Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672161 #11259 NETRALITAS TNI PADA PEMILU 2009 DALAM PERSPEKTIF HUBUNGAN SIPIL DAN MILITER Simanjuntak, Andreas Saut
Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 merupakan salah satu pemilu yang ramai dibicarakan karena ada wacana mengembalikan kembali hak pilih Tentara Nasional Indonesia (TNI). Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan ikut campurnya instansi TNI untuk terlibat politik praktis. Tulisan ini fokus mengkaji netralitas TNI pada saat Pemilu 2019 dalam perspektif hubungan sipil dan militer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data bedasarkan studi Pustaka. Hasil dari penelitian ini bahwa peran sipil sebagai kontrol dalam konsep hubungan sipil militer banyak melibatkan pihak militer secara lansung ataupun tidak lansung untuk terlibat secara politik karena menganggap pengaruh militer yang masih sangat besar di daerah. Hal ini disebabkan kemampuan potisi sipil masih memiliki kekurang dari segi  Sumber Daya Manusia (SDM) hal ini menyebabkan kurang percay dirinya setiap individu politisi sipil dalam menjalankan tugas dan fungsinya sehingga TNI uluran Kerjasama mereka dan disisi lain secara halus masih menghendaki dukungan pilitkinya. Fenomena inilah yang membuat parpol dalam mencari politisi lokal sangat sulit. Sehingga banyak melibatkan pihak militer secara lansung ataupun tidak lansung untuk terlibat secara politik karena menganggap pengaruh militer yang masih sangat besar di daerah. Dengan kontrol sipil yang subjektif ini peran militer sendiri semakin tidak objektif atau tidak efektif karena sikap dari politisi sipil yang gagal dalam mendudukkan TNI untuk Netral. Walaupun TNI itu sendiri menolak wacana TNI untuk ikut pemilu 2009 dan memilih untuk tetap netral.  The 2009 General Election (Pemilu) was one of the elections that was widely discussed because there was talk of returning the voting rights of the Indonesian National Army (TNI). This phenomenon raises concerns that TNI agencies will interfere in practical politics. This article focuses on examining the TNI's neutrality during the 2019 elections from the perspective of civil-military relations. This research uses qualitative methods by collecting data based on literature studies. The results of this research are that the role of civilians as control in the concept of civil-military relations involves the military directly or indirectly becoming politically involved because they assume the military's influence is still very large in the region. This is because the ability of civilian politicians still lacks in terms of Human Resources (HR). This causes each individual civilian politician to lack confidence in carrying out their duties and functions so that the TNI offers their cooperation and on the other hand, in a subtle way, they still want their political support. This phenomenon makes it very difficult for political parties to find local politicians. So many involve the military directly or indirectly to get involved politically because they think the military's influence is still very large in the region. With this subjective civilian control, the role of the military itself is increasingly less objective or ineffective because of the attitude of civilian politicians who fail to position the TNI as Neutral. Although the TNI itself rejected the TNI's discourse to participate in the 2009 elections and chose to remain neutral.
Netralitas; TNI; Sipil; Militer; Pemilu 2024-01-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52190 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v2i3.52190
1672162 #11259 Mapping Potential And Development Strategies Of Marine Tourism In The Morotai National Tourism Strategic Area Mouw, Erland
Karlina, Nina
Widianingsih, Ida
Nurasa, Heru
The potential as well as the strategy of development of tourism in the National Tourism Strategic Area Morotai be important for mapping and analyzing the strategies that have been undertaken by the government until recently. The purpose of this paper is the analysis of the potential and the strategy of development of tourism in the National Tourism Strategic Area Morotai. Mapping the potential of marine tourism, beginning with a survey of the field, find the problems, then learn the theory in accordance with the problem. The method used a Mixed Method by taking the documentation data and primary data through In-Depth Interview guests, private, group of society, which is scattered in four areas of development, namely (1) Wayabula; (2) Daruba; (3) Bere-bere and Sopi. Mapping the tourism potential of the Island of Morotai is divided in 3 (three) types of the city, namely marine tourism 22 the city, its history 8 the city; and tour the cave and the waterfall is 9 km from. As for the strategy of development of tourism the Island of Morotai directed at : (a). The strategy of development of tourism; (b). Product Development strategy and Attractions; (c). Development strategy of Amenities available at the National Tourism Strategic Area Morotai; (d). The strategy of the development of accessibility associated with the development of National Tourism Strategic Area Morotai; and (e). Development strategy of promotion and marketing. The recommendation is that the government District of the Island of Morotai should seriously implement the development strategy of marine tourism. In addition, the development of products and places, the development of ksesibilitas, the development of ammenities, and the promotion of marine tourism should be further optimized.
Potential; Strategy; Marine Tourism; Morotai Island 2022-12-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43283 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v0i0.43283
1672163 #11259 HAK ASASI MANUSIA DI BALIK LENCANA: POTRET 20 TAHUN LEBIH REFORMASI KEPOLISIAN Suryana, Nanang
Habibullah, Ali Zahid
Alifya, Tofa Waluyo
Dua dekade lebih perjalanan reformasi kepolisian di Indonesia, belum sepenuhnya melahirkan institusi kepolisian yang demokratis (democratic policing): sebuah institusi keamanan yang berkarakter polisi sipil (civilian police). Salah satu dari sekian catatan dalam proses panjang tersebut yakni gugatan terhadap komitmen kepolisian dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan bertolak dari kerangka Reformasi Sektor Keamanan (RSK), penelitian ini mengkaji komitmen Kepolisan Negara Republik Indonesia (Polri) dalam penegakan HAM. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data-data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui studi literatur yang berasal dari berbagai publikasi akademik, dokumen resmi, dan laporan institusi yang kredibel. Temuan penelitian menunjukkan, kendati kepolisian sudah menjalankan berbagai langkah reformasi, baik struktural, instrumental, dan kultural, tindakan pelanggaran HAM yang masih dilakukan oleh anggota Polri, menunjukkan masih belum melembanganya perspektif HAM dalam tubuh kepolisian. Dalam penelitian ini, nampak beberapa hambatan utama yang menjadi sebab: keterbatasan distribusi kebijakan secara kelembagaan, budaya militeristik yang masih melembaga, lemahnya sanksi dan pengawasan, serta intervensi politik ke dalam tubuh Polri yang sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan, transformasi menuju pemolisian demokratis memerlukan strategi holistik yang berjangkar pada dua hal utama: perubahan budaya organisasi dan penguatan akuntabilitas. This article aims to examine the commitment of the Indonesian National Police (Polri) to human rights enforcement within the broader context of two decades of police reform. Despite the reform agenda initiated after the fall of the New Order regime, Indonesia has yet to fully establish a democratic policing institution characterized by civilian oversight and adherence to human rights norms. Anchored in the framework of Security Sector Reform (SSR), this study employs a descriptive-qualitative approach, utilizing data gathered from academic literature, official documents, and credible institutional reports. The findings indicate that while Polri has undertaken various structural, instrumental, and cultural reforms, recurring human rights violations by police personnel reflect the insufficient internalization of human rights values within the institution. Key challenges identified include limited institutional dissemination of human rights policies, a persisting militaristic culture, weak accountability and oversight mechanisms, and pervasive political interference. The article concludes that achieving democratic policing in Indonesia requires a holistic transformation strategy focused on organizational cultural reform and the strengthening of institutional accountability.
Pemolisian demokratis, HAM, Polri, Reformasi Sektor Keamanan 2025-10-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66208 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v4i2.66208
1672164 #11259 IMPLEMENTASI DIPLOMASI VAKSIN TIONGKOK DALAM KEPENTINGAN GEOPOLITIK TERKAIT HEALTH SILK ROAD DI EROPA TAHUN 2020-2022 Ba'ka, Megawati Hamdani
De Fretes, Christian H.J.
Hadiwijoyo, Suryo S.
Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 memberikan kesempatan bagi Tiongkok untuk memperluas kebijakan luar negerinya, dari yang semula terfokus pada Belt and Road Initiative di bidang ekonomi dan pembangunan, ke Health Silk Road yang difokuskan pada sektor kesehatan. Hal tersebut karena krisis kesehatan yang terjadi di negara lain, ditambah dengan adanya kekosongan kepemimpinan dalam bidang kesehatan, memberikan celah bagi Tiongkok untuk muncul sebagai pemimpin dalam health governance. Penelitian pun selanjutnya difokuskan pada permasalahan terkait penggunaan diplomasi vaksin sebagai instrumen kebijakan luar negeri Tiongkok untuk mencapai kepentingan geopolitiknya di Eropa, yakni pelaksanaan HSR pada tahun 2019-2022. Penelitian dilakukan dengan menggunakan konsep geopolitik dan diplomasi vaksin, serta teori diplomasi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diplomasi vaksin merupakan kebijakan luar negeri Tiongkok yang dilakukan untuk mencapai kepentingan geopolitiknya dalam lingkup HSR. Diplomasi vaksin Tiongkok dilakukan dengan memberikan bantuan vaksin dalam jumlah besar kepada negara-negara Eropa Timur dan Tengah ketika kawasan tersebut mengalami keterbatasan pasokan vaksin Covid-19. Dengan memberikan bantuan vaksin, Tiongkok dapat meningkatkan hubungan bilateral dan regional dengan Eropa, sehingga inisiatif HSR pun dapat dilaksanakan di wilayah tersebut. Dalam jangka panjang, diharapkan kondisi itu akan mendukung pelaksanaan kebijakan-kebijakan luar negeri Tiongkok lainnya di Eropa. The Covid-19 pandemic that has occurred since 2020 has provided an opportunity for China to expand its foreign policies, from the original Belt and Road orientation in the economic and development fields to the Health Silk Road which focuses on the health sector. This is because the health crisis that occurred in other countries, coupled with the weakness of leadership in the health sector, has provided an opening for China to emerge as a leader in health governance. The research then discusses issues related to the use of vaccine diplomacy as an instrument of China's foreign policy to achieve its geopolitical interests in Europe, namely the implementation of the HSR in 2019-2022. The research was conducted using the concepts of geopolitics and vaccine diplomacy, as well as the theory of public diplomacy. The results of the study show that vaccine diplomacy is China's foreign policy which is carried out to achieve its geopolitical interests within the scope of HSR. China's vaccine diplomacy was carried out by providing vaccine assistance in large quantities to Eastern and Central European countries when the region experienced limited supplies of the Covid-19 vaccine. By providing vaccine assistance, it is hoped that China can enhance bilateral and regional relations with Europe so that HSR initiatives can be implemented in the region. In the long term, the expected conditions will support the implementation of other Chinese foreign policies in Europe.
Tiongkok; Eropa; diplomasi vaksin; geopolitik; Health Silk Road 2023-05-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45574 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v2i1.45574
1672165 #11259 Disaster Nursing Learning Outcomes: What Do Evidences Inform Emaliyawati, Etika
Ibrahim, Kusman
Trisyani, Yanny
The increase of disaster events almost in many countries has been raising concern among nurse educators to review, evaluate, and integrate the disaster knowledge and skills into nursing curricula. Currently, most nursing schools developed the disaster nursing curriculum based on the guideline given by the International Council of Nurses (ICN). However, adaptation and development of local context of the population need to be taken into account in order to fit with the local needs and situation.  This study aims to systematically review the existing literature concerning the disaster nursing learning outcomes applied in nursing education. Published articles in database of EBSCOhost, PubMed and Google Scholar were retrieved using the keywords: “learning outcome”, “disaster nursing”, “disaster management”. Of 201 articles were obtained then screened for the inclusion criteria such as written in English or Bahasa, available in fulltext version, and being published no last than 10 years back. Nine articles met the criteria and then systematically reviewed. The study found that disaster nursing learning outcomes include; the understanding of disaster management by applying knowledge, technology, planning, risk analysis, and management techniques to deal with disasters; developing competencies for each phase of disaster; acquiring skills and knowledge by evaluating, assessing and combining data, utilizing current evidence-based strategies; analyzing and evaluating public administration. This study concluded that it is important to determine evidence-based disaster nursing learning outcomes that fit with the local context and conditions, especially in Indonesia.
Disater nursing, learning outcomes, curriculum 2022-11-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43142 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v0i0.43142
1672166 #11259 Policy Implementation Of Online Population Administration Services During The Covid-19 Pandemic In Lebak Regency, Banten, Indonesia Nufus, Nurhayati
Muhtar, Entang Adhy
Rusli, Budiman
Pancasilawan, Ramadhan
Population Administration Services continue to develop along with changes in people's lifestyles and technological developments. During the Covid-19 pandemic, the government began to focus on moving to the digital realm. The Banten Provincial Government, especially the Regency and City Population and Civil Registration Offices, has adapted to the development of Population Administration Services. Population Administration services are carried out in both cities and districts. Like one of them in Lebak Regency, services that were previously manual were pushed to be online during the pandemic. This article will discuss in more detail the implementation of Population Administration Services in Lebak Banten Regency, Indonesia, during the Covid-19 Pandemic and the differences before and after the pandemic. This study uses a descriptive qualitative approach. In collecting data, this research uses observation, interviews, literature study, and internet searching. Data collection in this study was carried out by studying the existing laws, regulations, and literature. We use Mazmanian and Sabatier (1983) implementation policy theory, namely the characteristics of the problem, the characteristics of the policy, and the policy environment. The findings of this article are that population administration services in Lebak Regency, Banten Province before Covid were still manual, even though there were already rules governing changes to digital. However, due to the pandemic, the system has changed to online and can be applied in many areas except with special conditions, such as in Kanekes Village, Lebak Regency, Banten Indonesia, where the community has special regulations.
Population Document Collection and Issuance Services; Lebak Regency; Covid-19 pandemic 2022-09-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41819 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/aliansi.v0i0.41819
1672167 #3358 Sistem Monitoring Smart Garden Tanaman Cabai Berbasis IoT Menggunakan Protokol MQTT, Node Red, dan Telegram Bot Islamy, Irfan
Wisudawati, Lulu Mawaddah
Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis, dan iklim tersebut sangat cocok ditumbuhi berbagai macam tumbuhan seperti tanaman cabai. Tanaman cabai merupakan salah satu tanaman yang memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaannya. Untuk itu, memantau dan menjaga keadaan tanaman menjadi sangat penting. Aspek utama dalam pemeliharaan tanaman cabai adalah pengawasan kelembaban tanah untuk mencegah kekeringan pada daun akibat suhu tinggi. Selain itu, monitoring ketersediaan air dan pupuk dalam wadah juga sangat penting untuk mengoptimalkan kondisi pertumbuhan tanaman cabai. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi juga memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam membantu melakukan aktivitas manusia. Salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah Internet of Things (IoT), dimana dengan keberadaan Iot dapat membantu dan digunakan dalam  kegiatan manusia di masa depan. Internet of Things (IoT) merupakan suatu konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus menerus. Salah satu perangkat yang sering digunakan untuk membuat sistem IoT adalah ESP8266, perangkat ini adalah mikrokontroler yang telah dilengkapi modul wifi, sehingga pengguna dapat dengan mudah terhubung dengan internet. Penelitian ini bertujuan untuk membangun Sistem Monitoring Tanaman Cabai pada Smart Garden Berbasis IoT dengan integrasi Protokol MQTT, Node Red, dan Telegram Bot. Metode dalam penelitian ini terdiri dari analisis, perancangan, pembuatan alat, dan pengujian. Hasil pengujian menunjukan alat sistem monitoring Smart Garden Tanaman Cabai Berbasis IoT dapat secara otomatis menyiram tanaman berdasarkan kelembaban tanah, memberikan notifikasi jika suhu tinggi, mengirimkan pembacaan sensor periodik melalui Telegram, dan memberikan pemberitahuan pemupukan melalui protokol MQTT, NodeRed, dan Telegram bot.
Smart Garden; tanaman cabai; MQTT; nodered; telegram bot; internet of things (IoT). 2023-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49811 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n3.6
1672168 #3358 PENGARUH JENIS DESIKAN DAN SUHU DESIKASI PADA KARAKTERISTIK DAUN JERUK PURUT KERING Susanti, Erwin
Tjahjadi, Carmencita
Achyar, Cucu S.
Daun jeruk purut (Citrus hystrix L.) adalah komoditas pertanian yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur karena memiliki aroma yang khas. Salah satu cara untuk mengawetkan daun jeruk purut namun tetap mempertahankan aroma khasnya adalah dengan desikasi.Penelitian ini dilakukan dengan menetapkan jenis desikan dan suhu desikasi yang tepat agar diperoleh daun jeruk purut kering dengan warna, aroma, dan karakteristik lain yang baik. Metode percobaan yang dipakai adalah Rancangan Petak Terpisah dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Faktor petak utama adalah suhu desikasi, yaitu suhu ruang (26°C±1°C) dan 34°C±2°C. Faktor anak petak adalah jenis desikan, yaitu silika gel, batuan zeolit dan batuan lempung tufa.Penggunaan jenis desikan teknis batuan zeolit pada suhu desikasi 34°C±2°C menghasilkan daun jeruk purut kering dengan warna dan aroma yang paling baik, yaitu warna permukaan atas hijau agak kuning yang cerah, warna permukaan bawah hijau muda agak kuning, kadar air 5,51 % b.k., kadar Volatile Reducing Substances 104,55 mikrogram ekivalen/gram, rendemen 32,37 %, dan nilai kesukaan terhadap warna 4,2, atau antara agak suka sampai suka, aroma daun jeruk purut kering 3,6 dan aroma daun jeruk purut kering setelah rehidrasi 3,4 atau antara biasa sampai agak suka. Kata kunci: Daun jeruk purut, Desikasi, Zeolit, Silika gel, Batuan lempung tufa
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4850 buka_link ↗ Highlight_link
1672169 #3358 RANCANGAN JADWAL DAN POLA TANAM PERTANIAN LAHAN KERING BERBASIS PERUBAHAN KONDISI IKLIM (STUDI KASUS KECAMATAN NAGREG) NP, Sophia Dwiratna
Tujuan penelitian ini adalah membuat rancangan jadwal dan pola tanam pertanian lahan kering di Kecamatan Nagreg untuk mengantisipasi dampak perubahan kondisi iklim. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dimana jadwal dan pola tanam pertanian lahan kering di Kecamatan Nagreg disusun berdasarkan ketersediaan air pada tiga kondisi iklim (tahun kering, tahun normal dan tahun basah). Penentuan pola tanam mengacu pada kondisi setempat, yaitu sesuai dengan jenis tanaman yang biasa di budidayakan petani. Berdasarkan analisis neraca air ketiga kondisi iklim tersebut diketahui bahwa pola tanam lahan kering di Kecamatan Nagreg hanya dapat dilakukan 2 kali dalam setahun pada semua kejadian iklim. Jadwal tanam tahun basah dimulai pada September 2 (MT1) dan Januari 2 (MT2), jadwal tanam tahun normal pada Oktober 2 (MT1) dan Februari 2 (MT1), sedangkan jadwal tanam tahun kering pada November 1 (MT1) dan Maret 1 (MT2). Pola tanam yang direkomendasikan pada tahun basah adalah Jagung/Padi Ladang + Mentimun/Cabe rawit/kacang panjang/kacang merah (MT1) – Jagung + kacangmerah/kacang tanah/mentimun + singkong(MT2). Pola tanam yang direkomendasikan pada tahun normal dan tahun kering adalah Jagung/cabe + cabe rawit/mentimun/kacang panjang + singkong (MT1) - kacang merah (MT2). Kata kunci: jadwal tanam, pola tanam, perubahan iklim, tahun basah, tahun normal, tahun                        kering
2012-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6336 buka_link ↗ Highlight_link
1672170 #3358 Penggunaan Berbagai Konsentrasi Kulit Buah Pepaya dalam Penurunan Kadar Kafein pada Kopi Rosalinda, S.
Febriananda, Tio
Nurjanah, Sarifah
Biji kopi merupakan bijian penghasil minuman. Beberapa peneliti terdahulu menunjukkan bahwa kopi memiliki potensi sebagai zat antioksidan, merangsang kinerja otak dan antikanker. Kopi juga memiliki kekurangan yaitu mengandung kadar kafein yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan beberapa efek negatif pada tubuh, seperti meningkatnya denyut jantung. Pengurangan kadar kafein dapat dilakukan dengan cara melakukan dekafeinasi pada biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kulit buah pepaya dalam penurunan kadar kafein kopi arabika. Penelitian ini menggunakan konsentrasi kulit papaya yang dihaluskan (0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) dengan lama waktu fermentasi selama 36 jam. Hasil perlakuan dibandingkan dengan data kontrol (kopi standar produksi Poktan Kopi Manglayang) sebagai acuan penelitian. Kopi bubuk yang dihasilkan telah dilakukan analisa kadar kafein, kadar air, kadar abu, dan uji hedonik. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi kulit pepaya 80%. Perlakuan terbaik ini menghasilkan kadar air 3,48% ± 0,01, kadar kafein 1,07% ± 0,06, kadar abu 3,46% ± 0,02, dan uji hedonik dengan nilai analisa warna 4,17; analisa aroma 3,7; analisa rasa 3 dan 3,43 dan analisa aftertaste 3,43. Hasil analisa kadar kafein didapatkan bahwa konsentrasi 0% sebesar 1,40% ± 0,02, konsentrasi 20% sebesar 1,38% ± 0,02, konsentrasi 40% sebesar 1,24% ± 0,04, konsentrasi 60% sebesar 1,13% ± 0,08. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa enzim papain yang terdapat pada kulit buah pepaya mampu menurunkan kadar kafein. Kata kunci: dekafeinasi; kopi arabika; kulit papaya; penurunan kafein
pengolahan hasil pertanian dekafenisasi; kopi arabika; kulit papaya, penurunan kafein Teknik pertanian 2021-08-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34086 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n1.5
1672171 #3358 Kajian Kualitas Briket Sekam Padi sebagai Bahan Bakar Alternatif Moulia, Mona Nur
Rahayu, Dwi
Ahmad, Shaf Rijal
Suliyanto, Heri
Sekam padi merupakan salah satu limbah hasil penggilingan padi. Sekam padi dapat dipakai sebagai sumber biomassa yang dijadikan bahan utama pembuatan briket. Penambahan barang perekat pada briket sekam bertujuan untuk meningkatkan nilai kalor dari briket. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi briket sekam sebagai energi alternatif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pirolisis dengan pembakaran menggunakan tungku tertutup dan menggunakan ayakan dengan ukuran 20 mesh. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan faktor sekam bakar, tapioka dan oli (0 g, 5 g dan 10 g). Analisis briket terdiri dari kadar air (metode Gravimetri), kadar abu (metode Gravimetri), pengukuran kerapatan (densitas) (SNI 013235 2000), pengukuran berat jenis (SNI 013235 2000), kadar zat menguap (volatile matters) (SNI 013235 2000), laju pembakaran (SNI 013235 2000), nilai kalor menggunakan bomb colorimeter Parr 6200 (ASTM D4809). Sampel B (penambahan oli 5 g) menunjukkan hasil yang optimal dibandingkan dengan sampel A (tanpa penambahan oli) dan C (penambahan oli 10 g). Sampel B memiliki kadar air terendah (10%). kadar abu terendah (27,96%), densitas terendah (0,73 g/cm2), berat jenis tertinggi (72,04 kg/m3), kadar zat menguap (volatile matters) tertinggi (72,04%), laju pembakaran tertinggi (0,22 g/menit) dan memiliki nilai kalor sebesar 3024,33 kkal/kg.
Arang sekam; briket; tapioka 2025-08-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63591 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n2.1
1672172 #3358 Prediksi Erosi Dengan Persamaan Modified Universal Soil Loss Equation di Lahan Pertanian Berlereng Curam Bafdal, Nurpilihan
Amaru, Kharistya
Suryadi, Edy
Pengambilan data erosi di lapangan telah dilaksanakan di lahan penelitian Laboratorium Hijauan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Plot penelitian mempunyai kemiringan lahan 22 % dengan panjang lereng 22 meter dan lebar 9 meter. Berdasarkan analisis pada segitiga tekstur tanah, tanah di lahan penelitian masuk kedalam Liat Berdebu. Penelitian ini bertujuan memprediksi erosi dengan menggunakan pengembangan model  prediksi erosi Modified Universal Soil Loss Equation / MUSLE dan disesuaikan dengan karakteristik daerah penelitian. Hasil pengamatan lapang menunjukkan jumlah erosi kecil, dengan intensitas berkisar antara 0.03 mm/menit sampai 0.89 mm/menit. Intensitas tersebut belum dapat mengakibatkan erosi yang tinggi. Hasil perbandingan antara data pengukuran dengan data perhitungan prediksi erosi berdasarkan metoda Sum Square Error memberikan hasil yang memuaskan dalam prediksi erosi. Sum Square Error menunjukkan  nilai yang berkisar antara 0.43 hingga nol, berarti persamaan dapat digunakan di daerah penelitian. Hasil simulasi dengan variasi kategori hujan menunjukkan korelasi yang erat pada hubungan antara tinggi hujan dan erosi, hal ini dapat terlihat pada nilai korelasi yang mendekati satu. Kata kunci : Prediksi erosi, MUSLE, Lahan kemiringan curam, Lahan pertanian
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5071 buka_link ↗ Highlight_link
1672173 #3358 Comparative Study of Glucose and Xylose Production in Enzymatic Hydrolysis Result by Batch and Fed Batch Method Yudiastuti, Silvia Oktavia Nur
Mardawati, Efri
Kresnowati, MTAP
Bindar, Yazid
Xylose is a five carbon chain monosaccharide that can be used as a substrate in the fermentation of low-calorie xylitol. While glucose is a six carbon chain monosaccharide that can be processed into glucose syrup as a more stable natural sweetener in the food processing industry. Xylose is xylan monomer produced from hydrolysis of hemicellulose from plants or biomass woody waste.  While glucose is the result which is also produced in xylan hydrolysis by xylanase enzymatic hydrolysys. In the search for the source of hemicellulose, oil palm empty fruit bunch (OPEFB) as a solid waste from crude palm oil processing is a source that can be utilized in this research. OPEFB waste is abundant by the increasing world demand for vegetable oil. Considering the OPEFB enzymatic hydrolysis was a hetrogenous solid-liquid reaction, fed batch feeding of substrate was thought to improve the reaction performance. Hydrolysis experiments were performed at temperature 500C, pH 5 and for 96 hours hydrolysys time with substrate concentration at 15% and enzyme dose of 1%. The result showed that the feed-batch hydrolysis configuration provided higher yield of xylose and glucose than batch configuration but unsignificant.Keywords : Enzymatic Hydrolysis, Fed-batch, glucose, Xylan, Xylanase, Xylose.
2018-10-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15994 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol12n1.9
1672174 #3358 Hidrosol Serai Wangi: Karakteristik, Aktivitas Antioksidan dan Aktivitas Antibakteri Putri, Annisa
Kasim, Anwar
Hidrosol serai wangi merupakan produk samping yang dihasilkan dari proses penyulingan tanaman serai wangi. Hidrosol berbentuk cair, berwarna jernih dan beraroma sama dengan tanaman aromatiknya. Hidrosol masih mengandung minyak atsiri dalam jumlah yang kecil yaitu 0.2%. Hal ini menjadikan hidrosol berpotensi sebagai produk samping yang memiliki manfaat untuk digunakan dan diolah lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik hidrosol serai wangi yang meliputi pH, warna, aroma, dan indeks bias, mengetahui aktivitas antioksidan hidrosol serai wangi, dan mengetahui aktivitas antibakteri hidrosol serai wangi. Pengujian pH hidrosol serai wangi menggunakan pH meter, aroma dan warna menggunakan uji organoleptik dan indeks bias menggunakan refraktometer abbe. Aktivitas antioksidan diukur dengan menggunakan metode DPPH, dan total fenol diukur menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Aktivitas antibakteri diukur menggunakan metode cakram dengan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan pH hidrosol serai wangi 4.7, aroma khas serai wangi dengan warna bening sedikit kuning, nilai indeks bias hidrosol serai wangi adalah 1.313. Aktivitas antioksidan dan total fenol hidrosol serai wangi pada konsentrasi hidrosol 200, 400, 600, 800 dan 1000 ppm adalah 9.60, 12.65, 18.27, 27.75, dan 32.44 % inhibisi dan 35.87, 52.17, 68.04, 73.48, dan 81.30 mgGAE/gr. Aktivitas antibakteri menggunakan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan zona hambat 3.8 mm dengan kategori daya hambat lemah untuk E.coli dan 11.7 mm dengan kategori daya hambat sedang.
Hidrosol; serai wangi; aktivitas antioksidan; aktivitas antibakteri 2024-08-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51069 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n2.5
1672175 #3358 PENGARUH PENAMBAHAN NATRIUM ALGINAT TERHADAP KARAKTERISTIK MINUMAN FUNGSIONAL DARI SERBUK MINUMAN CINCAU HIJAU (Cyclea barbata L. Miers) Miranti, Mira
Rialita, Tita
-, Tensiska
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Na-alginat yang tepat untuk menghasilkan minuman fungsional dari serbuk minuman dari serbuk minuman cincau hijau yang memiliki karakteristik yang baik dan disukai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 Ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah Penambahan Na-alginat dengan konsentrasi  0 % (A), 0,5 % (B). 1% (C), 1,5 % (D), dan 2% (E).Hasil penelitian menunjukkan penambahan Na-alginat 0,5 % menghasilkan  minuman dari serbuk cincau hijau dengan rasa  ”disukai”, dan nilai kesukaan ”biasa’  untuk warna, aroma  kekentalan dengan total padatan terlarut 12,16 o Brix dan  viskositas 15,28 cp. Serbuk cincau hijau tersebut memiliki kadar  total serat pangan  9,51%, serat pangan tidak larut 2,46% dan serat pangan larut 7,05%, kadar air 3,24 % dan kadar abu 3,47 %. Kata kunci : Cincau hijau, Minuman fungsional, Kekentalan, Serat pangan
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4878 buka_link ↗ Highlight_link
1672176 #3358 EVALUASI PENGGUNAAN LYSIMETER UNTUK MENDUGA EVAPOTRANSPIRASI STANDAR DAN EVAPOTRANSPIRASI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L) Merril) Adha, Fadhilatul
Manik, Tumiar Katarina
Rosadi, R.A. Bustomi
The purpose of this research was to evaluate estimating method of standard evapotranspiration and crops evapotranspiration using lysimeter than be compared with estimation result of evaporimeter pan and Penman – Monteith model who recommendated by FAO.  Standard evapotranspiration was estimated using reference crops and crops evapotranspiration was estimated using soybean Kaba varieties which planted in lysimeters. Rainfall data and standard evapotranspiration of evaporimeter pan be obtained from Agroclimate stations of Masgar in Pesawaran distric in Lampung, and evapotranspiration Penman – Monteith model was estimated by CROPWAT using climate data during 2007 – 2011 from Agroclimate stations of Masgar. The estimating result of standard evapotranspiration and crops evapotranspiration using lysimeter were higher than evaporimeter pan and model. The estimation results of standard evapotranspiration and crop evapotranspiration of Lysimeter was higher than the estimation evaporimeter pan and model. The average of standard evapotranspiration during nine dasarian is  6.14 mm/day, average of crop evapotranspiration is 7.54 mm/day, while the standard evapotranspiration of evaporimeter pan is 3.55 mm / day, and standard evapotranspiration estimation results with CROPWAT for November to February are 3.27; 3.20; 3.63; 3.51 mm/day. Crop coefficient (Kc) estimation results of each phase was 0.96 in the initial phase, 1.16 in the development phase, 1.67 in the mid season phase, and 1.18 at the end season phase. Crop coefficient (Kc) Soybean lysimeter estimation results are higher than FAO Crop coefficient recommendation. However observed from the growth and yield of soybean plants seen their best with 10.73 gr of 100  seeds of yield. So that suggested for further research with direct ETo measurement method can be applied with modification or regenerated of lysimeter specifications and construction to consider other parameters of water balance in lysimeter.keywords :  standard evapotranspiration, crops evapotranspiration, lysimeter, soybean
2017-03-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10334 buka_link ↗ Highlight_link
1672177 #3358 Analisis Kinerja Lingkungan Unit Bisnis Teh Hijau Perusahaan X dengan Metode IEPMS dan LCA Putri, Selly Harnesa
Andriyani, Mery
Sita, Kralawi
Widyasanti, Asri
Persoalan lingkungan pada industri teh semakin berkembang seiring dengan perkembangan fokus utama industri dalam meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap kinerja lingkungannya. Perusahaan X sebagai salah satu perusahaan teh berupaya untuk meningkatkan performa kinerja lingkungannya dengan menciptakan proses produksi yang ramah lingkungan. Perusahaan X belum memiliki sistem pengukuran kinerja lingkungan yang seimbang dan terintegrasi. Penelitian ini berfokus pada perancangan sistem pengukuran kinerja lingkungan di unit bisnis teh hijau perusahaan x dengan menggunakan metode Integrated Environmental Performance Measurement System (IEPMS) dan Life Cycle Assessment (LCA), kemudian melakukan identifikasi aspek lingkungan dari kegiatan operasional, merancang Key to Environmental Performance Indicator (KEPI), melakukan pembobotan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), mengukur KEPI menggunakan Objective Matrix (OMAX) dan traffic light, serta memberikan rekomendasi perbaikan kinerja lingkungannya. Hasil perancangan kinerja lingkungan di perusaahan x berupa 23 KEPI yang meliputi 16 KEPI kuantitatif dan 7 KEPI kualitatif dengan menghasilkan 7 KEPI kategori merah, 2 KEPI kategori kuning, dan 14 KEPI kategori hijau. Nilai kinerja lingkungan unit bisnis teh hijau perusahaan x yang diperoleh dari hasil pembobotan menggunakan metode AHP dan scoring system adalah sebesar 6,373 dan berada dalam kategori kuning menggunakan traffic light system yang berarti bahwa kinerja lingkungan perusahaan x masih perlu dilakukan perbaikan dan pengawasan oleh pihak perusahaan.Kata kunci: Industri Teh Hijau; Kinerja Lingkungan
2023-08-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42587 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jtvol17n2.9
1672178 #3358 PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT ARI KACANG KEDELAI Sugandi, Wahyu Kristian
Sufyandi, Ari
Herwanto, Totok
Pengusaha Tahu Sumedang sampai sekarang masih mengupas sendiri bahanbakukedelainya secara manual dengan kapasitas pengupasan antara 20 – 22 kg/jam atau 120 – 132 kg per hari (6 jam kerja). Sementara  kebutuhan kedelai kupasan berkisar antara  30 – 40 kg per jam atau antara 180 – 260 kg per hari. Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian UNPAD telah merancang mesin pengupas kulit ari kacang kedelai dengan kapasitas manual 30 kg/jam melalui metode rekayasa berdasarkan analisis kebutuhan, analisis struktural, analisis fungsional, analisis teknik dan analisis biaya. Hasil rancangan adalah mesin pengupas kulit ari kacang kedelai berdimensi panjang  61 cm, lebar 52 cm dan tinggi 106,37 cm. Daya yang dibutuhkan mesin ini adalah 313 watt/jam dan total biaya produksi Rp 2.053.320,- per unit. Kata kunci: Mesin pengupas, Kulit ari kacang kedelai
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4826 buka_link ↗ Highlight_link
1672179 #3358 PERUBAHAN KANDUNGAN KLOROFIL DARI TIGA JENIS SAYURAN SELAMA PROSES PENGERINGAN DENGAN OVEN VAKUM ,, Tensiska
Setiasih, Imas Siti
., Fathunnisa
Klorofil sebagai pewarna alami dapat digunakan sebagai suplemen makanan. Sumber klorofil potensial terdapat pada sayuran hijau seperti daun singkong, bayam, dan daun pepaya.yang tersedia dalam bentuk ekstrak cairan, sehingga kurang praktis dalam penggunaannya. Karena itu perlu dilakukan mikroenkapsulasi dengan penyalut dekstrin. Pengeringan dilakukan menggunakan oven vakum pada suhu 40 ± 5ºC dengan variasi waktu pengeringan Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan kandungan klorofil dari tiga jenis sayuran selama proses pengeringan ekstrak klorofil dengan oven vakum pada waktu yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama ialah jenis sayuran yang terdiri dari 3 taraf yaitu daun singkong, bayam, dan daun pepaya. Faktor yang kedua ialah lama pengeringan yang terdiri dari 3 taraf yaitu 30, 60, dan 90 menit. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis sayuran bayam menghasilkan bubuk klorofil dengan intensitas warna hijau (-a*) paling tinggi -4,34, kandungan total klorofil 23,47 mg/L, klorofil a 14,65 mg/L, klorofil b 8,85 mg/L, dan rendemennya 0,29 %. Lama pengeringan 30 menit sudah cukup untuk mengeringkan bubuk klorofil dalam oven vakum dengan suhu 40±5ºC. Kata kunci: kloropil, sayuran, proses  pengeringan, oven vakum
2013-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6376 buka_link ↗ Highlight_link
1672180 #3358 Redesign of Sago Tempe Chips Packaging Using a Kansei Engineering Approach Audia, Farhana
Johan, Vonny Setiaries
Juarsa, Rahmadini Payla
Dewi, Yossie Kharisma
Kurniawan, Mhd Andry
Sago tempe chips are snacks made from soybeans and sago flour. The packaging of sago tempe chips uses transparent plastic with label stickers, making it appear simple and less attractive to consumers. One strategy to attract consumers is redesigning the packaging using the kansei engineering approach. This study aims to produce a packaging design for sago tempe chips that suits consumer preferences using a kansei engineering approach. This study helps produce packaging designs that suit consumer desires and needs so that they can attract consumers. The method used is a survey with a kansei engineering approach. Based on this study, eight kansei words were identified, namely informative, unique, artistic, attractive, quality, easy to use, innovative, and colorful. The packaging design concepts extracted from the kansei words using principal component analysis (PCA) were identified as “informative,” “colorful,” and “quality.” The design elements identified from the 10 packaging samples included shape, supporting images, materials, color, and size. Based on the R-squared value of quantification theory type 1 (QTT1), the concept of “quality” was selected because it had a higher value. Tempe sagu chip packaging is considered quality if it has a pillow-shaped bag design, features product images, uses aluminum foil material, employs multiple colors (>3 colors), and has a medium-sized package.
kansei engineering; packaging design; principal component analysis (PCA); quantification theory type 1 (QTT1); sago tempe chips 2026-04-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65183 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.3
Menampilkan 1.549.681 - 1.549.700 dari total 1.550.696 data