Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672301 #5605 Rendemen dan Karakteristik Kimia Fisik Biodiesel dari Transesterifikasi Minyak Biji Kapuk Terozonasi dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik Haryono, -
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif ramah lingkungan dan bersifat terbarukan. Biodiesel secara substansi kimia merupakan metil atau etil ester dari asam lemak rantai panjang sehingga dapat disintesis dari berbagai jenis sumber asam lemak hayati. Minyak biji kapuk adalah salah satu sumber asam lemak hayati potensial karena umumnya memiliki kadar asam lemak bebas tinggi sehingga terkelompok sebagai minyak non pangan. Sintesis biodiesel dapat dilakukan dengan berbagai modifikasi metode, salah satunya dengan memanfaatkan ozon sebagai agen pengoksidasi untuk menyederhanakan struktur molekul trigliserida dari minyak, dan melibatkan pemakaian gelombang ultrasonik untuk membantu proses pencampuran antar bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh tahap ozonasi dan lama waktu transesterifikasi dengan bantuan gelombang ultrasonik terhadap karakteristik biodiesel yang dihasilkan dari minyak biji kapuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ozonasi terhadap minyak biji kapuk selama 120 menit telah berhasil menyederhanakan struktur molekul trigliserida dari minyak. Transesterifikasi selama 180 menit terhadap minyak biji kapuk dengan bantuan gelombang ultrasonik pada frekuensi 25 kHz menghasilkan rendemen biodiesel tertinggi. Biodiesel yang dihasilkan dari semua variasi lama waktu transesterifikasi telah memenuhi Standar Biodiesel berdasarkan parameter bilangan asam, titik nyala, dan densitas. Namun beradasarkan parameter viskositas belum memenuhi syarat.
2022-02-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37207 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v6i1.37207
1672302 #5605 Uji Kualitas Briket dari Tongkol Jagung dengan Perekat Kanji/PET dan Komposisi Gas Buang Pembakarannya Haryono, Haryono
Ernawati, Evy
Solihudin, Solihudin
Susilowati, Diah Ayu
Limbah tongkol jagung merupakah salah satu limbah biomassa potensial di Indonesia sebagai bahan baku pembuatan briket. Briket termasuk bahan bakar terbarukan yang relatif lebih ramah ligkungan. Kualitas briket sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah jenis biomassa sebagai sumber karbon, jenis bahan pengikat, dan komposisi antara biomassa terhadap bahan pengikat. Polimer sintetik polietilen tereptalat memiliki sifat sebagai bahan pengikat pada pembuatan briket. Polietilen tereptalat banyak dijumpai sebagai limbah plastik. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah berupa tongkol jagung dan plastik polietilen tereptalat sebagai bahan pembuatan briket, dan mempelajari pengaruh komposisi arang tongkol jagung dan plastik polietilen tereptalat terhadap kualitas (sifat psikokimia) dan komposisi gas buang pembakaran briket. Komposisi bahan pembuatan briket divariasikan pada rasio berat arang tongkol jagung terhadap plastik sebesar 95:5, 90:10, dan 85:15. Kualitas briket diuji dan dibandingkan dengan SNI 01-6235-2000 tentang Briket Arang Kayu berdasarkan parameter nilai kalor, kadar air, kadar abu, dan kadar volatile matter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi campuran bahan pembuat pada rasio berat antara arang tongkol jagung terhadap plastik polietilen tereptalat sebesar 95:5 menghasilkan briket dengan kualitas terbaik. Briket pada komposisi tersebut memenuhi standar kualitas menurut SNI briket arang kayu dan mengemisikan gas buang berupa hidrokarbon, karbon monoksida, dan nitrogen oksida dengan kadar paling rendah.
2020-08-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28606 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v4i2.28606
1672303 #5605 Simulasi Charge Discharge Model Baterai Lead Acid Barkah, Rahma Dini
Hidayat, Sahrul
Telah dilakukan simulasi charge-discharge model baterai lead acid dengan bantuan software Comsol. Pada penelitian ini dilakukan beberapa variasi arus pada proses charge dan discharge. Pada proses charge arus yang divariasikan sebesar 1/30C, 1/25C, 1/20C 1/10C, 1/5C, 1/2C dan 1C sedangkan pada proses discharge variasi arus pembebanannya sebesar 1/20C, 1/10C, 1/5C, 1/2C, 1C, 2C, 5C, 10C dan 20C. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh kapasitas maksimum pada proses charge sebesar 897 Amper.secon pada arus pengisian 1/2C. Sedangkan kapasitas maksimum pada proses discharge sebesar 770 Ampere.secon pada arus pembebanan 1/5C. Disipasi daya baterai semakin besar seiring dengan semakin besarnya arus pengisian ataupun arus pembebanan. Berdasarkan hasil simulasi diperoleh efisiensi maksimum model baterai lead acid adalah sebesar 85,84%.
2019-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23257 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v3i2.23257
1672304 #5605 Hybrid SARIMA-LSTM Model for Predicting Erosion in Butterfly Valve Dzulfiqar, Azhar Aiman
Chrisnanto, Julian Evan
Adiperdana, Budi
In the oil and gas industry, butterfly valves often undergo erosion due to being placed in fluid flow with high pressure and high temperature.  Erosion on butterfly valves can result in huge losses so it requires early anticipation. To overcome these problems, this research proposes a hybrid SARIMA-LSTM model to predict the mass erosion of butterfly valves under several opening conditions. The results show that the SARIMA-LSTM model has superior performance compared to the conventional LSTM and SARIMA model with MSE values at valves opening 20  – 90  reaching 1E-06; 1E-06; 6.2E-05; 2.34E-04; 1.35E-07; and 1E-06 respectively. The hybrid SARIMA-LSTM model successfully identifies the non-linear characteristics of the erosion data by identifying the residual value resulting from the difference between the SARIMA model prediction and the actual data. This study also reveals that the combination of SARIMA and LSTM models significantly affects the performance of the LSTM model. This study also successfully used the SARIMA-LSTM model to predict the erosion mass value for the next 30 time-steps. Through this study, it is known that the SARIMA-LSTM hybrid model has the possibility to be applied to the oil and gas industry to help the process of observing the erosion mass on the butterfly valve.  Keywords: butterfly valve, seasonal autoregressive integrated moving average (SARIMA), long-short term memory (LSTM), erosion mass, time-series forecasting.
2025-02-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61007 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v9i1.61007
1672305 #5605 Pengaruh Nilai Wettability pada Pool Boiling Heat Transfer Studi Kasus Hydrophobic, Hydrophilic dan Superhydrophilic Joko Suroto, Bambang
Telah dilakukan penelitian tentang  efek dari berbagai nilai wettability dari permukaan pada pool boiling heat transfer. Percobaan dilakukan dengan menggunakan air murni sebagai fluida kerja dan subcooling 0K. Heat transfer block yang digunakan adalah mirror surafce (dipoles tembaga) / hidrofilik, superhydrophilic / copper berlapis TiO2 and permukaan hidrofobik / PTFE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perpindahan panas dari permukaan dengan lapisan PTFE lebih baik di fluks panas rendah. Sedangkan untuk fluks panas menengah, permukaan superhydrophilic (TiO2) lebih unggul dibandingkan dengan permukaan hidrofilik dan hidrofobik
2017-01-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10907 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v1i01.10907
1672306 #5605 Karakterisasi Sifat Fisis dan Mikrostruktur Papan Gipsum dengan Variasi Komposisi Lateks Jumiati, Ety
Daulay, Abdul Halim
Fadillah, Nur'aini
Abstrak. Papan gipsum merupakan salah satu produk lanjutan dari material gipsum dengan campuran serat/fiber  atau bahan lainnya. Papan Gipsum memiliki kelemahan pada sifat fisisnya yang mudah menyerap air. Maka dari itu, perlu adanya inovasi dalam pembuatan papan gipsum yang akan menghasilkan mutu yang lebih baik lagi. Pembuatan papan gipsum dapat memanfaatkan bahan limbah seperti tempurug kelapa dan sekam padi serta lateks sebagai perekatnya. Pencampuran bahan papan gipsum meliputi: gipsum, tempurung kelapa, dan sekam padi yang digunakan yaitu 70%, 15%, 15% dengan variasi lateks 10%, 12%, 14%, 16%, 18% dengan FAS 0,5 serta pengeringan selama 28 hari. Dengan parameter uji sifat fisis meliputi: kerapatan dan pengembangan tebal, serta dilakukan pengujian mikrostruktur untuk mengetahui morfologi sampel papan gipsum. Analisis sifat fisis papan gipsum diperoleh hasil yang optimal yaitu pada sampel A dengan variasi komposisi lateks 10% didapatkan nilai kerapatan sebesar 1,35 g/cm3, dan pengembangan tebal sebesar 5,03% yang memenuhi Standar SNI 01-4449-2006. Sedangkan mikrostruktur menghasilkan gambar morfologi yang menunjukkan homogenitas, terbentuk aglomerasi partikel, dan zat pengotor. Kata Kunci: lateks, papan gipsum, sekam padi, sifat fisis dan tempurung kelapa Abstract. Gypsum board is one of the advanced products of gypsum material with a mixture of fiber/fiber or other materials. Gypsum board has a weakness in its physical properties that easily absorb water. Therefore, there is a need for innovation in the manufacture of gypsum boards that will produce even better quality. The manufacture of gypsum board can utilize waste materials such as coconut shells and rice husks and latex as adhesives. The mixture of gypsum board materials including: gypsum, coconut shell, and rice husk used was 70%, 15%, 15% with latex variation 10%, 12%, 14%, 16%, 18% with FAS 0.5 and drying for 28 days. The parameters of the physical properties test include: density and thickness expansion, as well as microstructural testing to determine the morphology of the gypsum board sample. Analysis of the physical properties of gypsum board obtained optimal results, namely in sample A with a variation of 10% latex composition, the density value was 1.35 g/cm3, and the thickness expansion was 5.03% which met the SNI Standard 01-4449-2006. While the microstructure produces morphological images that show homogeneity, particle agglomeration forms, and impurities.Keywords: latex, gypsum board, rice husk, physical properties and coconut shell
2021-08-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34493 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v5i2.34493
1672307 #5605 Sintesis Bahan La2-xYxCuO4 pada Suhu Rendah dengan Metode Presipitasi Risdiana, Risdi
Telah dilakukan sintesis bahan La2-xYxCuO4 dengan x = 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 menggunakan metode presipitasi langsung pada suhu 350 – 400 oC selama 24 – 300 jam pada kondisi udara biasa dan Ar dengan bantuan KOH/NaOH untuk mendapatkan bahan superkonduktor doping elektron dengan struktur T’. Puncak-puncak XRD untuk bahan dengan x = 0 yang disintesis pada suhu 350 oC selama 300 jam didalam aliran gas argon dan seluruh bahan dengan x antara 0,1 dan 0,4 yang disintesis pada udara biasa pada suhu 400 oC selama 24 jam didominasi oleh puncak-puncak struktur T yang biasanya ditemui untuk bahan superkonduktor doping hole. Bahan superkonduktor doping elektron yang biasanya berstruktur T’ tidak dapat diperoleh pada penelitian ini.
2020-02-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26366 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v4i1.26366
1672308 #5605 Analisis Kejadian Hujan Es Berdasarkan Kondisi Atmosfer dan Citra Satelit Himawari-8 (Studi Kasus: Magelang, 24 Januari 2018) Nugroho, Anendha Destantyo
Fadlan, Ahmad
Fenomena hujan es termasuk fenomena ekstrem yang jarang  terjadi  di  Indonesia  karena  wilayah  Indonesia  memiliki lapisan beku yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara lainnya. Wujudnya yang seperti butiran es menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat sehingga kadang disambut dengan antusias, padahal jika hujan es  terjadi dalam ukuran yang cukup  besar dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Proses terjadinya hujan es memiliki kaitan yang erat dengan perubahan lingkungan seperti perubahan suhu, kelembaban dan tekanan udara yang dapat menjadi tolak ukur dalam menyaksikan tanda-tanda terjadinya hujan es. Pada tanggal 24 Januari 2018 sekitar pukul 13.20 WIB hingga 13.30 WIB telah terjadi kejadian cuaca ekstrem yang berupa hujan es di Magelang tepatnya daerah Mertoyudan. Dengan mengacu pada data AWS (Automatic Weather Station) yang dipasang di kawasan Candi Borobudur yang diolah secara statistik serta data citra satelit himawari-8 dianalisis menggunakan aplikasi SATAID. Hasil penelitian  dan  analisis  menunjukan bahwa  telah  terjadi  kejadian hujan es yang di buktikan dengan data AWS yang mengalami perbedaan suhu yang cukup signifikan pada selang jam 12.00 WIB hingga 16.00 WIB sebesar 7.8 °C. Berdasarkan pemantauan    citra satelit    himawari-8    menunjukkan    bahwa    pada   saat kejadian terdapat   gumpalan   awan   berwarna   putih   di   atas   Kabupaten Magelang dan sekitarnya. Suhu puncak awan rendah saat itu sebesar -77.5°C yang diindikasikan sebagai awan Cumulonimbus
2018-08-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/19711 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v2i2.19711
1672309 #5605 SIMULASI PENGARUH PANJANG GELOMBANG TERHADAP AKURASI PENGUKURAN DYNAMIC LIGHT SCATTERING Riveli, Nowo
Prakoso, Ilham Satrio
Dynamic Light Scattering (DLS) adalah metode pengukuran diameter partikel yang mengandalkan pendeteksian fluktuasi intensitas cahaya hamburan. Terdapat hubungan langsung antara fungsi autokorelasi intensitas hamburan dengan besar diameter partikel. Akurasi pengukuran akan sangat ditentukan oleh bagaimana fluktuasi tersebut dapat tertangkap dalam eksperimen. Simulasi telah dilakukan untuk mempelajari apakah panjang gelombang dari cahaya hamburan akan mempengaruhi akurasi pengukuran. Didapatkan bahwa cahaya hamburan dengan panjang gelombang yang besar akan sensitif terhadap gerakan partikel dengan ukuran yang kecil, dan sebaliknya.
2024-08-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56275 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v8i2.56275
1672310 #5605 Identification of Landslide Prone Zone Slide Plane Using 2D Resistivity Geoelectric Method in Samboja Region East Kalimantan Silalahi, Mawar Dini Erena
Prasetya, Anggara Putra
Puspa, Rahma
Santoso, Budy
This study aims to investigate subsurface conditions to identify ground movement and landslide potential in Samboja District, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan. To delineate slip surfaces in landslide-prone areas, the research employs the 2D electrical resistivity method using a dipole-dipole electrode configuration. Geoelectrical measurements were conducted along four survey lines based on resistivity values to determine subsurface characteristics indicative of potential slip surfaces. The results show that each survey line has distinct soil and rock properties, influencing the type of landslide that may occur. SBJ01 was measured on an outcrop and used as calibration data for other lines. SBJ02 is susceptible to soil creep, SBJ03 is at risk of translational landslides, while SBJ10 indicates debris flow. The primary factors contributing to landslides in the study area include rainfall infiltration, which increases pore water pressure, and lithological conditions that form weak slip surfaces. This study confirms that the 2D electrical resistivity method is effective in identifying slip surfaces in landslide-prone areas and serves as a valuable reference for disaster mitigation efforts.
2025-08-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64061 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v9i2.64061
1672311 #5605 Characteristics of Graphene Like Material Synthesized from Commercial Activated Carbon of Coconut Shell Using a Modified Hummers Methods Affandi, Dewi Asaningsih
Fitrilawati, Norman Syakir,
Commercial activated carbon of coconut shell (CS) was used as the raw material for synthesis of graphene like material using modified Hummers method. The structure of carbon CS is amorphous and contains natural minerals such silica, potassium, magnesium and calcium as impurities. Prior to use, we carried out a thermal pre-treatment process (heating) on CS in order to remove the impurities. Pieces of CS were grounded to the size of 200 mesh (CS1), then heated at a temperature of 850°C with heating rate 5°C/min for 2 hours in a furnace. The obtained material was referred as CS2. A precursor of CS1 or CS2 were mixed with sulfuric acid solution until homogen in a glass beaker that placed in an ice bath. Then, potassium permanganate powder was slowly added into the solution while stirring. After that, distilled water and H2O2 were added into the solution to stop the oxidation process. The produced precipitate was passed through purification, ultrasonication and drying processes. The obtained material synthesized from CS1 is referred as H-CS1 and the one synthesized from CS2 is referred as H-CS2. The characterization results using FTIR, Raman, XRD and Uv-Vis show the obtained materials have charachteristic as reduced graphene oxide (rGO) with ID/IG = 1.0056 in H-CS1 and ID/IG ratio = 0.9476 in H-CS2. This result indicates that thermal pre-treatment process has lower impurity and defect on H-CS2
2023-02-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43488 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v7i1.43488
1672312 #6191 Pengaruh ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap waktu perdarahan pada luka potong ekor mencit strain Balb-cEffect of avocado seed extract (Persea americana Mill.) on bleeding time in mice tail cuts (Balb-c) Winiswara, Mulia Widya
Yuwono, Budi
Adriatmoko, Winny
ABSTRAK  Pendahuluan: Pencabutan gigi adalah tindakan dalam kedokteran gigi yang sering dilakukan. Komplikasi yang dapat terjadi dalam pencabutan gigi, salah satunya adalah perdarahan. Biji buah alpukat memiliki potensi sebagai agen hemostatis yang dapat berpengaruh teradap waktu perdarahan. Dari hasil skrining fitokimia, ekstrak etanol biji buah alpukat mengandung saponin, flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak biji alpukat dapat mempengaruhi waktu perdarahan pada mencit. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian adalah mencit jantan sebanyak 16 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol negatif (K1) diberikan akuades, kelompok kontrol positif (K2) diberikan asam traneksamat, kelompok perlakuan 1 (P1) diberikan ekstrak biji alpukat dosis 0,125 mg/g BB dan kelompok perlakuan 2 (P2) diberikan ekstrak biji alpukat dosis 0,25 mg/g BB. Hewan coba diadaptasikan selama 7 hari, diberikan perlakuan selama 7 hari dan pada hari ke-8 dilakukan pemotongan ekor ±1 cm. Data dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan Mann Whitney. Hasil: Rerata waktu perdarahan pada kelompok K1, K2, P1 dan P2 adalah 7,8 menit, 3,25 menit, 3,8 menit dan 4,5 menit. Hasil uji Kruskal Wallis didapatkan signifikansi 0,029 (p<0,05) yaitu terdapat perbedaan pada seemua kelompok. Hasil uji Mann Whitney didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K1, P1 dan P2 (p<0,05), sedangkan pada kelompok P1 dan P2  (p>0,05) terdapat perbedaan yang tidak signifikan. Simpulan: Ekstrak biji alpukat dapat mempercepat waktu perdarahan pada luka potong ekor mencit.Kata kunci: Persea americana Mill.; waktu perdarahan; trombosit ABSTRACT Introduction: Tooth extraction is a common treatment form in dental treatment. Complications can occur in tooth extraction, one of which is bleeding. Avocado seeds have the potential as haemostatic agents that can affect bleeding time. From the results of phytochemical screening, the ethanol extract of avocado seeds contains saponins, flavonoids and tannins. This study was aimed to determine the effect of avocado (Persea americana Mill.) seed extract on bleeding time in the tail cuts of mice (Balb-c strain). Methods: This research was an experimental laboratory with a post-test only control group design. The research sample was 16 male mice divided into four groups. The negative control group (K1) was administered with distilled water; the positive control group (K2) with tranexamic acid; treatment group 1 (P1) with avocado seed extract at a dose of 0.125 mg/g BW; treatment group 2 (P2) with avocado seed extract at a dose of 0.25 mg/g BW. The experimental animals were adapted for seven days, treated for seven days and on the eighth day, the tail was cut for ±1 cm. Data were analysed using the Kruskal Wallis and Mann Whitney tests. Results: The mean bleeding time in groups K1, K2, P1, and P2 were 7.8 minutes, 3.25 minutes, 3.8 minutes, and 4.5 minutes, respectively. The Kruskal Wallis test results showed a significance of 0.029 (p<0.05), thus showing differences in all groups. The Mann Whitney test results showed a significant difference between groups K1 and P1 and P2 (p<0.05). While between the groups P1 and P2, no significant difference was found (p>0.05). Conclusions: Avocado seed extract can accelerate the bleeding time in the mice tail cuts.Keywords: Persea americana Mill.; bleeding time; platelets
Persea americana Mill; waktu perdarahan; trombosit; Persea americana Mill; bleeding time; platelets 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34613 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.34613
1672313 #6191 Evaluation of the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy on temporomandibular disorders: A systematic review Cahyani, Irvi
Chairunnisa, Ricca
Norasmatul Akma, Ahmad
ABSTRACTIntroduction: Temporomandibular disorders (TMD) involve the temporomandibular joint, masticatory muscles, and associated structures, presenting with various symptoms such as difficulty in chewing, speaking, and other orofacial functions. Common treatment options for TMD include occlusal splint therapy and exercise therapy. This study aims to evaluate the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy in managing TMD through a systematic review. Methods: Literature searches were conducted in PubMed, ProQuest, and Google Scholar, covering publications from 2012 to 2022. The keywords used included ("temporomandibular disorders") AND (exercise OR physiotherapy OR "exercise therapy") AND ("splints" OR "occlusal splints" OR "occlusal appliance" OR "occlusal splint therapy"). Data synthesis was performed using qualitative data analysis techniques. Results: Based on the search results, 1,707 articles were identified. After checking for duplicates and filtering according to PICOS and inclusion criteria, 7 articles were found to be eligible. From the results that had already been obtained and analyzed, occlusal splint therapy and physical exercise therapy had the same effectiveness but had their own advantages and disadvantages. Both therapies demonstrated a reduction in pain and improvement in limited mouth opening. Conclusion: There is no difference in the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy for managing TMD. Considering their respective benefits and limitations, exercise therapy may be recommended as an initial treatment for TMD, while occlusal splint therapy can be employed for specific pathological conditions or as a complementary treatment in advanced cases.KEY WORDS: temporomandibular disorders, occlusal splint therapy, exercise therapyEvaluasi efektivitas terapi splin oklusal dan terapi fisik latihan terhadap gangguan temporomandibular: systematic reviewABSTRAK Pendahuluan: Gangguan Temporomandibular (TMD) melibatkan sendi temporomandibular, otot pengunyahan, dan struktur terkait, dengan gejala seperti kesulitan mengunyah, berbicara, dan fungsi orofasial lainnya. Pilihan perawatan yang umum untuk TMD adalah terapi splin oklusal dan terapi latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi splin oklusal dan terapi latihan dalam menangani TMD melalui tinjauan sistematis. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ProQuest, dan Google Scholar dengan cakupan publikasi dari tahun 2012 hingga 2022. Kata kunci yang digunakan meliputi: ("temporomandibular disorders") AND (exercise OR physiotherapy OR "exercise therapy") AND ("splints" OR "occlusal splints" OR "occlusal appliance" OR "occlusal splint therapy"). Sintesis data dilakukan menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil: Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan 1.707 artikel. Setelah dilakukan pengecekan duplikasi dan penyaringan berdasarkan PICOS serta kriteria inklusi, diperoleh 7 artikel yang sesuai. Berdasarkan hasil yang sudah didapatkan dan dianalisis, terapi splin oklusal dan terapi fisik latihan memiliki efektivitas yang sama namun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kedua terapi tersebut dapat memberikan hasil mengurangi rasa nyeri dan perbaikan keterbatasan pembukaan mulut. Simpulan: Tidak ditemukan perbedaan dalam efektivitas terapi splin oklusal dan terapi latihan untuk menangani TMD. Berdasarkan kelebihan dan keterbatasannya, terapi latihan dapat direkomendasikan sebagai perawatan awal untuk TMD, sementara terapi splin oklusal dapat digunakan untuk kondisi patologis tertentu atau sebagai perawatan tambahan pada kasus lanjut.KATA KUNCI: gangguan temporomandibular, terapi splin oklusal, terapi latihan
2024-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58960 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58960
1672314 #6191 Manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilanOral manifestations in pregnant women based on trimester differences Utami, Larasati Dyah
Hidayat, Wahyu
Sufiawati, Irna
Pendahuluan: Kehamilan merupakan suatu kondisi yang membawa berbagai macam perubahan pada wanita bahkan pada wanita hamil dengan kondisi fisik yang sehat. Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan metabolisme, perubahan respon imun, serta perubahan hormon. Keterkaitan antara faktor-faktor pemicu tersebut, secara tidak langsung dapat menimbulkan berbagai macam manifestasi oral pada ibu hamil, seperti epulis gravidarum, coated tongue, cheilitis exfoliative, geographic tongue, fissured tongue, RAS, atrophic glossitis, dan cheilitis angularis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilan. Metode: Penelitian ini mengunakan metode deskriptif observatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung. Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan teknik purposive sampling dan accidental sampling yaitu jumlah sampel yang diambil berdasarkan pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung, bersedia untuk dilakukan penelitian, serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Data diperoleh dengan melakukan tanya jawab mengenai kondisi umum, serta pemeriksaan rongga mulut pasien ibu hamil. Hasil: Manifestasi oral yang paling banyak timbul pada ibu hamil adalah coated tongue yaitu terjadi pada 54 orang (78,26%). Coated tongue paling banyak ditemukan pada trimester III kehamilan yaitu sebanyak 31 orang (42,03%) dan exfoliative cheilitis sebanyak 21 orang. Hasil penelitian tidak menemukan adanya cheilitis angularis. Simpulan: Coated tongue menjadi manifestasi orang yang paling banyak ditemukan pada rongga mulut ibu hamil yang merata pada semua trimester.Kata kunci: Kehamilan, manifestasi oral. ABSTRACT Introduction: Pregnancy is a condition that induces various changes in women, even in healthy pregnant women. This condition may occur due to changes in metabolism, immune response, and hormonal system. The relation between these triggers may indirectly lead to various oral manifestations in pregnant women, such as epulis gravidarum, coated tongue, exfoliative cheilitis, geographic tongue, fissured tongue, recurrent aphthous stomatitis (RAS), atrophic glossitis, and angular cheilitis. The purpose of this study was to determine the oral manifestations in pregnant women based on trimester differences. Methods: This research was a descriptive observational with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung. The sample in this study was taken based on purposive sampling and accidental sampling techniques, which were pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung, willing to participate in the research, and meet the inclusion and exclusion criteria within a predetermined time limit. Data was obtained through questions and answers regarding general conditions, as well as examining the oral cavity of pregnant women. Results: The results of data analysis showed that the most frequent oral manifestations in pregnant women was coated tongue, which was found in 54 respondents (78.26%). The most common oral manifestations found on the first to the third trimester of gestational period was coated tongue, coated tongue most commonly found in the third trimester, which was found in 31 respondents (42.03%) and exfoliative cheilitis in 21 respondents. Angular cheilitis was not found in all respondents. Conclusion: The coated tongue is the most common oral manifestation in pregnant women which is evenly distributed in all trimesters. Keywords: Pregnancy, oral manifestations.
Kehamilan; manifestasi oral; pregnancy; oral manifestations 2020-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25261 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.25261
1672315 #6191 The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: Study experimental | The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: Study experimental Safitri, Subiana Hidayatul
Sari, Widya Puspita
Desnita, Eka
ABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental  with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FRC for enhanced mechanical properties in fixed dental prostheses. Conclusion: The addition of a silane coupling agent positively influences the hardness of non-dental E-Glass FRC used in fixed dental prostheses. This study contributes to the ongoing efforts to enhance the mechanical performance of dental materials, emphasizing the importance of optimizing silane coupling agent concentrations for improved hardness.KEY WORDS: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent..Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan e-glass fiber non dental reinforced composite pada gigi tiruan cekat: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent | ABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FRC for enhanced mechanical properties in fixed dental prostheses. Conclusion: The addition of a silane coupling agent positively influences the hardness of non-dental E-Glass FRC used in fixed dental prostheses. This study contributes to the ongoing efforts to enhance the mechanical performance of dental materials, emphasizing the importance of optimizing silane coupling agent concentrations for improved hardness.KEY WORDS: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan e-glass fiber non dental reinforced composite pada gigi tiruan cekat: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.
e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent. e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.; e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent. 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49861 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.49861
1672316 #6191 Tingkat kepuasan pasien dewasa pada pelayanan radiografi panoramik di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha Meilasari, Wine
Suwindere, Winny
Polii, Hendra
Pendahuluan: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan yang semakin banyak dipakai sebagai alat ukur yang dipercaya untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang tersedia dalam bidang kesehatan gigi dan mulut adalah Rumah Sakit Gigi dan Mulut. RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, gawat darurat, pelayanan medik dan pelayanan penunjang, salah satunya adalah pelayanan radiologi kedokteran gigi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk dapat memberikan data yang akurat tentang kepuasan pasien radiografi panoramik di instalasi radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptifanalitik dengan menggunakan metode survei. Studi penelitian ini menggunakan rancangan crosssectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha yang dilaksanakan pada bulan Juli- Agustus 2017. Pengambilan sampel pasien dengan cara accidental sampling dimana sampel yang digunakan adalah seluruh pasien dewasa yang datang ke instalasi radiologi. Analisis data menggunakan uji statistik oneway anova yang diolah menggunakan program komputer SPSS. Hasil: Sebagian besar responden menyatakan puas pada dimensi Reliability (kehandalan) dengan skor 95,25 %, Assurance (jaminan/keyakinan) dengan skor 94,6%, Tangibles (penampilan) dengan skor 100%, Empathy  (perhatian)  dengan skor 100% Responsiveness (ketanggapan) yaitu memiliki skor 100%. Simpulan: Pelayanan pemeriksaan radiografi panoramik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha pada periode 18 Juli-18 Agustus  2017 sangat baik, dengan tingkat kepuasan yang tinggi pada dimensi kualitas pelayanan reliability (kehandalan), assurance (jaminan/keyakinan), tangibles (penampilan), empathy (perhatian) dan responsiveness (ketanggapan).Keywords: Pelayanan, kepuasan, radiografi panoramik
Pelayanan, kepuasan, radiografi panoramik 2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22511 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22511
1672317 #6191 Antibacterial activity test of nipah leaf extract in inhibiting the growth of streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin: Study experimental Ferdina, Resa
Ardila, Vidia Ananda
Lestari, Citra
Sari, Widya Puspita
ABSTRACT Introduction: Heat-polymerized acrylic resin denture bases are susceptible to increased Streptococcus sanguinis counts, which can lead to oral health problems. Sodium hypochlorite, commonly used as a denture cleanser, has the potential to damage the physical properties of acrylic resin. Therefore, natural alternatives are needed as a substitute for denture cleaners such as nipah leaf extract (Nypa fruticans wurmb) which has antibacterial bioactive compounds. This study analyzes the antibacterial activity of nipa palm leaf extract in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin. Methods: The study used a laboratory experiment, with a post-test only control group design where acrylic resin plates measuring 10 × 10 × 1 mm, which were divided into five treatment groups inoculated with Streptococcus sanguinis were treated with nipah leaf extract with concentrations of 10%, 15%, 20%, and a control group. Then, bacterial growth was calculated and analyzed using the Least Significant Difference test with a sig value p<0.05. Results: Nipah leaf extract has been proven to inhibit the growth of Streptococcus sanguinis. A concentration of 10% showed a lower colony count compared to concentrations of 15% and 20%, so under the conditions of this study, a concentration of 10% showed a tendency to provide a better inhibitory effect. Conclusion: Nipah leaf extract inhibits the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin surfaces. A concentration of 10% showed better inhibitory effect.KEYWORDS: antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa Fruticans Wurmb), Streptococcus sanguinis, heat-cured acrylic resin.Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan:  Basis gigi tiruan dari resin akrilik polimerisasi panas rentan terhadap peningkatan jumlah Streptococcus sanguinis, yang dapat menimbulkan masalah kesehatan mulut. Sodium hipoklorit, yang umumnya digunakan sebagai pembersih gigi tiruan, berpotensi merusak sifat fisik resin akrilik. Diperlukan alternatif alami sebagai pengganti pembersih gigi tiruan seperti ekstrak daun nipah (Nypa fruticans wurmb) yang memiliki senyawa bioaktif antibakteri. Penelitian ini menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian menggunakan eksperimental laboratorium, dengan post test only control group design dimana plat resin akrilik berukuran 10 × 10 × 1 mm yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan yang diinokulasi Streptococcus sanguinis diberi perlakuan ekstrak daun nipah dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan kelompok kontrol. Selanjutnya pertumbuhan bakteri dihitung dan dianalisis menggunakan uji Least Significant Different dengan nilai p<0,05. Hasil: Ekstrak daun nipah menurunkan pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Konsentrasi 10% menghasilkan jumlah koloni lebih rendah daripada 15% dan 20%, menunjukkan efek penghambatan yang lebih baik pada kondisi penelitian ini. Simpulan: Ekstrak daun nipah menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada permukaan resin akrilik. Konsentrasi 10% memberikan daya hambat terbaik.KATA KUNCI: aktivitas antibakteri, ekstrak daun nipah, Streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas.
Antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa Fruticans Wurmb), Streptococcus sanguinis, heat-cured acrylic resin.Antibakteri, ekstrak daun nipah, Streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas. 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69573 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69573
1672318 #6191 Dental caries survey of first permanent molar teeth among 6-8 years old during the pandemic: cross-sectional study Fadilah, Rina Putri Noer
Prayogo, Ari Pribadi
ABSTRACTIntroduction: A survey is necessary for annual screening and recording. Dental caries is one of the indicators in oral health surveys. Dental caries is the most common and prevalent chronic infectious disease among children. The most prevalent dental caries is in the child's first permanent molar. The first permanent tooth eruption in the oral cavity was the  first molar of 6-year-old children. This study aims to determine dental caries in first permanent molars among children aged 6-8 years old during the pandemic in Cimahi City, West Java, Indonesia. Methods: The research method used was a cross sectional study with pathfinder surveys using basic oral health survey methods. Schoolchildren were invited to participate in this survey. The survey collected data through intraoral photos and questionnaires through an online form. The prevalence of dental caries was the percentage. After calculation, the data is presented in tables and graphs. Results: The result of this study on 98 children showed that the prevalence of dental caries was 96.93%. The caries index primary teeth (DMFT) mean was 7.86, and the caries index permanent teeth (DMFT) mean was 0.37. Dental caries of the first permanent molar teeth was at 19%. Conclusions: There is a high prevalence of dental caries in primary teeth and high categories of dental caries in primary teeth. The incidence of dental caries in the first permanent molars was 19%.KEY WORDS: dental caries, first permanent molar, childrenSurvei karies gigi pada gigi molar permanen pertama pada anak usia 6-8 tahun selama pandemi : studi cross sectional ABSTRAK Pendahuluan: Survei diperlukan untuk penjaringan dan pencatatan yang digunakan setiap tahun. Salah satu indikator dalam survei kesehatan gigi dan mulut adalah karies gigi. Karies gigi adalah penyakit infeksi kronis yang paling umum dan umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang paling banyak terjadi adalah gigi molar pertama permanen. Erupsi gigi permanen pertama di rongga mulut adalah gigi geraham pertama yang berumur 6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karies gigi pada gigi geraham pertama permanen pada anak usia 6-8 tahun pada masa pandemi di Kota Cimahi, Jawa Barat, Indonesia. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan menggunakan pathfinder survey dengan metode dasar survey kesehatan gigi dan mulut. Kami mengundang anak-anak sekolah untuk berpartisipasi dalam survei ini. Survey dilakukan dengan mengumpulkan data melalui foto intra oral dan kuesioner dengan menggunakan sistem online yaitu google form. Prevalensi karies gigi dalam bentuk persentase dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil: Sebanyak 98 anak menunjukkan prevalensi karies gigi sebesar 96,93%. Rerata indeks karies gigi sulung (dmft) adalah 7,86 dan rerata indeks karies gigi permanen (DMFT) adalah 0,37. Karies gigi gigi molar pertama permanen adalah 19%. Simpulan: Prevalensi karies gigi tinggi pada gigi sulung dan kategori karies gigi tinggi pada gigi sulung. Insiden karies gigi pada gigi molar pertama permanen adalah 19%.KATA KUNCI: karies gigi, gigi molar satu permanen, anak-anak
dental caries; first molar; children, karies gigi, gigi molar satu permanen, anak-anak 2023-08-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47399 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.47399
1672319 #6191 Proses penyembuhan lesi periapikal pada radiografi periapikal menggunakan Software Image J Fitriandari, Bilqis Quinta
Pramanik, Farina
Adang, Rahmi Alma Farah
Pendahuluan:  Lesi periapikal adalah lesi yang berada di daerah apikal dan dapat dirawat dengan perawatan endodontik untuk mencapai penyembuhan. Proses penyembuhan lesi periapikal dapat dievaluasi dengan pemeriksaan radiografis dengan menggunakan radiograf periapikal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan gambaran yang terjadi pada proses penyembuhan lesi periapikal pada radiograf periapikal menggunakan software image J. Metode: Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan 30 arsip radiograf periapikal pada saat diagnosis, pengisian, dan kontrol perawatan endodontik yang terdapat di Instalasi PPDGS Konservasi Gigi RSGM Unpad. Proses penyembuhan ini dilihat dari luas dan densitas lesi dengan menggunakan software image J. Hasil: Nilai rata-rata pengurangan ukuran luas lesi sebesar 13.25±10.77 mm2 dan peningkatan densitas rata-rata sebesar 9.95±7.26% yang dilihat dari foto diagnosis, pengisian, dan kontrol. Simpulan: Gambaran penyembuhan lesi periapikal terjadi pengurangan ukuran luas lesi terbesar pada tahap diagnosis ke pengisian dan peningkatan densitas terbesar pada tahap pengisian ke kontrol pada perawatan endodontik yang dilihat dari radiograf periapikal menggunakan software image J.Kata kunci: Proses penyembuhan, lesi periapikal, radiograf periapikal, Software Image J.
2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21436 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.21436
1672320 #6191 Pengaruh penambahan kombinasi zat aditif pada gipsum tipe III daur ulang terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasanThe effect of adding combination of additives to recycled type III gypsum on compressive strength and hardening time Yandi, Satria
Sari, Widya Puspita
Hamonangan, Ihut
Pendahuluan: Limbah gipsum tipe III (dental stone) dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan karena sulit diuraikan serta dapat bercampur dengan limbah makanan. Permasalahan tersebut diatasi dengan mendaur ulang gipsum dengan cara menambahkan kombinasi zat aditif untuk mempercepat waktu pengerasan dan menambah kekuatan tekan gipsum. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh penambahan kombinasi larutan seng sulfat dan kalium sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Metode: Desain penelitian adalah eksperimental laboratorium. Penelitian ini dilakukan pengambilan masing-masing 4 sampel pada 3 kelompok perlakuan penambahan kombinasi zat aditif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Universitas Baiturrahmah dan Laboratorium Teknik Metalurgi Universitas Andalas. Hasil: Kelompok 1 penambahan K2SO4 1,5% + ZnSO4 4,5% hasil kekuatan tekan 4,68 MPa dan waktu pengerasan 96 jam. Kelompok 2 penambahan K2SO4 2% + ZnSO4 5% hasil kekuatan tekan 3,12 MPa dan waktu pengerasan 91 jam. Kelompok 3 penambahan K2SO4 2,5% + ZnSO4 5,5% hasil kekuatan tekan 1,56 MPa dan waktu pengerasan 88 jam. Simpulan: Terdapat pengaruh penambahan larutan kalium sulfat dan seng sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Semakin tinggi jumlah penambahan zat aditif K2SO4 dan ZnSO4 pada gipsum daur ulang didapatkan nilai kekuatan tekan semakin rendah dan waktu pengerasan semakin singkat.Kata kunci: Gipsum daur ulang, kombinasi zat aditif, kekuatan tekan, waktu pengerasan. ABSTRACT Introduction: Gypsum waste type III (dental stone) can cause environmental pollution problems due to its difficulty in decomposing and potential mixed with food waste. This problem is overcome by recycling the gypsum by adding additives to speed up the hardening time and increase the compressive strength of the gypsum. The research objective was to analyse the effect of adding a combination of zinc sulfate and potassium sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. Methods: The research design was laboratory experimental. This research was carried out by taking four samples each in 3 treatment groups with a combination of additives. The research was conducted at the Baiturrahmah University Laboratory and the Andalas University Metallurgical Engineering Laboratory. Results: Group 1: the addition of K2SO4 1.5% + ZnSO4 4.5% results in compressive strength of 4.68 MPa and a hardening time of 96 hours. Group 2: the addition of 2% K2SO4 + 5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 3.12 MPa and a hardening time of 91 hours. Group 3: the addition of 2.5% K2SO4 + 5.5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 1.56 MPa and a hardening time of 88 hours. Conclusion: There is an effect of adding potassium sulfate and zinc sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. The higher the amount of K2SO4 and ZnSO4 additives added to recycled gypsum, the lower the compressive strength value and the shorter the hardening time.Keywords: Recycled gypsum, combination of additives, compressive strength, hardening time.
gipsum daur ulang; kombinasi zat aditif; kekuatan tekan; waktu pengerasan; recycled gypsum; combination of additives; compressive strength; hardening time 2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32255 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.32255
Menampilkan 1.549.821 - 1.549.840 dari total 1.550.696 data
« Awal ‹ Prev Next › Akhir »