pakar dan observasi partisipasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan pascapanen  secara baik dan benar/GHP (Good Handling Practices) kopi harus dilakukan secara tepat waktu untuk menghindari penurunan kualitas kopi yang dihasilkan dan dengan didukung penerapan teknologi tepat guna serta sarana prasarana yang memadai, seperti pengadaan mesin berpenggerak listik, bensin ataupun diesel dan fasilitas penunjang. Penerapan strategi pemasaran jika dilakukan secara terencana akan memberikan dampak positif bagi produsen dan menciptakan kosumen tetap yang melakukan pembelian secara berulang dan mampu bersaing di pasar.Kata kunci: Good Handling Process Kopi, Bauran Pemasaran, Strategi STP.AbstractThe objectives of the study were: 1) knowing about the post-harvest handling process for Arabica coffee at PT. Sinar Mayang Lestari, Pangalengan District, Bandung Regency, West Java, 2) Knowing the Arabica coffee marketing strategy at PT. Sinar Mayang Lestari, Pangalengan District, Bandung Regency, West Java. The analytical method used is descriptive analysis through expert interviews and participatory observation. The results of this study indicate that post-harvest activities for properly / GHP (Good Handling Practices) coffee must be carried out in a timely manner to avoid a decrease in the quality of the coffee produced, supported by the application of appropriate technology and adequate infrastructure such as the procurement of electric-driven machines, gasoline. or diesel engines, and supporting facilities. The implementation of marketing strategies, if carried out in a planned manner, will have a positive impact on producers and create permanent consumers who make repeated purchases and are able to compete in the market.Keywords: Good Handling Process Coffee, Marketing Mix, STP Strategy.
Agribisnis 2023-03-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40433 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40433
1670780 #7423 ANALISIS KELAYAKAN INTRODUKSI TANAM GANDA (DOUBLE ROW) UBI KAYU PADA USAHATANI SISTEM TUMPANGSARI DI LAHAN KERING DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Subagiyo, Subagiyo
Charisnalia, Charisnalia
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan introduksi tanam ganda (double raw) ubi kayupada system tumpangsari di lahan kering Kabupaten Gunungkidul. Penelitian dilaksanakan padabulan Januari sampai dengan bulan Oktober 2016 di Desa Namberan, Paliyan, KabupatenGunungkidul. Metodelogi yang digunakan dengan pendekatan on partisipatif farm research dansurvai, dengan jumlah responden 30 orang. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisismenggunakan pendekatan analisis Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR). Hasil Penelitianmenunjukkan bahwa introduksi tanam ganda ubi kayu pada sistem tumpangsari yang biasadilakukan oleh para petani kabupaten Gunungkidul yaitu tanaman ubi kayu ditanam di awal musimhujan sekaligus menanam padi, setelah padi dipanen disusul dengan tanaman kacang tanah disisipidengan tanaman jagung. Sedangkan ubi kayu di panen paling akhir, dengan system tumpangsari inipetani dalam satu tahun panen 3 kali yaitu padi, jagung kacang tanah dan ubi kayu. Berdasarkananalisis kelayakan introduksi tanam ganda pada usahatani dengan sistem tumpangsari memberikantambahan pendapatan dalam satu tahun sebesar Rp 1.530.700 dengan nilai MBCR ratio sebesar2,33.Kata kunci: Usahatani, tumpangsari, lahan kering.ABSTRACTThis study aims to analyze the feasibility of the introduction of double planting of cassava in theintercropping system in dry land of Gunungkidul Regency. The study was conducted from January toOctober 2016 in Namberan Village, Paliyan, Gunungkidul Regency. Methodology used withparticipatory approach on farm research and survey, with 20 respondents. The collected data is thenanalyzed using Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) analysis approach. The results showed that theintroduction of double cassava planting in the intercropping system commonly done by the farmersof Gunungkidul district that is cassava planted at the beginning of the rainy season as well asplanting rice, after harvested rice followed by peanut crops inserted with corn crops. While thecassava in the last harvest, with this intercropping system farmers in one year harvest 3 times that ofrice, corn peanuts and cassava. Based on the analysis of the feasibility of introduction of doublecropping in farming with intercropping system gives additional income in one year amounting to Rp1,530,700 with MBCR ratio value equal to 2,33.Keywords: Farming, intercropping, dry land
2019-07-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15071 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15071
1670779 #7423 ANALISIS RISIKO PRODUKSI USAHATANI JAHE (ZINGIBER OFFICINALE) BERBASIS MODEL JUST AND POPE DI KOTA SERANG Azhara, Azmi Fatimah
Budiawati, Yeni
Widiati, Siti
AbstrakProduksi jahe di Kota Serang mengalami fluktuasi besar dengan produktivitas rendah dan lahan sempit, sehingga meningkatkan risiko produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi dan risiko produksi jahe, serta mengidentifikasi tingkat risikonya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan data primer dan sekunder. Sampel sebanyak 30 petani ditentukan melalui simple random sampling dan rumus Slovin. Model Just dan Pope digunakan untuk analisis risiko, sedangkan koefisien variasi (CV) digunakan untuk mengukur tingkat risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel luas lahan dan bibit berpengaruh signifikan terhadap produksi, baik secara simultan maupun parsial. Namun, tidak ada variabel yang berpengaruh signifikan terhadap risiko produksi pada taraf nyata 5%, meskipun luas lahan berpengaruh signifikan pada taraf 10%. Bibit dan pupuk dapat menurunkan risiko, sedangkan luas lahan dan tenaga kerja cenderung meningkatkan atau tidak berpengaruh. Nilai CV sebesar 0,1865 menunjukkan bahwa risiko produksi secara umum tergolong rendah, tetapi sebagian besar petani tetap menghadapi risiko sedang hingga tinggi, yang dapat menyebabkan ketidakpastian hasil panen.Kata kunci: Jahe, Kota Serang, Model Just and Pope, Risiko Produksi.AbstractGinger production in Serang City experienced considerable fluctuations, accompanied by low productivity and relatively small land sizes, which increased the production risks faced by farmers. This study aimed to analyze the factors influencing ginger production and its associated risks, as well as to identify the level of production risk. A descriptive quantitative approach was applied using both primary and secondary data. Thirty ginger farmers were selected using simple random sampling and the Slovin formula. The Just and Pope production risk model was employed to analyze risk factors, while the coefficient of variation (CV) was used to measure the level of production risk.The results showed that land area and seed variables significantly affected ginger production, both jointly and individually. However, none of the production variables significantly influenced production risk at the 5% significance level, although land area had a significant effect at the 10% level. Seeds and fertilizers were identified as risk-reducing factors, while land area and labor tended to increase or had no significant effect on risk. A CV value of 0.1865 indicated that ginger farming in Serang City was generally categorized as low risk. Nevertheless, most farmers faced moderate to high levels of production risk, leading to potential uncertainty in harvest outcomes.Keywords: Ginger, Just and Pope Model, Production Risk, Serang City.
Ekonomi Pertanian, Agribisnis 2025-12-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65096 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.65096
1670778 #7423 AGROINDUSTRI BERBASIS TEH RAKYAT SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI TEH Trimo, Lucyana
Hidayat, Syarif
ABSTRAKPeluang berkembangnya agroindustri teh rakyat cukup besar, akibat semakin tingginya permintaan pasar luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk“instant tea”.Namun, kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh petani teh maupun pelaku agroindustri teh rakyat. Ini terlihat dari, rendahnya produktivitas kebun teh milik petani, sehingga kurang dapat memenuhi permintaan pucuk teh oleh pelaku agroindustri the rakyat. Selanjutnya, pelaku agroindustri teh rakyat hanya dapat mengolah pucuk tehnya dalam bentuk teh hijau (curah) dengan harga yang murah. Akibatnya, pihak agroindustri teh rakyat membeli pucuk dari petani dengan harga murah dan mutu rendah. Penelitian  dilakukan untuk mengkaji kendala yang dihadapi dan keberlanjutan agro-industri teh. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi deskriptif survey. Tempat penelitian  yang dipilih  adalah Kabupaten: Garut (Kecamatan Cisurupan), Cianjur (Kecamatan Sukanagara) dan Bandung (Kecamatan Pasirjambu), yang  merupakan sentra teh di Provinsi Jawa Barat.Data diperoleh melalui wawancara dengan:pejabat pada instansi pemerintah, koperasi, pabrikan, asosiasi petani teh, kelompok tani, serta  petaniteh  yang diambil secara purposive. Sedangkan responden diambil secara proposional dari ketiga wilayah penelitian, dansetiap kecamatan diambil 30 orang petani teh. Data dianalisis secara deskriptif, dengan pendekatan system thinking.  Kendala yang dihadapi agroindustri teh rakyat, yaitu masih kurang dalam: 1) ketersediaan pucuk teh sebagai bahan baku, 2) pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah pucuk teh, 3) kemampuan penyediaan modal dan mesin olah pucuk teh, dan  4) dukungan pemerintah dalam mempromosikan teh olahan rakyat (misalnya: dalam rapat atau kegiatan yang berlangsung di pemerintahan belum memanfaatkan produk olahan teh dari petani). Kondisi ini berdampak terhadap keberlanjutan agroindustri teh rakyat.Kata kunci: agroindustri, berkelanjutan, kemandirian, nilai tambah, teh rakyat. ABSTRACT The increasing market demand, abroad and domestically in the form of "instant tea" (food, beverage, pharmaceutical, cosmetics), and also support from the higher government through GPATN program makes the oopportunities of tea small holder groups into tea agro-industry business is quite huge.But infact, this opportunity cannot be utilized properly by tea small holder. Most of the tea small holders still sell their products in the form oftea fresh leaf. This research was conducted to investigate the constrain of tea small holder in agroindustry development.The study was conducted using a survey descriptive study approach. Selected location research is located at the center of tea small holder in West Java province, i.e.District of Garut, Cianjur and Bandung. In this research, the data were collected by interviews with relevant parties, i.e. officials at government agencies, cooperatives, manufacturers, associations of tea farmers, tea small holder groups, and tea farmers.While respondents were taken proportionally from the three study areas, and each district was taken by 30 tea farmers. Data were analyzed descriptively, with a system thinking approach. Constraints faced by the tea tea agro-industry, which are still lacking in: 1) the availability of tea shoots as raw materials, 2) knowledge to increase the added value of tea tops, 3) the ability to provide capital and tea shoot machines, and 4) government support in promoting tea processed by the people (for example: in meetings or activities that take place in the government have not utilized tea processing products from farmers). This condition has an impact on the sustainability of the people's tea agro-industry.Key words : agro-industry, independence,sustainability,tea small holder, value added
2019-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23209 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i1.23209
1670777 #7423 Analisis Proporsional Keuntungan Lembaga Tataniaga Beras Merah Organik Dari Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat Usman, Yusri Eri
Refdinal, M.
Astuti, Nuraini Budi
Rustam, Rusyja
AbstrakDalam penjualan hasil produksi sering ditemukan petani mendapatkan proporsi keuntungan yang rendah dan pedagang perantara mendapatkan proporsi keuntungan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proporsional keuntungan lembaga tataniaganya. Penelitian ini menggunakan metoda survai dengan pengambilan sampel petani beras merah organik sebanyak 7 orang petani secara sensus dan sampel pedagang perantara berdasarkan keterlibatan pemasaran dengan petani. Dari hasil penelitian didapatkan 2 macam saluran tataniaga beras merah organik, yaitu 1). Petani/pedagang pengecer à Konsumen, 2) Petani à Pedagang pengumpul/Pengecer à Konsumen. Dari analisis didapatkan pada saluran tataniaga 1 keuntungan yang diterima sama dengan keuntungan proporsional karena merupakan saluran tataniaga langsung. Pada saluran tataniaga 2 keuntungan lembaga tataniaga tidak proporsional dimana petani mendapatkan keuntungan yang diterima lebih rendah dari keuntungan proporsionalnya dan pedagang pengumpul/pengecer mendapatkan keuntungan yang diterima lebih tinggi dari keuntungan proporsionalnya, sehingga saluran tataniaga 2 tidak efisien. Disarankan diadakan penyuluhan analisa usahatani pada petani tentang menghitung biaya usahatani, penyadaran pada petani bahwa menjual hasil produksi adalah masalah bisnis dan memberi informasi pasar pada petani.Kata kunci : beras merah organik, keuntungan diterima, keuntungan proporsional.AbstractIn the sale of produce, it is often found that farmers get a low proportion of profits, while middlemen get a high proportion of profit. The aims of this study to analyze the efficiency of the marketing channel. The study used a survey method and data were gathered from 7 farmers who chose census and intermediary traders. The research finds that there are 2 types of the marketing channels which are: 1) Farmers/retailers → Consumers, 2) Farmers →wholesalers/retailers→ Consumers. Moreover, there was proportional shared profit among the marketing channels 1, where the profits received by farmers/retailers was the same with its proportional profit. But, there was no proportional shared profit among marketing channels 2, where the profits received by farmers was lower than its proportional profits, and on the other hand the profits of wholesalers/retailers, were higher than their proportional profits, so that the marketing channels were inefficient.Keywords: organic brown rice, profit received, proportional profit
2021-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29775 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.29775
Menampilkan 2.381 - 2.400 dari total 1.550.696 data