Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672381 #6191 Hubungan Index Massa Tubuh/Umur (IMT/U) dengan crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun Roesianto, Alvina
Suwindere, Winny
Sembiring, Linda Sari
Pendahuluan: Gizi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, namun gizi masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Kekurangan gizi terhadap seseorang memiliki dampak terhadap rongga mulutnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan rahang yang terhambat sehingga dapat menyebabkan crowding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan terjadinya crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun pada SD Mulia Wacana Bandung. Metode: Jenis penelitian observasional-analitik dengan rancangan penelitian berupa cross- sectional. Subjek penelitian berjumlah 74 anak di SD Mulia Wacana Bandung, pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang dikumpulkan berupa status gizi anak berdasarkan Index Massa tubuh / Umur (IMT/U) dan keadaan susunan gigi (crowding). Analisis data menggunakan Fisher Exact Test. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil: Terdapat 8,8% anak kategori obesitas (14%) terdapat crowding anterior, 1,8% anak kategori overweight (12,3%) terdapat crowding anterior, 21,1% anak kategori normal (36,8%) terdapat crowding anterior, dan 24,6% anak kategori kurus (36,8%) terdapat crowding anterior dan didapatkan nilai p untuk Fisher Exact Test sebesar 0,108. Simpulan: tidak terdapat hubungan status gizi dengan Crowding Anterior.Kata kunci: Crowding anterior, gizi, status gizi
Crowding anterior, gizi, status gizi 2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22512 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22512
1672382 #6191 Cognitive awareness of online-sold prefabricated myofunctional appliances disadvantages among Bandung residents: cross-sectional study Suryanto, Shenny Shefira
Gayatri, Gita
Suwargiani, Anne Agustina
Zakaria, Myrna Nurlatifah
ABSTRACT Introduction: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs), commonly known as teeth trainers, are one of myofunctional appliances. These appliances can be used in treating the teeth as well as the muscles. The individuals’ need for dental aesthetics today have led to the trend of marketing PMAs over-the-counter online. This is mostly caused by budget limitations that leads people to seek for alternative and more affordable orthodontic treatments. However, the use of over-the-counter PMAs may pose adverse effects to consumers. This study aims to assess the currents state of knowledge regarding the disadvantages of prefabricated myofunctional appliances among Bandung residents. Methods: This is a descriptive quantitative study, with a cluster random sampling technique. This study involved 100 Bandung residents from 30 different subdistricts, as determined by Slovin formula. The research instrument consisted of questionnaires which included 27-questions with sub variables of dental appearance, PMAs in general, indications, contraindications, advantages, and adverse effects of using over-the-counter PMAs online. The questionnaire was modified based on Bloom's taxonomy. The obtained results were further analyzed using frequent distribution. Results: A total of 30 respondents (30%) were classified as having low knowledge levels. 62 respondents (62%) were categorized as having moderate level of knowledge. and 8 respondents (8%) were categorized as being highly aware of the disadvantages of over-the-counter PMAs. Conclusions: People’s knowledge of the disadvantages of over-the-counter PMAs in Bandung is classified in a moderate level. KEY WORDS: prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional applianceTingkat pengetahuan masyarakat kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated   myofunctional appliances yang dijual secara online: studi cross-sectional ABSTRAK Pendahuluan: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs) atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan teeth trainer merupakan sebuah alat myofungsional. PMAs tidak hanya bekerja pada gigi tetapi juga bekerja pada otot. Era modern ini kebutuhan individu akan estetika gigi menyebabkan terciptanya pasar penjualan PMAs secara bebas di online. Hal tersebut disebabkan karena adanya keterbatasan biaya yang menyebabkan individu mencari alternatif perawatan ortodonti yang ekonomis. Penggunaan PMAs yang dibeli bebas secara online dapat menimbulkan bahaya bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual bebas secara online. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 100 masyarakat Kota Bandung dari 30 kecamatan yang telah dihitung menggunakan rumus slovin. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 27 pertanyaan yang mencakup subvariabel penampilan gigi, PMAs secara umum, indikasi, kontraindikasi, kelebihan, dan dampak buruk penggunaan PMAs yang dijual bebas secara online. Kuesioner ini dimodifikasi berdasarkan taksonomi Bloom. Hasil data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 30 responden (30%) tergolong tingkat pengetahuan rendah, 62 responden (62%) pada kategori sedang, dan 8 responden (8%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi terhadap dampak buruk dari PMAs yang dijual secara online. (4) Simpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual secara online tergolong sedang. KATA KUNCI: prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance.
prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional appliance, prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance. 2023-08-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.45132
1672383 #6191 Korelasi peran modelling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak Malihah, Dhia Thifal
Sasmita, Inne Suherna
Setiawan, Arlette Suzy Puspa Pertiwi
Pendahuluan: Dental fear merupakan rasa takut terhadap perawatan kesehatan gigi yang sangat terlihat pada anak usia pra sekolah, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah metode modeling. Tujuan Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara modeling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak. Metode: Jenis penelitian merupakan analitik korelatif. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran modeling orang tua dan The Children’s Fear Survey Schedule Dental Subscale (CFSS-DS) versi Bahasa Indonesia pada 20 ibu yang memiliki anak berusia tiga hingga enam tahun yang merupakan pasien anak di RSKGM dan pernah dibawa ke dalam ruang praktik selama perawatan kesehatan gigi kepada ibu berlangsung. Analisis data menggunakan uji Spearman Coefficient of Rank Correlation. Hasil: Sebanyak 95% ibu telah memperlihatkan perilaku positif di hadapan anaknya dan 5% memperlihatkan perilaku negatif. Dental fear yang dirasakan anak untuk kriteria rendah adalah 40%, sedang 40%, dan tinggi 20%. Hasil analisis pada derajat kekeliruan  = 0,05 adalah rs -0,46, thitung -2,19, p-value 0,020930553, dan penelitian bersifat signifikan dengan keterkaitan antara kedua variabel penelitian 21,05%. Simpulan: Terdapat korelasi antara modeling orang tua dengan dental fear anak, yaitu semakin ibu memperlihatkan perilaku positif selama mendapatkan perawatan kesehatan gigi, maka semakin rendah dental fear yang dirasakan anak usia tiga hingga enam tahun.Kata Kunci: Korelasi, peran modeling orang tua, Dental Fear anak
2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21438 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.21438
1672384 #6191 Perbedaan harapan pasien terhadap perawatan ortodonti menggunakan alat cekat dan lepasanDifferences in patient expectations of orthodontic treatment with fixed and removable appliances Damayanti, Rizka Devi
Mardiati, Endah
Laviana, Avi
ABSTRAKPendahuluan: Harapan merupakan faktor psikologis penting, yang dapat mempengaruhi evaluasi pasien terhadap kualitas dari perawatan atau kepuasan terhadap hasil perawatan. Harapan pasien terhadap perawatan ortodonti penting diketahui sebelum dilakukan perawatan karena merupakan salah satu penentu utama dari kepuasan pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan harapan pasien terhadap perawatan ortodonti menggunakan alat cekat dan lepasan. Metode: Jenis penelitian analitik cross sectional. Subjek penelitian 50 pasien baru (25 pasien indikasi alat ortodonti cekat dan 25 pasien indikasi alat ortodonti lepasan) yang mendatangi Klinik Ortodonti RSGM Unpad diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pasien mengisi kuesioner harapan terhadap perawatan ortodonti, kemudian hasil diolah dan dianalisis dengan uji t-test.  Hasil: Harapan pasien menunjukkan beberapa perbedaan signifikan (p<0,05) antara pasien yang ingin dirawat menggunakan alat cekat dan lepasan yaitu pada harapan terhadap dilakukannya pemeriksaan rontgen gigi pada kunjungan pertama, manfaat perawatan untuk merapikan gigi, memudahkan makan, meningkatkan peluang karier, dan memberikan rasa percaya diri secara sosial. Harapan antara pasien perempuan dan laki-laki menunjukkan perbedaan yang signifikan hanya pada aspek manfaat perawatan ortodonti untuk memudahkan makan (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan beberapa aspek harapan pasien terhadap perawatan ortodonti, dengan pasien indikasi alat ortodonti cekat menunjukkan rerata nilai harapan yang cenderung lebih tinggi.Kata kunci: harapan pasien; perawatan ortodonti; alat ortodonti cekat; alat ortodonti lepasan  ABSTRACTIntroduction: Expectation is an important psychological factor affecting a patient’s evaluation and satisfaction level on the quality of treatment outcomes. It is essential to know the patient’s expectations of orthodontic treatment priorly because it is one of the main determinants of patient satisfaction. The purpose of this study was to analyse the differences in patient expectations of orthodontic treatment with fixed and removable appliances. Methods: This research was cross-sectional analytic. The research subjects were 50 new patients (25 patients indicated for fixed orthodontic appliances and 25 patients indicated for removable orthodontic appliances) who visited the Orthodontic Clinics of Universitas Padjadjaran Dental Hospital, obtained by purposive sampling technique. Patients filled out a questionnaire on expectations of orthodontic treatment. The results were then processed and analysed using the t-test. Results: Patient expectations showed several significant differences (p<0.05) between fixed and removable appliances indicated patients; found in the matter of the expectation of having a dental x-ray examination at the first visit, the benefits teeth alignment treatment, ease the mastication process, increase the career opportunities, and provide social confidence. Expectations between female and male patients also showed a significant difference, though only found in the benefits of orthodontic treatment to ease the mastication process (p<0.05). Conclusions: There are differences in several aspects of patients’ expectations of orthodontic treatment, with a higher expectation value was found in fixed orthodontic appliances indicated patients.Keywords: patient expectations; orthodontic treatment; fixed appliances; removable appliances
harapan pasien; perawatan ortodonti; alat ortodonti cekat; alat ortodonti lepasan; patient expectations; orthodontic treatment; fixed appliances; removable appliances 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26766 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.26766
1672385 #6191 Immersion effect of thermoplastic nylon denture base material in pandan wangi extract solution (pandanus amaryllifolius roxb.) as a cleaner on color stability: Experimental study Rahim Nasution, Filza Annisa
Tarigan, Slamat
Wahyuni, Siti
ABSTRACT Introduction: Wearing dentures every day must be cleaned using several methods. The methods such as mechanical, chemical and combination. The cleaning method used in this research was a chemical method by immersing the nylon material in the denture cleaning material with pandan wangi extract solution (Pandanus amaryllifolius Roxb.). The aim of this study was to analyze the effect of immersion thermoplastic nylon in pandan wangi extract solution as a cleaner on color stability with concentrations of 25%, 50% and 75% for 61 hours. Methods: This study is a laboratory experimental with a size of 20x3 mm based on ISO 1567 as many as 24 samples divided into 4 groups, nylon group A was immersed in aquadest, and group B,C,D was immersed in pandan wangi extract solution with a concentration of 25%, 50% and 75% for 61 hours. The sample size formula used is the Federer formula, then measure color stability with colorimeter CS-10, then look at the results if ΔE<3,5 is considered clinically acceptable, if the ΔE>3.5 indicates color change or significant color change. visible to the naked eye and not clinically acceptable. Results: The mean results of the color stability test showed that only 25% concentration could be used as an alternative denture cleaning agent with a value of 3,04±0,51, which states that the 25% group achieved a ΔE<3,5. The results of a one-way ANOVA test, the value of p=0,0001 was stated that there was a significant effect between nylon immersion in the concentration group on color stability. Conclusion: The use of pandan wangi extract solution as a denture cleaning agent can affect the color stability of the nylon material, however, only a solution with a concentration of 25% can be used as an alternative denture cleaning agent, because it is still within the clinically acceptable value range.KEY WORDS: Pandan wangi extract solution, thermoplastic nylon, color stability Pengaruh perendaman larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai pembersih pada bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik terhadap stabilitas warna: studi experimentalABSTRAKPendahuluan: Pemakaian gigi tiruan setiap hari membutuhkan pembersihan dengan menggunakan beberapa metode. Metode pembersihan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kimiawi dengan cara perendaman dalam bahan pembersih gigi tiruan larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% terhadap stabilitas warna selama 61 jam. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dengan ukuran nilon 20x3 mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 24 sampel dibagi 4 kelompok, yaitu kelompok A direndam dalam akuades, dan kelompok B,C,D larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% direndam selama 61 jam. Rumus besar sampel menggunakan rumus Federer, kemudian uji stabilitas warna menggunakan alat colorimeter CS-10, lalu lihat hasil jika ΔE<3,5 dianggap masih dapat diterima secara klinis, jika ΔE>3,5 menunjukkan perubahan warna dapat terlihat secara kasat mata dan tidak dapat diterima secara klinis. Hasil: Hasil rerata uji stabilitas warna didapati hanya konsentrasi 25% yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan dengan nilai 3,04±0,51 yang menyatakan kelompok 25% mencapai nilai ΔE<3,5. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA didapatkan nilai p=0,0001 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara perendaman nilon pada kelompok konsentrasi dengan stabilitas warna. Simpulan: Penggunaan larutan ekstrak pandan wangi sebagai pembersih gigi tiruan dapat memengaruhi stabilitas warna, namun hanya konsentrasi 25% yang masih dapat digunakan sebagai bahan pembersih, karena masih berada dalam rentang nilai yang dapat diterima secara klinis.KATA KUNCI: Larutan ekstrak pandan wangi, nilon termoplastik, stabilitas warna.
2024-11-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58242 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58242
1672386 #6191 Hubungan gingivitis dengan faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamilRelationship of gingivitis with pregnancy risk factors in pregnant women Umniyati, Helwiah
Amanah, Sinta Primanita
Maulani, Chaerita
Pendahuluan: Gingivitis adalah manifestasi oral yang paling tinggi prevalensinya pada ibu hamil. Perubahan hormon dan vaskular yang menyertai kehamilan diketahui memperparah respons inflamasi terhadap iritan lokal. Seringkali ibu hamil mengabaikan dalam menjaga kesehatan mulutnya yang mengakibatkan adanya retensi plak pada gigi dan tepi gingiva, hal ini dapat menyebabkan peradangan pada gingiva. Berdasarkan data dari hasil Riskesdas, prevalensi gingivitis pada wanita di Indonesia adalah 74%. Penelitian ini bertujuan menganalisis status kesehatan gigi dan gusi serta faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamil. Metode: Jenis penelitian analitik dengan menggunakan desain crossectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang datang pada bulan November 2016. Ibu hamil diperiksa plak skor dan indeks gingivitis. Jumlah sampel adalah 90 ibu hamil dan sebagian besar (81,1%) berada di trimester 3. Hasil penelitian dianalisis dengan uji ANOVA dan Chi-square. Hasil: Sebanyak 29% ibu hamil memiliki skor plak yang baik (0,1-0,9). Prevalensi gingivitis terdapat pada semua ibu hamil (100%) yang terdiri dari 16,7% gingivitis ringan, 26,7% gingivitis sedang dan 56,7% gingivitis berat. Peningkatan tajam pada gingivitis ditemukan dari trimester 1 ke trimester II dan stabil pada trimester III. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan gingivitis dan umur kehamilan, waktu dan frekuensi menyikat gigi, indeks plak, pendidikan, dan pengetahuan (p <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara gingivitis dengan beberapa faktor risiko kehamilan yaitu umur kehamilan, frekuensi sikat gigi, waktu sikat gigi dan indeks plak.Kata kunci: Kehamilan, gingivitis, plak, hormon. ABSTRACTIntroduction: Gingivitis is the most prevalent oral manifestations associated with pregnancy. The hormonal and vascular changes that accompany pregnancy are known to exaggerate the inflammatory response to the local irritants. Often pregnant women ignore to maintain their oral health which will cause plaque retention on the teeth and gingival edges. This can cause inflammation of the gingiva. Based on the Indonesia Basic Health Research, the prevalence of gingivitis among Indonesian women was 74%. This study was aimed to analyse the oral health status and risk factors for gingivitis in pregnant women. Methods: Analytic method using cross-sectional design was conducted in November 2016. Pregnant women was examined for their plaque scores and gingivitis index using the WHO periodontal probe. The number of samples was 90 pregnant women, and most of them (81.1%) were in the trimester III gestational period. The study was then analysed by using ANOVA and chi-square test. Results: Only 29% of pregnant women had a good plaque score (0.1-0.9). Gingivitis was prevalent in all of the pregnant women, which consisted of 16.7% mild gingivitis, 26.7% of moderate gingivitis, and 56.7% of severe gingivitis.  A high increase in gingivitis was found in the period of trimester I to trimester II, and tend to be stabilised in the trimester III gestational period. In further analysis, we found significant relationships between the severity of gingival inflammation and gestational age, time and frequency of tooth brushing, plaque index, education, and knowledge (p < 0.05). Conclusion: There is a relationship between gingivitis with several pregnancy risk factors, namely gestational age, toothbrush frequency, toothbrush time, and plaque index.Keywords: Pregnancy, gingivitis, plaque, hormone.
Kehamilan, gingivitis, plak, hormon, pregnancy, gingivitis, plaque, hormone. 2020-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26086 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.26086
1672387 #6191 Inhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: Study experimental Rahmah, Aisha Fatihatur
Arma, Utmi
Lestari, Citra
Edrizal, Edrizal
Zia, Hanim Khalida
ABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (SAR) or canker sores are painful oval or round ulcers that occur recurrently and can heal spontaneously with or without treatment. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) plays a role in aggravating SAR in patients and mostly found in the of initial L forms. One of the animals that is widely used as an ingredient for alternative medicine is white sea cucumber or Holothuria scabra (H. scabra) from the Mentawai islands. The purpose of this study was to analyze the inhibition zone of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract against S. sanguinis in recurrent aphthous stomatitis (in vitro study). Methods: Laboratory experimental and posttest only control group designs were used in this study. The samples in this study were a dry form of methanol extract of white sea cucumber from Siberut island, Mentawai islands obtained in Padang city. The S. sanguinis ATCC 10556 bacteria obtained from the Inter-University Research Laboratory (PAU) of Gadjah Mada University, Yogyakarta. There were 5 treatment groups, namely 2, 4, and 8%, of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract, as well as positive control (0.2% chlorhexidine) and negative control. Each treatment group was repeated 5 times so that the sample size was a total of 25 repetitions. The data obtained was processed using the Independent Sample test (T-Test). Results: The obtained zone of inhibition of the 8% methanol extract of white sea cucumber (H. scabra) against S. sanguinis was 0.81 mm, with a significance of 0.001 (<0.05), while at concentrations of 2% and 4% there were no zone of inhibition. Conclusion: Methanol extract of Mentawai white sea cucumber (H. scabra) has an inhibition zone at the best concentration of 8%, with a weak category against S. sanguinis bacteria and less effective when compared to the 0.2% chlorhexidine.KEY WORDS: recurrent aphthous stomatitis, s. sanguinis, h. scabra, inhibition zone, sea cucumber extract.Uji zona hambat ekstrak metanol teripang putih (holothuria scabra) mentawai terhadap streptococcus sanguinis pada Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau sariawan merupakan ulser berbentuk oval atau bulat yang sakit dan terjadi secara berulang, serta dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) bentuk initial L forms banyak ditemukan pada penderita SAR dan dapat memperparah kondisi SAR. Salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah teripang putih atau Holothuria scabra (H. scabra) yang berasal dari kepulauan Mentawai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis yang banyak ditemukan pada penderita Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Sampel pada penelitian ini adalah ekstrak metanol teripang putih dari pulau Siberut, kepulauan Mentawai, yang diperoleh dalam keadaan sudah kering di kota Padang dan bakteri S. sanguinis ATCC 10556 yang diperoleh dari Laboratorium Penelitian Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terdapat 5 kelompok perlakuan, yaitu pengujian dengan konsentrasi ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) 2, 4, dan 8%, serta kontrol positif (chlorhexidine 0,2%) dan kontrol negatif.  Masing-masing kelompok perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga besar sampel menjadi total 25 pengulangan.  Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Independent Sample (T-Test). Hasil: Terdapat zona hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis pada stomatitis aftosa rekuren yang diujikan secara in vitro pada konsentrasi 8% dengan sig 0,001 atau < 0,05, sebesar 0,81 mm, sedangkan pada konsentrasi 2 dan 4% tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) Mentawai memiliki zona hambat pada konsentrasi 8%, tetapi dalam kategori lemah (weak) dan kurang efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu chlorhexidine 0,2%KATA KUNCI:  stomatitis aftosa rekuren, s. sanguinis, h. scabra, zona hambat, ekstrak teripang
Stomatitis aftosa rekuren, S. sanguinis, H. scabra, Zona hambat, Ekstrak teripang, Recurrent aphthous stomatitis, S. sanguinis, H. scabra, Inhibition zone, Sea cucumber extract 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52551 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.52551
1672388 #6191 Kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran Puspitasari, Pupitasari
Susanto, Agus
Setia Pribadi, Indra Mustika
Pendahuluan: kepuasan pasien terhadap pelayanan di suatu instansi kesehatan merupakan hal yang penting karena termasuk tujuan diadakannya pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien berkaitan dengan harapan dan kenyataan dalam pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian deskriptif survei menggunakan kuesioner. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan kriteria pasien yang telah atau sedang dirawat oleh residen di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dari bulan Desember 2017-Februari 2018. Hasil: kepuasan pasien terhadap kemampuan dokter gigi sebesar 82,09%, ketersediaan alat dan bahan sebesar 80%, kemudahan untuk mendapatkan pelayanan 83,54%, keadaan ruang tunggu 71,54%, kinerja petugas selain dokter gigi 76,15%, dan pelayanan secara keseluruhan 78,67%. Hasil akhir dari perhitungan untuk seluruh indikator adalah 78,66%. Simpulan: pasien merasa puas terhadap perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran.Kata Kunci: Kepuasan pasien, perawatan periodontal, Klinik Periodonsia
Kepuasan pasien, perawatan periodontal, Klinik Periodonsia 2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22309 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22309
1672389 #6191 Antibacterial activity test of black betel leaf essential oil against the growth of Streptococcus mutans: Study experimental | Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L. var. nigra) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Wicaksono, Krisna Wahyu
Alhawaris, Alhawaris
Ismail, Sjarif
ABSTRACT Introduction: The prevalence of dental caries in Indonesia remains relatively high. The main cause is Streptococcus mutans, which can proliferate and has the potential to demineralize the tooth surface. A preventive approach is the use of natural substances with antibacterial properties. One natural material with potential antibacterial activity is the essential oil of black betel leaf (DSH). This study aimed to analyze the antibacterial activity of black betel leaf essential oil against Streptococcus mutans. Methods: This study employed a true experimental design using the microdilution method. There were three groups: the test group, consisting of black betel leaf essential oil at concentrations of 4%, 2%, 1%, 0.5%, 0.25%, 0.125%, 0.0625%, 0.03125%, 0.015625%, 0.0078125%, 0.00390625%, and 0.001953125%; and the positive control group consisting of eugenol; and the negative control group consisting of 10% DMSO. Data were analyzed qualitatively by observing color changes. Results: The minimum inhibitory concentration (MIC) of black betel leaf essential oil was 0.5%. The minimum bactericidal concentration (MBC) was 4%. Columns 1A, 1B and 1C showed no color change, indicating that DSH exhibits antibacterial activity. Conclusions: Black betel leaf essential oil at a concentration of 4% exhibits the best antibacterial activity against Streptococcus mutans.KEYWORDS: antibacterial, essential oil, black betel leaf, Streptococcus mutansUji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (DSH) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Persentase karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyebab utamanya berasal dari bakteri Streptococcus mutans yang dapat berkembang biak dan berpotensi dalam merusak permukaan gigi. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah hal tersebut, yaitu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri, yaitu minyak atsiri daun sirih hitam (DSH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri DSH terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis metode penelitian kualitatif berupa true experimental menggunakan uji mikrodilusi. Terdapat 3 kelompok perlakuan meliputi kelompok uji minyak atsiri DSH dengan 10 konsentrasi, yaitu 4%; 2%; 1%; 0,5%; 0,25%; 0,125%; 0,0625%; 0,03125%; 0,015625%; 0,0078125%; 0,00390625% dan 0,001953125% serta kelompok kontrol positif meliputi eugenol serta kelompok kontrol negatif meliputi DMSO 10%. Analisis data dinilai secara kualitatif dengan mengamati perubahan warna. Hasil: Nilai MIC dari minyak atsiri DSH sebesar 0,5%. Nilai MBC dari minyak atsiri DSH sebesar 4%. Kolom 1A, 1B dan 1C menunjukkan tidak ada perubahan warna yang menandakan DSH bersifat antibakteri. Simpulan: Minyak atsiri DSH konsentrasi 4% memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans.KATA KUNCI: Antibakteri, minyak atsiri, daun sirih hitam, streptococcus mutans | Pendahuluan:  Persentase karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyebab utamanya berasal dari bakteri Streptococcus mutans yang dapat berkembang biak dan berpotensi dalam merusak permukaan gigi. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah hal tersebut, yaitu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri, yaitu minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis penelitian berupa true experimental menggunakan uji mikrodilusi. Terdapat 2 kelompok perlakuan meliputi kelompok uji minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) konsentrasi 4%, 2%, 1%, 0,5%, 0,25%, 0,125%, 0,0625%, 0,03125%, 0,015625% dan 0,0078125%, 0,00390625 % dan 0,001953125% dan kelompok kontrol positif meliputi eugenol serta kelompok kontrol negatif meliputi DMSO 10%. Hasil: Nilai MIC dari minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) sebesar 0,5 – 1%. Nilai MBC dari minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) sebesar 4%. Simpulan: Minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) konsentrasi 4% memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans.
Antibakteri, minyak atsiri, daun sirih hitam, Streptococcus mutans 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69075 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69075
1672390 #6191 Health information seeking behavior through the internet in the community Hazhar, Tsabita Vania
Setiawan, Asty Samiaty
Suryanti, Netty
ABSTRACTIntroduction: Teledentistry is a method of dental and oral health services used during the COVID-19 pandemic. Telemedicine during the 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) Pandemic in Indonesia, dentists can choose two options in practicing during the COVID-19 pandemic..The purpose of this study is to determine dentists’ perception of the use of teledentistry in dental practice during the COVID-19 pandemic in Greater Bandung area. Methods: This cross-sectional descriptive study used an online questionnaire containing 23 Likert-type questions to determine dentists’ perception of concerns related to data security, the ability of teledentistry to improve practice, the usefulness of teledentistry in dental practice, and the usefulness of teledentistry for patients. Results: A total of 105 respondents were obtained and 103 respondents who met the criteria. More than 80% of respondents strongly agree or agree that teledentistry can help shorten patient waiting lists, help avoid unnecessary hospital visits, help monitoring patient conditions, improve communication with patients, and increase patient satisfaction. The potential of digital data/information forgery has the highest level of concern with a response of very concern and little concern as much as 60,2%. Conclusion: Majority of dentists in Greater Bandung area showed a positive response to the ability of the teledentistry system to improve practice, the usefulness of the teledentistry system in practice, and the usefulness of the teledentistry system for patients. The things that raised doubts about the use of teledentistry system are related to security and confidentiality issues and less accurate and adequate diagnosis.KEY WORDS: Teledentistry, dentist, perception, COVID 19, pandemicPerilaku pencarian informasi kesehatan melalui internet pada masyarakatABSTRAKPendahuluan: Teledentistry merupakan metode pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang digunakan selama masa pandemi COVID-19. Telemedicine pada masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia, dokter gigi dapat memilih dua pilihan dalam pelaksanaan praktik selama pandemi COVID-19. Tujuan penelitian mengetahui persepsi dokter gigi mengenai penggunaan teledentistry dalam praktik selama masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional menggunakan kuesioner secara daring yang berisi 23 pertanyaan tipe-Likert untuk mengetahui persepsi dokter gigi terhadap kekhawatiran yang berkaitan dengan keamanan data, kemampuan teledentistry untuk meningkatkan praktik, kegunaan teledentistry dalam praktik kedokteran gigi, dan kegunaan teledentistry untuk pasien. Hasil: Sebanyak 105 responden didapatkan dan 103 responden yang memenuhi kriteria. Lebih dari 80% responden sangat setuju dan setuju teledentistry dapat membantu mempersingkat daftar tunggu pasien, membantu menghindari kunjungan ke rumah sakit yang tidak diperlukan, membantu pemantauan kondisi pasien, meningkatkan komunikasi dengan pasien, dan meningkatkan kepuasan pasien. Potensi pemalsuan data/informasi digital memiliki tingkat kekhawatiran tertinggi dengan respon sangat khawatir dan sedikit khawatir sebanyak 60,2%. Simpulan: Mayoritas dokter gigi menunjukkan respon positif terhadap kemampuan sistem teledentistry dalam meningkatkan praktik pelayanan, kegunaan sistem teledentistry dalam praktik pelayanan kedokteran gigi, dan kegunaan sistem teledentistry pada pasien. Hal yang menimbulkan keraguan dalam penggunaan sistem teledentistry berkaitan dengan masalah keamanan dan kerahasiaan, serta diagnosis yang kurang akurat dan memadai.KATA KUNCI: Teledentistry, dokter gigi, persepsi, COVID 19, pandemi
Teledentistry; dokter gigi; persepsi 2023-03-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34916 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.34916
1672391 #6191 Efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran Kusmulyandi, Yandi
Zubaedah, Cucu
Usri, Kosterman
Pendahuluan: Efektivitas Pemasaran merupakan hal yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan jasa pemasaran khususnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Efetivitas Pemasaran dari Mulut ke Mulut Pengguna di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: metode dalam penelitian ini adalah survey dengan jenis penelitin deskriptif. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Penelitian dilakukan di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dengan menggunakan kuisioner. Hasil: sebanyak 84 orang sampel menunjukan bahwa secara keseluruhan rata-rata efektivitas pemasaran pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran sebesar 67,5 %.Nilai tersebut termasuk kedalam kategori cukup efektif. Simpulan: Tingkat efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut di bagian Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dalam hal ini meliputi pasien yang loyal, keluarga pasien, dan penunggu terhadap pelayanan yang diberikan di Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dinilai cukup efektif dengan persentase sebesar 67,5 %.Kata kunci: Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran
Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran 2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22303 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22303
1672392 #6191 Faktor resiko tonsiloadenoitis kronis hipertrofi dengan karakteristik ekstra oral wajah pasienChronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics Darwis, Rudi Satria
Kristianti, Asti
Zalfa, Almi
ABSTRAKPendahuluan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi adalah suatu peradangan pada adenoid dan tonsil yang sering terjadi pada anak, serta merupakan penyebab umum terjadinya obstruksi saluran pernafasan atas sehingga mengakibatkan penderita bernafas melalui mulut. Keadaan tersebut dapat menyebabkan terjadinya gangguan dentokraniofasial terutama pada anak-anak karena masih dalam usia tumbuh kembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dengan karakteristik wajah yaitu bentuk kepala, bentuk muka, serta proporsi wajah Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional dengan melibatkan subjek penelitian sebanyak 45 orang, terdiri dari 22 orang pasien terdiagnosis tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dan 23 orang pasien tanpa tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dan analisis odd ratio. Hasil: Terdapat  faktor resiko pasien tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi sebanyak 31,8% memiliki bentuk kepala tidak sesuai nilai rerata (p=0,140 dengan OR 3,111), serta 77,3 % memiliki bentuk wajah yang tidak sesuai nilai rerata normal dan 68,2% mengalami proporsi wajah yang tidak proposional (p=0,099 dengan OR 2,786). Simpulan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dapat menjadi faktor risiko terjadinya perubahan ekstra oral dengan risiko tertinggi potensi perubahan pada bentuk wajah.Kata kunci: Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics ABSTRACTIntroduction: Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis is an inflammation of the adenoids and tonsils that usually occurs children, it also a common cause of upper respiratory tract obstruction, causing patients breathe through the mouth. This situation can cause dentocraniofacial deviation, especially in children because they still in the age of growth. This study aimed was to determine the risk of chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with  the shape of the head, face shape, and the proportion of faces. Methods: This study was a cross sectional analytic study involving 45 research subjects, consisting of 22 patients diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis and 23 normal patients. Data were analyzed using chi-square and odd ratio analysis. Result: patients who were diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis as much as 31.8% has a head shape with uneven values (p = 0.140 with OR 3.111), 77.3% has facial morphologies with uneven values (p = 0.001 with OR 9.633), 68.2% had a disproportionate proportion of faces (p = 0.099 with OR 2.786). Conclusion: hypertrophy tonsilloadenoiditis can be a risk factor for dentocraniofacial growth disorders with the highest risk of facial  shape changes. Keywords: Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis.
Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi.; Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis. 2022-07-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40122 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.40122
1672393 #6191 Current applications and development of artificial intelligence for osseointegration dental implant analysis: scoping review Arius, Nabila Haditya
Pramanik, Farina
Lita, Yurika Ambar
ABSTRACTIntroduction: Osseointegration is a key factor in dental implant success, but conventional evaluations such as two dimensional (2D) radiography and histomorphometry are limited by subjectivity and restricted diagnostic capacity. Artificial Intelligence (AI) offers an innovative solution to improve both precision and speed of analysis. This study aims to explore current applications and advancements in AI-based osseointegration analysis of dental implants using radiographs through a scoping review. Methods: A systematic search was conducted in PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, and Web of Science (2014–2024), using the PCC framework (Population: dental implant patients, Concept: AI, Context: clinical). The review followed the Arksey and O’Malley methodological framework and the Joanna Briggs Institute (JBI) guidelines. Results: Of the 11 selected articles (2019-2024), the majority used periapical radiography and CBCT (Cone Beam Computed Tomography) as the primary imaging modalities, with CNN (Convolution Neural Network)-based deep learning models (such as YOLOv7 and ResNet-50) demonstrated strong predictive performance for marginal bone loss (accuracy 70.2-96.13%) and implant stability. Periapical radiographs achieved high accuracy (94.74%) and precision (100%), while CBCT enabled more detailed volumetric analysis with processing speeds of up to 76 ms. However, variability in radiographic parameters and reliance on small datasets (44-2920 images) could lead to model overfitting. Multi-institutional collaboration and standardization of imaging protocols are required to enhance AI performance and generalizability in clinical practice. Conclusion: Deep learning (CNN, YOLOv7) and machine learning (SVM) models have proven effective in osseointegration analysis, particularly in predicting marginal bone loss using periapical radiographs and CBCT. AI has the potential to revolutionize dental implant evaluation, but clinical implementation requires external validation and data standardization.KEY WORDS: artificial intelligence, dental implant, osseointegration, deep learning, radiographic analysisAplikasi dan pengembangan terkini artificial intelligence untuk analisis implan gigi osseointegrasi berbasis radiografi: Scoping ReviewABSTRAKPendahuluan: Osseointegrasi merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implan gigi, namun evaluasi konvensional seperti radiografi 2D dan histomorfometri memiliki keterbatasan dalam subjektivitas dan efektivitas. Artificial Intelligence (AI) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan presisi dan kecepatan analisis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis aplikasi dan pengembangan AI dalam analisis osseointegrasi implan gigi menggunakan radiografi melalui scoping review. Metode: Pencarian sistematis dilakukan di PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, dan Web of Science (2014–2024) dengan kerangka PCC (Population: pasien implan gigi, Concept: AI, Context: klinis) menggunakan framework Arksey dan O’Malley serta panduan dari Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Dari 11 artikel terpilih (2019–2024), mayoritas menggunakan radiografi periapikal dan CBCT sebagai modalitas utama, dengan model deep learning berbasis CNN (Convolution Neural Network) (seperti YOLOv7 dan ResNet-50) menunjukkan kinerja optimal dalam memprediksi kehilangan tulang marginal (akurasi 70,2–96,13%) dan stabilitas implan. Radiografi periapikal unggul dalam akurasi (94,74%) dan presisi (100%), sementara CBCT (Cone Beam Computed Tomography) menawarkan analisis volumetrik lebih detail dengan kecepatan pemrosesan hingga 76 ms. Meski demikian, variasi parameter radiografi dan ketergantungan pada dataset kecil (44–2920 gambar) berpotensi menyebabkan overfitting. Kolaborasi multi-institusi dan standarisasi teknik radiografi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan AI dalam praktik klinis. Simpulan: Model deep learning (CNN, YOLOv7) dan machine learning (SVM) terbukti efektif dalam analisis osseointegrasi, terutama untuk marginal bone loss menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. AI berpotensi merevolusi evaluasi implan gigi, namun implementasi klinis memerlukan validasi eksternal dan standardisasi data.KATA KUNCI: artificial intelligence, implan gigi, osseointegrasi, deep learning, analisis radiografi
Artificial intelligence, implan gigi, osseointegrasi, deep learning, analisis radiografi, Artificial intelligence, dental implant, osseointegration, deep learning, radiographic analysis 2025-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64986 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.64986
1672394 #6191 Radiograf panoramik digital bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak klikingDigital panoramic radiograph of the condyle head shape in clicking and non-clicking patients Ramadhan, Ramzy
Pramanik, Farina
Epsilawati, Lusi
Pendahuluan: Salah satu gejala klinis awal gangguan sendi temporomandibular adalah kliking, tetapi tidak semua penderita gangguan TMJ memperlihatkan gejala kliking. Kliking berkaitan dengan perubahan bentuk dan posisi kepala kondilus. Bentuk kepala kondilus dapat terlihat pada radiograf panoramik digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak kliking di RSGM Unpad dengan menggunakan radiograf panoramik digital. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sampel berjumlah 31 sampel radiograf panoramik digital pasien kliking dengan jumlah 11 dan tidak kliking dengan jumlah 20 pada bulan Juni dan Juli 2014 di RSGM Unpad. Hasil: Bentuk kepala kondilus yang paling banyak ditemukan pada TMJ kliking adalah flattening, di sisi kanan adalah round dan di sisi kiri adalah flattening. Sisi kanan pasien tidak kliking mayoritas adalah round dan di sisi kiri mayoritas adalah round, pointed, dan flattening. Simpulan: Bentuk kepala kondilus pada TMJ kliking dapat berbentuk normal atau patologis secara seimbang, pada TMJ tidak kliking mayoritas bentuk kepala kondilus kategori normal. Mayoritas bentuk TMJ pada TMJ kliking adalah flattening, tidak kliking adalah round.Kata kunci: Bentuk kepala kondilus, pasien kliking, pasien tidak kliking, radiograf panoramik digital. ABSTRACTIntroduction: One of the early clinical symptoms of temporomandibular joint disorder is clicking, but not all TMJ disorder patients show clicking symptoms. Clicking is related to changes in the shape and position of the condyle head. The condyle head shape can be observed on digital panoramic radiograph. The purpose of this study was to determine the condyle head shape in clicking and non-clicking patients in Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) using a digital panoramic radiograph. Methods: The type of research was descriptive, with sampling technique using purposive sampling method. The total of 31 digital panoramic radiographic samples of 11 clicking patients and 20 non-clicking patients in June and July 2014 at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Results: The condyle head shape which most commonly found in clicking patients was flattening, round-shaped on the right side and flattening-shaped on the left side. The right side of the non-clicking patient was majority round-shaped and on the left side was majority round-shaped, pointed-shaped, and flattening-shaped. Conclusion: The condyle head shape in clicking can be normal or pathologically balanced; in the non-clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was in the normal category. The majority of condyle head shape in the clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was flattening, while non-clicking was round.Keywords: Condyle head shape, clicking patient, non-clicking patient, digital panoramic radiograph.
Kata kunci: Bentuk kepala kondilus, pasien kliking, pasien tidak kliking, radiograf panoramik digital. Keywords: Condyle head shape, clicking patient, non-clicking patient, digital panoramic radiograph. 2019-11-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21934 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.21934
1672395 #6191 Antibacterial activity of robusta and arabica coffee husks extracts against Lactobacillus acidophilus: Experimental study Ishimora, Marina Erlysa
Prasetya, Rendra Chriestedy
Susilawati, I Dewa Ayu
ABSTRACTIntroduction: Coffee husks (CHs), both Robusta and Arabica, are major dry coffee processing by-products and were considered waste. This waste contains secondary metabolites, such as alkaloids, phenolic compounds, saponins, and terpenoids, and hence has potential as an antibacterial agent for treating oral disease. This research aims to analyze the antibacterial activity of robusta and arabica coffee husk extracts (CHE) against Lactobacillus acidophilus. Methods: This research used in-vitro laboratory experimental research with a post-test only control group design. CHs were extracted using a maceration process with 95% ethanol (1:5) for three days. The antibacterial test was conducted using agar-well diffusion thorugh a pour plate inoculation method in two groups of the research: RCHE and ACHE, with six sub-groupgroup of each extract concentration of 250, 500, 750, 1000 mg/ml, negative control (sterile distilled water), and positive control (chlorhexidine gluconate 0,1%). The diameter of the inhibition zone (bactericidal and bacteriostatic zone) (mm) was the parameter of the antibacterial test, which was calculated with a digital caliper. Data were analyzed by the Saphiro-Wilk, Levene-Test, Kruskal-Wallis, and followed by Mann-Whitney using SPSS 26.0. Results: RCHE had bactericidal and bacteriostatic activity on L. acidophilus at [250 mg/ml], [500 mg/ml], [750 mg/ml], and [1000 mg/ml] doses. Conversely, ACHE had significantly weaker antibacterial activity (p<0.05) in comparison with RCHE. ACHE only showed bactericidal activity at the [1000 mg/ml] dose and bacteriostatic activity at the [750 mg/ml] dose. Conclusions: RCHE and ACHE have antibacterial activity against L. acidophilus; additionally, RCHE has a more potent inhibition capacity than ACHE.KEY WORDS: Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ethanol extracts, pour-plate inoculation.Kemampuan antibakteri ekstrak kulit buah kopi robusta dan arabika terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Kulit buah kopi, baik robusta maupun arabika, merupakan hasil sampingan proses pengolahan kopi metode kering yang dianggap sebagai limbah. Limbah tersebut mengandung metabolit sekunder golongan alkaloid, senyawa fenol, saponin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai agen antibakteri terapi penyakit di rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan antibakteri ekstrak kulit buah kopi (EKBK) robusta (R) dan arabika (A) terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus (L. acidophilus) . Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris in vitro dengan rancangan the posttest only control group design. Kulit buah hasil pengolahan cara kering di ekstraksi dan maserasi dengan etanol 96% (1:5) selama 3 hari. Uji antibakteri menggunakan metode agar-well diffusion dengan inokulasi pour plate method pada dua kelompok penelitian, yaitu EKBKR dan EKBKA dengan enam sub kelompok masing-masing konsentrasi ekstrak 250, 500, 750, dan 1000 mg/ml, akuades steril (kontrol negatif), dan chlorhexidine glucontae 0,1% (kontrol positif). Parameter penelitian berupa diameter zona hambat (bakterisidal dan bakteriostatik) (mm) yang dihitung dengan jangka sorong digital. Data dianalisis dengan uji Saphiro-Wilk, Levene-Test, Kruskal-Wallis diikuti Mann-Whitney menggunakan SPSS 26.0. Hasil: EKBKR memiliki kemampuan bakterisidal dan bakteriostatik terhadap L. acidophilus pada [250 mg/ml], [500 mg/ml], [750 mg/ml], dan [1000 mg/ml]. EKBKA memiliki kemampuan antibakteri yang secara signifikan lebih lemah (p<0,05) daripada EKBR. EKBKA hanya memiliki aktivitas bakterisidal pada [1000 mg/ml] dan bakteriostatik pada [750 mg/ml]. Simpulan: EKBKR dan EKBKA memiliki kemampuan antibakteri terhadap pertumbuhan L. acidophilus dengan daya hambat EKBKR lebih kuat dibandingkan EKBKA.KATA KUNCI: Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ekstrak etanol 96%, pour-plate inoculation.
Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ekstrak etanol 96%, pour-plate inoculation, Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ethanol extracts, pour-plate inoculation. 2023-11-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48658 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48658
1672396 #6191 Pengaruh service quality terhadap kepuasan pasien ekspatriat klinik gigi Bali International Dental Center di Denpasar – Bali Prithari, Grace Ayu
Setiawan, Ignatius
Kuswoyo, Chandra
Pendahuluan : Seiring dengan berkembang pesatnya arus globalisasi dan fenomena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), jumlah ekspatriat di Pulau Bali meningkat. Para ekspatriat membutuhkan perawatan gigi selama menetap di Pulau Bali. Persaingan ketat di bidang kedokteran gigi menuntut klinik gigi untuk memiliki strategi yang tepat agar dapat bersaing, dan salah satu strategi yang diperlukan adalah menciptakan kepuasan pasien pada klinik gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh service quality terhadap kepuasan pasien ekspatriat Klinik Gigi Bali International Dental Center di Denpasar - Bali. Metode: Jenis penelitian analitik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2017 pada100 pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Analisis data menggunakan uji analisis regresi berganda. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil : Uji statistik regresi parsial menunjukkan bahwa variabel Tangibles (X1) berpengaruh sebesar 8,0% terhadap kepuasan pasien, Empathy (X2) berpengaruh sebesar 18,8% terhadap kepuasan pasien, variabel Reliability (X3) berpengaruh sebesar 15,9% terhadap kepuasan pasien, variabel Responsiveness (X4) memiliki pengaruh terhadap kepuasan pasien sebesar 28,5% dan variabel Assurance (X5) berpengaruh sebesar 14,6% terhadap kepuasan pasien. Simpulan: Kepuasan pasien merupakan persyaratan fundamental bagi penyedia layanan kesehatan. Service quality berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Variabel tangibles (X1) memiliki pengaruh terkecil terhadap kepuasan pasien, sedangkan variabel responsiveness (X4) memiliki pengaruh terbesar terhadap kepuasan pasien.Kata kunci: Service quality, kepuasan pasien
Service quality, kepuasan pasien 2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22127 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22127
1672397 #6191 Differences in the result of MC Namara cephalometric analysis before and after protrusive bimaxillary class I malocclusion treatment: Research as descriptive Soegiharto, Eko Poetranto
Evangelina, Ida Ayu
Mardiati, Endah
Laviana, Avi
ABSTRACTIntroduction: Bimaxillary protrusive has characteristics are convex profile, class 1 molar relation, protrusive maxillary and mandibular incisors. Extraction of four maxillary and mandibular first premolar teeth is a treatment option. Mc Namara cephalometric analysis was used to evaluate the variables of soft tissue and hard tissue variables in the sagittal and vertical directions thoroughly. The aim of this study was to measure the differences before and after treatment bimaxillary protrusive class I malocclusion treatment accompanied by extraction of four first premolars at the PPDGS Orthodontic Clinic FKG UNPAD with Mc Namara cephalometry analysis. Methods: This research is a descriptive comparative analytic study. Samples are lateral cefalograms before and after treatment as many as 15 bimaxillary protrusive class I malocclusion patientst, which were taken by purposive sampling method, the data processed and analyzed by paired t-test. Results: Variable upper lip canting (p<0.05), mandibular plane angle (p<0.05), maxillary incisor to point A distance (p<0.05), mandibular incisor to APog distance. (p<0.05) indicates a significanting difference. Variable nasolabial angle p>0.05), point A to N perpendicular (p>0.05), condylion to point A (p>0.05), condylion to gnation (p>0.05), LAFH (p>0.05), facial axis angle (p> 0.05), pogonion to N perpendicular (p>0.05) indicates an insignificanting difference. Conclusions: Significanting differences before and after treatment seen in mandibular plane angle, maxillary incisor distance to point A, mandibular incisor distance to Apog, upper lip cantinging. Meanwhile nasolabial angle, point A to N perpendicular, condylion to point A, condylion to gnation, facial axis angle, pogonion to N perpendicular showed insignificanting results.KEY WORDS: protrusive, incisive, cephalometry, analysisPerbedaan hasil analisis sefalometri McNamara sebelum dan sesudah perawatan maloklusi kelas I protrusif bimaksilerABSTRAKPendahuluan: Protrusif bimaksiler mempunyai karakteristik profil konveks, relasi molar kelas 1, insisif rahang atas dan bawah protrusif. Ekstraksi empat gigi premolar rahang atas dan bawah menjadi pilihan perawatan.  Analisis Mc Namara mengevaluasi variabel jaringan lunak, keras dalam arah sagital dan vertikal secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini untuk mengukur perbedaan hasil analisis sefalometri Mc Namara sebelum dan sesudah perawatan maloklusi kelas I protusif bimaksiler dengan pencabutan empat premolar rahang atas dan bawah di Klinik PPDGS Ortodonti FKG UNPAD. Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitik komparatif. Sampel berupa sefalogram lateral sebelum dan sesudah perawatan dari 15 pasien maloklusi kelas I protrusif bimaksiler yang dirawat dengan ekstraksi empat gigi premolar rahang atas dan rahang bawah di klinik PPDGS FKG UNPAD,  diambil dengan metode purposive sampling, diolah dan dianalisis dengan t-test berpasangan. Hasil: Variabel canting bibir atas (p<0,05), sudut bidang mandibula (p<0,05), jarak insisif RA ke titik A (p<0,05) dan jarak insisif RB ke APog (p<0,05) menunjukkan perbedaan signifikan. Pengukuran variabel sudut nasolabial (p>0,05), titik A terhadap N perpendicular (p>0,05), condylion ke titik A (p>0,05), condylion ke gnation (p>0,05), LAFH (p>0,05), facial axis angle (p>0,05) dan pogonion ke N perpendicular (p>0,05) menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Simpulan: Terdapat perbedaan analisis Mc Namara sebelum dan sesudah perawatan pada sudut bidang mandibula, jarak insisif atas ke titik A, jarak insisif bawah ke APog, cantinging bibir atas. Tidak terdapat perbedaan pada titik A terhadap N perpendicular, condylion ke titik A, condylion ke gnation, pogonion ke N perpendicular, sudut nasolabial dan facial axis angle.KATA KUNCI: protrusif, insisif, ekstraksi, sefalometri, analisis
2023-03-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35816 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.35816
1672398 #6191 The self-perception of dental aesthetics and smile in students the faculty of medicine: Studi cross-sectional Sari, Mayang Anggita
Irsal, Imran
Pramulia Yudia, Riries Choiru
ABSTRACTIntroduction: Dental aesthetics and smiles play an important role in shaping a person's perception of their own appearance and that of others. This study was conducted to determine the perception of dental aesthetics and smiles among medical students, as factors such as age, gender, and educational level can influence a person's aesthetic judgment. Methods: This study is a descriptive study with a cross-sectional design. The study utilized a questionnaire comprising 15 questions using the Gutmann scale, with response options of YES or NO. Data collection was conducted in November 2022. The study respondents were 201 medical students, selected using stratified random sampling. The responses selected by the respondents were analyzed using descriptive statistics. Results: Respondents aged 22 years had the highest positive perception at 75.0%, while the lowest percentage was among respondents aged 17 years at 40.0%. Male respondents had a more positive self-perception at 70.7%, while female respondents had 47.6%. Based on academic level, respondents in their fourth year (class of 2019) had a positive perception of 71.4%, while respondents in their first year (class of 2022) had a positive perception of 38.8%. Students from the Dentistry Program had the highest percentage based on educational background, at 59.4%. Conclusion: The highest positive perception was among respondents aged 22 years. Male respondents had a more positive perception. Based on academic level, the highest positive perception was among respondents with a higher academic level, and based on educational background, the highest positive perception was among respondents from the Dental Medicine Program.KEY WORDS: Self-Perception, dental aesthetics, smile aesthetics, smile, academicPersepsi Estetika Gigi dan Senyum pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran : Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Estetika gigi dan senyum memainkan peranan penting dalam membentuk persepsi seseorang terhadap penampilan dirinya maupun orang lain. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui persepsi estetika gigi dan senyum pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran, karena faktor seperti usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi penilaian estetika seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi estetika gigi dan senyum pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang memuat 15 pertanyaan dengan menggunakan skala Guttman dengan alternatif pertanyaan YA atau TIDAK. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan November 2022. Responden penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran yang berjumlah 201 mahasiswa dan menggunakan teknik stratified random sampling. Jawaban yang dipilih responden dianalisis menggunakan metode descriptive statistics. Hasil: Responden dengan usia 22 tahun memiliki persepsi positif dengan persentase tertinggi yaitu 75.0%, persentase terendah yaitu pada responden dengan usia 17 tahun hanya 40.0%. Responden laki-laki lebih memiliki persepsi diri yang positif yaitu 70.7% dan responden perempuan hanya 47.6%. Mahasiswa berdasarkan tingkat akademik, responden tingkat 4: angkatan 2019 memiliki persepsi diri positif yaitu 71.4% dan pada responden tingkat 1: angkatan 2022 sebanyak 38.8% dan Program Studi Kedokteran Gigi memiliki persentase tertinggi berdasarkan latar belakang pendidikan responden, yaitu sebanyak 59.4%. Simpulan: Persepsi positif paling banyak adalah pada responden yang dengan usia 22 tahun. Responden laki-laki memiliki persepsi yang lebih positif. Berdasarkan tingkat akademik, persepsi positif paling banyak adalah pada responden dengan tingkat akademik yang lebih tinggi, dan berdasarkan latar belakang pendidikan, persepsi positif paling banyak adalah pada responden Program Studi Kedokteran Gigi.KATA KUNCI: Persepsi diri, estetika gigi, estetika senyum, senyum, pendidikan
Persepsi diri, estetika gigi, estetika senyum, senyum, pendidikan, Self-Perception, dental aesthetics, smile aesthetics, smile, academic 2025-06-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62616 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.62616
1672399 #6191 Potensi kombinasi scaffold gipsum puger dan aloe vera terhadap angiogenesis pada soket pasca ekstraksi gigi tikus Wistar jantanThe potential of the combination of hydroxyapatite gypsum puger and aloe vera scaffold on angiogenesis of the post-extraction socket of male Wistar rats Furqoni, Annisa
Amin, Muhammad Nurul
Prasetya, Rendra Chriestedy
ABSTRAK Pendahuluan: Pasca perawatan ekstraksi gigi ini tentu akan menimbulkan luka. Luka pasca ekstraksi gigi secara fisiologis akan mengalami proses penyembuhan yang terdiri atas penyembuhan jaringan lunak dan jaringan keras secara bersamaan. Angiogenesis memiliki peran yang penting dalam kesiapan jaringan untuk mensuplai nutrisi. Perawatan pasca ekstraksi gigi memerlukan metode untuk mempercepat penyembuhan. Salah satunya dapat menggunakan kombinasi scaffold hidroksiapatit gipsum puger (HAGP) dengan aloe vera. Tujuan penelitian menganalisis potensi kombinasi Scaffold gipsum puger dengan lidah buaya (aloe vera) terhadap angiogenesis pada soket gigi pasca ekstraksi gigi tikus wistar jantan. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratorium 32 ekor tikus dibagi menjadi 4 kelompok: Kelompok diberlakukan ekstraksi gigi (K), kelompok diberlakukan ekstraksi gigi dan diberikan scaffold aloe vera (PI), kelompok diberlakukan ekstraksi gigi dan diberikan scaffold HAGP (PII), serta kelompok ekstraksi gigi dan diberikan scaffold HAGP dan aloe vera (PIII). Ekstraksi gigi dilakukan pada gigi M1 rahang bawah kiri. Tikus di euthanasia sesuai dengan masing – masing kelompok. Data dianalisis menggunakan uji Anova Least Significant Difference (LSD). Hasil: Kombinasi scaffold HAGP dan aloe vera berhasil meningkatkan angiogenesis pada hari ke-7, tetapi gagal menurunkan atau menstabilisasi angiogenesis pada hari ke-14 pada kelompok perlakuan. Hasil uji One Way Anova dan LSD menunjukkan perbedaan signifikan jumlah fibroblas pada seluruh kelompok sampel (p<0,005). Simpulan: Potensi kombinasi scaffold gipsum puger (HAGP) dan lidah buaya (aloe vera) kurang efektif dalam proses angiogenesis pada hari ke 14 pasca ekstraksi gigi tikus Wistar jantan.Kata kunci: angiogenesis; ekstraksi gigi; scaffold; hidroksiapatit gipsum puger; aloe vera ABSTRACTIntroduction: Tooth extraction will certainly cause wounds. Post-extraction wounds will physiologically undergo a healing process consisting of soft tissue and hard tissue healing simultaneously. Angiogenesis has an essential role in the readiness of tissues to supply nutrients. Therefore, treatment after tooth extraction requires healing acceleration. One of them uses the combination of hydroxyapatite gypsum puger (HAGP) and aloe vera scaffold. The study aimed to analyse the potential of the combination of hydroxyapatite gypsum puger and aloe vera scaffold on angiogenesis of the post-extraction socket of male Wistar rats. Methods: In this experimental laboratory research, 32 rats were divided into four groups: Group with tooth extraction (K) only; Group with tooth extraction, and administered with aloe vera scaffold (PI); Group with tooth extraction, and administered with HAGP scaffold (PII); Group with tooth extraction, and administered with a combination of hydroxyapatite gypsum puger and aloe vera scaffold. Tooth extraction was performed on the left mandibular M1. Rats were euthanised according to each group determined by days. The data were analysed using the ANOVA and Least Significant Difference (LSD) tests. Results: The combination of HAGP and aloe vera scaffold increased angiogenesis on the seventh day. However, it failed to reduce or stabilise angiogenesis on the fourteenth day in the treatment group. The one-way ANOVA and LSD tests showed significant differences in the number of fibroblasts in all sample groups (p<0.005). Conclusions: The potential of the combination of hydroxyapatite gypsum puger and aloe vera scaffold is less effective in the angiogenesis process on the fourteenth-day post-extraction of male Wistar rats.Keywords: angiogenesis, tooth extraction; scaffold; hydroxyapatite gypsum puger; aloe vera
angiogenesis; ekstraksi gigi; scaffold; hidroksiapatit gipsum puger; aloe vera 2022-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34567 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.34567
1672400 #6191 Oral health status among individuals with substance use disorder: Study cross sectional Luthfiyah, Ananda Meidy
Theresia, Tiarma Talenta
Astoeti, Tri Erri
Louisa, Marie
Putri, Anzany Tania Dwi
ABSTRACTIntroduction: Drug abuse can lead to dependence and result in various health problems, particularly affecting oral health, including dental caries and periodontal disease. These oral health issues may further compromise the overall oral condition of individuals with Substance Use Disorder (SUD). This study aimed to determine the oral and dental health status of individuals with SUD at the Lido Rehabilitation Center of the National Narcotics Agency. Methods: This study was an observational descriptive study with a cross-sectional design, using a purposive (non-probability) sampling method. Data were collected through clinical examination using WHO caries index, converted into DMF-T, OHI-S, Gingival Index, Periodontal Pocket Depth, and tooth mobility among 101 respondents. Results: Of the 101 respondents, 98 (97%) presented with dental caries, while 3 (3%) were caries-free, with an average DMF-T score of 9.43. The majority of respondents demonstrated good oral hygiene (53%) and mild gingival inflammation (53%). Additionally, tooth mobility was rarely observed, and most respondents exhibited normal periodontal pocket depth. Specifically, 61 out of 101 respondents had normal periodontal pocket measurements. Conclusions: Individuals with SUD at the National Narcotics Agency Rehabilitation Center in Lido exhibit a high prevalence of dental caries, despite presenting with generally good oral hygiene, mild gingival inflammation, normal periodontal pocket depth, and minimal tooth mobility.KEY WORDS: individual with substance use disorder, caries, oral hygiene, periodontal disease.Status kesehatan gigi dan mulut pada penyalahguna narkoba : Studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan ketergantungan dan menimbulkan masalah kesehatan tubuh, terutama kesehatan gigi dan mulut seperti karies dan penyakit periodontal. Masalah kesehatan gigi dan mulut tersebut dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut terhadap pengguna narkoba. Tujuan penelitian mengetahui status kesehatan gigi dan mulut pada penyalahguna narkoba di Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Lido. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan rancangan cross-sectional dan metode purposive sampling (non - probability sampling). Pengambilan data dengan pemeriksaan klinis berupa indeks WHO yang diubah menjadi DMF-T, OHI-S, Gingival Index, kedalaman poket periodontal, dan kegoyangan gigi pada 101 responden. Hasil: Sebanyak 101 responden, 98 (97%) responden yang mengalami karies dan 3 (3%) responden tidak mengalami karies atau sehat dengan nilai rerata DMF-T 9,43. Sebagian besar responden memiliki kebersihan gigi dan mulut dalam kategori baik (53%) dan tingkat keparahan gingivitis kategori peradangan ringan (53%). Selain itu, hampir tidak ditemukan kegoyangan gigi pada seluruh responden dan sebagian besar gigi memiliki kedalaman poket periodontal normal. Kedalaman poket periodontal adalah normal pada 61 responden dari total 101 responden. Simpulan: Penyalahguna narkoba di Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Lido memiliki prevalensi karies yang tinggi walaupun tingkat kebersihan gigi dan mulut dalam kategori baik, tidak ada peradangan gingiva, tidak ada kedalaman poket periodontal, dan tidak ada kegoyangan gigi pada sebagian besar responden.KATA KUNCI: penyalahguna narkoba, kebersihan gigi dan mulut, karies, penyakit periodontal.
Penyalahguna narkoba, kebersihan gigi dan mulut, karies, penyakit periodontal, Individual with substance use disorder, caries, oral hygiene, periodontal disease. 2025-07-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61248 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.61248
Menampilkan 1.549.901 - 1.549.920 dari total 1.550.696 data